
Hampir dua jam lamanya Galuh menunggu kepulangan Ila di ruang kerjanya sambil mengerjakan beberapa berkas yang akan dipersiapkan untuk urusan bisnisnya. Namun sampai detik itu Ila tak kunjung kembali ke rumah. Galuh merasa khawatir kepada istrinya itu. Galuh membuka laci meja kerjanya dan meraih kunci mobil miliknya. Tak sempat berganti pakaian, Galuh langsung tancap gas untuk menyusul Ila yang menemui Imran dirumah sakit bersama Kania.
Tiba di rumah sakit itu, Galuh melihat Ila duduk sambil menangis. Tampak Ila sedang mengganggam secarik kertas ditangannya. Galuh mempercepat langkahnya untuk menghampiri istrinya itu.
"Sayang." Ucap Galuh berjongkok di depan Ila.
Ila pun menatap Galuh sejenak dan kemudian ia memeluk suaminya dengan erat.
"Kak!" Ucap Ila menangis di dalam dekapan suaminya.
"Ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa kau menangis? Apa Imran menyakitimu?" Tanya Galuh.
"Dia telah pergi!" Ucap Ila dalam isak tangisnya.
"Siapa? Siapa yang pergi?" Tanya Galuh.
"Ayahku meninggal!" Ucap Ila menangis dengan begitu sedihnya. Walaupun Ila membenci sosok Imran karena perbuatannya di masa lalu, namun Imran tetaplah ayah biologisnya. Ibarat kata tak akan mungkin mencincang air hingga terpisah. Seperti itulah hubungan diantara Ila dan Imran.
"Apa?" Ucap Galuh terkejut.
"Ayahku meninggal tanpa bicara apapun padaku!" Sahut Ila terus menangis.
"Saat aku datang, dia sudah tidak sadarkan diri karena komplikasi pada penyakitnya. Aku melihat jari tangannya bergerak perlahan, aku menggenggam tangannya, tapi setelah itu aku melihat dadanya sesak lalu.......
"Sudahlah sayang! Ikhlaskan kepergiannya. Dia sudah tenang sekarang." Ucap Galuh memeluk Ila lagi yang menangis semakin tersedu-sedu.
Tak lama Kania keluar dari ruangan dimana jasad Imran terbujur kaku disana.
"Galuh, aku ingin bicara denganmu sebentar." Kata Kania pada Galuh.
"Iya, baiklah!" Sahut Galuh.
Galuh melepaskan pelukannya dari Ila dan sedikit menjauh untuk berbicara dengan Kania.
"Galuh, pihak rumah sakit telah mengeluarkan surat izin untuk membawa jasad Imran untuk dimakamkan! Kami dari pihak kepolisian sudah memberi kabar kepada keluarganya yang tinggal di pulau terpencil itu, namun karena keterbatasan biaya mereka tak bisa membawa jasad Imran kesana. Apa kau punya rencana lain?" Tanya Kania.
"Aku akan mengurusnya! Bagaimana pun juga dia adalah ayah dari istriku." Sahut Galuh.
"Baiklah!" Kata Kania.
Kania mengurus semua yang bersangkutan dengan narapidana yang menjadi tanggung jawabnya sebagai polisi. Sedangkan Galuh memberikan kabar duka tersebut kepada semua pihak keluarga. Karena menganggap Imran sebagai ayah kandung dari Ila, semuanya turut hadir dalam pemakaman tersebut kecuali Yurika. Walaupun sudah memaafkannya namun Yurika tetap tak ingin berurusan dengan pria yang menjadi ayah biologis dari putrinya itu.
Setelah acara pemakaman selesai, Galuh membawa Ila kembali kerumah. Sore itu Ila tampak begitu lelah karena menangisi kepergian Imran untuk selamanya tanpa sempat mengatakan apapun padanya. Galuh membawa Ila untuk beristirahat di dalam kamar mereka.
"Sayang, istirahatlah!" Ucap Galuh pada Ila. Namun saat itu Galuh menatap Ila yang sedang celingak-celinguk seperti mencari sesuatu.
"Ada apa?" Tanya Galuh.
"Apa kau melihat kertas yang aku pegang tadi saat di rumah sakit?" Tanya Ila.
"Iya! Aku menyimpannya di laci." Sahut Galuh.
Ila membuka laci itu dan mengambil secarik kertas yang ditinggalkan Imran untuknya. Ia kembali membacanya dan menangis lagi.
"Sayang, sudahlah! Jangan menangis lagi." Ucap Galuh.
"Dia terlalu lama menungguku untuk datang, sehingga dia menuliskan surat ini untuk meminta maaf dariku." Ucap Ila.
"Itu bukan salahmu! Ini semua terjadi karena takdir." Sahut Galuh.
Ila menatap lagi sambil menangis pada surat yang dituliskan oleh Imran untuknya.
Untuk Ila.
Aku sangat bahagia saat tau kalau aku memiliki seorang anak perempuan yang baik hati. Aku sangat bahagia Tuhan masih memberikan kasih sayangnya kepada pria pendosa sepertiku dengan hadirnya kau sebagai putriku. Aku ingin sekali membelai wajah putriku sebelum ajalku tiba. Tapi aku rasa itu tak mungkin. Putriku sangat membenciku. Ila, sebesar apapun kau membenciku, tapi aku menyayangimu, nak! Aku memang tak pernah memberikan kebahagian untukmu, tapi aku harap kau mau memaafkan semua kesalahanku. Kau pernah merasakan kehidupan yang pahit karena ulahku. Semoga kau bahagia, nak. Tolong sampaikan ucapan maafku kepada wanita yang telah aku rusak kehidupannya. Aku sungguh menyesal.
Ila meneteskan air matanya pada secarik kertas yang Imran tuliskan untuknya sebagai curahan hati serta permintaan maaf darinya sebelum kondisinya semakin memburuk saat dirumah sakit. Galuh memeluk Ila dan memberikan ciuman hangat pada keningnya untuk sekedar menghilangkan rasa sedih yang Ila sedang rasakan saat itu.
"Ikhlaskan kepergiannya, doakan yang terbaik untuknya jika kau memang telah menganggapnya sebagai ayah kandungmu." Ucap Galuh pada Ila.
"Iya." Sahut Ila.
__ADS_1
"Istirahatlah!" Kata Galuh lagi.
Ila pun berbaring di atas ranjang tidurnya setelah ia menyimpan surat itu dengan rapi di dalam sebuah laci. Sangking lelahnya ia hari itu, Ila pun tertidur.
*****
Di apartemen miliknya, Hamka sedang menatap wanita yang sudah bertunangan dengannya beberapa bulan lalu. Kania tengah sibuk membereskan pakaiannya untuk dimasukkan ke dalam koper. Dengan wajah murung, Kania menoleh pada Hamka yang cengar-cengir sedari tadi.
"Apa yang membuatmu cengar-cengir seperti itu?" Tanya Kania.
"Kau lupa dengan perjanjian kita?" Tanya Hamka.
"Per...per...perjanjian apa?" Tanya Kania pura-pura lupa.
"Aku telah membantumu untuk mempertemukan Ila dengan ayahnya! Kita membuat perjanjian ketika itu. Kau harus menuruti semua keinginanku! Hehehe." Sahut Hamka terkekeh licik.
"Hahaha, iya! Ba...ba..baiklah, aku akan menuruti apapun yang kau inginkan! Aku akan mencuci baju, menyetrika, menyiapkan makanan untukmu dan.....
"Dan meniduriku! Hehehehe." Bisik Hamka menimpali perkataan Kania.
"Hahahaha, tidur ya? Hahaha, iya....tidur." Ucap Kania gugup.
"Mampuslah aku!" Gumam Kania ketakutan atas permintaan Hamka padanya.
Tiba-tiba saja Hamka menyergap tubuhnya sehingga membuat Kania kaget.
"Aaarrghhh!" Pekik Kania.
"Eh, kenapa kau sebegitu kagetnya? Aku kan sudah sering memelukmu." Kata Hamka yang tidak peka kalau Kania sedang gugup.
"Hehehehe, aku hanya....
"Hanya apa? Apa kau takut aku memakanmu? Hehehe." Ucap Hamka.
"Oh iya! Aku besok akan pergi ke kota lain dimana aku akan mulai dinas disana." Seru Kania mengalihkan pembicaraan.
"Tidak usah pergi!" Ucap Hamka seraya menendang koper itu hingga pakaian Kania berhamburan di lantai.
"Apa yang kau lakukan? Aku lelah mengepak pakaianku sedari tadi!" Pekik Kania sewot.
"Kau tidak boleh pergi kemanapun!" Kata Hamka.
"Apaan sih!" Gerutu Kania sambil mengutip pakaiannya.
"Apa kau sudah menerima surat pindahmu?" Tanya Hamka.
"Sudah!" Sahut Kania.
"Bukan surat pindah yang kau terima dulu, tapi yang baru!" Kata Hamka.
"Apa sih maksudnya?" Tanya Kania bingung.
"Hei, Kania! Mana surat pindahmu yang dulu?" Pinta Hamka. Kania pun mengambil surat itu dan memberikannya pada Hamka.
Sreeekkk...sreeekkk....srrreekkk, Hamka merobek kertas itu beserta amplopnya. Kania terkejut atas apa yang Hamka lakukan saat itu.
"Apa yang kau lakukan, dodol!" Teriak Kania.
"Aku merobeknya!" Sahut Hamka.
"Dasar gila! Bagaimana mungkin aku bisa pergi ketempat kerjaku yang baru tampa surat itu nanti?" Teriak Kania kesal.
"Sudah aku katakan berulang kali padamu, kau tidak perlu pergi!" Sahut Hamka lagi.
"Kau akan tetap bertugas sebagai polisi di kota ini! Aku telah mengurusnya dengan meminta bantuan pada om Antoni yang banyak mengenal petinggi dari kepolisian." Sambung Hamka.
"Apa maksudmu?" Tanya Kania kaget sekaligus bingung.
"Kalau kau ingin tau, tanyakan saja pada komandanmu sana!" Sahut Hamka sembari duduk santai di atas ranjang tidurnya.
__ADS_1
Kania meraih ponselnya dan mengirimkan pesan kepada anggota kepolisan lain yang mengurusi segala administrasi. Ia menanyakan perihal kepindahan dirinya yang akan bertugas di kota lain. Tak butuh lama sebuah pesan diterima oleh ponselnya. Kania cepat-cepat membuka dan membaca balasan pesan yang ia kirimkan.
"Apa?" Ucap Kania kaget setengah mati setelah membaca pesan yang dikirimkan ke ponselnya.
"Aku tidak jadi di pindahkan?" Gumam Kania sambil melirik Hamka yang cengengesan sambil duduk santai di atas ranjang.
Hamka meraih tubuh Kania yang masih terpaku setelah mengetahui dirinya tidak jadi dipindah tugaskan ke kota lain. Hamka merampas ponsel milik Kania dan melemparkannya ke atas sofa yang empuk. Hamka dan Kania saling menatap sambil berbaring di atas ranjang yang biasa mereka tiduri bersama.
"Kau milikku! Apapun akan aku lakukan agar kau tetap dekat denganku." Bisik Hamka pada Kania.
Perkataan Hamka tersebut membuat Kania seakan terbang melayang. Ia merasa bahwa Hamka memang benar-benar mencintai dirinya.
"Dasar pria konyol! Sebesar itukah cintamu padaku, Hamka?" Ucap Kania.
"Lebih besar dari yang kau bayangkan!" Sahut Hamka.
Kania tersenyum bahagia sembari beradu tatap dengan Hamka. Dengan segera Hamka mendaratkan ciumannya dengan mesra. Kania yang juga mencintai Hamka, tentu saja membalas ciuman itu terhadapnya. Ciuman yang penuh gairah itu membuat Hamka dan Kania hilang kendali. Apa yang Hamka inginkan sejak dulu dari tunangannya itu akhirnya berhasil ia dapatkan.
Hamka dan Kania berbaring sambil mendekap mesra. Hamka memberikan kecupan hangat pada kening wanita yang begitu ia cintai.
"Setelah ini aku akan bicara pada orang tuaku untuk mempercepat hari pernikahan kita." Kata Hamka pada Kania.
"Iya!" Sahutnya.
"Eeemm, Kania!" Panggil Hamka.
"Heemm?" Sahut Kania lembut.
"Apakah sangat sakit tadi? Aku melihat kau.....
"Sssttt! Rasa sakitnya nanti juga hilang." Sahut Kania menyela perkataan Hamka sembari menempelkan jari telunjuknya pada bibir Hamka.
Hamka menatap mata Kania yang berair.
"Apa kau menyesal?" Tanya Hamka.
"Iya!" Sahutnya.
"Apa?" Ucap Hamka kaget.
"Aku menyesal telah melakukannya jika kau tidak jadi menikahiku!" Sahut Kania.
"Dasar bodoh! Aku akan menikahimu. Kau pikir aku sebrengsek apa, hah? Aku sungguh mencintaimu. Mati-matian aku mengejarmu, apa kau tidak paham juga?" Kata Hamka.
"Hehehe, sekarang aku paham!" Sahut Kania cengengesan.
"Ayo lakukan lagi!" Ajak Hamka sambil tersenyum mesum.
"Tidak mau!" Sahut Kania menolak.
"Eh, kenapa?" Tanya Hamka bingung.
"Masih sakit, dodol!" Ujar Kania dengan wajah memerah.
"Sering-seringlah melakukannya, agar tidak sakit lagi! Hehehehe." Ucap Hamka cengengesan.
"Itu sih maumu!" Gerutu Kania seraya turun dari ranjang.
"Kau mau kemana?" Tanya Hamka.
"Mandi!" Sahutnya.
"Ikut!" Seru Hamka melompat turun dari ranjang tidurnya tanpa memperhatikan apapun yang ada dilantai.
Bbbrrrruukkkkkk.......
Hamka jatuh tertelungkup di lantai dengan hidung yang berdarah akibat benturan lantai tersebut. Saat melompat turun kebawah Hamka tak memperhatikan pakaian kania yang terbuat dari kain sifon yang lumayan licin jika terinjak.
"Kania!" Ucap Hamka dengan hidungnya yang mimisan.
"Hah, dasar pria konyol! Hidungnya berdarah." Gumam Kania sambil tepok jidat melihat tingkah calon suaminya itu.
__ADS_1