GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
MENGECOH PETUGAS


__ADS_3

Setelah Hamka pergi Kania terduduk di kursinya. Ia begitu bimbang dengan apa yang Hamka lakukan padanya. Sebagai wanita normal Kania tau akan sikap Hamka padanya. Namun masa lalunya yang begitu pahit masih terus membayangi dirinya.


"Maaf, Hamka! Aku tak bisa." Ucap Kania yang tak bisa menahan air matanya menetes dari pelupuk matanya.


"Aku tak akan membiarkanmu terus berharap padaku! Sebaiknya aku segera menjauh dan memutuskan pertunangan ini." Gumam Kania.


Kania pun mengambil secarik kertas yang ia dapatkan dari atasannya yang akan segera memindahkan tugas Kania ke kota lain.


"Mungkin dengan ini lambat laun kau bisa melupakan aku, Hamka!" Gumam Kania lagi sambil memegang erat surat dinas dari atasannya tersebut.


 


Malam harinya, Kania datang untuk mengontrol para bawahannya yang sedang bertugas menjaga narapidana itu di rumah sakit. Namun kali ini ada yang berbeda dengan datangnya Kania. Malam itu Kania membawakan begitu banyak makana dan juga minuman kaleng untuk para bawahannya.


"Letnan!" Seru para bawahannya memberikan hormat pada Kania.


"Hei, santailah! Malam ini aku membawakan makanan dan minuman yang banyak untuk kalian." Kata Kania pada bawahannya itu.


"Wah, letnan! Apa ini benar untuk kami?" Tanya salah seorang polisi padanya Kania.


"Iya! Kalian istirahatlah dan makan makanan yang aku bawakan untuk kalian." Kata Kania.


"Hore! Mari makan!" Seru keempat petugas polisi yang berjaga di depan ruang rawat narapidana itu.


Kania membawa keempat bawahannya itu agak sedikit menjauh dari ruangan tersebut. Kania juga mengajak mereka ngobrol dan bercanda untuk mengecohkan perhatian mereka sejenak. Galuh, Hamka serta Syakir melangkah secara mengendap-endap untuk segera masuk ke dalam ruang rawat narapidana itu.


Setelah berada di dalam, ketiga pria yang bersahabat itu pun mendekati sang narapidana yang sedang tertidur pulas. Untuk pertama kalinya Syakir melihat wajah pria paruh baya tersebut dan ia juga merasa bahwa sekilas wajahnya memiliki kemiripan dengan Ila.


"Pak!" Bisik Galuh untuk membangunkan narapidana itu.


Beberapa kali berbisik di telinganya, akhirnya Galuh berhasi membangunkan narapidana tersebut. Pria paruh baya itu terlihat begitu kaget saat menatap ketiga pria yang asing di matanya. Ia langsung membelalakkan kedua matanya dan ketakutan.


"Si...siapa kalian?" Tanya narapidana itu ketakutan.


"Pak, tenanglah! Kami tidak akan menyakitimu." Kata Hamka padanya.


"Siapa kalian?" Tanyanya lagi.


"Kami adalah keluarga dari orang yang menabrakmu waktu itu!" Sahut Galuh.


"Apa kalian tidak akan menyakitiku?" Tanya narapidana itu masih ketakutan.


"Tidak! Kami tidak akan menyakitimu." Sahut Galuh mencoba untuk menenangkannya.


"Tuan, tolong aku! Aku bukan penjahat seperti apa yang polisi itu tuduhkan padaku." Kata narapidana itu.


"Tenanglah sedikit! Jika kau seperti ini, maka polisi yang ada di luar itu akan mengetahui kami berada disini bersamamu." Kata Syakir.


"Jika kau ingin kami menolongmu, maka kau harus berkata jujur pada kami." Kata Hamka.


"Iya, baiklah, tuan!" Sahutnya.


"Ceritakan, kenapa kau di tahan oleh polisi?" Tanya Hamka.

__ADS_1


"Apa kau salah satu sindikat perampok?" Tanya Galuh ikut menimpali.


"Bukan, tuan! Aku bukan perampok! Aku bukan penjahat. Aku hanya lah orang kampung yang datang ke kota ini untuk membeli perhiasan untuk istriku." Sahutnya.


"Lima tahun yang lalu istriku sedang mengandung anak pertama kami setelah dua belas tahun lamanya kami menikah! Aku sangat bahagia dan ingin memberikannya hadiah sebuah perhiasan. Maka dari itu aku pergi ke kota ini untuk membeli perhiasan itu. Saat di perjalanan untuk kembali ke kampungku, tiba-tiba saja begitu banyak polisi mengepungku dan menangkapku! Mereka menuduhku sebagai residivis perampok! Berkali-kali aku mengatakan pada mereka aku bukanlah perampok, tapi mereka tetap saja tidak mendengarkan aku! Hingga akhirnya aku di penjara selama ini. Aku bahkan tidak tau kabar tentang istriku sampai saat ini." Kata pria paruh baya itu dengan raut wajah yang begitu sedih.


"Aku dengar kau tidak mau memberikan alamat tempat tinggal keluargamu!" Kata Galuh.


"Iya, benar!" Sahutnya.


"Kenapa?" Tanya Galuh lagi.


"Aku tak ingin menyusahkan istriku untuk bolak-balik mengunjungiku ke kota ini! Jika saja polisi datang ke kampungku dan mengabari kalau aku di tangkap karena merampok, warga kampung pasti akan menghina dan mengusir istriku dari sana! Aku tak ingin istri dan anakku menanggung derita atas apa yang tidak ku perbuat." Jawabnya.


"Apa kau menuduh polisi salah tangkap?" Tanya Hamka.


"Iya! Polisi jelas salah menangkap orang. Aku bukanlah Arman." Sahutnya tegas.


"Lantas siapa kau?" Tanya Syakir.


"Aku Irman, saudara kembarnya Arman!" Jelasnya yang membuat tiga sekawan itu terkejut namun tetap tenang.


"Apa kau sedang berupaya mengelabui kami, hah?" Tanya Galuh menajamkan kedua matanya pada narapidana itu. Galuh tampak sedikit kesal atas pernyataannya saat itu. Karena Galuh sepenuhnya percaya pada tes DNA yang menunjukkan hasil bawa narapidana itu memiliki hubungan darah dengan Ila.


"Aku berani bersumpah demi Tuhan bahwa aku bukan Arman!" Katanya lagi.


"Lantas dimana Arman?" Tanya Hamka.


"Dia telah meninggal tujuh tahun silam karena penyakit tumor ganas yang ada di otaknya." Jawab narapidana itu.


Saat akan bertanya lagi, tiba-tiba Galuh mendapat pesan singkat dari Kania melalui ponselnya.


"Cepat keluarlah! Para petugas hampir selesai makan." Pesan Kania.


Galuh mengintruksikan kepada kedua sahabatnya itu untuk segera keluar dari ruang perawatan itu.


"Lain kali kami akan datang lagi untuk menemuimu! Ingat, jangan katakan tentang malam ini pada siapa pun apalagi kepada polisi. Kalau kau ingin kami membantumu, maka kau juga harus jaga mulutmu." Kata Galuh pada pria paruh baya itu.


Narapidana itu pun hanya mengangguk saja mengiyakan apa yang dikatakan oleh Galuh padanya. Tiga sekawan itu pun keluar dari ruang rawat itu tanpa membuat para petugas yang berjaga curiga. Hal itu karena bantuan dari Kania yang berhasil mengecohkan para petugas polisi yang bukan lain adalah para bawahannya.


 


*****


Setelah menjalankan aksinya, ketiga pria dan satu wanita yang berprofesi sebagai polisi itu berkumpul di salah satu lorong rumah sakit yang tampak sunyi. Mereka mendengarkan hasi rekaman suara narapidana itu yang Hamka ambil saat mengintrogasinya. Mereka mendengarkan kata demi kata dari narapidana itu yang mengaku sebagai kembaran dari Arman, seorang residivis perampok yang memperkosa Yurika beberapa tahun silam.


"Bagaimana mungkin dia bicara seperti ini? Jika benar apa yang ia katakan, lantas bagaimana dengan hasil tes DNA itu?" Kata Syakir setelah mendengar isi rekaman itu.


Hamka dan Kania serta Galuh tampak berpikir mengenai masalah yang begitu rumit bagi mereka.


"Aku rasa untuk mengetahui ucapannya itu benar atau tidak, kita harus cari istrinya!" Kata Galuh.


"Kau benar Galuh! Kita harus tau dimana keluarganya dan mencari tau apakah benar dia adalah saudara kembarnya Arman." Sahut Kania.

__ADS_1


Saat itu Hamka terus berpikir tanpa menanggapi apapun mengenai perkataan Galuh dan Kania.


"Tunggu dulu! Masalah hasil DNA, yang aku tau bukan hanya untuk mengetahui status seorang anak terhadap kedua orang tuanya, namun bisa juga mengetahui garis keturunan dan hubungan keluarga. Misalnya, antara Galuh dan Roni. Mereka sepupuan dan pasti memiliki persamaan genetik." Kata Hamka.


"Apa maksudmu kau mempercayai perkataan narapidana itu?" Tanya Galuh.


"Untuk mempercayainya atau tidak, kita harus tanyakan hal ini pada Roni." Sahut Hamka.


"Baiklah! Besok siang aku akan menemui Roni di tempatnya bekerja." Kata Galuh.


Setelah membicarakan hal itu, masing-masing dari mereka celingak-celinguk melihat situasi yang begitu sunyi di lorong rumah sakit itu. Udara malam yang dingin membuat suasana menjadi semakin terasa mencekam.


"Sunyi sekali disini!" Kata Syakir masih celingak-celinguk melihat kesegala arah.


"Ini rumah sakit dan waktunya juga sudah hampir tengah malam, tentu saja sunyi." Sahut Galuh.


"Heh, aku tau kenapa lorong rumah sakit ini sunyi!" Kata Kania.


"Kenapa?" Tanya Syakir dan Galuh.


"Karena kita tepat di depan kamar mayat!" Sahut Kania yang membuat Hamka melompat ketakutan kepadanya.


"Aaarrgghh!" Pekik Hamka ketakutan sembari melompat dan Kania pun spontan menangkap sebelah kakinya.


"Apa? Kamar mayat?" Ucap Hamka yang aslinya takut akan hal-hal yang berbau horor.


"Apaan sih!" Ujar Kania menjatuhkan kaki Hamka hingga Hamka terduduk di lantai.


"Ih, seram!" Ucap Syakir mendekat pada Galuh.


"Jangan dekat-dekat padaku, *****! Mengagetkan aku saja kau!" Kata Galuh kaget karena Syakir mendekatinya secara tiba-tiba.


Tak dapat di duga, ketiga CEO yang terkenal akan ketampanan dan juga kekayaannya itu takut pada hal-hal yang berbau mistis dan horor. Respon Kania yang melihat ekspresi dari ketiga pria itu hanya bisa tepok jidat saja. Apalagi saat melihat betapa takutnya Hamka saat melihat tulisan di depan pintu "KAMAR MAYAT", Hamka seakan menunjukkan sisi lemahnya pada Kania.


"Astaga! Ternyata ini kelemahan dari si pria konyol yang tadi siang mengejarku dan menindasku di kantor." Gumam Kania menatap Hamka yang gemetar ketakutan.


"Hei, ayo kita pergi dari sini!" Ajak Hamka pada mereka.


"Kenapa? Apa kau takut, hah?" Tanya Kania dengan menaikkan garis senyumnya.


"Tentu saja! Kita dari tadi ribut di lorong ini. Jika ada mayat yang bangun karena mendengar suara kita bagaimana, hayo?" Sahut Hamka.


"Heh, dasar idiot!" Gerutu Kania.


"Woi, mayat bangun, woi!" Pekik Kania yang membuat ketiga pria itu kaget dan cepat-cepat menutup mulutnya.


"Sedang apa kau, hah?" Seru ketiga pria kaya itu pada Kania.


"Membangunkan mayat agar bisa mengejar si Hamka! Hehehe." Sahut Kania terkekeh jahat.


"Dasar polwan gila!" Umpat Hamka kesal pada tunangannya itu.


"Woi, mayat! Ada Hamka nih!" Pekik Kania lagi.

__ADS_1


Ketiga pria itu pun langsung membekap mulut Kania dan menyeretnya pergi dari lorong rumah sakit yang  tampak begitu sunyi dan menyeramkan itu.


__ADS_2