
Ila membuka koper miliknya dan mengeluarkan pakaian untuk di simpan di dalam lemari besar yang ada di kamar apartemen milik Galuh. Saat itu Ila masih menggunakan gaun pengantinnya. Galuh berdiri di depan pintu melihat Ila yang kini sudah sah menjadi istrinya. Galuh melihat Ila dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Cantik!" Gumamnya dalam hati melihat Ila yang sibuk merapikan pakaiannya di dalam lemari.
Galuh mendekati Ila yang berdiri di depan lemari besar itu. Ila tau kalau Galuh akan mendekatinya. Ila menjadi sangat gugup dengan jantungnya yang berdegup kencang.
"Jangan kesini! Jangan dekati aku." Gumam Ila ketakutan.
Galuh mendekat dan berbisik pada Ila.
"Jangan lupa pakaianku juga di simpan dalam lemari." Bisik Galuh sambil tersenyum jahat.
Ila cepat-cepat mengangguk sembari menjauh dari Galuh.
"Kenapa kau? Apa kau takut padaku?" Tanya Galuh.
"Tidak! Bukan begitu. Aku belum mandi jadi jangan dekat-dekat nanti kau mencium aroma tubuhku yang bau." Kata Ila memberi alasan aneh.
"Dia pasti gugup saat aku mendekatinya! Hehehe, aku akan mengganggumu sepanjang malam sampai kau tidak bisa tidur." Ucap Galuh dalam hatinya yang berniat untuk mengerjai Ila.
Galuh mengambil handuk dan melangkah menuju ke kamar mandi.
"Aku akan mandi duluan! Setelah itu baru kau." Kata Galuh pada Ila.
"Iya." Sahut Ila.
Ila melirik Galuh yang sudah masuk ke dalam kamar mandi. Ila bernafas lega saat Galuh tidak berada di dakatnya untuk sementara waktu. Ila pun melanjutkan pekerjaannya merapikan pakaian di dalam lemari.
Ila sudah selesai menyimpan pakaiannya dan juga pakaian Galuh di dalam lemari. Ia duduk di tepi ranjang sambil menunggu giliran untuk mandi. Ia tidak terpikir untuk mandi di kamar mandi lainnya yang ada di apartemen itu karena ia belum mengetahui seluk beluk dari apartemen yang sangat asing baginya.
Tak lama kemudian Galuh keluar dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. Ila enggan menatap Galuh yang hanya menggunakan handuk saja dengan tubuh yang masih basah. Galuh melihat Ila yang tak mau menatapnya. Ia pun kembali mendekati Ila yang masih duduk di tepi ranjang.
"Apa kau tidak suka bentuk tubuhku, Ila?" Bisik Galuh yang membuat Ila gemetar ketakutan.
"Aku mau mandi!" Teriak Ila langsung berlari masuk ke kamar mandi.
Galuh terkekeh melihat Ila yang sangat takut padanya. Galuh membuka lemari dan mengenakan piyama untuk tidur. Ila masih berada di dalam kamar mandi dalam waktu yang sangat lama. Galuh melirik jam dan menghitung kalau Ila sudah dua jam di dalam kamar mandi. Galuh yang sudah berbaring di atas ranjang berdecak kesal karena tidak sabaran untuk mengganggu Ila setelah selesai mandi.
"Ila, Apa kau tidur di dalam sana?" Teriak Galuh sambil menggedor pintu kamar mandi.
"Ila!" Panggil Galuh lagi.
"Iya! Sebentar lagi aku keluar." Sahut Ila.
"Cepatlah!" Teriak Galuh.
Ila yang masih di dalam kamar mandi hanya menggunakan handuk yang menutupi bagian dadanya hingga atas lutut. Ila bingung harus berbuat apa setelah mandi.
"Sial! Sangking takutnya aku pada si beruang kutub itu, aku jadi lupa membawa baju ganti." Ucap Ila kesal pada dirinya sendiri.
Lalu Ila mendengar lagi panggilan Galuh yang berada di depan pintu kamar mandi.
"Ila, cepat keluar! Atau aku dobrak pintunya." Teriak Galuh menggedor pintu.
Ila pun membuka pintu kamar mandi dan mengintip sedikit. Galuh yang sejak tadi kesal langsung mendorong pintu itu hingga terbuka lebar. Tampak lah Ila yang hanya menggunakan handuk di tubuhnya. Galuh tersenyum sementara Ila tertunduk malu sambil melangkah keluar dari kamar mandi untuk mengambil pakaian di dalam lemari.
Galuh menarik tangan Ila yang melintas di depannya.
"Kenapa terburu-buru, hah?" Bisik Galuh lagi.
"Aku mau ambil baju di lemari." Sahut Ila.
"Tidak usah pakai baju, begini saja kau juga terlihat cantik." Bisik Galuh lagi.
Ila melemparkan senyuman canggungnya kepada Galuh yang membuat Galuh kesal seketika. Galuh melepaskan tangan Ila begitu saja. Ila melangkah cepat mengambil pakaiannya dan masuk kembali ke dalam kamar mandi.
"Huh! Kenapa sih dia selalu saja senyum seperti itu? Sangat jelek!" Gumam Galuh kesal.
Ila yang sudah masuk kembali ke kamar mandi menghela nafas.
"Hah, jantungku hampir copot!" Ucap Ila sambil menepuk dadanya perlahan.
Ila memakai pakaian tidurnya di dalam kamar mandi. Saat itu ia mendengar lagi teriakan Galuh yang memanggil dirinya.
"Astaga! Kenapa dia sangat suka berteriak sih? Menyebalkan sekali dia." Ujar Ila kesal pada Galuh.
Ila keluar dari kamar mandi dan di kagetkan dengan sosok Galuh yang berdiri di depan pintu kamar mandi. Galuh menarik tangan Ila dan melemparkan tubuh Ila ke atas ranjang. Ila semakin gemetar ketakutan saat Galuh memperlakukannya seperti itu.
"Tidur!" Kata Galuh pada Ila.
Ila pun berbaring di samping Galuh yang juga ikut berbaring di atas ranjang. Ila menutup matanya rapat-rapat padahal saat itu lampu kamar belum di matikan. Galuh menoleh kepada Ila yang gemetar di sampingnya. Ila yang sudah menutup matanya rapat-rapat tiba-tiba merasakan tangan kekar yang melilit tubuhnya. Ila membuka matanya lebar-lebar dan melihat ke sisi kanannya. Ternyata Galuh sudah mendekap dirinya sambil tersenyum mesum padanya.
"Kak, lepas!" Ucap Ila berusaha mendorong lengan Galuh.
"Tidak akan!" Sahut Galuh semakin erat mendekap Ila.
__ADS_1
"Aku susah bernafas." Kata Ila.
"Bodo amat!" Sahut Galuh lagi.
"Kak, aku serius nih! Aku susah bernafas." Kata Ila yang memang benar-benar susah bernafas karena Galuh memeluknya dengan sangat kencang.
Galuh melonggarkan pelukannya agar Ila bisa bernafas dengan lega.
"Kak." Panggil Ila pada Galuh.
"Heemm?" Sahutnya.
"Lepas." Kata Ila.
"Tidak! Sekarang kau sudah menjadi milikku, jadi terserah aku mau berbuat apa saja padamu." Sahut Galuh.
"Bukannya kau menolak pernikahan kita, lalu mengapa kau seperti ini padaku?" Tanya Ila sambil terus berontak agar terlepas.
"Diam! Jangan banyak bertanya." Ujar Galuh.
Ila pun diam dan berhenti berontak. Galuh masih mendekap Ila sambil berbaring di atas ranjang. Kemudian terlintas di pikiran Galuh untuk mengganggu Ila lagi. Salah satu tangan Galuh berpindah naik ke atas menyentuh bagian kenyal yang ada pada tubuh Ila. Ila kaget saat tangan Galuh menyentuh dadanya.
"Kak Galuh, lepas. Kau menyebalkan!" Ucap Ila sewot.
"Kenapa? Semua yang ada pada dirimu adalah milikku!" Kata Galuh.
"Aku tidak suka kau menyentuhnya." Ujar Ila.
"Hei, apa kau lupa kalau aku sudah pernah menyentuh semuanya yang ada di tubuhmu saat kita bermalam di hotel? Cobalah ingat saat itu kau telanjang, bukan?" Tanya Galuh membuat wajah Ila merah padam.
"Jangan katakan hal itu lagi!" Teriak Ila menahan rasa malunya pada Galuh.
"Hehehe, jangan malu seperti itu. Aku katakan padamu, saat kita tidur seranjang di villa aku juga melakukan hal yang sama padamu." Kata Galuh berbohong.
"Bohong!" Ujar Ila.
"Hei, saat itu kau sangat lelap tidur, makanya kau tidak tau kalau aku sudah menyentuh setiap inci dari tubuhmu. Hehehe." Sahut Galuh terkekeh jahat.
"Dasar kau menyebalkan! Lepaskan aku." Teriak Ila berontak.
"Tidak akan!" Balas Galuh berusaha untuk terus mendekap Ila.
Ila sangat kesal karena Galuh terus mengganggunya malam itu. Hal ini lah satu-satunya yang menjadi alasan mengapa Galuh ingin tinggal bersama Ila di apartemen. Ia memang sangat suka mengganggu Ila tanpa adanya campur tangan Hana dan juga Antoni yang sering membela Ila.
Malam pertama Ila menjadi istri Galuh di lalui Ila tanpa terpejam sedetikpun hingga waktu fajar. Ila tidak bisa tidur karena Galuh terus saja mengganggunya dengan bisikan-bisikan mesum yang membuat wajah Ila merah karena menahan rasa malu. Galuh terlihat sangat bahagia ketika melihat wajah Ila memerah karena menahan malu akibat ulahnya.
Ila merasa perutnya kelaparan. Ila menoleh ke arah sudut ruang makan dan melihat kulkas 4 pintu disana. Ila membuka kulkas besar itu dengan harapan banyak menemukan bahan makanan yang dapat ia olah. Namun saat membukanya Ila menghela nafas berat. Tidak ada benda apapun disana kecuali botol air mineral itupun tinggal setengah saja.
"Apakah si beruang kutub itu makan angin saja? Bagaimana bisa kulkas sebesar ini hanya diisi dengan sebotol air mineral saja? Itupun tinggal setengah." Kata Ila kembali menutup pintu lemari pendingin itu.
Ila berjalan masuk kembali ke dalam kamar. Mau tak mau ia harus membangunkan Galuh untuk pergi membelikan makanan untuknya.
"Kak, bangun." Kata Ila menggoyangkan tubuh Galuh.
"Ada apa?" Tanya Galuh enggan membuka matanya.
"Aku lapar! Tidak ada makanan di kulkas." Sahut Ila.
Galuh bergeser dan membuka laci untuk mengambil dompet miliknya. Galuh memberikan sebuah kartu kerdit pada Ila.
"Ini ambil lah! Beli apapun yang kau mau." Kata Galuh lalu kembali tidur.
Ila hanya diam menatap kartu kredit yang di berikan Galuh padanya. Galuh membuka matanya dan melihat Ila masih berdiri di sampingnya.
"Di seberang jalan apartemen ini ada mini market! Kau beli makanan yang kau mau. Jangan lupa belikan juga untukku." Kata Galuh kemudian menutup matanya kembali untuk tidur.
Ila sangat kesal pada Galuh yang memerintahkannya untuk pergi keluar membeli makanan.
"Ingin sekali rasanya aku mematahkan lehernya itu!" Ujar Ila dalam hatinya sangat kesal pada Galuh.
Ila pun keluar dari apartemen untuk membeli makanan di mini market seberang jalan. Disana Ila juga melihat ada sebuah toko modern yang menjual berbagai jenis sayur dan juga buah. Ila masuk ke toko itu dan membeli beberapa bahan makanan disana. Ila kembali ke apartemen dengan barang belanjaan yang banyak. Ia menyimpan bahan makanan yang ia beli ke dalam kulkas. Kini kulkas itu terisi penuh dengan bahan makanan yang Ila beli. Ila duduk dan memakan roti yang ia beli di mini market. Setelah merasa perutnya sedikit terganjal, Ila mulai memasak makanan dari bahan yang ia beli tadi.
"Dapur ini sangat kekurangan alat untuk memasak." Gumam Ila melihat seisi dapur.
Ila pun memasak dengan alat seadanya. Ila juga memanggang butiran-butiran biji jagung untuk di jadikan popcorn. Saat ia belanja bahan makanan, Ila juga membeli biji jagung popcorn.
Aroma jagung popcorn tercium hingga menusuk ke hidung si beruang kutub. Seketika Galuh membuka matanya dan bangkit dari ranjang tidurnya. Galuh berjalan menuju dapur dan melihat semangkuk popcorn yang di panggang menggunakan margarin.
Ila melihat Galuh duduk dan menarik mangkuk popcorn itu mendekat padanya.
"Hei, itu punyaku!" Teriak Ila.
"Apa yang ada di sini adalah milikku!" Balas Galuh membawa kabur semangkuk popcorn itu.
Ila berdecak kesal karena Galuh membawa semua popcorn yang ia letakkan di meja. Galuh duduk di ruang tengah menyalakan televisi sambil menyantap cemilan kesukaannya tersebut hingga ludes dalam sekejap. Galuh kembali ke dapur dengan membawa mangkuk yang sudah kosong.
__ADS_1
"La, ada popcorn lagi?" Tanya Galuh pada Ila yang masih sewot padanya.
"Tidak ada!" Sahutnya.
"Kenapa kau membelinya sedikit? Aku menyukai popcorn." Kata Galuh kesal.
"Mana aku tau kalau kau menyukai cemilan anak-anak seperti itu." Sahut Ila.
"Hei, popcorn itu makanan yang paling lezat di dunia!" Kata Galuh ikut duduk di meja makan.
Ila teringat saat bertemu dengan Galuh di kedai popcorn samping gedung bioskop waktu itu.
"Oh, pantas saja waktu itu kau tidak mau mengantri karena kau sudah kebelet ingin makan popcorn." Ujar Ila.
"Iya lah!" Sahut Galuh.
"Huh, Dasar beruang kutub!" Gumam Ila dengan suara yang sangat pelan.
Galuh melihat banyak makanan di meja makan yang Ila masak.
"Apa semua ini kau yang masak?" Tanya Galuh.
"Menurutmu siapa lagi? Apa disini ada pelayan?" Kata Ila balik bertanya.
Galuh tertegun dengan makanan lezat yang ada di atas meja.
"Tidak di sangka ternyata dia pintar memasak." Batin Galuh.
Galuh mengambil piring dan menyodorkannya pada Ila.
"Apa?" Tanya Ila bingung.
"Layani aku makan. Kau itu sudah menjadi istriku! Berikan nasi pada piringku, aku sudah sangat lapar." Kata Galuh.
Ila pun mengisi piring Galuh dengan nasi dan beberapa lauk pauk disana. Dengan segera Galuh menyantap makanan yang Ila masak untuknya. Lebih kagetnya lagi masakan Ila terasa sangat lezat di lidahnya.
"Wah, dia jago masak!" Gumam Galuh saat menyantap makanan di piringnya.
Ila yang merasa kelaparan lagi ikut makan di satu meja yang sama dengan Galuh. Saat sedang menikmati makanannya, tiba-tiba terdengar suara bel pintu. Ila bangun dan melangkah menuju arah pintu. Ila membuka pintunya dan melihat Hana yang tersenyum lebar padanya.
"Tante." Ucap Ila.
"Hei, jangan panggil aku tante lagi tapi mama." Kata Hana.
"Iya." Sahut Ila.
Hana menerobos masuk begitu saja dengan membawa menu makanan untuk Ila dan Galuh. Hana menuju dapur dan melihat putranya yang sudah kekenyangan makan duduk sambil bersandar.
"Apa kalian sedang makan?" Tanya Hana.
"Iya." Jawab Galuh.
"Ma, ayo makan!" Ajak Ila.
"Mama tadi sudah makan dirumah." Sahut Hana.
"Aku pikir kalian belum makan, makanya aku membawakan kalian makanan dari rumah." Kata Hana lagi.
"Tadi Ila belanja di depan dan masak." Sahut Ila.
Galuh bangkit dari kursinya dan berbisik pada Hana.
"Enak banget, ma!" Bisik Galuh yang menyukai masakan Ila.
"Hehehe, mantuku memang hebat." Balas Hana berbisik pada Galuh.
Galuh berjalan menuju kamar utama.
"Hei kau mau kemana?" Tanya Hana.
"Tidur! Semalaman aku tidak tidur. Aku ngantuk." Jawab Galuh.
Hana berpikir kalau Galuh dan Ila semalaman tidak tidur karena melakukan hal yang memang biasa di lakukan oleh pasangan pengantin baru. Hana tersenyum melirik Ila yang tampak bengong melihatnya.
"Hehehe, sampai lelah begitu." Ucap Hana tersenyum.
"Baiklah, mama pulang dulu ya. Kalian sambung lagi tidurnya, biar mama cepat punya cucu." Sambung Hana lagi menarik tangan Ila untuk masuk ke dalam kamar bersama Galuh.
Hana pun pergi setelah meletakkan makanan yang ia bawa di meja makan. Ila dan Galuh saling pandang saat mereka berada di dalam kamar. Ila melangkah keluar dan di cegah oleh Galuh dengan cepat.
"Kau mau kemana?" Tanya Galuh pada Ila sambil tersenyum mesum.
"Aku mau merapikan meja makan." Ucap Ila gugup.
"Tidak usah! Kau temani aku tidur di sini." Kata Galuh menyeret Ila untuk naik ke atas ranjang.
Lagi-lagi Galuh mengganggu Ila untuk membuatnya malu ataupun merasa gugup saat berada di dalam kamar. Puas mengganggu Ila, Galuh pun memutuskan untuk tidur begitu juga dengan Ila yang memang belum tidur sejak semalaman.
__ADS_1