GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
KEKESALAN ANA


__ADS_3

Setelah mencicipi sedikit ice cream yang ia pesan, Ila pun merasa senang karena keinginannya saat ngidam tercapai. Galuh mengajak Ila untuk secepatnya kembali ke rumah agar Ila bisa beristirahat. Saat sedang menuju ke tempat parkir mobil, tanpa sengaja mereka bertemu dengan Ana yang tak lain adalah mantan kekasih Galuh.


"Galuh!" Ucap Ana menatapnya.


"Ayo sayang!" Ucap Galuh mengajak Ila untuk segera masuk ke dalam mobil.


"Galuh, apa dia istrimu?" Tanya Ana menatap Ila dengan kesal.


"Iya!" Sahut Galuh tak senang saat Ana menahan kepergiannya dengan Ila.


"Galuh, aku masih mencintaimu! Kau milikku!" Teriak Ana marah dan hendak melepaskan tangan Ila yang merangkul lengan Galuh.


"Lepaskan tanganmu dari istriku!" Teriak Galuh menepis tangan Ana.


"Galuh! Aku mencintaimu! Sampai kapan pun kau tetap milikku! Aku tidak akan biarkan dia merebutmu dariku!" Teriak Ana menunjuk ke arah Ila yang gemetar ketakutan.


"Ayo kita pergi! Jangan hiraukan wanita gila ini!" Ajak Galuh menarik tangan Ila.


Saat itu Ana mencoba untuk menarik tangan Galuh agar terlepas dari genggaman Ila. Tau apa yang akan dilakukan Ana, Galuh sontak mendorongnya dengan kasar hingga Ana jatuh terduduk di aspal. Galuh dan Ila segera masuk ke dalam mobil dan tancap gas meninggalkan Ana yang terus berteriak memanggil nama Galuh. Orang-orang yang ada di sekitar ruas jalan itu menatap aneh dan tak segan berbisik melihat Ana.


"Kurang ajar! Awas saja kau Galuh! Kau membuatku merasa terhina seperti ini! Aku akan membalasmu secepatnya." Gumam Ana begitu kesal pada Galuh dan juga Ila.


 


Galuh dan Ila tiba dirumah. Raut wajah Galuh masih terlihat begitu kesal gara-gara sikap Ana padanya. Ila yang juga tau kalau Ana adalah mantan kekasih Galuh, hanya bisa diam dan menunggu Galuh bicara padanya. Galuh duduk di tepi ranjang sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Galuh begitu khawatir akan Ila yang sedang hamil. Apalagi saat ini Ana sudah mengetahui bahwa Ila lah istri Galuh. Galuh takut kalau Ana akan berbuat nekad terhadap Ila.


"Ila, untuk saat ini kau tidak perlu keluar dari rumah!" Kata Galuh pada Ila.


"Kenapa kak?" Tanya Ila.


"Kalau aku bilang jangan keluar ya jangan keluar!" Teriak Galuh membuat Ila terkejut.


"Iya!" Sahut Ila dengan suara yang bergetar.


Galuh menatap mata Ila yang sudah berkaca-kaca. Ia sadar kalau sikapnya kepada Ila terlalu berlebihan dan teriakannya tadi membuat Ila ketakutan. Dengan cepat Galuh memeluk Ila.


"Maafkan aku, sayang!" Ucap Galuh memeluk Ila.


"Kak, kau kenapa? Apa aku ada berbuat salah?" Tanya Ila yang tak dapat lagi membendung air matanya.


"Ila dengarkan aku! Kau tau kan kalau Ana adalah mantan kekasihku?" Ucap Galuh.


"Iya!" Sahut Ila.


"Ila, sampai sekarang Ana tidak pernah terima dengan keputusanku untuk mengakhiri hubungan kami, maka dari itu dia selalu saja mengejarku! Aku sangat mengerti bagaimana sifatnya. Selama ini aku berusaha untuk menutupi identitasmu sebagai istriku, agar Ana tidak bisa menyakitimu! Aku tak ingin kau terluka karena permasalahanku dengannya." Kata Galuh menjelaskan panjang lebar pada Ila.


"Apalagi sekarang kau sedang hamil! Aku tak ingin terjadi sesuatu padamu dan juga bayi kita!" Sambung Galuh lagi.


"Jadi kau jangan keluar rumah sampai bayi kita lahir! Apa kau mengerti maksudku?" Tanya Galuh.


"Iya!" Sahut Ila.


"Maafkan aku membuatmu takut tadi! Aku sangat panik dan juga khawatir." Ucap Galuh kembali memeluk Ila.


Ila mengerti akan kegundahan Galuh saat itu. Ia juga tak ingin terjadi sesuatu apapun kepada bayi yang ada di dalam kandungannya itu. Ila pun menuruti perkataan Galuh.


Dari balik pintu kamar Galuh dan Ila, Hana dan Antoni mendengar perbincangan Galuh dan Ila di dalam. Mereka pun ikut cemas akan gangguan Ana yang tak terima dirinya telah diputuskan oleh Galuh.


"Kita juga harus melindungi Ila dan cucu kita!" Kata Hana pada Antoni saat mereka berada di rumah tengah.


"Kau benar!" Sahut Antoni.


"Tapi aku tidak bisa terima jika Ila tidak pernah keluar rumah selama ia hamil! Dia pasti akan stress dan hal itu akan mengganggu kesehatan dirinya juga kandungannya." Kata Hana.


"Aku akan menyewa pengawal pribadi untuk Ila! Namun walaupun begitu, aku tetap akan bicara dulu pada Galuh! Bagaimanapun juga, Galuh lebih berhak mengambil keputusan mengenai Ila." Kata Antoni.


Setelah semuanya tampak tenang, Antoni menemui Galuh di ruang kerjanya. Antoni berniat untuk membicarakan masalah pengawal pribadi untuk Ila.


"Galuh, apa kau sibuk?" Tanya Antoni.


"Tidak, pa!" Sahut Galuh.


"Ada yang ingin papa bicarakan padamu mengenai Ila." Kata Antoni.


"Ada apa pa?" Tanya Galuh.

__ADS_1


"Papa berniat untuk menyewa beberapa pengawal pribadi untuk menjaga Ila jika Ila keluar rumah!" Kata Antoni.


"Tidak perlu, pa! Ila tidak akan pergi kemana-mana selama kehamilannya!" Sahut Galuh.


"Galuh, kau tidak bisa melakukan hal itu pada Ila! Dia sedang hamil, kau tidak bisa mengekangnya untuk tetap tinggal dirumah sampai beberapa bulan ke depan! Dia butuh hiburan untuk menghilangkan rasa penatnya. Jika dia tetap tinggal dirumah tanpa keluar sedikitpun, dia bisa stress dan hal itu tak baik untuk kandungannya!" Kata Antoni berdebat dengan putranya.


"Pa, aku tidak ingin Ila kenapa-kenapa jika ia keluar rumah!" Kata Galuh bersikeras dengan keputusannya.


"Aku tau kalau Ana akan berbuat nekad pada Ila karena kau!" Ujar Antoni membuat Galuh terkejut.


"Aku sempat mendengar perbincanganmu dengan Ila tadi! Maka dari itu aku akan menyiapkan beberapa pengawal pribadi untuk Ila." Sambung Antoni lagi.


"Aku tetap tidak setuju jika Ila keluar dari rumah ini!" Kata Galuh keras kepala dan meninggalkan ruang kerjanya juga Antoni dengan kesal.


Antoni mengerti akan ke khawatiran Galuh terhadap Ila, namun ia juga memikirkan kesehatan psikis Ila selama ia hamil dan di larang untuk keluar rumah oleh Galuh.


Galuh masuk ke dalam kamarnya dan menatap Ila yang tertidur pulas malam itu. Galuh berbaring di sampingnya dan mendekap Ila penuh kasih sayang.


"Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu lagi, Ila!" Ucap Galuh seraya mencium kepala Ila dengan lembut.


 


*****


Hampir dua Minggu tidak keluar rumah, membuat Ila merasa kebosanan. Antoni dan Hana yang juga memiliki kesibukan sosial di luar tak dapat menemani Ila terus menerus di rumah. Ila terus saja menghabiskan waktunya dengan membaca buku parenting di dalam kamarnya. Ia duduk di sisi jendela sambil sesekali menatap keluar jendela.


"Aku ingin sekali bertemu dengan mama dan juga Kia! Tapi aku tidak bisa keluar rumah." Gumam Ila dalam hatinya.


Rasa bosan terus menghantui Ila. Ia terus saja menguatkan hatinya untuk mengikuti perkataan Galuh dan juga menjaga bayinya dari orang yang memiliki niat jahat padanya. Saat menatap keluar jendela, tanpa sengaja Ila melihat sebuah mobil merah yang berhenti tepat di seberang jalan rumah. Ia melihat samar-samar seorang wanita yang sedang menatap ke arah rumah.


"Siapa itu? Karena jaraknya yang jauh, aku tidak terlalu jelas melihatnya!" Gumam Ila dalam hatinya.


Tak lama kemudian, mobil merah itu pergi dari seberang jalan rumah. Ila masih menatap kepergian mobil itu dengan perasaan yang begitu penasaran. Namun demikian Ila hanya bisa menepis pikirannya mengenai siapa yang ada di dalam mobil merah tersebut.


Di kantornya, Galuh berniat untuk secepatnya pulang ke rumah agar ia bisa menemani Ila. Namun saat akan beranjak keluar dari ruang kantornya, Galuh di kaget kan dengan kehadiran Ana yang tiba-tiba masuk.


"Mau apa lagi kau?" Ujar Galuh menatap Ana dengan kesal.


"Aku mau nyawa bayimu!" Ucap Ana membuat Galuh begitu terkejut. Galuh kaget karena Ana tau bahwa Ila sedang mengandung.


"Hahaha, apa kau takut, hah?" Ucap Ana tertawa jahat.


"Aku peringatkan padamu, jangan menyentuh istriku! Atau aku akan membuatmu sendiri yang menginginkan mati!" Kata Galuh tak main-main dengan ancamannya kepada Ana.


"Galuh, kembalilah padaku! Jika kau kembali padaku, maka aku berjanji akan melepaskan istrimu dan juga bayinya." Kata Ana kembali bergelayut pada Galuh.


"Lepaskan aku! Sampai matipun aku tidak akan mau di sentuh olehmu apalagi kembali berhubungan dengan wanita gila sepertimu!" Ujar Galuh begitu membenci Ana.


"Kalau itu yang kau inginkan, maka jangan salahkan aku jika nyawa istri dan bayimu itu menjadi taruhannya!" Ancam Ana.


"Ana, kau sakit jiwa!" Ujar Galuh.


"Iya! Aku sakit jiwa karena kau!" Teriak Ana.


"Pergi dari hidupku, Ana! Pergi yang jauh! Apa yang lakukan hanya akan membuatmu semakin sengsara." Kata Galuh.


"Aku hanya mencintaimu, Galuh! Aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa kau sudah dimiliki oleh wanita lain!" Kata Ana menangis sejadi-jadinya.


"Ana, terimalah kalau aku bukan jodohmu! Pergilah yang jauh dan jalani hidup barumu disana!" Kata Galuh.


"Kenapa kau tidak mengerti perasaanku, Galuh?" Ujar Ana kesal karena Galuh tetap tak mau menerimanya kembali.


Galuh tak tahan lagi menghadapi Ana yang sudah dibutakan oleh cinta yang hanya bisa membuatnya sengsara. Galuh mengangkat gagang telepon dan memanggil pihak keamanan untuk mengusir Ana keluar dari ruangannya. Tak lama kemudian, pihak keamanan pun datang.


"Bawa dia pergi dari sini!" Perintah Galuh pada pihak keamanan gedung perusahaannya.


"Galuh, kau tidak bisa memperlakukan aku seperti ini!" Teriak Ana seraya meronta-ronta saat akan di giring keluar dari ruang kantor Galuh.


"Jangan biarkan wanita itu masuk ke dalam gedung perusahan lagi!" Perintah Galuh lagi.


"Baik, tuan!" Sahut para pihak keamanan itu.


 


Setelah merasa tenang, Galuh pun pulang ke rumah untuk menemui Ila. Tak lama berselang, Galuh tiba dirumah. Ia melihat Ila duduk di sisi jendela sambil termenung dan menatap keluar jendela. Galuh merasa iba melihat Ila yang merasa jenuh karena tak bisa keluar rumah. Galuh mengerti perasaan Ila yang kini bagaikan berada di dalam sangkar emas.

__ADS_1


"Imut!" Panggil Galuh membuat pikiran Ila buyar.


"Kau sudah kembali!" Ucap Ila memeluk Galuh.


"Apa kau bosan?" Tanya Galuh.


"Tidak!" Sahut Ila dusta.


"Maaf ya!" Ucap Galuh yang tau kalau Ila berbohong padanya.


"Untuk apa?" Tanya Ila.


"Gara-gara masalahku, kau harus seperti ini!" Jawab Galuh.


"Aku tidak masalah!" Kata Ila yang tak ingin Galuh terus-menerus menyalahkan dirinya sendiri.


"Bagaimana dengan bayi kita?" Tanya Galuh sambil mengelus perut Ila yang sudah mulai membuncit.


"Aku rasa dia cukup baik!" Sahut Ila tersenyum.


"Sabar ya, anak ayah! Setelah kau lahir, kita akan sering-sering keluar dan pergi bersenang-senang bersama-sama." Kata Galuh seraya mencium perut Ila seakan-akan ia mencium calon bayinya itu.


"Kak, besok jadwal untuk memeriksakan kandunganku!" Kata Ila.


"Iya! Besok aku akan mengantarmu untuk bertemu Roni di tempat prakteknya." Sahut Galuh.


Keesokan harinya, Galuh membawa Ila ke tempat praktek Roni. Di sana Ila mendapatkan pemeriksaan lanjutan untuk kandungannya yang akan masuk usia lima bulan. Roni yang kini tinggal di apartemennya sendiri, sudah jarang bertemu dengan Ila dan Galuh karena kesibukannya di rumah sakit dan juga menjadi budak cintanya Ririn yang akan segera menikah dengannya.


"Apa kau sudah tau jenis kelaminnya?" Tanya Galuh pada Roni.


"Hah, si ayah satu ini, selalu saja tidak sabaran!" Ujar Roni pada Galuh.


"Cepat katakan!" Teriak Galuh menjambak rambut Roni yang sedang melakukan USG pada kandungan Ila.


"Aaarrgghh! Dasar sepupu gila!" Teriak Roni kesal dengan posisi kepala oleng kesana kemari akibat jambakan Galuh pada rambutnya.


"Astaga! Mereka selalu saja seperti ini bila bertemu." Gumam Ila menatap aneh pada Galuh dan Roni.


"Cepat katakan, bayiku laki-laki atau perempuan?" Tanya Galuh semakin tidak sabar.


"Jangan tarik rambutku, bodoh! Aku tidak bisa konsentrasi!" Teriak Roni.


"Kak, Galuh! Lepaskan kak Roni!" Kata Ila.


"Oke! Hehehe." Sahut Galuh langsung melepaskan rambut Roni dari genggamannya.


"Huh, dasar budak cintanya Ila! Kalau Ila yang suruh, kau langsung saja menurutinya." Ujar Roni sewot sambil menatap Galuh.


"Cepat katakan apa jenis kelamin bayiku!" Kata Galuh lagi.


"Usia kandungan Ila belum mencapai lima bulan, jadi belum bisa memastikan jenis kelaminnya. Lagipula posisi bayimu ini sedang membelakangi, tentu saja akan semakin sulit melihat jenis kelaminnya." Sahut Roni menjelaskan.


"Oh, begitu ya!" Kata Galuh sedikit kecewa.


"Kak, bagaimana kondisi bayiku?" Tanya Ila pada Roni.


"Kondisinya sehat! Tapi kau harus tetap menjaga kesehatan dan juga nutrisi dari makanan yang kau makan." Sahut Roni.


"Sekarang, dengarkan detak jantungnya!" Sambung Roni lagi.


Terdengar suara detak jantung sang buah hati yang membuat Galuh dan Ila menjadi terharu.


"Imut! Itu suara detak jantung buah cinta kita." Kata Galuh memeluk Ila dengan mesra.


"Iya! Aku sangat bahagia mendengarnya!" Sahut Ila membalas dekapan mesra dari Galuh.


"Hei...hei, jangan bermesraan di depanku! Membuatku rindu pada Ririn saja!" Ujar Roni dongkol pada Galuh dan juga Ila.


"Untuk apa lagi kau merindukan dia? Setiap hari kau bisa melihatnya karena kau tinggal tepat di apartemen Ririn." Sahut Galuh.


"Dasar modus! Berpura-pura membeli apartemen yang ada di depan apartemen Ririn padahal kau memang ingin melihat Ririn setiap hari. Mungkin saja kau dan Ririn sering berduaan sampai pagi di apartemen. Aku benar kan?" Kata Galuh lagi.


"Hehehe, alasan aku membeli apartemen yang tepat di depan apartemen Ririn itu adalah benar sesuai dengan yang kau katakan, namun kalau mengenai sering berduaan sampai pagi, itu adalah rahasia. Hahahaha." Sahut Roni terkekeh geli.


"Dasar!" Ujar Galuh sewot.

__ADS_1


__ADS_2