GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
HADIAH YANG BANYAK


__ADS_3

Ila melirik Kia dari ekor matanya. Ia tau kalau Kia sedang menantikan keberhasilan dari apa yang ia rencanakan sebelumnya. Ila terus makan dengan semangat tanpa mau terlihat curiga sedikitpun. Kia mulai gelisah karena apa yang ia inginkan tak terrjadi pada Ila. Kia meletakkan sendok dan garpu pada piringnya dan pergi bergitu saja dari ruang makan tanpa permisi kepada Yurika dan juga Ila. Yurika menatap Kia dengan kesal akan sikapnya yang semakin tak sopan kepadanya.


"Lihatlah dia! Dia bahkan tidak permisi saat akan meninggalkan ruang makan ini. Dia anggapa apa kita disini?" Kata Yurika kesal pada Kia.


"Ma, jangan ambil hati sikap Kia ya." Kata Ila.


"Aku hanya ingin dia merubah sikapnya itu! Apa susahnya menjadi anak yang manis kepada orang lain?" Ujar Yurika.


"Ma, aku yakin suatu saat nanti, Kia pasti akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik." Sahut Ila.


"Entahlah! Semoga saja perkataanmu itu benar-benar terjadi. Aku sangat mengkhawatirkan masa depannya." Kata Yurika.


"Entah apa yang terjadi di masa depan jika dia masih tetap dengan sikapnya yang buruk itu! Aku merasa sangat bersalah karena selama ini selalu memanjakan dirinya." Kata Yurika lagi.


"Sudahlah ma! Mama jangan menyalahkan diri mama terus." Kata Ila.


"Ila, setelah makan siang nanti datanglah ke kamar mama. Ada yang ingin mama berikan padamu." Kata Yurika.


"Iya, baiklah." Sahut Ila.


Mereka pun melanjutkan makan siang mereka di ruang makan itu tanpa Kia. Setelah selesai makan siang, Ila datang ke kamar Yurika. Disana ia melihat Yurika sedang membuka sebuah pintu lemari yang besar. Yurika menarik tangan Ila untuk mendekat padanya. Ila melihat begitu banyak hadiah yang terbungkus rapi di dalam lemari itu.


"Apa ini, ma?" Tanya Ila bingung.


"Ini semua hadiah ulang tahun yang selama ini aku simpan." Jawab Yurika.


"Hadiah ulang tahun siapa?" Tanya Ila lagi.


"Hadiah ulang tahunmu, sayang." Sahut Yurika.


Ila terkejut mendengar jawaban Yurika barusan. Ia tak pernah menyangka bahwa selama ini Yurika menyiapkan hadiah ulang tahun untuk Ila di setiap tahunnya.


"Ini semua untukku?" Tanya Ila lagi.


"Iya, sayang! Aku mengumpulkan hadiah ini di setiap tahunnya. Aku tak berani memberikan hadiah ini padamu saat itu. Aku takut akan menyakitimu jika aku mendekatimu." Kata Yurika mulai menangis.


"Mama." Ucap Ila ikut menangis haru.


"Lihatlah boneka ini!" Kata Yurika menunjukkan sebuah boneka yang sudah usang.


"Ini milikku!" Kata Ila.


"Setelah kau menikah, hanya ini yang aku peluk disaat aku merindukanmu." Sahut Yurika.


"Aku mengambilnya diam-diam dari kamarmu." Sambung Yurika lagi.


"Kata bibi Inah, ini adalah boneka pertama yang ayah Raldi berikan untukku. Apa itu benar?" Tanya Ila.


"Iya." Sahut Yurika tak dapat menahan rasa haru yang meliputi dirinya.


"Maafkan aku, Ila! Karena rasa trauma yang aku alami selama ini membuatmu harus tumbuh di tangan para pelayan dan mendapatkan kasih sayang hanya dari mereka saja." Ucap Yurika.


"Ma, sudahlah! Mama jangan menghakimi diri mama terus seperti ini. Aku mengerti keadaan yang mama alami. Aku minta mama jangan menangis lagi, ya. Lupakan semuanya dan cobalah hidup bahagia bersamaku dan juga Kia." Kata Ila memeluk dan mencoba untuk menenangkan Yurika.


Ila membelai wajah wanita yang telah melahirkannya. Ia mengusap air mata yang membasahi wajah Yurika dan terus mencoba untuk menenangkannya. Yurika memberikan semua hadiah ulang tahun yang ia simpan selama ini kepada Ila. Ada 27 jumlah hadiah di dalam lemari itu. Ila dan Yurika mengeluarkan semuanya sehingga ruangan kamar Yurika penuh dengan barang.


"Ma, usiaku masih 17 tahun, kenapa hadiahnya sebanyak ini?" Tanya Ila bingung.


"17 hadiah untuk ulang tahunmu, dan sisanya adalah hadiah karena kau selalu menjadi juara umum di sekolah." Jawab Yurika.


"Kalau begitu seharusnya hadiahku berjumlah 28 dong! 17 hadiah untuk ulang tahunku di setiap tahunnya, dan 11 hadiah lagi untuk setiap tahun mendapatkan juara di sekolah, lalu kenapa hanya 10? Dimana yang satunya lagi?" Tanya Ila.


"Ini, yang ada di lehermu!" Jawab Ila menunjuk ke sebuah kalung berlian yang Ila pakai.


"Ini hadiah dari mama Hana." Sahut Ila.


"Hehehe, ini dari mama! Mama yang yang mendesign langsung kalung ini untukmu. Mama tak berani memberikannya kepadamu langsung, maka dari itu mama meminta Hana untuk mengatakan kalau kalung itu hadiah darinya." Kata Yurika.


Ila teringat kembali pada tulisan yang ada di kotak kalung tersebut. Ila memeluk Yurika kembali dengan erat. Ia sangat bahagia mengetahui bahwa Yurika selama ini sangat menyayangi dirinya lebih dari apapun juga.


Ila membuka semua hadiah itu bersama dengan Yurika. Di dalam kamar itu mereka menangis harus dan juga tertawa bahagia saat membuka hadiah-hadiah tersebut.


 


 


*****


Di ruang tengah Sari sedang mengelap meja yang sedikit berdebu. Saat sedang melakukan tugasnya itu, tiba-tiba ia merasakan ada yang aneh pada perutnya. Ia merasakan mules-mules yang luar biasa hebat. Sari berlari ke belakang untuk buang air besar. Ia menuju ke kamar mandi yang ada di dapur. Betapa sialnya ia hari itu, kamar mandi yang ada di dapur terkunci dari dalam.


"Hei, cepatlah!" Teriak Sari menggedor-gedor pintu kamar mandi.


"Aku sedang buang air besar! Carilah toilet yang lain." Sahut orang yang ada di dalam kamar mandi itu.


Sari pun berlari mencari toilet yang lain. Ia sudah tak tahan dengan rasa mules yang menyerang perutnya. Hari itu benar-benar sial untuknya, semua toilet dirumah itu penuh. Setiap toilet dirumah itu selalu ada orang yang mendahuluinya masuk ke dalam.


"Aku akan ke kamar tamu saja! Disana kan ada kamar mandi." Kata Sari.


Sari pun menaiki anak tangga sambil memegangi bokongnya. Ia ingin masuk ke dalam kamar tamu dan menggunakan kamar mandinya, namun pintu kamar itu terkunci rapat. Sari benar-benar kebingungan. Ia tak dapat lagi menahan rasa sakit yang ada di perutnya. Ia berlari ke kamar Kia dan menerobos masuk begitu saja. Sari masuk ke dalam kamar mandi dan buang air besar disana.


Dari luar pintu kamar mandi, Kia berteriak dengan kesal karena kamar mandinya telah digunakan oleh Sari yang hanya seorang pelayan dirumah itu.


"Keluar kau, Sari! Beraninya kau menggunakan toiletku." Teriak Kia kesal sambil terus menggedor-gedor pintu kamar mandi.


Tak lama kemudian, Sari keluar dengan perut yang merasa lega. Kia menyerangnya karena menggunakan toilet milik majikan.


"Beraninya kau!" Teriak Kia kesal sambil memukuli Sari.


"Ampun nona! Aku terpaksa melakukannya. Aku sudah tidak tahan lagi." Kata Sari berupaya untuk menghindar dari amukan Kia.


Kia tak perduli pada ucapan Sari, ia terus saja memukuli pelayan itu yang sudah menggunakan toilet miliknya. Tak lama kemudian, Sari kembali merasakan mules pada perutnya lagi. Sari berlari masuk ke dalam kamar mandi Kia dan menggunakan toiletnya. Lagi-lagi Kia berteriak kesal karena Sari terus menggunakan toilet miliknya.


Suara kegaduhan yang ada di dalam kamar Kia terdengar oleh Ila yang baru saja keluar dari kamar Yurika. Ila jalan berjengkat dan mencoba untuk menguping dari depan pintu kamar Kia. Ila tertawa mendengar Kia berteriak karena kesal Sari menggunakan toilet miliknya.

__ADS_1


"Mampus! Akhirnya kau kena batunya, Sari." Gumam Ila terkekeh sambil melangkah jauh dari kamar Kia.


Ila pergi ke dapur untuk menemui kepala pelayan. Ia duduk bersama kepala pelayan dan membicarakan hal mengenai Sari.


"Nona, Aku telah memberikan obat pencahar itu pada makanan Sari!" Kata kepala pelayan.


"Iya, sepertinya obat itu sedang bereaksi padanya." Sahut Ila.


"Aku sudah mengembalikan obat itu ke dalam kamarnya agar ia tidak curiga." Kata kepala pelayan.


"Aku juga menyuruh beberapa pelayan untuk mengisi semua toilet yang ada dirumah ini, biar dia tau rasa!" Sambung kepala pelayan itu lagi.


"Bagus! Agar dia jera dengan perbuatannya itu." Sahut Ila.


"Nona, apa langkah kita selanjutnya?" Tanya kepala pelayan itu.


"Kita harus menjebaknya agar mama segera menendangnya dari rumah ini." Sahut Ila.


"Tapi bagaimana caranya?" Tanya kepala pelayan.


"Kita harus menjadi satu tim! Kita harus mengajak semua pelayan dirumah ini untuk ikut dalam rencana kita." Kata Ila.


"Baiklah, nona! Aku akan mengatur semuanya." Sahut kepala pelayan.


Kepala pelayan memangggil semua pelayan yang ada dirumah itu untuk mengikuti rencana yang Ila siapkan. Ila duduk bersama semua pelayan dan mengatakan rencana untuk menjebak Sari agar semua niat buruknya itu terbongkar. Semua pelayan setuju untuk membantu Ila.


"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Nanti aku akan kembali lagi untuk menjalankan rencana kita." Kata Ila.


"Baiklah, nona!" Seru semua pelayan.


Ila pamit kepada Yurika untuk pulang ke apartemen. Saat itu hari sudah menjelang sore. Ila harus kembali ke apartemen dan menyiapkan makan malam untuk suaminya saat ia kembali dari kantor.


Sebelum masuk ke lingkungan apartemennya, Ila pergi berbelanja membeli beberapa bahan makanan yang ada di seberang jalan apartemen. Setelah itu ia kembali ke apartemen dengan membawa dua kantung besar yang berisikan bahan makanan yang ia beli.


Ila membuka pintu apartemen dan masuk ke dalam. Ia mendengar suara orang yang sedang berbincang di ruang tengah. Ila melangkahkan kakinya dengan cepat dan melihat Galuh duduk bermain game dengan Hamka, Syakir dan juga Roni.


"Wah, kalian datang!" Seru Ila ceria.


"Hai, gadis kecil!" Sapa mereka secara serentak menyapa Ila.


"Apa kalian akan makan malam disini?" Tanya Ila.


"Tentu saja!" Seru mereka lagi.


"Baiklah, aku akan masak makanan yang banyak untuk kalian." Kata Ila.


"Sayang, lebih baik kita pesan makanan saja! Nanti kau lelah." Kata Galuh.


"Tidak apa-apa! Aku tidak lelah sama sekali. Aku masak dulu, ya." Sahut Ila seraya melangkah menuju ke dapur.


Galuh kembali duduk dan bergabung bersama dengan ketiga sahabatnya itu. Galuh duduk dan menyaksikan Hamka sedang bermain game bersama Roni.


"Hei, kau sangat beruntung karena menikah dengan Ila." Kata Syakir.


"Jauhkan Ila dari Ana!" Kata Hamka.


"Ana masih mencari-carimu." Sahut Syakir.


"Aku tak akan membiarkan Ana menyakiti imutku! Kalau dia berani menyakiti Ila, akan aku tebas lehernya!" Ujar Galuh.


"Hei, apa Ila tau tentang Ana?" Tanya Roni pada Galuh.


"Sebelum menikah Ila pernah melihatku bertengkar dengan Ana di jalan. Aku juga mengatakan kalau Ana itu adalah kekasihku saat itu." Jawab Galuh.


"Bagaimana reaksinya?" Tanya Syakir.


"Saat itu, Ila tidak perduli sama sekali! Dia bahkan jujur kalau menolak menikah denganku." Jawab Galuh.


"Pppfftt..., hahahahaha!" Ketiga sahabatnya itu menertawai Galuh.


"Selama aku menjadi sahabatmu, aku melihat begitu banyak wanita yang mengejar dan ingin menjadi kekasihmu. Namun baru kali ini aku mendengar bahwa kau di tolak oleh gadis kecil seperti Ila. Sungguh miris nasibmu, Galuh! Hahahaha." Kata Syakir tertawa terbahak-bahak.


"Iya kau benar!" Hamka ikut menimpalinya.


"Hei, lihatlah sekarang, aku dan Ila adalah pasangan suami istri yang romantis! Aku dan dia berencana untuk memiliki 5 orang anak. Hahaha." Kata Galuh menyombongkan diri.


"Galuh, lebih baik kau cari tau dulu, apakah Ila benar-benar mencintaimu? Mungkin saja dia terpaksa menerimamu menjadi suaminya. Kau kan suka memaksa wanita!" Kata Roni mengejek Galuh.


"Hei, diam kau! Aku dan Ila memiliki cinta yang utuh. Kami saling mencintai satu sama lain, jadi tidak mungkin dia terpaksa menerimaku." Teriak Galuh kesal.


Galuh menjadi kesal karena mereka menertawainya. Galuh memilih untuk diam saja tak mau menanggapi perkataan ketiga sahabatnya itu saat mereka mengejek dirinya. Selang beberapa menit, Galuh mendengar bel pintu berbunyi. Galuh meminta Roni untuk membukakan pintu karena ia sedang bermain game bersama Hamka. Roni pun melangkah ke pintu depan dan membuka pintu tersebut.


"Sayang!" Seru Ririn langsung memeluk Roni secara tiba-tiba.


Roni dan Ririn terjatuh di lantai dengan posisi Roni berada di bawah tubuh Ririn.


"Apa yang kau lakukan, Ririn?" Teriak Roni kesal.


"Memelukmu!" Sahut Ririn.


"Cepat menyingkir dari tubuhku!" Perintah Roni pada Ririn yang menimpa tubuhnya.


"Tidak mau!" Sahut Ririn menolak.


"Cepatlah, Ririn!" Kata Roni lagi.


"Tidak mau!" Sahut Ririn masih menolak.


"Aku bilang menyingkirlah!" Bentak Roni.


Ririn kaget saat Roni membentak dirinya karena hal yang begitu sepele. Ririn segera bangkit dan berlalu masuk ke dalam. Roni merasa bersalah karena telah membentak Ririn. Hamka, Syakir dan Galuh menatap Roni dengan kesal.


"Iya, aku tau, aku salah karena membentak Ririn tadi!" Kata Roni pada ketiga sahabatnya itu yang tak lain adalah sahabat Ririn juga.

__ADS_1


"Cepat minta maaf padanya! Atau kami akan menggantung lehermu di tiang bendera." Ancam ketiga sahabatnya.


"Iya, baiklah!" Sahut Roni.


Roni mendekati Ririn yang duduk di pojok ruangan. Roni melihat mata Ririn berkaca-kaca.


"Rin, aku minta maaf ya! Aku tidak berniat untuk membentakmu, tadi." Ucap Roni.


Bukannya memaafkan, Ririn malah berlalu ke dapur menemui Ila dan meninggalkan Roni begitu saja.


"Hei, bagaimana ini?" Tanya Roni pada ketiga sahabatnya.


Ketiga sahabatnya itu bukannya membantu malah terus memojokkan Roni.


"Kenapa kau malah membentaknya tadi?" Tanya Hamka pada Roni.


"Aku tidak sengaja! Dia memelukku secara tiba-tiba dan aku terkejut." Kata Roni membela diri.


"Ron, kau kan tau kalau Ririn tergila-gila padamu!" Kata Galuh.


"Iya, tapi aku tak sengaja, guy's!" Sahut Roni.


"Aku tanya padamu, apa kau menyukai Ririn atau tidak?" Tanya Syakir.


Roni diam saja tak mau menjawab pertanyaan Syakir.


"Jawab, ******!" Ujar Hamka kesal.


"Iya, aku juga suka padanya! Tapi dia begitu agresif, aku jadi takut." Sahut Roni.


"Dasar bodoh! Wanita agresif itu menyenangkan." Kata Syakir yang sejatinya memang pria playboy.


"Apalagi saat di ranjang, wow, amazing!" Sahut Hamka cengengesan.


"Kalau aku suka tipe wanita yang kalem dan menggemaskan." Kata Galuh.


"Dalam hal ini kau tidak termasuk, dodol! Kau sudah memiliki Ila. Perbincangan ini hanya untuk pria-pria yang lajang seperti kami." Ujar Roni kesal.


"Eh, apakah wanita agresif itu amazing?" Tanya Roni antusias kepada Syakir dan Hamka.


"Iya, benar!" Seru mereka berdua.


"Wah, patut di coba!" Kata Roni berpikir mesum terhadap Ririn.


Ppppllleeetttaaakkkkkkk..............


"Untuk Ririn jangan coba-coba!" Teriak Ketiga sahabatnya itu memukul kepala Roni secara bersamaan.


"Guy's, aku hanya bercanda saja! Aku tidak sejahat itu pada wanita yang aku sukai." Sahut Roni yang memiliki tiga benjolan di kepalanya.


"Bagus kalau begitu!" Seri ketiganya lagi.


 


 


Tak lama kemudian, Ila datang dan mengatakan pada mereka bahwa makan malam sudah siap. Para pria itu pun menuju ke ruang makan dan duduk bersama disana. Diatas meja tampak beberapa menu makanan yang Ila masak untuk mereka. Ririn membantu menyajikan makanan untuk mereka. Roni duduk di samping Ririn yang sedari tadi memalingkan wajahnya dari Roni.


"Rin, aku minta nasinya dong!" Kata Roni pada Ririn.


"Ambil saja sendiri sana! Kau kan punya tangan." Sahut Ririn mengacuhkan Roni.


"Tapi aku mau kau yang ambilkan." Pinta Roni merengek bagaikan anak kecil.


"Aku sibuk!" Sahut Ririn.


"Huh, menyebalkan!" Gumam Roni.


Ririn menarik garis senyumnya sedikit. Ia tau kalau Roni sedang berusaha untuk meminta maaf darinya. Ririn ingin melihat seberapa mampu Roni berusaha untuk mengambil perhatian darinya. Saat sedang makan, Galuh memberikan perhatian kepada Ila dengan meletakkan beberapa lauk ke dalam piring Ila.


"Makanlah yang banyak, agar kau menjadi montok! Kalau kau montok, aku akan puas menyentuhnya." Bisik Galuh kepada Ila.


"Dasar mesum!" Sahut Ila menahan rasa malunya di hadapan semua orang.


Galuh hanya terkekeh sambil menatap Ila yang sedang mengunyah makanan.


Seakan meniru perbuatan Galuh kepada Ila, Roni pun meletakkan beberapa lauk kepada piring Ririn.


"Ini untukmu, Rin! Agar kau sehat. Hehehe." Kata Roni.


"Aku sedang diet!" Sahut Ririn ketus.


"Tidak usah diet, kau kan tidak gemuk!" Kata Roni.


"Aku ini seorang wanita single, jadi aku harus menjaga tubuhku untuk tetap cantik agar pria-pria mendekati aku." Sahut Ririn.


"Jangan coba-coba untuk mendekati pria lain!" Teriak Roni kesal.


"Kenapa? Kenapa kau marah? Kau kan bukan kekasihku!" Ujar Ririn.


"Kalau aku bilang tidak boleh, ya tidak boleh!" Teriak Roni lagi.


"Dasar aneh!" Sahut Ririn sewot.


"Aku mencium bau-bau kecemburuan disini!" Sindir Hamka.


"Bucin....bucin.....! Ada yang sedang bucin!" Sindir Syakir.


"Wah, lain di mulut lain di hati!" Sambung Galuh ikut menyindir Roni.


"Cinta sedang bersemi di ruang makan ini." Sahut Ila ikut menimpali.


Roni diam saja sambil menundukkan wajahnya. Ia menahan rasa malu dengan wajah yang tampak merah padam itu. Ririn menahan senyumnya sambil melirik Roni yang duduk di sampinya di meja makan itu. Selama ini Ririn tak pernah menyangka bahwa Roni sebenarnya memiliki perasaan yang sama terhadap dirinya.

__ADS_1


__ADS_2