
Tangan Ila masih merem*as kerah baju yang di pakai oleh Galuh saat itu. Sementara itu Galuh terus mengecap bibir Ila dengan lembut. Ila hanya bisa mengikuti apa yang Galuh lakukan padanya. Setelah itu Galuh melepaskan ciumannya dan saling beradu pandang dengan Ila. Gari senyuman terukir di bibir Galuh saat ia menatap wajah Ila yang sudah sangat memerah.
"Hari ini kau sangat penurut, ya." Ucap Galuh mengelus pipi Ila.
Ila hanya diam dan menundukkan pandangannya.
"Aku menurut karena takut di laknat malaikat seperti yang pak botak katakan dalam ceramahnya kemarin." Gumam Ila dalam hatinya.
"Tapi kenapa si beruang kutub ini malah menciumku tadi?" Gumamnya lagi karena bingung dengan sikap Galuh yang sering berubah-ubah kepadanya.
Pikiran Ila buyar saat Galuh mengangkat tubuhnya sehingga posisi kedua kaki Ila mengapit di pinggang Galuh. Ila mengalungkan kedua tangannya pada leher Galuh agar ia tidak jatuh. Galuh yang sudah terbius dengan kepolosan Ila, membawanya ke atas ranjang tidur mereka. Jantung Ila berdetak dengan sangat kencang saat itu. lla sudah berada di bawah tubuh Galuh yang kembali menciumnya dengan mesra.
"Bagaimana ini? Apa dia akan melakukannya sekarang? Tapi aku dan dia tidak saling mencintai." Ucap Ila dalam hatinya sambil menutup kedua matanya.
Ila kembali teringat perkataan dari guru agamanya tentang kewajiban seorang istri terhadap suaminya.
"Aku pasrah saja lah!" Ucap Ila dalam hatinya merasakan apapun yang Galuh lakukan terhadapnya.
Galuh menumpahkan semua gairahnya malam itu terhadap Ila. Malam pertama yang tertunda dua hari setelah pernikahan terjadi saat itu dan menghanyutkan sepasang suami istri yang sama sekali belum merasakan cinta satu sama lainya.
Puas menumpahkan semua gairahnya kepada Ila, Galuh masih terjaga sambi melingkarkan lengannya memeluk Ila yang sudah tertidur pulas. Galuh menatap langit-langit kamarnya dan berpikir tentang apa yang telah ia lakukan pada gadis yang ia tolak selama ini.
"Hah, apa yang terjadi padaku malam ini? Kenapa aku melakukannya?" Pikir Galuh bingung dengan perasaan yang bergejolak di dalam hatinya.
"Pengajuan ceraiku sudah di tangani oleh pengacara yang aku tunjuk untuk mengurusnya di hari pernikahanku waktu itu. Sekarang aku sudah melakukan hal itu dengannya. Bagaimana mungkin aku menghancurkan hati Ila." Gumam Galuh dalam hatinya seraya menatap wajah Ila yang sedang tertidur pulas di sampingnya.
Galuh menggeser tubuh Ila secara perlahan dan kemudian ia duduk sambil meraih ponselnya. Ia membuka pesan dari Hamka yang mengajaknya untuk bergabung di cafe tempat biasa mereka kunjungi.
Galuh turun dari ranjang dan segera mandi. Selesai mandi ia pergi mengendarai mobilnya menuju ke cafe tersebut. Disana teman-temannya sudah menantikan dirinya. Galuh duduk dan memesan minuman soda dingin untuknya.
"Sepertinya kau terlihat segar malam ini. Hehehe." Kata Syakir mulai meledek Galuh yang terlihat baru selesai mandi.
"Iya, basah sekali rambutmu." Sambung Roni ikut meledek Galuh.
"Hehehe, pengantin baru kita sangat bersemangat setiap malam." Sambung Hamka.
"Hei, diamlah kaliah!" Sahut Galuh kesal.
Roni, Hamka dan Syakir hanya tertawa melihat kekesalan Galuh saat mereka menggodanya. Tak lama kemudian minuman yang Galuh pesan datang. Ia menuangkan minuman soda itu pada gelas yang berisikan es batu. Galuh meminum minuman soda itu sedikit demi sedikit sambil menikmati suasana malam di cafe itu.
Saat menikmati minumannya, tiba-tiba Ana kembali menghampiri Galuh. Teman-teman Galuh berdecak kesal saat melihat Ana yang tampa henti mengganggu Galuh.
"Galuh, ada yang ingin aku tanyakan padamu." Kata Ana menarik Galuh agar menjauh dari teman-temannya.
Galuh menarik kembali tangannya agar terlepas dari genggaman Ana.
"Ada apa?" Tanya Galuh kesal.
"Apa benar yang aku dengar kalau kau sudah menikah?" Tanya Ana yag baru tau tentang pernikahan Galuh.
"Iya." Sahut Galuh santai.
"Galuh, kenapa kau melakukan hal ini padaku? Bukankah kau pernah berjanji akan menikahi aku?" Tanya Ana dengan linangan air matanya.
"Huh, tanyakan pada dirimu sendiri! Aku yakin kau sudah tau jawabannya." Sahut Galuh berbalik meninggalkan Ana yang sedang menangis.
Ana kembali menarik lengan Galuh agar tidak menjauh darinya.
"Ada apa lagi? Apa kau tidak malu mengganggu pria yang sudah menikah, hah?" Teriak Galuh semakin kesal dengan Ana.
"Bagiku kau tetap milikku!" Balas Ana ikut berteriak.
Semua pengunjung yang ada di cafe itu melihat aksi keduanya sambil berbisik-bisik.
"Huh, sudah puas mempermalukan dirimu sendiri, Ana?" Tanya Galuh menatap Ana dengan sinis.
Ana membalas tatapan Galuh yang merendahkan dirinya.
"Apapun yang kau lakukan padaku, tidak akan merubah hatiku yang sudah terlanjur membencimu!" Ujar Galuh yang membuat Ana geram.
Galuh kembali duduk bersama teman-temannya. Sedangkan Ana memilih untuk pergi meninggalkan cafe itu karena tidak tahan mendengar ucapan orang-orang yang berkata jelek mengenai dirinya saat itu.
Galuh kembali meminum air soda yang sudah sangat dingin karena es di gelasnya.
"Mau apa lagi Ana mendatangimu?" Tanya Roni pada Galuh.
"Entahlah! Biarkan saja dia. Dia tidak penting!" Sahut Galuh.
"Sudahlah, jangan dibicarakan lagi hal yang tidak penting itu." Kata Hamka.
__ADS_1
"Hei, jadi bagaimana dengan gadis kecilmu itu?" Tanya Syakir sangat penasaran mengenai malam pertama Galuh.
"Apanya yang bagaimana?" Ujar Galuh dengan rona merah dipipinya.
"Dia mendesah atau kesakitan? Hehehe." Tanya Syakir lagi.
"Kesakitan lalu mendesah!" Sahut Roni.
"Hei, kenapa kau yang jawab, hah?" Teriak Galuh kesal pada si ember bocor.
"Karena tadi pagi kau sudah mengatakannya padaku! Apa kau sudah hilang ingatan, hah?" Sahut Roni.
"Jadi kau benar-benar sudah melakukannya pada Ila?" Tanya Hamka pada Galuh.
"Iya." Sahut Galuh.
"Apa?" Teriak ketiga temannya itu.
Galuh kaget saat ketiga temannya itu berteriak padanya.
"Kenapa?" Tanya Galuh bingung.
"Apa kau sudah hilang akal? Ila masih sekolah, bodoh! Bagaimana kalau dia sampai hamil sebelum lulus sekolah?" Teriak Roni kesal pada Galuh.
"Hah, sudah terlambat untuk menyesalinya." Sahut Galuh menghela nafas.
"Dasar pedofil kau!" Teriak Hamka seraya menendang kaki kursi yang di duduki oleh Galuh.
"Sudah aku katakan, Ila itu gadis berusia 17 tahun, jadi aku bukan pedofil!" Balas Galuh berteriak kesal pada teman-temannya.
'Lagian siapa suruh dia menjadi penurut malam ini dan lagi senyumannya sangat manis, aku sampai lupa diri dan melakukan itu padanya tadi." Sambung Galuh.
"Baru saja kau melakukannya pada Ila?" Tanya Hamka kaget.
"Iya." Sahut Galuh.
"Setelah itu kau meninggalkannya sendiri di apartemen?" Tanya Syakir.
"Iya." Sahut Galuh.
"Sialan kau! Pergi pulang ke apartemenmu sana!" Ujar Roni menendang boko Galuh.
Kedua teman dan sepupunya itu mengusir Galuh untuk kembali ke apartemen agar menemani Ila di sana.
Galuh masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobilnya itu.
"Tadi menyuruhku bergabung disini, sekarang aku malah di usir. Dasar sahabat-sahabat gila!" Ujar Galuh yang langsung tancap gas untuk kembali ke apartemennya.
Tiba di apartemen, Galuh melihat Ila masih tertidur dengan balutan selimut tebal. Galuh mengganti pakaiannya dengan piyama tidur dan berbaring mendekati Ila yang tidur membelakanginya.
"Lelap sekali kau tidur." Bisik Galuh mengambil posisi nyaman untuk tidur sambil mendekap Ila.
Keesokan paginya, Ila terbangun dan mendapati tubuhnya yang masih telanjang dengan balutan selimut tebal. Ia melirik Galuh yang masih tidur tertelungkup di sebelahnya. Ia mengingat kembali apa yang telah terjadi padanya dan juga Galuh semalam. Semburat merah mewarnai pipinya kala mengingat kejadian semalam. Ila melirik jam yang berputar di dinding dan kaget melihat jam menunjukkan pukul 10 pagi.
"Aarrgghh!" Teriak Ila yang membangunkan Galuh.
"Ada apa?" Tanya Galuh sambil mengucek kedua matanya.
"Aku terlambat ke sekolah!" Kata Ila menangis.
"Hah, aku kira ada apa!" Sahut Galuh menghela nafas.
Galuh melirik Ila yang menangis kesal sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Hei, kau hanya bolos sehari saja kenapa harus menangis seperti itu?" Ujar Galuh pada Ila.
"Hari ini aku ada tes fisika untuk olympiade di luar kota." Sahut Ila.
Lalu ponsel Ila berdering, Ila langsung mengangkat panggilan dari Fiqri.
"La, kenapa kau tidak masuk hari ini?" Tanya Fiqri.
__ADS_1
"Fiq, aku bangun kesiangan maka dari itu aku tidak masuk." Jawab Ila.
"Apa kau sudah tes pelajaran fisika?" Tanya Ila.
"Belum! Kata bu Helen hari ini tes fisika di undur sampai dua hari mendatang." Jawab Fiqri.
"Hah, syukurlah!" Ucap Ila bernafas lega.
"Hei, kau masih mengucap syukur? Apa kau sudah lupa hari ini kita ada latihan matematika untuk bertanding dengan sekolah lain sabtu depan." Kata Fiqri yang membuat Ila menjadi panik.
"Aaarrgghh! Aku harus apa sekarang?" Teriak Ila panik.
Galuh sedari tadi menatap Ila yang panik di atas ranjang saat berbicara di telepon.
"Hei, Ila apa semalam kau terlalu indehoy dengan suamimu sehingga kau bangun kesiangan? Hehehe." Tanya Fiqri.
Ila melirik Galuh yang sedari tadi menatapnya.
"Fiqri! Sekarang bukan waktunya untuk bercanda." Teriak Ila kesal pada Fiqri.
"Hei Ila, walau bagaimanapun kepanikanmu itu tidak akan bisa membuatmu hadir ke sekolah saat ini." Sahut Fiqri.
"Hah, kau benar!" Kata Ila.
"Hehehe, jadi semalam kau melakukan apa dengan suamimu itu sehingga kau bangun kesiangan?" Tanya Fiqri lagi.
Ila segera mematikan sambungan teleponnya sambil berdengus kesal.
"Huh, mau tau saja dia apa yang aku lakukan semalam." Ucap Ila yang memancing seyuman di bibir Galuh.
Galuh mendekati Ila yang masih duduk di atas ranjang.
"Ila, memangnya semalam kau habis berbuat apa?" Bisik Galuh sambil tersenyum mesum.
"Aku..aku mau mandi!" Ucap Ila sambil berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Galuh terkekeh melihat Ila yang malu-malu menghindari dirinya. Galuh kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil tersenyum mengingat kejadian semalam.
Ila yang sedang di kamar mandi berdecak kesal karena ia lupa membawa pakaian ganti saat itu. Tak mau berlama-lama di dalam, Ila pun segera mandi.
Selesai mandi Ila membuka pintu kamar mandi dan mengintip keluar melihat Galuh yang sudah tidak berada di atas ranjang lagi.
"Bagus! Dia sudah tidak ada di sini lagi." Gumam Ila seraya melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi.
Saat Ila melangkah keluar dari kamar mandi tiba-tiba Galuh mendekapnya dari belakang. Ila kaget setengah mati saat itu. Dalam kondisi yang masih basah dan telanjang tiba-tiba Galuh memeluknya.
"Kak, lepaskan aku! Aku ingin mengeringkan tubuhku dengan handuk. Aku lupa membawa handuk tadi." Kata Ila.
"Tidak akan." Sahut Galuh.
"Tapi aku masih basah, kak." Kata Ila lagi sedikit berontak.
"Biar aku saja yang mengeringkan tubuhmu." Bisik Galuh pada telinga Ila.
Galuh membawa Ila untuk naik ke ranjang dengan kondisi tubuh yang masih basah. Galuh melakukan hal itu lagi terhadap Ila. Namun kali ini ia semakin bersemangat dan semakin bergairah melakukannya. Ila memejamkan matanya saat Galuh melakukannya lagi terhadap dirinya.
"Hah..hah..hah.." Nafas Galuh tidak karuan saat berada di atas tubuh Ila.
"Ila, aku cinta padamu." Ucap Galuh yang membuat Ila sangat terkejut.
Deg...deg...
Jantung Ila berdetak kencang saat mendengar perkataan Galuh barusan. Ila bingung harus berbuat apa terhadap Galuh yang menyatakan perasaan pada dirinya. Ila lebih memilih diam saja saat Galuh mengatakan hal itu kepadanya. Entah kapan perasaan itu mulai tumbuh di hati Galuh kepada Ila.
Galuh kembali memuntahkannya di dalam rahim Ila. Cairan itu terasa hangat di rasakan Ila. Galuh menghempaskan tubuhnya di samping Ila dengan nafasnya yang masih naik turun tak karuan. Ila membalikkan tubuhnya membelakangi Galuh. Masih terngiang di telinga Ila tentang ucapan Galuh yang menyatakan perasaannya. Lalu Galuh mendekap Ila dari belakang dan berbisik padanya.
"Jangan pernah tinggalkan aku, Ila." Bisik Galuh pada dirinya.
Ila hanya mengangguk perlahan menanggapi perkataan Galuh padanya. Ila masih bingung dengan prilaku Galuh yang secara tiba-tiba menyatakan perasaan kepadanya. Hampir sejam lamanya Galuh mendekap Ila di atas ranjang, tawa Galuh kembali terdengar di saat bunyi suara perut Ila yang keroncongan karena lapar. Wajah Ila memerah menahan rasa malunya.
"Hahaha, kau memang gadis yang sangat lucu, Ila." Ucap Galuh tertawa.
"Dari pagi aku belum makan, wajar saja kalau perutku kelaparan." Gerutu Ila sewot.
"Aku akan memesan makanan dari luar." Kata Galuh melepaskan dekapannya untuk mengambil ponsel.
Saat terlepas, Ila langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Lagi-lagi dengan cerobohnya ia tidak membawa handuk apalagi pakaian ganti. Galuh tersenyum sambil melirik Ila yang baru saja masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1