
Orang tua Hamka pun membuat pertemuan dengan ayah Kania. Mereka membicarakan mengenai keinginan Hamka yang berniat untuk melamar Kania. Tak di duga ternyata ayahnya Kania malah menyambut niat Hamka tersebut dengan begitu antusias. Ia juga ingin melihat putri semata wayangnya segera menikah dan memiliki keturunan.
"Lantas bagaimana? Apa lamaran dari keluarga kami di terima?" Tanya ayah Hamka pada tuan Fatah.
"Tentu saja! Aku menerima lamaran ini dengan sangat senang hati." Sahut tuan Fatah.
"Baiklah! Kapan kita akan melakukan pertunangan untuk mereka berdua?" Tanya ayah Hamka lagi.
"Secepatnya! Aku juga tidak sabar lagi ingin melihat putriku segera menikah. Hahaha." Sahut tuan Fatah.
"Hahahaha, aku juga sudah tidak sabar menimang cucu!" Sahut ayahnya Hamka.
Saat sedang berbincang diruang tamu, tuan Fatah melihat Kania yang baru saja pulang ke rumah. Saat itu Kania masih menggunakan seragam polisinya.
"Kania! Kemarilah nak!" Panggil tuan Fatah pada putri tunggalnya itu.
"Ada apa ayah?" Tanya Kania.
"Kenalkan, ini adalah tuan Kabir dan nyonya Lisa! Mereka datang kesini untuk melamarmu agar menikah dengan putra mereka." Kata tuan Fatah.
Deg...
Jantung Kania seakan terhenti mendengar perkataan ayahnya itu.
"Halo om, tante!" Ucap Kania menyalami kedua orang tua Hamka. Namun saat itu ia tak tau kalau mereka adalah orang tuanya Hamka.
"Kania! Ayah sudah menerima lamaran dari mereka dan secepatnya kau akan segera bertunangan dengan putra mereka." Kata tuan Fatah lagi.
Kania hanya diam saja saat ayahnya mengatakan hal yang pernah membuatnya trauma sangking sedihnya gagal menikah dan kehilangan kekasih.
"Eeemm, ayah! Aku ke kamarku dulu ya! Aku lelah seharian bekerja." Kata Kania.
"Baiklah, nak!" Sahut tuan Fatah.
"Maaf om, tante! Aku masuk ke kamar dulu." Kata Kania dengan sopannya.
"Iya!" Sahut kedua orang tuanya Hamka.
Kania menaiki anak tangga dan segera masuk ke dalam kamarnya. Ia menghempaskan tubuhnya di atas ranjangnya yang empuk. Ia meletakkan lengannya ke atas jidatnya sambil menatap ke langit-langit kamarnya.
"Apa yang terjadi hari ini? Kenapa tiba-tiba dilamar? Tadi siang si konyol itu ngelamarku, sekarang ada keluarga yang datang dan melamarku! Mana ayah menerimanya tanpa persetujuan dariku lagi!" Gpernikaha.
"Hendri! Apa kau ikhlas aku menikah dengan pria lain? Hiks...hiks...hiks, kenapa kau meninggalkan aku dengan cara yang tragis seperti ini?" Ucap Kania dalam isak tangisnya mengingat kekasihnya yang telah meninggal saat menjelang hari pernikahan.
Sangking lelahnya bekerja dan menangis, Kania sampai tertidur tanpa sempat membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Di apartemennya, Hamka jejingkrakan karena ia mendapat kabar kalau dia akan segera bertunangan dengan Kania, wanita yang menjadi incarannya itu. Sangking girangnya, Hamka sampai terpeleset dan terjatuh menimpa meja kaca yang ada di ruang tamu apartemennya. Meja kaca itu pun pecah karena tertimpa tubuhnya. Hamka tak perduli pada meja kaca yang pecah itu. Ia bangkit dan kembali jejingkrakan sangking senangnya.
*****
Sebulan kemudian, Galuh tampak sibuk memilih tempat untuk membuat acara pesta ulang tahun untuk Ila. Ia melihat beberapa gedung mewah yang biasa menjadi tempat diselenggarakannya acara pesta ulang tahun ataupun pesta pernikahan. Galuh sibuk menatap dan menggeser layar ponselnya untuk mencari gedung yang cocok untuk pesta ulang tahun Ila.
"Gedung ini pasti cocok untuk pesta ulang tahun Ila! Ruangannya sangat luas dan terlihat nyaman." Gumam Galuh yang duduk sendirian di dalam ruang kantornya.
Tak lama kemudian, Ila datang untuk mengantar makan siang untuk Galuh.
"Sayang, apa menurutmu gedung ini bagus?" Tanya Galuh pada Ila sambil menunjukkan beberapa foto gedung yang ada di layar ponselnya.
"Bagus!" Sahut Ila.
"Apa kau mau membeli gedung?" Tanya Ila.
"Tidak! Aku ingin menyewa gedung ini untuk membuat acara ulang tahunmu! Aku akan membuat acara pesta ulang tahun yang meriah untukmu." Sahut Galuh.
"Kak, tidak usah! Ini hanya membuang-buang uang saja!" Kata Ila menolak.
"Hei, apa kau lupa? Aku ini suami yang penuh perhatian pada istrinya!" Bisik Galuh pada Ila yang duduk diatas pangkuannya dan sambil mengulanginya dengan makanan.
"Iya, aku tau! Tapi aku kan sudah bilang, kalau aku hanya ingin merayakan hari ulang tahunku dengan makan malam bersama saja." Kata Ila.
"Imut! Ayolah, sekali-kali kau harus merayakan ulang tahunmu dengan meriah." Kata Galuh.
"Kak, kau ingin membuatku bahagia kan?" Tanya Ila.
"Iya dong!" Sahutnya.
"Berikan apa yang aku inginkan! Itu saja sudah membuatku bahagia." Kata Ila sambil mengelap sisa makanan yang ada di sudut bibir Galuh.
"Kau yakin, sayang?" Tanya Galuh.
"Iya! Aku hanya ingin makan malam bersama saja seperti tahun lalu." Sahut Ila.
"Iya, baiklah!" Kata Galuh memeluk istrinya dengan mesra.
"Kak, setelah ini aku pergi main ya bersama Eri dan Fiqri?" Kata Ila meminta izin pada suaminya.
Galuh lantas menurunkan Ila dari pangkuannya dan melihat Ila dari atas kepala hingga ujung kaki.
"Eeeemm, ganti pakaian mu itu! Kau terlihat cantik dan juga sexy dengan dress ini! Aku tak mau pria-pria di luar sana menatap istriku!" Kata Galuh mulai dengan sikapnya yang cemburuan.
"Huh! Dia mulai lagi!" Gumam Ila kesal dalam hatinya.
"Kak, tapi aku tidak bawa baju ganti!" Sahut Ila sewot.
__ADS_1
"Berarti kau sengaja kan tampil cantik dan sexy dengan dress ketat ini untuk pergi hangout bersama sahabat-sahabatmu itu?" Kata Galuh.
"Tidak!" Sahut Ila.
"Bohong!" Ujar Galuh.
"Tunggu disini! Aku akan menyuruh sekretarisku membelikan dress longgar untukmu." Kata Galuh.
Ila yang mengerti akan sikap Galuh, hanya bisa pasrah dan menunggu kedatangan sang sekretaris yang pergi membelikan dress longgar untuknya. Tak menunggu lama, sekretaris itu pun datang dengan membawa dress yang ia beli di sebuah boutique terdekat. Ila melihat dress longgar itu dengan tatapan mata yang kesal, sedangkan Galuh menatap dress itu dengan penuh bahagia.
"Ini daster!" Teriak Ila kesal.
"Pakai itu saja! Longgar dan panjang. Hehehe." Sahut Galuh terkekeh licik.
"Aku tidak mau!" Teriak Ila lagi sambil melemparkan daster batik itu ke wajah Galuh yang terkekeh licik.
Ila segera melangkah keluar dari ruangan sambil berdengus kesal.
"Ila, mau kemana kau?" Panggil Galuh.
"Cari selingkuhan!" Sahut Ila asal bicara.
"Eh, anying! Dia bilang apa barusan? Cari selingkuhan?" Ucap Galuh kaget.
"Ila! Awas saja kalau kau berani! Akan aku patahkan leher pria yang menjadi selingkuhanmu itu!" Teriak Galuh lagi.
"Dasar gila!" Gerutu Ila terus melangkah menuju lift.
Galuh yang sedang duduk di kantor tampak gelisah karena ucapan Ila barusan. Segera ia meraih ponselnya dan menghubungi Didi.
"Didi, cepat ikuti Ila!" Perintah Galuh pada supir pribadinya.
"Bos! Untuk apa aku mengikutinya? Nona Ila sedang bersamaku!" Sahut Didi yang saat itu sedang mengantar Ila kemanapun ia pergi.
"Apa? Apa maksudmu, kau adalah pria selingkuhan yang Ila bicarakan tadi, hah?" Teriak Galuh murka.
"Ya ampun! Si bos bodoh ini membuatku frustasi saja." Gumam Didi.
"Bos! Maksudku, hari ini aku diperintahkan oleh nyonya bos untuk mengantar nona Ila berpergian kemanapun." Kata Didi.
"Oh, begitu!" Sahut Galuh mengerti.
"Sudah ngerti kah?" Tanya Didi.
"Iya! Tapi aku menugaskan mu untuk menjaga istriku dari buaya-buaya biadab yang ada disekitarnya." Kata Galuh.
"Eh, bukannya buaya yang ada di sekitar nona Ila itu bos ya?" Kata Didi sambil terkekeh geli.
"Hei hei hei, akan ku potong hajimu selama lima tahun!" Teriak Galuh kesal pada Didi.
"Bukan urusanku!" Sahut Galuh seraya memutuskan sambungan teleponnya.
"Habis sudah! Gajiku selama lima tahun melayang dengan tragis!" Gumam Didi nangis bombai.
"Hei, kakak tampan! Kau tenang saja! Aku akan merampok Galuh dan memberikan uang untuk menggajimu!" Kata Ila yang duduk santai di kursi belakang mobil.
"Wah, nona Ila memang yahut!" Seru Didi girang.
*****
Hari pertunangan antara Kania dan Hamka pun tinggal dua hari lagi. Hamka yang sedang sibuk dengan pekerjaannya lupa dengan rencananya yang akan menemui Kania sebelum hari pertunangan mereka. Sampai akhirnya, hari pertunangan mereka pun akan segera dilaksanakan di sebuah gedung hotel mewah.
Sehari sebelum menjelang pesta pertunangan, Lisa menemui putranya yang gila kerja di perusahaannya. Lisa datang bersama dengan Febi yang membawa jas formal untuk dikenakan oleh Hamka.
"Hamka! Ini jas yang akan kau pakai di malam pertunangan mu besok!" Kata Lisa pada Hamka.
"Eh, apakah aku akan bertunangan besok?" Tanya Hamka lupa segalanya jika sedang bekerja.
"Iya lah, lol!" Sahut Febi duduk santai di sofa kantor sambil ngupil.
"Woi, dasar jorok!" Teriak Hamka pada gadis belia yang masih duduk di bangku perkuliahan itu.
"Bodo!" Sahutnya.
"Ibu, jadi besok adalah hari pertunangan ku?" Tanya Hamka lagi.
"Iya! Apa kau hilang ingatan, hah?" Teriak Lisa kesal.
"Astaga! Aku lupa!" Gumam Hamka tepok jidat.
"Lupa apaan?" Tanya Lisa.
"Aku harus menemui Kania, sebelum acara pertunangan nanti! Dia harus tau kalau akulah yang akan bertunangan dengannya." Kata Hamka panik.
"Ya ampun! ***** banget sih. Kalau kau mengatakannya, nanti kak Kania akan menolakmu lagi. Biarkan dia tau saat di pesta pertunangan nanti. Dengan begitu kan dia tidak akan bisa menolak kakak lagi." Kata Febi.
"Eh, benar juga!" Sahut Hamka.
"Hah! Kenapa aku melahirkan putra yang bodoh seperti dia, ya Tuhan!" Gumam Lisa tepok jidat.
"Hehehe, ibu terlalu memujiku!" Ucap Hamka cengengesan.
"Itu bukan pujian!" Seru Lisa dan Febi.
__ADS_1
"Hehehe, oke!" Sahut Hamka yang masih cengengesan sambil garuk-garuk kepala.
Hari pertunangan pun tiba. Dia sebuah kamar hotel mewah itu, Kania terlihat begitu cantik dan anggun Dengan balutan gaun pertunangannya. Namun raut wajahnya yang cantik itu tak menampilkan senyuman kebahagiaan sedikitpun. Hingga sang perias kebingungan melihat Kania yang tampak murung.
"Nona, kenapa kau terlihat murung? Ini kan hari pertunangan mu! Seharusnya kau sedang berbahagia malam ini." Kata perias itu.
"Bagaimana aku akan bahagia? Aku bahkan tidak mengenal calon tunangan ku itu!" Sahutnya.
"Oh, kau dijodohkan, ya?" Tanya perias itu.
"Iya!" Sahut Kania.
"Semoga pria itu baik dan memiliki paras yang tampan." Ucap perias itu.
"Ayolah, tersenyum sedikit saja." Kata perias itu lagi.
Kania hanya menarik garis senyumannya sejenak lalu kembali murung.
Di ruang acara, Hamka yang duduk bersama dengan sahabat-sahabatnya, tampak gelisah karena Kania tak kunjung datang. Ingin rasanya ia mengobrak-abrik seisi ruangan itu dengan kesal.
"Kenapa lama sekali sih?" Kata Hamka tak sabaran.
"Ya ampun! Si kampret ini selalu saja tidak sabaran." Sahut Galuh sambil menggendong Gilang yang sedang tertidur pulas.
"Tenanglah sedikit! Wanita kala berhias memang lama!" Sambung Syakir sambil melirik Kia yang kebetulan sedang memperbaiki riasan diwajahnya.
"Kau menyindirku, hah?" Ujar Kia melotot pada Syakir.
"Hehehe, iya!" Sahut Syakir jujur.
"Huh, dasar!" Gerutu Kia.
"Hhuueeekkk....hhuuueekk!" Ririn mual-mual ingin muntah karena sedang hamil hasil perbuatan Roni.
"Apa kau ingin muntah, sayang?" Tanya Roni pada istrinya itu.
"Tidak! Aku ingin menyanyi!" Sahut Ririn.
"Sudah tau aku mual-mual sudah jelas akan ingin muntah!" Sambung Ririn sewot.
"Ya ampun! Semenjak hamil dia selalu saja sensitif." Gumam Roni frustasi menghadapi istrinya.
"Nikmati saja! Itu kan hasil kerja kerasmu di ranjang! Hehehehe." Sahut Galuh.
"Kiki, aku ingin kau segera hamil!" Kata Syakir.
"Nikah dulu baru boleh menghamili ku!" Sahut Kia masih sibuk memperbaiki make-upnya.
Tak lama kemudian, datanglah Kania yang tampak begitu cantik malam itu. Hamka tercengang melihat polwan dingin itu mengenakan gaun yang sangat indah dan membuatnya terlihat anggun.
"Apakah itu si polwan jutek?" Gumam Hamka tercengang.
"Iya!" Seru sahabat-sahabatnya.
"Terima kasih ya Tuhan! Kau turunkan bidadari untukku!" Ucap Hamka.
"Lebai banget sih!" Seru sahabat-sahabatnya lagi menatap Hamka.
Acara pertunangan itu pun segera di laksanakan. Hamka mengambil tempat dan berdiri di samping Kania. Saat itu Kania kaget karena melihat Hamka berdiri tepat disampingnya.
"Kau? Apa yang kau lakukan disini?" Pekik Kania pada Hamka.
"Berdiri!" Sahutnya.
"Ini tempat untuk calon tunangan ku!" Pekik Kania lagi.
"Iya! Aku prianya!" Sahut Hamka.
"Apa?" Teriak Kania kaget yang membuat semua mata tertuju padanya.
"Hei, kenapa berteriak? Lihatlah semua tamu jadi menatapmu!" Kata Hamka menggeser dagu Kania untuk menoleh kepada tamu.
"Apa maksudmu?" Bisik Kania.
"Calon tunanganmu itu adalah aku, ibu polwan!" Sahut Hamka.
"Kau serius?" Bisik Kania.
Hamka mengangguk.
"Hehehe, mari kita bertunangan dan menikah, lalu memiliki anak yang banyak! Yeeeyy!" Seru Hamka girang.
"Matilah aku! Si konyol ini akan menjadi suamiku!" Gumam Kania tepok jidat.
"Hehehehe, aku hebat kan?" Ucap Hamka.
"Dasar gila!" Ujar Kania berdengus kesal pada Hamka.
"Bodo!" Balas Hamka.
Malam itu adalah hari keberuntungan untuk Hamka dan hari kesialan untuk Kania.
__ADS_1