
Hamka dan Kania pun tiba di apartemen. Kania masuk ke dalam apartemen itu dengan wajah yang cemberut sementara Hamka dengan wajah riang gembira. Begitu banyak rencana yang telah ia susun disaat Kania tinggal di apartemen bersama dirinya.
"Dimana kamarku?" Tanya Kania.
"Di lantai atas!" Sahut Hamka.
Kania pun menaiki anak tangga menuju ke kamar yang dimaksud oleh Hamka. Saat membuka pintu kamar itu Kania tercengang. Ia melihat begit banyak kelopak bunga mawar merah yang menghiasi lantai serta ranjang tidur di kamar tersebut. Di dinding kamar itu juga terlihat tulisan dengan ukiran yang indah. "WELLCOME MY HONEY" yang membuat kening Kania berkerut.
"Apa-apaan sih manusia lebay ini?" Gumam Kania menatap segala sudut ruang kamar yang dihiasi dengan indah bak kamar pengantin baru.
"Ini kamar kita, sayang!" Ucap Hamka seraya memeluk tubuh Kania dari belakang.
"Hei, manusia lebay! Apa kita ini pengantin baru?" Kata Kania terus menatap ruang kamar itu.
"Iyalah!" Sahut Hamka asal bicara.
"Sembarangan saja kalau bicara! Kita saja belum menikah, dodol!" Ujar Kania membalikkan tubuhnya menghadap pada Hamka yang cengar-cengir sedari tadi.
"Bagiku, kau adalah istriku sekarang! Kau harus melakukan segalanya sebagai seorang istri." Kata Hamka.
"Mimpi!" Ujar Kania.
"Minggir! Aku mau mandi!" Kata Kania melepaskan dekapan Hamka dari tubuhnya.
"Aku ikut, sayang!" Rengek Hamka.
"Tidak boleh!" Sahut Kania menolak Hamka yang mendesak ingin masuk ke dalam kamar mandi bersamanya.
Bbbbrraaakkkkkk.....
Pintu kamar mandi tertutup rapat serta terkunci dari dalam. Hamka terkekeh kecil melihat tingkah Kania yang malu-malu kucing terhadapnya.
"Syalala....! Yang penting sekarang aku dan Kania tinggal bersama! Hehehe, ayah mertuaku memang the best lah!" Gumam Hamka senang karena Kania akhirnya tinggal seatap dengannya hingga hari pernikahan mereka nantinya.
*****
Beberapa minggu kemudian, Kia dan Syakir pun mengadakan acara pernikahan mereka di kediaman Yurika. Kia terlihat begitu cantik dengan pakaian kebaya putih dan kain bawahan batik tulis. Ia duduk di depan cermin riasnya sambil menatap dirinya yang sedang gugup menghadapi pernikahannya. Tak lama kemudian, Ila masuk ke dalam kamarnya untuk membawa Kia ke ruang yang disediakan untuk melakukan ijab qobul.
"Kia! Penghulunya sudah datang! Ayo, kita turun ke bawah!" Kata Ila pada sepupunya itu.
"Hah! Aku gugup." Ucap Kia menghela nafas.
"Hei, jangan terlalu gugup! Kau masih mending menikah dengan pria yang kau cintai, bagaimana pula dengan diriku saat dulu menikahi pria yang sama sekali tidak aku cintai dan selalu membuatku kesal ketika bertemu." Kata Ila mengingat masa indahnya bersama Galuh sebelum saling jatuh cinta.
"Tapi aku tetap saja gugup! Aku takut kak Syakir salah mengucapkan ijab qobulnya!" Kata Kia.
"Sudahlah! Ayo kita turun! Semuanya telah menunggu." Kata Ila menarik Kia ikut bersamanya.
Ila pun turun membawa Kia yang terlihat cantik dengan pakaian kebaya putihnya. Syakir menatap calon istrinya itu dengan senyuman yang lebar. Tampak Syakir sangat senang di hari bahagianya itu. Yurika membawa Kia duduk bersanding di samping Syakir yang telah memantapkan diri untuk melakukan ijab qobul dengan perwakilan bapak penghulu.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Syakir bin Sofyan dengan Zaskia binti Irsal dengan mas kawin sebuah cincin berlian dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!" Ucap pak penghulu.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Zaskia binti Irsal dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" Ucap Syakir dengan lantangnya.
"Bagaimana saksi? Sah?" Kata penghulu pada para saksi pernikahan yang duduk di ruangan itu.
"Sah!" Seru para saksi pernikahan.
Saat mendengar suara para saksi pernikahan mengatakan "sah" Kia langsung kaget.
__ADS_1
"Eh, begitu saja kah? Lalu aku sudah jadi istri nih?" Gumam Kia dalam hatinya seakan tak percaya bahwa kini status dirinya telah menjadi seorang istri dari Syakir. Lalu ia melirik kesamping dan menatap Syakir yang tersenyum lebar padanya.
"Hehehe, istriku!" Bisik Syakir sambil memberikan kode keras pada Kia.
Kia langsung menundukkan wajahnya yang begitu memerah karena malu. Setelah acara pernikahan itu selesai, Syakir yang ingin menginap dirumah Yurika ditarik paksa oleh ayahnya untuk kembali pulang ke rumah. Sofyan mati-matian menyeret putranya yang ingin segera melaksanakan malam pertama dengan Kia.
"Ayah! Aku ingin melakukan kewajibanku sebagai suami nanti malam!" Teriak Syakir meronta saat diseret oleh Sofyan.
"Modus! Bilang saja kau ingin menindas menantuku nanti malam! Dasar tidak sabaran! Dua hari lagi pesta pernikahanmu akan diselenggarakan, setelah itu kau baru boleh bobok bareng dengan Kia!" Sahut Sofyan terus menyeret putranya masuk ke dalam mobil dan dibawa pulang.
Galuh, Ila, Yurika, Kia, Hamka, Syakir, Roni, Ririn, Hana serta Antoni hanya menatap ayah dan anak yang sedang bersitegang di dalam mobil sebelum pergi dari kediaman Yurika itu.
"Anak muda jaman sekarang memang tidak sabaran ya?" Kata Antoni.
"Heh, kau juga dulu seperti itu!" Sahut Hana sewot pada suaminya.
"Hehehe, begitu ya!" Ucap Antoni cengengesan.
"Hah! Aku jadi merindukan sosok Raldi!" Gumam Yurika dalam hatinya.
"Buat bayi lagi, yok!" Bisik Galuh pada Ila.
"Hei, pelankan suaramu!" Bisik Ila.
"Kania, kita kawin yok!" Bisik Hamka.
"Dasar gila!" Balas Kania.
"Hei, nikah dulu baru kawin!" Sahut Roni yang mendengar percakapan antara Kania dan Hamka.
"Nyahut saja!" Ujar Hamka sewot.
"Kenapa, sayang?" Tanya Roni.
"Perutku sakit!" Pekik Ririn.
"Mungkin dia mau melahirkan!" Seru Hana dan Yurika.
"Aaarrgghh, aku panik ya lord!" Teriak Roni si dokter kandungan yang begitu panik ketika istrinya melahirkan.
"Dasar dokter kandungan edan! Sudah terbiasa menangani wanita melahirkan sekarang dia malah panik saat istrinya mau melahirkan." Ujar Galuh.
Roni dengan cepat menggendong tubuh Ririn untuk masuk ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit. Hana dan Yurika ikut bersamanya untuk menenangkan Ririn yang merasakan kontraksi pada perutnya. Disaat panik, tiba-tiba Ririn tampak diam dan berhenti berteriak.
"Sakitnya sudah hilang!" Kata Ririn.
"Memang seperti itu! Nanti pasti kau akan kontraksi lagi." Kata Roni sambil menyetir menuju rumah sakit terdekat.
"Aaarrggh!" Pekik Ririn yang mengagetkan Hana dan Yurika.
"Kenapa?" Pekik Hana.
"Sakit lagi!" Sahut Ririn meringis menahan sakitnya kontraksi.
Roni pun melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit. Tiba disana Roni segera membawa istrinya ke ruang bersalin dengan beberapa perawat yang akan membantunya. Hana dan Yurika menunggu di luar ruang bersalin. Tak lama kemudian Galuh dan Ila pun menyusul datang d ke rumah sakit itu. Dari luar terdengar suara teriakan Ririn yang sedang berjuang melahirkan bayinya dengan bantuan suaminya sendiri.
"Aaarrgghh! Roni, kenapa bayinya tidak keluar juga?" Pekik Ririn.
"Sabar, sayang! Baru kepalanya saja yang terlihat." Sahut Roni berusaha tenang sebagai dokter kandungan menangani istrinya yang berjuang melahirkan bayinya.
__ADS_1
Selang beberapa menit kemudian, terdengar tangisan bayi perempuan di dalam ruang bersalin itu. Roni menatap bayi kecilnya yang masih berlumuran darah.
"Akhirnya aku punya anak! Huhuhuhu." Tangis Roni pecah sangking terharunya.
"Dasar lebay!" Gerutu Ririn.
Roni memberikan bayinya kepada perawat untuk dibersihkan, sementara itu ia kembali melakukan tindak medis kepada Ririn yang baru saja melahirkan bayinya. Setelah selesai, Roni mencium kening istrinya dengan hangat
"Setelah ini jangan lupa hamil lagi ya! Hehehe." Kata Roni sambil meledek Ririn.
"Tidak mau!" Sahut Ririn sewot.
"Hehehe, nanti pasti mau! Aku adalah pria pemaksa, Ririn!" Seru Roni.
"Dasar gila!" Umpat Ririn masih merasa lelah berbaring di ranjang ruang bersalin itu.
Hana sebagai seorang tante bagi Roni, memberikan selamat kepada keponakannya itu. Ia begitu bahagia melihat Roni kini telah menjadi seorang ayah. Yang lainnya pun ikut memberikan selamat dan juga berbahagia untuk kelahiran bayi pertama Roni dan Ririn.
"Apa kau sudah mengabarkan hal ini pada kedua orang tuamu, Roni?" Tanya Hana.
"Belum! Aku akan menghubungi kedua orang tuaku dan juga kedua mertuaku nanti!" Sahut Roni terlihat jelas tampak berseri pada wajahnya karena senang atas kelahiran putri pertamanya.
"Mereka pasti akan senang!" Kata Hana lagi.
"Iya! Ayah dan ibu sebelumnya sudah berjanji akan datang ke kota ini untuk melihat putriku!" Sahut Roni.
"Ron! Selamat bergadang semalaman, ya! Hehehe." Kata Galuh.
"Aku sudah terbiasa menghadapi tantangan seperti ini! Aku kan seorang dokter! Hehehe." Sahut Roni yang telah siap untuk mengurus segala sesuatu yang diperlukan oleh bayinya.
Setelah melihat bayi perempuan Roni dan Ririn yang diberikan nama Anastasya itu, Galuh dan yang lainnya kembali ke rumah Yurika. Disana Galuh melihat wajah Hamka yang tampak kesal sambil duduk bersama Antoni di teras rumah.
"Kenapa dia?" Tidak Galuh pada Antoni sambil melirik Hamka.
"Di tinggal Kania tugas!" Sahut Antoni.
"Maklumi saja lah! Kania kan polisi!" Kata Galuh pada Hamka.
"Bukan begitu! Kania baru saja sembuh dari luka tembak yang ada di lengannya, sekarang sudah harus dinas lagi! Mana minggu depan dia sudah pindah tugas ke kota lain pula!" Sahut Hamka.
"Baru saja tinggal seatap, aku harus terpisah lagi!" Sambung Hamka menggerutu kesal.
"Beberapa bulan lagi kau akan menikah, setelah itu dia sudah menjadi hak mu! Sabar saja." Kata Antoni pada Hamka.
"Hah, menikah pun percuma, om! Kalau tinggalnya di kota yang berbeda!" Sahut Hamka frustasi.
Galuh menatap ayahnya yang banyak mengenal petinggi-petinggi di kepolisian. Galuh berharap Antoni akan membantu masalah yang sedang dihadapi oleh sahabatnya itu.
"Hamka, om punya kenalan petinggi kepolisian! Om akan coba bantu Kania agar tidak perlu pindah tugas ke kota lain." Kata Antoni.
"Yang benar nih, om?" Kata Hamka.
"Iya! Om akan coba bantu nanti!" Sahut Antoni.
"Wah, terima kasih ya om!" Ucap Hamka senang.
"Berdoa saja semoga teman om nanti bisa mengatur semuanya." Kata Antoni.
"Ayo kita masuk ke dalam! Besok lusa acara pesta pernikahan Kia dan Syakir! Banyak yang masih harus kita lakukan untuk membantu Yurika." Kata Antoni pada Hamka dan Galuh.
__ADS_1
Antoni pun masuk ke dalam rumah Yurika diikuti oleh Galuh dan Hamka untuk membantu Yurika mempersiapkan segala keperluan yang akan menjadi kesempurnaan pesta pernikahan Kia dan Syakir dua hari mendatang.