
Dengan rasa kesal yang terus saja menghujam dirinya, membuat Sandi memutuskan untuk mengikuti kemana mobil Syakir membawa Kia. Beberapa menit kemudian tibalah Sandi di sebuah cafe yang lokasinya tak jauh dari sekolah. Sandi masih duduk di dalam mobilnya sambil menatap Syakir dan Kia saling berpegangan tangan untuk masuk ke dalam cafe tersebut. Rasa kesal kembali menyeruak di benak Sandi ketika ia melihat Syakir menggenggam tangan Kia dengan mesra.
"Sial! Aku tak suka melihat pria itu menggenggam tangan Kia!" Ujar Sandi tanpa ia sadari cemburu pada gadis yang dulu ia tolak mentah-mentah.
Syakir dan Kia pun duduk di salah satu meja yang tepat di samping dinding kaca yang lebar. Mereka duduk berhadapan dan sedang sibuk melihat buku menu makanan dan minuman yang akan mereka pesan sebagai makan siangnya. Sementara itu sandi duduk di meja yang ada di sudut ruangan cafe tersebut sambil terus menatap Syakir dan Kia yang terus berbincang mesra dan juga canda tawa.
Sesekali Syakir terlihat sedang menggenggam kedua tangan Kia yang duduk di depannya. Kia tampak tersipu malu saat Syakir menggenggam tangannya.
"Kapan Kiki akan lulus sekolah?" Tanya Syakir pada Kia. Seakan sedang di mabuk asmara, Syakir pun memiliki panggilan mesra untuk Kia yang sebenarnya belum menjadi kekasihnya.
"Panggil aku, Kia saja!" Sahut Kia tersipu malu dengan panggilan mesra yang sering Syakir lontarkan padanya.
"Tapi aku suka memanggilmu dengan nama Kiki! Imut, tau!" Kata Syakir membuat wajah Kia memerah.
"Terserah kakak saja!" Kata Kia.
"Jadi kapan kau lulus sekolah?" Tanya Syakir lagi.
"Bulan depan aku akan ujian, dan mungkin beberapa minggu kemudian aku akan lulus. Jika nilai ujianku bagus." Jawab Kia.
"Kenapa kakak tanyakan hal itu terus sih?" Tanya Kia.
"Karena aku ingin segera menikahimu, Kiki!" Jawab Syakir.
"Me...me..menikah?" Ucap Kia kaget.
"Iya! Apa kau tidak mau?" Sahut Syakir.
"Bukan begitu, tapi kita tidak berpacaran, jadi bagaimana mungkin akan menikah?" Kata Kia.
"Hei, apa kau tidak ingat? Berkali-kali aku sudah menyatakan cintaku dan mengajakmu berpacaran, namun kau saja yang belum mau menjawabnya hingga saat ini!" Kata Syakir sedikit kecewa.
"Bukannya aku tidak mau menjawabnya, tapi aku hanya masih belum yakin dengan perasaan kak Syakir yang tiba-tiba saja menyukai aku! Kita juga baru kenal beberapa bulan yang lalu." Sahut Kia.
"Aku juga yakin, kalau kak Syakir belum mengetahui semua sifatku!" Sambung Kia lagi mengingat sifat buruknya yang dulu.
"Aku tau semuanya!" Kata Syakir pada Kia.
"Apa?" Ucap Kia terkejut.
"Aku tau sifatmu yang dulu dari Roni! Awalnya sih dia tak mau menceritakannya, namun setelah aku paksa berkali-kali akhirnya dia menceritakan semuanya padaku! Ila dan Galuh juga sudah cerita semuanya padaku, dan hal itu hanyalah masa lalu, jadi untuk apa di khawatirkan lagi." Sahut Syakir.
"Apa kakak tidak mempermasalahkan hal itu?" Tanya Kia.
"Tidak! Aku menyukaimu yang sekarang! Gadis manis dan juga berprilaku baik kepada siapa saja." Sahut Syakir seraya mengelus wajah Kia yang merah merona.
Disudut ruangan cafe itu, Sandi tak tahan untuk melihat sikap Syakir yang begitu mesra pada Kia. Terbakar api cemburu, Sandi menggebrak meja dengan kesal dan berlalu dari cafe tersebut. Tanpa sengaja Kia melihat Sandi yang baru saja keluar dari cafe itu.
"Bukannya itu Sandi? Sedang apa dia disini?" Gumam Kia dalam hatinya.
"Kiki, kau sedang memikirkan apa?" Tanya Syakir membuat pikiran Kia buyar.
"Eemm, tidak! Aku tidak memikirkan apa-apa. Hehehe." Sahut Kia.
"Jadi bagaimana? Aku di terima atau di tolak? Jangan menggantungku terus!" Tanya Syakir dengan wajah sedikit memelas.
"Iya! Aku mau jadi pacarnya kak Syakir." Jawab Kia yang membuat hati Syakir begitu bahagia.
"Kalau begitu mulai sekarang jangan panggil aku kak Syakir lagi!" Kata Syakir.
"Lalu aku harus panggil apa?" Tanya Kia.
__ADS_1
"Ayang bebeb! Hehehe." Sahut Syakir cengengesan.
"Hehehe, agak terdengar sedikit menggelikan ya!" Kata Kia tertawa canggung.
"Geli atau jijik?" Tanya Syakir sewot.
"Hahaha, bukannya begitu! Aku hanya belum terbiasa saja." Sahut Kia tak ingin membuat Syakir patah semangat dengan hubungan yang baru saja mereka jalin.
"Jadi aku sudah memutuskannya, aku panggil kau Kiki, dan kau panggil aku ayang bebeb!" Seru Syakir membuat Kia auto tepok jidat.
"Terserahlah!" Sahut Kia pasrah.
*****
Di ruang kamarnya yang tampak dominan dengan pernak-pernik barang bertemakan sepak bola, Sandi begitu kesal sehingga dia melemparkan tas sekolahnya ke lantai dengan kasar. Ia menghempaskan dirinya dan duduk di tepi ranjang sambil mengusap wajahnya dengan kesal.
"Apa yang terjadi? Kenapa aku sakit hati melihat Kia bersama dengan pria itu?" Gumam Sandi dalam hatinya.
Entah apa yang terlintas di benaknya, namun tiba-tiba saja Sandi teringat pada hubungannya bersama Kia yang sampai saat ini belum pernah ada kata putus yang diucapkan dari mereka berdua. Sandi merasa ia masih memiliki hak atas Kia sebagai pacarnya.
"Aku harus perjelas hubunganku dengan Kia besok di sekolah!" Gumam Sandi sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
Dengan perasaan yang tumbuh begitu saja di hatinya, membuat Sandi tidak bisa berpikir secara jernih. Dulu ia sendiri yang selalu saja menghindar dan juga memperlakukan Kia seperti angin lalu. Namun kini tanpa ia sadari sedikitpun, Sandi malah ingin bersama dengan Kia.
Keesokan harinya, Sandi menemui Kia yang sedang bercanda dengan beberapa temannya di kantin sekolah ketika jam istirahat kelas. Dengan kasar dan tiba-tiba saja Sandi menarik tangan Kia dan membawanya ke suatu tempat yang agak jauh dari keramaian di sekolah.
"Hei, ada apa denganmu? Kenapa kau membawaku kesini?" Tanya Kia terkejut.
"Siapa pria berjas yang kemarin bersamamu?" Sandi balik bertanya dengan sorot mata yang tajam.
"Tentu saja itu urusanku!" Kata Sandi sedikit membesarkan suaranya pada Kia.
"Apa maksudmu?" Tanya Kia kesal.
"Kau masih menjadi pacarku, tapi kemarin kau malah pergi bersama dengan pria lain di belakangku!" Teriak Sandi.
"Apa? Pacar? Baru sekarang kau sadar kalau aku adalah pacarmu?" Ujar Kia menghantam relung hati Sandi.
"Aku tidak pernah merasa kalau kau memperlakukan aku sebagai pacarmu!" Sambung Kia lagi.
"Kia, aku minta maaf karena dulu aku tidak pernah memperdulikan perasaanmu terhadapku! Aku baru saja menyadari kalau aku juga menyukaimu setelah melihat perubahan sikapmu yang sekarang, dan aku menyesal karena memperlakukanmu dengan tidak baik dulu." Ucap Sandi sedikit memohon pada Kia.
"Sudahlah, Sandi! Aku sudah melupakan semuanya yang terjadi di antara kita. Aku juga tidak ingin mengingat apapun lagi yang berhubungan dengan masa laluku!" Kata Kia.
"Apa maksudmu? Apa kau ingin memutuskan hubungan kita?" Tanya Sandi.
"Iya! Aku tidak ingin memaksa orang lain untuk menyukaiku." Sahut Kia.
"Kali ini aku tidak sedikitpun merasa terpaksa! Aku sudah menyadari perasaanku padamu, Kia! Aku mencintaimu." Ucap Sandi.
"Maaf Sandi! Aku sudah mencintai orang lain." Kata Kia.
"Apa kau mencintai pria kemarin?" Tanya Sandi dengan raut wajah yang kesal.
"Iya!" Sahut Kia.
"Kia, aku mohon! Apapun akan aku lakukan untuk menebus semua kesalahanku padamu." Kata Sandi.
__ADS_1
"Sekali lagi maaf, Sandi! Aku tak bisa bersamamu!" Ucap Kia seraya berlalu meninggalkan Sandi yang masih menatapnya dengan tatapan mata yang berkaca-kaca.
Sambil terus berjalan, Kia tertunduk sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Maafkan aku, Sandi! Kau memang cinta pertamaku. Hingga saat ini aku memang belum bisa menyingkirkan perasaanku terhadapmu. Namun aku juga tak ingin menyakiti hati kak Syakir yang begitu tulus padaku. Pelan-pelan aku yakin, aku pasti akan mencintai kak Syakir suatu hari nanti." Gumam Kia dalam hatinya.
Merasa bersalah karena pernah mengecewakan Kia, Sandi tak mampu berbuat apa-apa selain hanya pasrah dengan keputusan Kia yang tak mau menjalin hubungan lagi dengannya. Sandi pun membuat keputusan besar dalam hidupnya. Ia meminta pada kedua orang tuanya untuk pindah ke luar negeri dan menyambung sekolahnya disana setelah ia lulus SMA nanti. Seakan ia ingin pergi jauh untuk menghilangkan perasaannya terhadap Kia.
*****
Dengan usia kandungan yang baru mencapai 4 bulan, Ila berjuang mati-matian untuk mengikuti ujian kelulusan walaupun ia mengikutinya dengan cara yang sedikit berbeda dengan siswa yang bersekolah secara formal. Saat itu Galuh sengaja menguras waktunya hanya demi mengantar dan menemani Ila yang sedang ujian kelulusan. Dukungan dan semangat pun telah Galuh berikan pada istrinya itu.
Tepat pukul 11 siang, Ila keluar dari ruangan tempatnya menjalani ujian kelulusan. Galuh dengan cepat menghampiri Ila dengan membawakan jus buah dingin untuknya.
"Imut, apa kau lelah?" Tanya Galuh overprotektif.
"Hehehe, sedikit!" Sahut Ila.
"Jika kau tidak sanggup, maka tidak usah ikut ujian saja." Kata Galuh.
"Aku sanggup! Lagipula ini kan hari terkahir ujian, setelah itu aku tinggal menunggu hasilnya saja." Sahut Ila.
"Kau jangan memikirkan hasil ujiannya, aku akan mengurus semuanya." Kata Galuh.
"Kak, jangan coba-coba untuk mempermainkan nilai ujianku! Aku ingin nilai ujianku murni." Kata Ila memberikan ultimatum pada Galuh.
"Kau ini, tau saja kalau aku memang berniat untuk melakukannya. Hehehe." Sahut Galuh cengengesan.
"Huh, dasar!" Ujar Ila berdengus kesal pada suaminya itu.
"Ayo kita kembali ke rumah, kau harus istirahat!" Ajak Galuh merangkul mesra pada Ila.
"Kak, aku bosan jika dirumah terus! Kita pergi jalan-jalan saja berdua." Rengek Ila manja kepada Galuh.
"Kau harus istirahat, sayang! Seharian kau mengikuti ujian, kau pasti lelah. Pikirkan kesehatanmu dan juga bayi kita." Kata Galuh begitu ingin melindungi istri dan buah cintanya itu.
"Ayolah, sebentar saja! Aku ingin makan ice-cream!" Rengek Ila lagi.
"Ya sudah, baiklah! Tapi sebentar saja ya, setelah selesai makan ice-cream, kita langsung pulang." Kata Galuh yang akhirnya mengikuti keinginan sang ibu hamil tersebut.
Alhasil Galuh pun pergi membawa Ila untuk makan ice-cream di sebuah gerai ice-cream yang tak jauh dari lokasi ujian itu. Tiba disana, Ila begitu antusias memesan beberapa ice-cream yang terdapat pada menu. Galuh hanya bisa menatap Ila yang berkali-kali memesan ice-cream yang diinginkannya. Tak lama berselang pekerja di gerai ice cream itu pun datang dengan membawa begitu banyak pesanan Ila.
"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan." Gumam Galuh menghitung tiap menu yang di letakkan di atas meja.
"Delapan?" Teriak Galuh yang membuat Ila dan pekerja gerai itu kaget sambil menatapnya.
"Imut, kau makan delapan menu ice cream?" Tanya Galuh pada Ila.
"Iya!" Sahut Ila.
Galuh menatap wajah Ila yang begitu berbinar-binar melihat ice cream yang begitu banyak di atas meja.
"Mari kita habiskan semuanya!" Seru Ila siap dengan sendok yang ada di tangannya.
Suapan besarpun masuk ke dalam mulutnya. Ila begitu menikmati ice cream coklat yang sangat ia sukai itu. Suapan selanjutnya, Ila mengambil ice cream varian lainnya. Kali ini suapannya lebih banyak dari yang sebelumnya.
"Aaarrgghhh! Otakku beku!" Teriak Ila sambil memegang kepalanya yang sontak membuat Galuh panik.
__ADS_1
"Sayang, makannya jangan banyak-banyak!" Kata Galuh menyingkirkan semua ice cream yang ada di meja itu.
"Menyebalkan!" Gumam Ila cemberut seketika.