
Didi menghentikan mobilnya di area parkir sekolah. Banyak terlihat olehnya pelajar yang sedang mempersiapkan diri untuk bertanding disana. Galuh turun dari mobil seraya melepaskan kaca mata hitamnya untuk mencari keberadaan Ila di sekolah itu. Banyak gadis-gadis berbisik-bisik melihat ketampanan Galuh disana. Galuh yang hanya mencintai Ila, terus fokus mencari keberadaan istirnya itu. Sampai akhirnya matanya tertuju pada Ila yang sedang duduk berbincang dengan beberapa siswa tampan disana. Galuh dongkol melihat Ila tersenyum pada siswa-siswa itu. Dengan langkah cepat Galuh menghampiri Ila.
"Ila, apa kau sudah selesai bertanding?" Tanya Galuh yang mengagetkan Ila.
"Su..sudah!" Jawab Ila gemetar ketakutan.
"Ke...kenapa kau ada disini?" Tanya Ila pada Galuh.
"Apa aku tidak boleh menemui istriku disini?" Bisik Galuh pada Ila.
"Pelankan suaramu, nanti mereka akan mendengarnya." Bisik Ila pada Galuh.
"Sebelum mereka tau yang sebenarnya tentang aku dan kau, maka dari itu cepat ikut aku pulang karena penerbangan kita ke turki adalah sore ini." Kata Galuh.
"I..iya." Sahut Ila yang mau tak mau harus mengikuti perintah Galuh.
Di balik batang pohon, Fiqri melihat Ila dan Galuh jalan bersamaan.
"Maafkan aku Ila, aku tidak kuasa untuk membantmu jika suamimu itu sedang menindasmu." Gumam Fiqri yang sedang mengintip dari balik pohon.
Ila dan Galuh masuk ke dalam mobil. Didi menahan senyumnya melihat Galuh yang hendak murka melihat Ila didekati oleh siswa-siswa tampan di sekolah itu.
"Hai, nona Ila." Sapa Didi pada Ila.
"Hai, kakak tampan." Balas Ila tersenyum tanpa beban pada Didi.
"Apa kau masih bisa senyum seperti itu setelah melihat wajahku yang angker ini?" Teriak Galuh pada Ila.
"Huh, kenapa aku terus saja di marahi?" Gumam Ila kesal.
"Karena kau memberikan senyuman manismu pada siswa-siswa tadi." Sahut Galuh cemburu.
"Aku kan hanya ingin berteman saja dengan mereka." Kata Ila.
"Kau selalu saja beralasan!" Ujar Galuh.
Didi cengengesan sambil menyetir mobil.
"Si bos bucin! Hehehe." Kata Didi.
"Diam kau! atau ku potong gajimu." Teriak Galuh semakin kesal.
Ila dan Didi menahan tawanya melihat Galuh yang sejak tadi kesal sendirian di dalam mobil.
Sampai di rumah kedua orang tuanya, Galuh masih pasang wajah cemberut. Hana dan Antoni melihat wajah putranya dengan rasa kebingungan.
"Ada apa dengan Galuh?" Tanya Hana pada Didi.
"Si bos sedang cemburu dengan nona Ila, nyonya bos." Jawab Didi.
"Benarkah? Wah, sebentar lagi aku pasti akan segera punya cucu!" Seru Hana bahagia.
"Kira-kira kalau nona Ila hamil dan punya anak, anaknya akan mirip siapa ya, nyonya bos?" Tanya Didi.
"Mirip Ila saja lah! Aku bosan kalau cucuku mirip dengan Galuh. Gak asik kalau wajah Galuh selalu menghiasi rumah ini. Iya ka? Hehehe." Sahut Hana.
"Hahaha, nyonya bos bisa saja!" Sahut Didi ikut tertawa.
Galuh dan Ila bersiap-siap untuk pergi ke bandara. Koper yang berisikan pakaian mereka telah tersusun di dalam bagasi mobil. Ila dan Galuh berpamitan kepada Hana dan juga Antoni.
"Ma, pa. Ila pergi dulu ya." Ucap Ila menyalami tangan kedua mertuanya itu.
"Iya. Hati-hati disana dan semoga pulangnya mama mendengar kabar baik. Hehehe." Sahut Hana yang sudah kebelet ingin menimang cucu.
"Hehehe, iya." Sahut Ila yang tidak mengerti maksud perkataan Hana padanya.
Antoni dan Galuh terlihat saling berbisik saat itu.
__ADS_1
"Hei, bawalah ramuan ini agar staminamu top markotop saat di atas ranjang." Bisik Antoni pada Galuh.
"Pa, kasihan Ila nya dong! Nanti dia kelelahan." Bisik Galuh.
"Dasar anak bodoh! Kau harus melakukannya saat dia tidak lelah." Bisik Antoni lagi.
Tiba-tiba Hana menghampiri ayah dan anak tersebut.
"Kalian sedang bicara apa? Kenapa berbisik-bisik?" Tanya Hana.
"Hahaha, papa hanya mengatakan hal-hal yang memotivasi Galuh saja untuk membahagiakan Ila." Jawab Antoni dusta.
"Hahaha, iya." Sahut Galuh segera menyimpan ramuan ke dalam saku celananya.
Ila dan Galuh masuk ke dalam mobil setelah berpamitan pada Hana dan juga Antoni. Didi membawa mereka menuju ke bandara untuk pergi ke turki menaiki si burung besi itu.
Ila dan Galuh pun pergi ke turki untuk berbulan madu selama dua minggu disana. Saat sedang di dalam pesawat Galuh melihat Ila sedang melatih dirinya menjawab soal-soal fisika untuk olympiade nanti.
"Hah, dimana saja kau berada kau selalu saja belajar." Ujar Galuh pada Ila.
"Aku hanya melatih diriku saja." Sahut Ila.
"Istirahatlah agar kau tidak lelah saat kita tiba di istanbul nanti. Kita akan melewati perjalanan sekitar 12 jam." Kata Galuh.
"Iya." Sahut Ila menyimpan buku pelajarannya ke dalam tas kecil.
Saat Ila akan membaringkan tubuhnya di atas kasur kecil yang ada di kabinnya, Galuh langsung mendekapnya hangat. Ila membiarkan saja apa yang di lakukan Galuh padanya saat itu seakan ia mulai terbiasa dengan sikap Galuh yang selalu ingin mendekap dirinya. Tidak lama kemudian mereka berdua pun terlelap di sana.
Lebih dari 12 jam pun berlalu, Galuh memboyong Ila pergi ke hotel yang sudah ia booking beberapa hari yang lalu. Ila terperangah melihat kamar hotel yang di sewa Galuh untuk mereka menginap selama berada di istanbul.
"Wah, mewah sekali kamar ini." Seru Ila melihat ke seluruh sudut ruangan.
"Apa kau senang?" Tanya Galuh.
"Tentu saja." Sahut Ila.
"Aarrgghh, selalu saja bawa-bawa sekolah! Jangan pernah ucapkan kata itu lagi saat kita berada di sini." Ujar Galuh.
"Iya." Sahut Ila.
"Bagus! Kau memang istri yang penurut." Kata Galuh senang.
Pagi itu Galuh dan Ila memutuskan untuk beristirahat di hotel setelah perjalanan yang membuat tubuh mereka kelelahan. Galuh dan Ila hanya makan dan tidur saja selama seharian di hari pertama mereka di negara yang terkenal dengan kubah mesjidnya yang sangat indah itu.
Pukul 3 sore waktu di negara turki, Ila terbangun dan duduk di sofa yang dekat dengan jendela kaca yang lebar. Ila melihat pemandangan kota istanbul yang sangat indah dan masih tertutupi oleh salju. Ila sangat takjub melihat pemandangan kota tersebut.
"Seharusnya aku tidak bersedih dengan adanya pernikahan ini. Aku harus bersyukur karena memiliki mertua yang sangat baik dan juga sangat peduli padaku. Kalau mengenai Galuh, aku tidak tau apakah dia akan selamanya bersikap baik dan manis kepadaku." Gumam Ila dalam hatinya sambil menatap perkotaan dari jendela kamar hotel.
Saat sedang menikmati pemandangan kota istanbul, tiba-tiba Galuh duduk di belakangnya dan mendekap dirinya. Galuh meletakkan dagunya pada pundak Ila.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Galuh pada Ila.
"Tidak ada! Aku hanya sedang memandang keindahan kota saja." Sahut Ila.
"Apa kau tidak memikirkan aku?" Tanya Galuh.
"Untuk apa kau memikirkanmu?" Tanya Ila bingung.
"Hei, apa kau tidak penasaran sejak kapan aku jadi budak cintamu?" Tanya Galuh.
"Oh iya, memangnya sejak kapan kau menyukai aku?" Tanya Ila.
"Sejak saat kita menginap di hotel saat itu." Jawab Galuh.
"Tidak bisa di percaya! Setelah saat itu kau masih saja bersikap kasar dan cuek padaku." Kata Ila.
"Saat itu aku masih ragu-ragu dengan hatiku, namun setelah sehari pernikahan kita, aku menyadarinya kalau aku sudah menjadi budak cintamu." Kata Galuh.
__ADS_1
"Hei, jangan bicara seperti itu, aku geli melihat tampangmu!" Ujar Ila pada Galuh.
"Huh, apaan sih? Aku kan bicara yang sebenarnya." Gumam Galuh.
"Iya, tapi kau jangan menunjukkan wajahmu yang konyol itu. Tidak pantas untukmu! Kau adalah beruang kutub yang dingin, jadi kau tidak pantas berwajah konyol seperti itu." Ujar Ila pada Galuh.
"Huh, dingin salah, konyol juga salah! Menyebalkan." Gumam Galuh.
"Apa kau sudah puas istirahat?" Tanya Galuh.
"Sudah!" Sahut Ila.
"Mari kita pergi jalan-jalan mengitari kota istanbul!" Kata Galuh bersemangat.
"Oke." Sahut Ila senang.
"Eh, jangan lupa pakai pakaian hangatmu, disini cuacanya sedang dingin." Kata Galuh.
"Iya." Sahut Ila.
Ila dan Galuh pun keluar dari hotel untuk jalan-jalan di kota istanbul, turki. Untuk pertama kalinya Ila merasakan dinginnya salju. Ila sangat senang dan masih tidak percaya kalau dirinya sudah berada di negara yang sangat asing baginya.
"Dingin sekali." Ucap Ila yang masih merasakan hawa dingin walaupun ia sudah menggunakan pakaian hangatnya yang tebal.
"Karena kau belum terbiasa, nanti kalau sudah berhari-hari disini, kau akan terbiasa." Kata Galuh merangkul Ila untuk berjalan bersamanya.
Ila bermain salju dan mengepalkan salju itu di kedua tangannya. Ila fokus dengan gumpalan salju yang ada di tangannya itu sampai seketika Ila kaget saat Galuh melemparnya dengan bola salju buatannya kepada Ila.
"Hahaha, dia kaget!" Kata Galuh tertawa sambil menunjuk Ila.
"Akan ku balas kau!" Ucap Ila melemparkan bola salju yang ia kepal tepat di wajah Galuh.
Ila terdiam saat salju yang ia lempar mengenai wajah Galuh. Ila takut kalau Galuh akan marah kepadanya. Kemudian senyuman Ila melebar saat Galuh mengejarnya untuk membalas. Ila berlari menghindari Galuh sebisa mungkin, namun Ila terjatuh saat kakinya merasa berat melangkah karena terperosok ke dalam salju yang lumayan tebal.
"Apa kau tidak apa-apa, cantik?" Tanya Galuh pada Ila.
"Kakiku sakit, kak." Sahut Ila.
"Ayo naik ke punggungku, kita duduk disana untuk istirahat sebentar." Kata Galuh.
Ila segera naik ke punggung Galuh dan Galuh pun menggendong Ila untuk di bawa ke sebuah bangku untuk mereka istirahat disana. Ila tersenyum senang saat Galuh sangat perhatian padanya. Ila merebahkan kepalanya pada pundak Galuh yang sedang menggendongnya.
"Apakah aku jatuh cinta pada si beruang kutub ini?" Gumam Ila dalam hatinya merasakan bahagia yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Puas bermain salju di luar, Ila dan Galuh kembali ke hotel untuk beristirahat pada malam harinya. Ila lebih dulu mandi air yang hangat untuk menghangatkan tubuhnya. Setelah selesai mandi, Ila berbaring di atas ranjang sambil memainkan game yang ada di ponselnya. Matanya masih enggan terpejam malam itu. Tak lama kemudian Galuh datang menghampirinya dengan membawa secangkir coklat hangat untuknya.
"Minumlah coklat ini hangat ini." Kata Galuh pada Ila.
"Terima kasih." Ucap Ila mengambil segelas coklat hangat dari Galuh.
Ila meminum coklat hangat itu sedikiti demi sedikit. Galuh mendengar bahwa Ila sedang merasakan flu pada hidungnya.
"Apa kau sedang sakit?" Tanya Galuh khawatir.
"Aku hanya flu saja, mungkin karena belum terbiasa dengan cuaca dingin disini." Sahut Ila.
Galuh memeluk Ila dengan penuh kehangatan cintanya.
"Kak, jangan dekat-dekat, nanti kau ketularan." Kata Ila mendorong tubuh Galuh agar menjauh darinya.
Galuh bukannya menjauh, malah semakin mendekat pada Ila bahkan memberikan ciuman padanya.
"Kenapa kau malah menciumku? Apa kau tidak takut tertular flu dariku?" Tanya Ila dengan wajah yang sangat merah.
"Itu hanya flu, untuk apa kau takut? Yang aku takutkan sekarang ialah jika kau meninggalkan aku, Ila." Sahut Galuh yang membuat hati Ila luluh seketika padanya.
"Kak Galuh." Ucap Ila saling beradu pandang pada Galuh.
"Ila, aku mencintaimu." Ucap Galuh.
__ADS_1
Mereka pun saling berciuman dan mengecap bibir mereka dengan penuh gairah. Galuh dan Ila melewati malam bulan madunya dengan bercinta di bawah langit negara turki. Ila yang baru saja menyadari perasaannya terhadap Galuh, membalas semua perlakuan Galuh kepadanya dengan penuh gairah.