
Ila dan Galuh pun membuka kotak kecil itu dengan antusias. Saat kota itu terbuka Ila mengeluarkan isinya. Sebuah bungkusan kecil yang masih tertutup rapat. Galuh melihat bungkusan itu dengan ekspresi yang begitu kaget.
"Apa ini? Permen kah?" Gumam Ila yang membuat Galuh tepok jidat.
Ila pun ingin menyobek bungkusan kecil yang menyerupai permen itu. Namun Galuh cepat-cepat menahannya.
"Jangan sayang!" Kata Galuh.
"Kenapa? Aku kan cuma ingin tau ini permen apa? tapi kalau aku raba-raba sepertinya ini permen karet, deh!" Sahut Ila dengan lugunya.
"Jangan di buka! Itu bukan permen karet, sayang." Ucap Galuh lagi menahan tangan Ila yang akan segera menyobek bungkusan itu.
"Kak, ini pasti permen! Karena di bungkusnya ada gambar strawberry." Kata Ila ngeyel.
"Huh! Si Ila pakek ngeyel lagi! Sekarang benda yang seperti itu memang banyak variannya. Kemarin saja, aku beli yang varian pisang. Hehehehe." Gumam Galuh mengingat kemesraannya bersama Ila saat dini hari.
Krreeekkk.....
Plastik bungkusan kecil itu pun robek. Ila mengeluarkan isinya yang persis seperti balon yang berbentuk bundar.
"Ih, apaan nih? Geli banget!" Pekik Ila memperhatikan benda tersebut.
"Sayang, apa kau tidak ingat benda yang aku pakai saat kita ehem...ehem semalam?" Kata Galuh pada Ila.
"Oh, alat kontrasepsi ya?" Sahut Ila.
"Iya! Nah, itu dia yang sekarang kau pegang." Kata Galuh dengan santainya.
"Aaarrgggghhh! Geli banget!" Pekik Ila seraya melemparkan benda tersebut ke wajah Galuh.
"Duh, sial banget sih! Mimpi apa aku semalam bisa-bisanya aku di lempar benda yang begituan." Gumam Galuh menyingkirkan alat kontrasepsi itu dari wajahnya.
"Apaan sih mereka memberikan aku kado yang begituan!" Ujar Ila kesal pada Kia dan Syakir.
"Eh, imut! Itu ada suratnya." Kata Galuh melihat secarik kertas pada kotak hadiah itu.
Ila pun mengambil kertas tersebut dan membacanya dengan seksama bersama Galuh.
Dear, Ila dan Galuh.
Berhubung Gilang masih bayi, jadi kami berikan kalian hadiah yang paling istimewa dan berguna untuk kalian berdua.
Jangan lupa di pakai, ya guy's.
Hehehehe.....
Dari Kia dan Syakir yang sedang tertawa jahat untuk kalian.
"Dasar pasangan somplak!" Seru Ila dan Galuh serentak kesal pada Kia dan Syakir.
"Huh! Kita harus balas mereka berdua." Kata Ila.
"Kau benar!" Sahut Galuh.
"Kita akan berikan pembalasan kita saat mereka menikah nanti. Hehehehe." Seru Ila dan Galuh tertawa jahat.
Galuh melirik alat kontrasepsi yang tadi ia letakkan di atas bantal. Seketika pikiran mesum bermain di otaknya.
"Imut! Mubazir banget tuh benda kalau tidak di pakai! Ayo kita gunakan, biar tidak mubazir. Hehehe." Ajak Galuh cengengesan.
__ADS_1
"Dasar modus!" Ujar Ila.
"Hehehe, kita harus menghargai pemberian orang kan? Jadi aku yang pakai, dan kau yang menikmatinya." Bisik Galuh pada Ila.
"Hehehe, pintar banget modusin aku." Ila pun terkekeh geli saat tau Galuh menginginkan dirinya lagi.
*****
Beberapa minggu kemudian, Ila mendapatkan SIM pertamanya. Dengan begitu Ila lebih mudah untuk pergi kemanapun sambil mengendarai mobil mewah pemberian Galuh saat ulang tahunnya. Namun walaupun begitu Ila tidak menjadi wanita yang liar. Ia tetap pada kodratnya sebagai wanita bersuami sekaligus ibu yang baik bagi putranya yang semakin tumbuh nan menggemaskan.
Suatu hari, Ila menerima panggilan dari Kia yang sebentar lagi akan menyelenggarakan pesta pernikahannya bersama Syakir. Saat itu Kia meminta tolong pada Ila untuk menemaninya melihat gaun kebaya yang akan ia pakai saat akad nikah nanti.
"La, temani aku dong! Kak Syakir sedang sibuk di kantor, jadi tak bisa menemaniku." Kata Kia pada Ila melalui sambungan teleponnya.
"Oke! Kau berada dimana sekarang?" Tanya Ila.
"Aku masih di kampus!" Sahut Kia.
"Ya sudah! Aku jemput kau di kampus ya." Kata Ila.
"Oke! AKu tunggu." Sahut Kia lagi.
Setelah berpamitan dengan kedua mertua dan suaminya, Ila pun pergi mengendarai mobilnya itu. Ila pergi menuju ke kampus Kia yang tak seberapa jauh dari tempat tinggalnya. Jalanan saat itu terasa sedikit lengang, namun tetap saja Ila mengendarai mobilnya dengan perlahan dan hati-hati. Saat akan menuju ke kampus Kia, Ila melintas di sebuah toko kue yang menjadi langganan Kia.
"Kia pasti belum makan siang! Aku belikan kue saja untuknya sekalian." Kata Ila yang memakirkan mobil mewahnya itu di depan toko kue tersebut.
Ila pun masuk ke dalam toko itu dan membeli beberapa kue kesukaan Kia. Setelah membayar, Ila masuk lagi ke dalam mobilnya dan hendak melanjutkan perjalanannya untuk pergi ke kampus Kia. Ila baru saja menginjak gas mobilnya, tak jauh dari toko itu, tiba-tiba seorang pria tua yang berlari dan melintas di depan mobilnya. Ila kaget saat melihat pria tua. Ila hendak menginjak rem mobilnya, namun sayangnya ia keliru. Ila malah menginjak gas mobilnya yang membuat mobil Ila melaju kencang. Pria tua itu pun terseret sekitar 5 meter dengan mobil Ila. Hingga akhirnya mobil Ila terhenti karena menabrak pohon yang ada di pinggil jalan.
Ila tersadar dan mendapati dirinya sudah berada di rumah sakit. Ia melihat Galuh yang begitu khawatir padanya. Disana juga ada kedua mertuanya dan Yurika yang menangis sedari tadi menunggu Ila siuman.
"Ila, kau sudah sadar!" Ucap Galuh menggenggam tangannya dengan erat.
"Aku dimana?" Tanya Ila.
Ila berusaha mengingat apa yang terjadi padanya sebelum ia tak sadarkan diri karena kepalanya terbentur dengan batang setir mobilnya. Ila teringat kala ia menabrak seorang pria paruh baya yang menggunakan pakaian oranye yang terlindas mobilny.
"Dimana pria itu? Apa dia mati? Aku tak sengaja menabraknya! Tanya Ila panik.
"Tenanglah Ila! Pria itu sedang di rawat, dia tidak mati." Sahut Antoni.
"Aku takut! Aku tak sengaja menabraknya." Kata Ila menangis.
"Sudahlah, sayang! Jangan takut, aku akan mengurus semuanya." Kata Galuh memeluk Ila untuk menenangkannya.
Tak lama kemudian, Kia pun datang sambil menangis karena menyesal telah mengajak Ila. Ia merasa apa yang terjadi pada Ila saat itu adalah karena kesalahannya.
"Ila, aku minta maaf! Gara-gara aku, kau kecelakaan." Ucap Kia menangis.
"Tidak! kau tidak salah. Tapi aku lah yang tidak berhati-hati." Sahut Ila.
Galuh mengurus semuanya dengan pihak kepolisian. Galuh melihat ke ruang rawat pria yang di tabrak Ila di jaga ketat oleh beberapa polisi.
"Kenapa ruangan pria itu di jaga oleh polisi?" Gumam Galuh dalam hatinya.
Saat sedang memperhatikan ruang rawat itu, Galuh melihat Kania yang sedang berbicara dengan salah satu polisi yang berjaga disana. Lantas Galuh pun menghampiri Kania.
"Kania!" Panggil Galuh.
Kania pun menoleh pada Galuh.
__ADS_1
"Bagaimana kabar Ila?" Tanya Kania.
"Dia sudah sadar namun masih harus dirawat beberapa hari disini." Sahut Galuh.
"Oh iya, ini kan ruangan pria yang di tabrak Ila kan?" Tanya Galuh pada Kania.
"Iya!" Sahut Kania.
"Kenapa di jaga oleh polisi?" Tanya Galuh.
"Korban yang Ila tabrak adalah seorang tahanan yang berhasil kabur dari penjara! Saat itu pihak kepolisian sedang mengejar dia untuk di tangkap dan di bawa kembali kerumah tahanan, namun saat di tengah jalan ia tertabrak oleh mobil Ila." Sahut Kania menjelaskan kronologi kejadian itu.
"Oh begitu! Apa aku boleh melihat kondisinya?" Tanya Galuh.
"Baiklah! Ayo masuk bersamaku." Sahut Kania.
Kania dan Galuh pun masuk ke dalam ruang rawat korban yang Ila tabrak. Kondisi pria itu sedang kritis. Galuh mendekati pria paruh baya itu dan melihat wajahnya dengan jelas. Galuh terus memperhatikan wajah pria paruh baya itu dengan seksama.
"Kenapa wajah pria ini seperti sangat familiar dimataku?" Gumam Galuh dalam batinnya.
Kania melihat Galuh yang terus saja menatap narapidana itu.
"Apa kau mengenal pria ini?" Tanya Kania pada Galuh.
"Sepetinya tidak! Tapi kenapa wajahnya seakan familiar dimataku? Itu yang membuatku terus menatapnya." Sahut Galuh.
"Kalau aku boleh tau, apa yang dia lakukan sehingga dia di penjara?" Tanya Galuh.
"Dia adalah salah satu perampok yang sudah lama diincar oleh pihak kepolisian. Beberapa tahun yang lalu dia dan beberapa rekannya berhasil diciduk oleh pihak kepolisian saat akan melancarkan aksinya pada sebuah rumah mewah milik pejabat." Jawab Kania.
Setelah melihat kondisi dari pria tersebut, Galuh dan Kania berjalan bersama untuk menuju ke ruang rawat Ila. Kania ingin menanyakan langsung kronologi kecelakaan itu pada Ila.
"Ila, apa aku boleh bertanya padamu sedikit?" Tanya Kania.
"Iya." Sahut Ila.
"Bagaimana kronologi kejadian kecelakaan itu?" Tanya Kania.
"Saat itu aku baru saja keluar dari toko kue dan aku baru saja menjalankan mobilku dengan pelan, namun tiba-tiba saja ada seorang pria yang berlari dan melintas di depanku. Aku terkejut dan hendak menginjak rem. Namun entah kenapa mobilku tiba-tiba saja melaju dengan kencang dan menabrak pria itu. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi." Sahut Ila menjelaskan semua kronologi kecelakaan itu.
"Aku yakin kau tidak sengaja terinjak pedal gas bukan rem." Kata Kania.
"Iya, aku juga berpikir begitu setelah mendengar kronologinya!" Sahut Galuh.
"Kak, apakah aku akan di penjara?" Tanya Ila ketakutan dan menangis.
"Aku belum bisa memastikannya! Aku perlu menyelidiki masalah ini lebih dalam." Sahut Kania.
"Ila, kau tenanglah! Jika korban tidak meninggal, mungkin masalahnya akan lebih mudah untuk diselesaikan." Sambung Kania lagi.
Ucapan Kania tak membuat rasa gelisah Ila menghilang sedikitpun. Ia terus saja ketakutan akan di penjara karena telah menabrak dan mengancam jiwa seseorang.
__ADS_1