GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
MENDAPATKAN INFORMASI


__ADS_3

Didi masuk ke dalam bersama wanita paruh baya itu. Saat sudah berada di dalam, terdengar suara rintihan seorang wanita yang sedang mengalami sesak pada nafasnya.


"Izah! Apa itu kau?" Tanya wanita yang bernafas sesak pada wanita paruh baya yang datang bersama Didi.


"Iya, ini aku!" Sahutnya.


Izah membawa Didi masuk ke dalam kamar yang begitu sempit dan juga pengap. Didi memperhatikan seorang wanita yang tampak kurus dan berbaring di ranjang tidurnya yang kotor.


"Kau bawa siapa?" Tanya Eti yang tak lain adalah istri Imran.


"Dia adalah teman dari suami kita! Dia baru saja tiba di pulau ini dengan maksud untuk menemui suami kita." Sahut Izah.


"Apa kau tidak mengatakan padanya mengenai Amran dan juga Imran?" Kata Eti dalam nafasnya yang tersengal-sengal.


"Iya, aku sudah mengatakanya tapi dia ingin bertemu denganmu." Sahut Izah.


Didi mendekat dan duduk di samping Eti yang hanya bisa berbaring karena sakit keras memikirkan suaminya yang tak pernah kunjung kembali.


"Tuan, apa kau tau dimana Imran?" Tanya Eti pada Didi.


"Tidak! Aku belum bertemu denganya lagi selama beberapa tahun ini." Sahut Didi terpaksa membohongi wanita paruh baya itu demi mendapatkan informasi yang akurat.


"Dia sudah lama tidak kembali kesini lagi setelah pertengkaran kami 7 tahun lalu." Kata Eti.


"Apa yang terjadi?" Tanya Didi penasaran.


"Dia marah padaku karena aku tak kunjung memberikannya keturunan! Kami bertengkar hebat malam itu dan dia pergi meninggalkan aku disini. Hingga kini aku tak pernah melihat ataupun mendengar kabarnya." Jawab Eti menjelaskan.


"Apakah Imran sering berpergian?" Tanya Didi.


"Dulu saat kami masih bersama, dia selalu pergi ke kota untuk bekerja. Dia bilang padaku, dia bekerja di salah satu pabrik yang ada disana. Dia hanya pulang sesekali dan menemuiku disini." Sahut Eti.


Didi melirik Izah yang tampak sedih mendengar cerita Eti saat itu. Rasa penasaran kembali menyeruak di dalam pikiran Didi mengenai pria kembar itu.


"Maaf! Apa yang menyebabkan kematian suamimu?" Tanya Didi pada Izah.


"Suamiku meninggal karena tumor ganas yang menyerang otaknya. Kami tidak bisa menyembuhkannya karena biayanya yang begitu mahal. Suamiku hanyalah seorang nelayan yang bekerja malam dan kembali pagi harinya dengan membawa ikan hasil tangkapannya." Sahut Izah.


"Apa kalian sudah memiliki anak?" Tanya Didi.

__ADS_1


"Sudah! Remaja laki-laki tadi itu adalah putra kami." Sahutnya.


"Aku yakin kedua wanita paruh baya ini tidak berbohong! Aku akan segera kembali dan membawa semua informasi ini kepada bos Galuh." Gumam Didi lagi.


Didi memberikan beberapa lembar uang kepada Eti dan juga Izah. Bagaimanapun juga ia merasa iba dengan kondisi mereka yang serba kekurangan di pulau terpencil itu. Saat Didi hendak keluar dari gubuk itu, ia melihat beberapa bingkai foto disana. Foto itu menunjukkan dua orang pria yang kembar dan saling merangkul mesra. Didi mengambil ponselnya dan memotret foto tersebut sebagai bukti bahwa pria yang ia cari memang kembar nyatanya.


"Itu adalah foto Amran dan Imran! Foto itu diambil 2 tahun sebelum kematian suamiku." Kata Izah pada Didi.


Didi memperhatikan wajah keduanya yang begitu mirip.


"Apa yang membedakan dari mereka?" Tanya Didi.


"Warna bola matanya! Bola mata suamiku berwarna hitam dan Imran coklat." Jawab Izah.


"Satu bukti lagi!" Gumam Didi dalam hatinya.


"Baiklah, aku pamit dulu." Kata Didi pada Izah.


"Tuan, apa kau tidak menginap barang semalam disini?" Tanya Izah.


"Tidak! Aku berencana untuk mencari Imran dan mengatakan kondisi istrinya." Sahut Didi.


Lantas saat itu juga Didi kembali ke kota untuk menemui Galuh dan mengatakan semuanya secara langsung. Dengan menempuh perjalanan yang tidak sebentar akhirnya Didi pun tiba di kediaman majikannya itu. Dengan wajah yang lesu dan tampak letih Didi menemui Galuh yang sedang berada di ruang kerjanya.


"Bos!" Sapa Didi.


"Eh, kau sudah kembali? Ini kan baru dua hari setelah kau pergi!" Tanya Galuh kaget melihat rupa Didi yang tampak begitu letih.


"Aku telah mendapatkan informasinya, bos!" Sahut Didi.


"Apa itu?" Tanya Galuh antusias.


"Sebelum aku menyampaikannya, bos harus janji dulu untuk segera menikahkan aku dengan Ratih!" Kata Didi yang begitu menyukai pengasuh Gilang.


"Aahh, kau ini! Iya baiklah, setelah hari pernikahan Kia dan Syakir aku akan menikahkanmu dengan Ratih." Sahut Galuh.


"Hehehe, gitu dong! Aku jadi bersemangat kembali." Kata Didi cengengesan.


"Cepat katakan! Informasi apa yang kau dapatkan?" Tanya Galuh tak sabaran.

__ADS_1


Didi pun mengatakan segala informasi yang ia dapatkan dari pulang terpencil itu. Ia juga menyerahkan beberapa foto yang sempat ia ambil sebagai bukti bahwa narapidana itu memang kembar adanya.


"Bos, apa warna bola mata narapidana itu?" Tanya Didi yang belum pernah bertemu langsung dengan narapidana yang masih di rawat dirumah sakit.


"Kalau aku tidak salah, bola matanya berwarna coklat!" Sahut Galuh.


"Benar dugaanku! Wanita paruh baya itu tidak berbohong." Kata Didi.


Galuh berpikir sejenak mencerna setiap informasi yang dikatakan oleh Didi padanya.


"Sialan! Pria itu membohongiku." Umpat Galuh yang baru tersadar bahwa narapidana itu berbohong padanya.


"Bos, menurut informasi yang aku dapatkan, polisi tidak salah tangkap seperti apa yang kalian ragukan selama ini, tapi memang pria itu adalah residivis perampok yang berbahaya!" Kata Didi.


"Kau benar!" Sahut Galuh.


"Selama ini Imran telah menggunakan identitas Amran sebagai kedoknya agar bisa terlepas dari jeratan hukum! Jika seperti itu, dia memang benar ayah kandung Ila." Kata Galuh.


Ila yang saat itu ingin membawa teh hangat untuk Galuh dan Didi tak sengaja mendengar perkataan Galuh. Ila kaget karena tak bisa menerima kenyataan bahwa Imran adalah residivis perampok yang berbahaya sekaligus ayah biologisnya. Sangking kagetnya Ila sampai menjatuhkan cangkir-cangkir teh itu hingga pecah. Galuh dan Didi melihat Ila yang berdiri di depan pintu ruang kerjanya.


"Ila!" Ucap Galuh pada istrinya yang gemetar sambil meneteskan air matanya.


Ila berlari masuk ke dalam kamarnya sambil menangis. Galuh mengejar Ila yang masuk ke dalam kamar dan menangis sejadi-jadinya di ruangan itu. Galuh begitu tak tega melihat Ila yang terduduk lemas dan meringkuk sambil menangis disana. Galuh langsung berjongkok dan mendekapnya erat.


"Sayang!" Ucap Galuh pada Ila.


"Kenapa aku harus terlahir seperti ini? Kenapa dia yang ditakdirkan menjadi ayahku?" Teriak Ila dalam isak tangisnya.


"Sayang jangan seperti ini! Tenanglah." Ucap Galuh mencoba untuk menenangkan istrinya itu.


"Kenapa ayahku seorang residivis perampok? Kenapa aku tidak dilahirkan dari keluarga yang baik dan utuh?" Ucap Ila lagi sambil menangis sejadi-jadinya.


"Ini sudah takdir, sayang! Kau tidak boleh menyalahkan takdir." Sahut Galuh.


"Aku tidak mau memiliki ayah seperti dia." Ucap Ila.


"Tenanglah!" Ucap Galuh.


Ila terus menangis di dalam dekapan Galuh. Ia begitu kecewa kepada takdir yang menjadikannya sebagai anak dari pria yang berstatus sebagai reidivis perampok yang terkenal berbahaya.

__ADS_1


Dari balik pintu kamar, Hana dan Antoni hanya bisa menghela nafas dengan berat mengetahui apa yang telah menimpa menantu kesayanganya tersebut. Mereka begitu iba terhadap Ila yang masih saja merasakan kesedihan karena ulah dari Imran yang dulu pernah menjadi salah satu pria yang memperkosa Yurika.


__ADS_2