
Siang harinya, Galuh, Syakir berserta Hamka tiba di salah satu boutique terkenal di kota itu. Galuh dan Hamka duduk di sofa sambil menunggu Syakir yang mencoba beberapa jas pengantin yang akan dipadupadankan dengan gaun pengantin yang akan Kia pakai di acara istimewa mereka nanti.
"Jelek!" Seru Galuh dan Hamka saat Syakir keluar dari ruang ganti.
"Hei, ini sudah ke belasan kalinya jas yang aku pakai kalian terus saja bilang jelek!" Ujar Syakir dongkol.
"Mungkin ada yang salah!" Kata Hamka.
"Apanya yang salah? Jasnya?" Tanya Syakir.
"Bukan jasnya yang salah, tapi wajahmu yang bermasalah!" Sahut Galuh sambil terkekeh jahat.
"Cih, menyebalkan sekali kau!" Ujar Syakir sewot dikatai wajah bermasalah.
Syakir kembali masuk dan mengganti jas yang ia pakai dengan jas pengantin lainnya. Galuh dan Hamka pun kembali menunggu sambil duduk santai di sofa boutique tersebut.
"Hei, Galuh! Jika Syakir keluar lagi, kita bilang saja jelek! Hehehe, biar capek dia kita kerjain." Bisik Hamka.
"Siiip!" Sahut Galuh.
Saat menunggu Syakir keluar dengan jas pengantin lainnya, tiba-tiba muncul Kia dan Ila yang sedang menggendong Gilang masuk ke dalam boutique tersebut.
"Eh, kalian ada disini?" Seru Ila pada suaminya dan juga Hamka.
"Iya! Kalian kesini......
"Aku menemani Kia memilih gaun pengantinnya." Sahut Ila.
"Hai, kak!" Sapa Kia pada Galuh dan Hamka.
"Hheeemm, yang mau jadi pengantin! Ceria amat wajahnya." Sindir Hamka pada Kia.
"Iya, dong!" Sahut Kia.
Galuh pun mengambil Gilang yang berada dalam gendongan Ila. Ia menciumi putranya dengan penuh kasih sayang. Hamka pun tak mau ketinggalan, ia asik bermain dan membuat Gilang tertawa girang dengan tingkah-tingka konyolnya itu.
Saat Kia dan Ila melihat-lihat gaun pengantin yang terpanjang indah di boutique itu lalu muncullah Syakir dengan jas pengantin yang ia coba untuk puluhan kalinya. Syakir dan Kia bersitatap.
"Tampannya!" Seru Kia menatap Syakir.
"Kiki!" Seru Syakir yang sudah hampir seminggu tidak bertemu Kia karena dipingit akan segera menikah.
Syakir dan Kia pun berpelukan dengan lebainya. Ila, Galuh, Hamka serta Gilang menatap mereka seakan hendak muntah karena sangking lebainya.
"Eeemmm, mereka seperti teletabis ya? Dikit-dikit berpelukan!" Seru Hamka menatap pasangan yang akan segera menikah itu.
"Dengki! Wweeee....." Seru Syakir dan Kia yang kompak menjulurkan lidahnya pada Hamka.
"Peluk kak Kania dong!" Kata Ila pada Hamka.
"Hah! Seandainya si Kania genit seperti mereka maka aku akan bahagia! Huhuhuhuhu." Ucap Hamka nangis bombai.
"Nasib elu! Jatuh cinta sama polwan." Sahut Galuh.
Kia dan Syakir pun asik sendiri memilih pakaian pengantin mereka sehingga yang lainnya seakan tak dianggap ada di dalam boutique itu.
"Mereka malah asik sendiri!" Ujar Ila menatap kesal pada Kia dan Syakir.
"Tau begini mendingan aku dirumah saja bersama mama Yurika tadi." Sambung Ila lagi.
"Aku balik deh!" Kata Hamka beranjak bangkit dari duduknya.
"Kau mau kemana?" Tanya Galuh.
"Ganggu Kania!" Sahutnya.
"Eh, bussseett! Gigih benar tuh anak!" Kata Galuh menatap Hamka.
"Semangat kak!" Seru Ila pada Hamka.
"Oke!" Sahutnya.
Galuh dan Ila beradu pandang sejenak.
"Lantas kita ngapain?" Tanya Ila.
"Buat anak yok!" Sahut Galuh.
"Huh, dasar!" Umpat Ila.
__ADS_1
"Hehehehe." Galuh cengengesan sambil terus menimang putranya yang masih betah di dalam genggamannya.
Kia dan Syakir pun menghampiri Ila dan Galuh setelah selesai memilih pakaian pengantin mereka di boutique itu. Karena hari sudah hampir petang, mereka berniat untuk pergi ke salah satu restoran langganan mereka dan makan malam bersama disana.
*****
Hamka benar-benar dalam ucapannya. Ia datang lagi menemui Kania di tempat kerjanya. Namun saat itu kebetulan Kania tidak berada di tempat. Salah satu polisi bawahan Kania pun mengatakan kalau Kania pergi ke tempat gym langganannya. Sambil terkekeh jahat Hamka pun menuju ke tempat gym yang dimaksud untuk menemui Kania. Sebelum ke sana ia membeli beberapa pakaian olahraga.
Tiba di tempat gym, Hamka langsung bersiap-siap dan mencari Kania disana. Pandangan matanya pun menyapu seluruh ruangan gym tersebut. Akhirnya ia pun melihat Kania yang sedang jalan santai pada treadmill.
"Hehehe, itu dia!" Gumam Hamka terkekeh jahat.
Hamka langsung mendekati Kania sambil berpura-pura menggunakan treadmill yang ada di sebelah Kania.
"Eeehhheeemmmm!" Hamka mendehem seraya memberikan kode pada wanita incarannya. Namun saat itu Kania hanya fokus pada dirinya sendiri tak mau memperdulikan suara Hamka.
"Eeehhheemm...eehhheeemmm...." Hamka mendehem lagi.
"Apaan sih?" Gumam Kania pun menoleh pada Hamka.
"Eh, kau?" Ucap Kania menatap Hamka yang melambaikan tangannya.
"Hai, calon makmum ku!" Seru Hamka.
"Sejak kapan kau disini? Apa kau mengikuti aku?" Tanya Kania.
"Tentu saja! Aku tidak akan pernah menyerah untuk mengejarmu! Kalau perlu aku akan melakukan hal curang agar kau menjadi istriku!" Kata Hamka.
"Hal curang? Apa maksudmu?" Tanya Kania.
"Ya hal curang! Seperti memperkosaku hingga hamil! Dengan begitu kau akan pasrah menjadi istriku dan melahirkan bayi untukku! Hehehe." Sahut Hamka asal bicara.
"Huh! Seenak jidatmu saja kalau bicara." Gerutu Kania.
Sambil nge-gym, Hamka terus menatap pada lekuk tubuh Kania yang saat itu menggunakan pakaian yang ketat di badan.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Kania sewot.
"Sexy!" Bisik Hamka.
"Huh, dasar mesum!" Umpat Kania.
"Pulang!" Sahutnya singkat.
"Apa maksudmu pulang ke apartemenku? Hehehe." Kata Hamka.
"Tentu saja ke rumahku!" Kata Kania ngegas.
"Sebentar lagi kita akan menikah! Sesekali menginapkan di apartemenku!" Kata Hamka.
"Untuk apa aku ke apartemenmu?" Tanya Kania.
"Tidur, makan, masak, bercerita tentang masa depan kita, kalau perlu kau boleh memperkosaku! Hehehe." Sahut Hamka cengengesan.
"Dasar gila!" Umpat Kania seraya turun dari treadmill yang ia gunakan. Kania mengambil handuk kecil miliknya dan menuju ke kamar mandi di tempat gym itu untuk membersihkan diri. Hamka diam-diam mengikuti Kania dari belakang. Ia celingak-celinguk melihat situasi di kamar mandi wanita tampak sepi.
"Sepi! Keberuntungan selalu berpihak padaku! Hehehe." Gumam Hamka.
Saat Kania hendak membuka pintu kamar mandi itu, tiba-tiba saja tubuhnya di dorong dari belakang. Ia pun terdorong masuk begitu saja. Ketika berbalik badan, Kania melebarkan kedua matanya melihat Hamka yang berada di dalam bilik kamar mandi itu bersamanya.
"Sedang apa kau disini?" Tanya Kania.
"Menemanimu mandi!" Sahut Hamka dengan gamblangnya.
"Apa?" Pekik Kania kaget.
"Cepat pergi sana! Ini kamar mandi wanita." Kata Kania mengusir Hamka. Namun nasib sial menghampiri Kania. Ketika itu ada beberapa orang wanita yang baru saja masuk ke dalam kamar mandi tersebut.
"Diamlah!" Bisik Hamka seraya menutup mulut Kania dengan telapak tangannya.
"Eeemmmm!" Pekik Kania tertahan.
"Kalau kau berontak, maka mereka akan menggrebek kita disini! Mereka pasti akan menuduh kita sedang berbuat mesum! Kau ini polisi kan, jika hal itu terjadi apa kau siap untuk mempertanggungjawabkan semuanya, hah?" Bisik Hana lagi.
Kania pun terdiam dan berhenti memberontak. Hamka melepaskan tangannya dari mulut Kania.
"Kenapa kau mengikutiku?" Bisik Kania.
"Kan sudah aku bilang, aku ingin memperkosamu!" Sahut Hamka.
__ADS_1
"Jangan coba-coba!" Bisik Kania melotot pada Hamka.
Hamka berpikir saat itu adalah kesempatan emas baginya untuk bermesraan dengan Kania. Ya, walaupun kemesraan itu sedikit dipaksakan olehnya. Hamka menyergap tubuh sang polwan dan merengkuh kuduk lehernya. Hamka mendaratkan ciumannya kepada Kania yang tak dapat aba-aba terlebih dahulu. Kania tak dapat berbuat apapun. Ia hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan Hamka terhadapnya ketimbang ia ketahuan orang lain jika ia sedang berduaan dengan seorang pria di kamar mandi tersebut.
"Apapun yang terjadi kau akan menjadi milikku!" Bisik Hamka seraya kembali mencium bibir Kania dengan lembut.
Seakan terbius oleh ciuman Hamka, Kania pun memejamkan kedua matanya dan merasakan betapa hangatnya dekapan Hamka serta ciumannya itu.
"Kau mencintaiku, kan?" Bisik Hamka lagi.
Entah karena apa, saat itu Kania menjawabnya dengan anggukan.
"Jangan pindah keluar kota! Tetaplah disini bersamaku!" Bisik Hamka lagi.
"Aku tak bisa! Itu sudah tugasku sebagai polisi yang harus patuh pada perintah atasan." Sahut Kania.
"Lalu bagaimana denganku?" Tanya Hamka.
"Mana aku tau!" Sahutnya.
Tiba-tiba saja pintu kamar mandi Kania di gedor dari luar yang membuat Hamka dan Kania kaget.
"Hei, yang di dalam! Kau bicara sama siapa?" Tanya seorang wanita yang mendengar sayup-sayup suara Kania.
"Bukan urusanmu! Pergi sana!" Teriak Kania kesal.
"Pppfffttt...!" Hamka menahan tawanya melihat Kania kesal pada orang tersebut.
"Huh! Dasar wanita gila! Dia berbicara sendirian di dalam sana." Gerutu orang itu seraya melangkah keluar dari kamar mandi tersebut.
Merasa di kamar mandi itu tidak ada orang lain lagi, Hamka pun bergegas keluar dari sana. Sebelum itu Hamka kembali mendaratkan ciumannya kepada Kania. Setelah Hamka keluar, Kania cepat-cepat memutar keran air mancur. Ia segera membasahi tubuhnya sambil mengingat apa yang baru saja ia akui kepada Hamka.
"Tanpa sadar, aku mengakui perasaanku padanya tadi!" Gumam Kania.
Semburat merah di pipinya pun terpancar.
"Tapi, aku memang benar-benar jatuh cinta padanya! Dia juga sama. Jadi untuk apa aku malu." Gumam Kania lagi sambil tersenyum malu sekaligus bahagia.
Selesai membersihkan dirinya, Kania melangkah ke tempat parkir mobil untuk segera pulang kerumahnya. Saat itu Kania kebingungan mencari letak mobil miliknya.
"Eh, bukannya tadi mobilku terparkir disini? Lalu kemana mobilku sekarang?" Gumam Kania panik mencari-cari mobilnya.
"Sayang!" Seru Hamka berlari menghampiri Kania.
"Kau sedang apa? Kenapa celingak-celinguk seperti itu?" Tanya Hamka pada Kania.
"Aku mencari mobilku! Tadi disini, sekarang malah tidak ada!" Sahut Kania.
"Oh tentang mobil ya? Mobilmu sudah aku bawa pulang ke rumahmu!" Kata Hamka.
"Apa? Bagaimana kau membawanya? Kuncinya kan ada padaku!" Tanya Kania semakin bingung.
"Aku tadi memanggil petugas derek mobil dan mereka sudah menderek mobilmu untuk kembali ke rumah." Sahut Hamka.
"Kenapa kau melakukan itu?" Teriak Kania kesal.
"Agar kau pulang bersamaku!" Sahut Hamka.
"Hehehe, aku pintar, bukan?" Sambung Hamka lagi.
"Huh! Kau membuatku pusing saja." Gerutu Kania melangkah pergi.
"Sayang, kau mau kemana?" Tanya Hamka.
"Pulang! Mana mobilmu?" Sahut Kania sewot.
"Disana! Let's go!" Seru Hamka kegirangan.
Kania pun mau tak mau masuk ke dalam mobil Hamka untuk kembali kerumahnya setelah nge-gym. Saat di perjalanan Kania kembali kebingungan karena melihat jalan yang mereka lalui bukan jalan menuju kerumahnya.
"Ini bukan jalan menuju rumahku!" Gumam Kania.
"Memang benar!" Sahut Hamka.
"Kita mau kemana?" Tanya Kania.
"Aku akan menculikmu! Hehehe." Sahut Hamka terkekeh jahat.
"Hamka! Berhentilah berbuat konyol!" Pekik Kania seraya memukul lengan Hamka yang sedang menyetir mobil.
__ADS_1
Hamka tak perduli dengan teriakan Kania. Ia terus melajukan mobilnya membawa Kania yang terus bertanya-tanya padanya.