GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
KADO ISTIMEWA


__ADS_3

Kania kembali ke apartemen sekitar pukul 2 dini hari. Ia memasuki ruang kamar pengantinnya dalam keadaan sangat gelap. Kania pun bergumam dalam benaknya mengenai Hamka yang mungkin sudah tertidur lelap saat itu. Seingatnya Hamka memang tampak lelah ketika duduk di pelaminan bersamanya dari pagi hingga petang.


Kania melangkah pelan agar tak membangunkan Hamka. Namun saat ia akan membuka pintu kamar mandi, tiba-tiba saja lampu kamar menyala dan menghentikan langkahnya. Kania menoleh pada Hamka yang menatapnya dengan kesal setengah mati.


"Hehehe, sayang! Belum tidur ya?" Ucap Kania gemetar ketakutan sekaligus merasa bersalah karena telah meninggalkan sang suami di malam pengantinnya.


"Apa premannya tertangkap semuanya?" Tanya Hamka sambil melotot pada Kania.


"Eh, darimana kau tau kalau aku tadi meringkus preman-preman jalanan itu?" Tanya Kania.


Hamka meraih ponselnya dan menunjukkan berita yang ada di laman berita di internet yang memberitakan mengenai kehebatan Kania sebagai polisi wanita yang mampu meringkus preman-preman jalanan yang meresahkan warga setempat.


"Haaaahh, cepat sekali tersebar di internet!" Gumam Kania.


"Wonder women!" Seru Hamka namun sambil melotot pada Kania.


"Hahaha, biasa saja! Berita di internet terlalu lebay!" Sahut Kania tertawa namun takut akan tatapan Hamka yang kesal padanya.


"Eeemm, aku mandi dulu, oke?" Kata Kania hendak kabur masuk ke dalam kamar mandi. Namun dengan cepat Hamka menarik tangannya dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang pengantin mereka.


"Dasar polwan cantik! Di malam pengantin kita kau malah memilih untuk meringkus preman-preman jalanan itu daripada mendesah nikmat bersamaku, hah?" Ujar Hamka kesal sambil menekan tubuh Kania dengan lengan kekarnya.


"Aku sudah lama mengincar mereka, jadi tadi aku terlalu bersemangat dan pergi meninggalkanmu sebentar saja." Sahut Kania.


"Oh begitu!" Ucap Hamka semakin menekan tubuh Kania di atas ranjang itu.


Kania menatap mata Hamka dengan wajah yang begitu imut.


"Sialan! Dia mengubah raut wajahnya menjadi anak kucing yang begitu imut seperti ini!" Gerutu Hamka dalam hatinya.


"Maaf!" Ucap Kania semakin membuat wajahnya ingin dikasihani.


"Aahhh! Lupakan saja! Polwan dingin ini jarang sekali menunjukkan wajah seperti ini padaku." Gumam Hamka yang kalah akan wajah imut yang Kania tunjukkan padanya.


"Layani aku polwan cantik! Ini malam pengantin kita!" Kata Hamka.


"Tapi ini sudah hampir pagi! Aku juga sedikit lelah. Kalau besok malam saja bisa gak? Hehehe." Sahut Kania.


"Aah, bacot!" Ujar Hamka tak perduli akan permintaan Kania tersebut. Ia menindas istrinya tersebut tanpa ampun di malam pengantin mereka sebagai hukuman karena berani meninggalkan dirinya tadi.


Keesokan paginya, Kania bangun sedikit terlambat. Ia melirik jam yang ada di dinding kamar menunjukkan pukul 10 pagi. Kania menoleh pada Hamka yang masih tertidur pulas sambil memeluknya.


"Sayang!" Panggil Kania membangunkan Hamka.


"Heeemm?" Sahut Hamka dengan mata masih terpejam.


"Bangun! Sudah hampir siang." Kata Kania.


"Malas! Tidur saja sampai sore. Kita kan sedang cuti karena menikah." Sahut Hamka.


Namun tiba-tiba saja Kania meras perutnya seakan penuh. Ia merasa mual dan ingin muntah. Kania melepaskan tangan kekar Hamka dari tubuhnya dan langsung melompat turun dari ranjang menuju kamar mandi. Di dalam sana Kania mengeluarkan muntahannya di dalam kamar mandi tersebut. Hamka membuka matanya saat mendengar Kania muntah-muntah di dalam kamar mandi. Hamka turun dari ranjang dan melihat Kania yang sedang berjongkok sambil terus muntah-muntah. Kania mencuci mulut serta wajahnya setelah merasa tidak mual lagi.


"Kau kenapa sayang?" Tanya Hamka.


"Entahlah! Mungkin aku masuk angin karena semalam aku pulang terlambat." Sahut Kania keluar dari kamar mandi dan duduk di tepi ranjang. Hamka memberikan segelas air putih pada istrinya tersebut.


"Minumlah!" Kata Hamka.


Kania pun meneguk sedikit air putih yang diberikan oleh suaminya itu.


"Aku akan meminta Roni untuk mengecek kesehatanmu!" Kata Hamka sembari meraih ponselnya.


"Tidak perlu, sayang! Aku tidak apa-apa!" Sahut Kania.


"Aku akan beristirahat, mumpung aku juga cuti dua minggu ke depan." Sambung Kania lagi.


"Kau yakin tidak apa-apa? Tapi wajahmu tampak sedikit pucat." Kata Hamka khawatir.


"Tidak apa-apa!" Sahut Kania.


"Kau mandilah dulu! Aku akan buatkan makanan untukmu di dapur." Kata Kania.

__ADS_1


"Iya, baiklah!" Sahut Hamka.


Kania melangkah keluar dari kamar dan turun ke bawah menuju dapur. Saat melintas di depan kulkas, ia melihat sebuah kalender yang ia tandai setiap bulannya.


"Sekarang bulan April! Terakhir aku mens bulan......


"Eh, aku telat?" Pekik Kania kaget.


Kania kembali naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamar. Ia menggedor pintu kamar mandi untuk memanggil Hamka yang baru saja memakai shampoo di rambutnya. Hamka pun keluar dalam keadaan telanjang bulat dan di penuhi bisa shampoo di kepalanya.


"Aaarrggh!" Pekik Kania kaget melihat Hamka bugil.


"Heh, dia masih saja kaget setelah semalaman aku menindasnya!" Gerutu Hamka.


"Ada apa, sayang? Mau ikutan mandi?" Tanya Hamka sambil tersenyum nakal.


"Hamka, aku telat!" Seru Kania.


"Telat apanya? Kau kan sedang cuti!" Sahut Hamka gak nyambung.


"Bukan telat kerja, dodol! Tapi aku telat datang bulan." Seru Kania lagi.


"Apa?" Pekik Hamka kaget.


"Terakhir aku datang bulan adalah awal bulan februari, dan sekarang sudah pertengahan April dan aku belum datang bulan lagi." Sahut Kania.


Kania dan Hamka saling tatap dan tersenyum lebar.


"Hamil!" Seru keduanya.


"Aaaarrrghh!" Seru keduanya lagi kegirangan. Namun tiba-tiba Kania berhenti tertawa riang.


"Jangan senang dulu, belum tentu juga aku hamil!" Gumam Kania.


"Aku akan beli alatnya di apotek depan!" Seru Hamka bersemangat meraih handuk untuk mengelap tubuhnya yang basah. Sangking semangatnya Hamka lupa mencuci bisa shampoo yang ada di rambutnya. Hamka keluar dari apartemen setelah ia memakai pakaiannya.


"Hamka! Rambutmu belum di bilas!" Pekik Kania.


"Ya Tuhan, dasar Hamka gila. Hehehe." Gumam Kania.


Hamka terus berjalan kaki ke seberang jalan kawasan apartemennya. Ia menuju ke apotek untuk membeli alat tes kehamilan disana. Ia tak perduli pandangan orang yang menatap rambutnya yang masih berbusa. Bahkan orang-orang pun menertawainya. Sementara Kania mondar-mandir di apartemen sendirian menunggu kembalinya Hamka setelah membeli alat tersebut.


Tak lama kemudian, Hamka pun kembali dan menarik tangan Kania untuk segera masuk ke kamar mandi demi mengetahui apakah istrinya benar-benar hamil atau tidak. Hamka menunggu di luar kamar mandi dengan begitu tidak sabarnya. Lalu tiba-tiba ia mendengar teriakan Kania dari dalam kamar mandi itu.


"Kania!" Panggil Hamka sembari mengetuk pintu kamar mandinya.


Kania keluar dengan senyuman yang lebar.


"Kau akan jadi ayah!" Seru Kania kegirangan.


"Benarkah?" Ucap Hamka seakan tak percaya.


"Ini!" Kania memberikan hasil tes pada alat tersebut.


"Aaarrgghhh! Aku akan jadi ayah!" Teriak Hamka kegirangan dan melompat kesana kemari seperti orang gila. Kania tertawa melihat tingkah Hamka yang begitu senang mendengar dirinya akan segera diberikan keturunan.


Hamka menghampiri istrinya dan memberikan kecupan hangat pada keningnya.


"Jaga kesehatan bayi kita, ibu polwan!" Kata Hamka.


Kania hanya mengangguk sambil tersenyum padanya.


"Aku sangat bahagia." Ucap Hamka lagi.


 


*****


Beberapa bulan kemudian, Galuh yang akan segera berangkat ke kantornya melirik sebuah kotak kecil yang terletak di atas meja. Awalnya Galuh cuek saja dengan kotak tersebut, namun saat ia hendak memakai dasi di lehernya, Galuh melirik lagi kotak tersebut dari pantulan cermin yang ada di hadapannya. Merasa penasaran Galuh pun menghampiri meja tersebut dan melihat kotak itu. Adalah tulisan Ila yang menulis namanya.


"Ini untukku?" Gumam Galuh dalam hatinya.

__ADS_1


"Apa ini hari yang spesial? Kenapa ada kado?" Gumam Galuh lagi.


Galuh mengingat kembali tanggal pernikahan atau hari lahirnya. Galuh melangkah mendekati sebuah kalender dan melihat tanggal hari ulang tahunnya yang jatuh tepat di hari itu.


"Oh, aku ulang tahun hari ini!". Gumam Galuh yang terlupa akan hari ulang tahunnya karena sibuk bekerja di kantor.


"Hehehe, pantas saja semalam Ila membangunkanmu tepat jam 12 malam hanya untuk na ena denganku. Semalam dia juga sedikit liar dari biasanya. Ternyata karena aku sedang berulang tahun." Gumam Galuh lagi sambil senyum-senyum mengingat kemesraan dirinya bersama Ila semalam.


Galuh segera membuka kotak kecil itu yang bertuliskan namanya. Galuh melihat isi kotak tersebut hanyalah sepasang pakaian bayi yang begitu mungil. Galuh mengernyitkan dahinya karena merasa sedikit bingung.


"Pakaian bayi?" Gumam Galuh.


Galuh berpikir sejenak dan tiba-tiba ia terperanjat ketika mengerti apa maksud kado yang diberikan oleh Ila padanya. Galuh keluar dari kamar dan mencari keberadaan istirnya yang sedang di kamar Gilang untuk membuatkan susu putranya yang kini sudah berusia hampir dua tahun.


"Imut!" Panggil Galuh pada Ila sambil menunjukkan hadiah tersebut.


Ila tersenyum manis menatap wajah suaminya yang tampak bahagia.


"Happy birthday, suamiku!" Ucap Galuh.


"Oh, kau manis sekali saat mengucapkannya!" Seru Galuh senang.


"Suka hadiah dariku, tidak?" Tanya Ila.


Tanpa menjawab Galuh memberikan ciuman lembut pada bibir istrinya itu. Ratih yang melihat kedua majikannya bermesraan di depannya tampak sibuk menutupi kedua mata anak asuhnya tersebut.


"Sudah berapa bulan?" Tanya Galuh.


"Aku belum tau pasti, namun kalau aku lihat tanggalnya sepertinya usia kandunganku hampir dua bulan." Sahut Ila.


"Kau menginginkannya bukan?" Bisik Ila.


"Iya! Aku ingin anak yang banyak darimu!" Sahut Galuh.


"Jangan banyak-banyak! Capek lah!" Pekik Ila.


"Hehehe, lima orang anak?" Tanya Galuh.


"Dua saja!" Sahut Ila.


"Tiga deh!" Pinta Galuh.


"Melahirkan itu sakit, tau!" Gerutu Ila.


"Ya sudah, empat deh kalau begitu!" Ledek Galuh.


"Iihhh, malah nambah!" Seru Ila.


"Hehehehe, bercanda kok! Seberapa kau sanggup saja. Aku juga tak ingin kau merasakan sakitnya melahirkan." Kata Galuh.


"Oh, melihat ekspresimu yang seperti ini membuatku ingin memiliki 10 anak jadinya!" Seru Ila.


"Hahahaha!" Galuh tertawa mendengar perkataan istrinya itu.


"Mami! Papi!" Panggil Gilang.


"Sudah minum susunya?" Tanya Galuh pada putranya itu.


"Sudah!" Sahut Gilang yang hampir lancar berbicara.


"Sebentar lagi kau akan memiliki adik!" Seru Galuh pada Gilang.


"Adik!" Ucap Gilang yang meniru ucapan Galuh tadi.


Setelah mendapatkan hadiah istimewa dari istrinya, Galuh pun berangkat ke kantor untuk bekerja seperti hari biasanya.


Ila berencana untuk memiliki waktu berduaan untuk merayakan ulang tahun suaminya itu. Ila berpikir Galuh pasti tidak akan membiarkannya bebas keluar rumah disaat sedang hamil muda. Ia pun membuat rencana bersama dengan Hana untuk menghiasi balkon kamarnya seindah mungkin dengan lampu-lampu kecil serta lilin-lilin yang tersusun rapi di lantai balkon tersebut. Beberapa pelayan juga ikut serta membantu membawakan meja serta dua kursi yang telah dihias dengan kain dan pita.


"Saat dia kembali nanti kami akan dinner di sini!" Seru Ila bersemangat.


"Galuh pasti senang!" Seru Hana.

__ADS_1


"Aku jadi tidak sabar ingin menanti malam!" Gumam Ila dalam hatinya sambil menatap meja dan kursi yang akan ia gunakan bersama Galuh untuk merayakan hari ulang tahun suaminya itu dengan candle light dinner di balkon kamar mereka.


__ADS_2