
Keesokan harinya Hamka yang sedang berada di kantornya menerima telepon dari sang adik. Febi menghubungi sang kakak untuk memberikan kabar mengenai Kania yang sedang dirawat di rumah sakit.
"Kak! Kau dimana?" Tanya Febi.
"Di hati Kania!" Sahut Hamka.
"Di hati Kania, tapi malah begitu tenang disaat kak Kania sedang terbaring dirumah sakit kota!" Kata Febi yang membuat Hamka kaget.
"Apa? Apa maksudmu, Febi?" Tanya Hamka kaget.
"Semalam kak Kania menangkap para penjahat di depan rumah temanku! Saat itu temanku melihat kak Kania di tembak oleh penjahat yang merampok dengan senjata api!" Kata Febi.
Tut....Tut.....Tut.....Tut.....
"Eh, kok sepi?" Gumam Febi yang tak menyadari kalau Hamka telah memutuskan sambungan teleponnya dan bergegas pergi ke rumah sakit untuk menemui Kania yang sedang dirawat disana. Febi pun melihat layar ponselnya dan dongkol setengah mati karena ulah kakaknya itu.
"Anying! Langsung dimatikan!" Teriak Febi dongkol.
"Hah, sudahlah! Yang penting kak Hamka sudah tau kalau kak Kania sedang dirawat di rumah sakit." Gumam Febi seraya meletakkan ponselnya di atas meja belajarnya.
Hamka yang mendengar kabar mengenai kekasihnya itu, langsung tancap gas menuju ke rumah sakit. Tiba disana ia masuk ke ruangan dimana Kania sedang dirawat setelah ia bertanya kepada resepsionis dirumah sakit itu. Disana tampak ayahnya Kania sedang duduk di sofa sambil tersenyum pada Hamka yang baru saja membuka pintu ruangan itu.
"Hamka! Masuklah, nak!" Kata Fatah pada calon menantunya itu.
"Om! Sehat?" Sapa Hamka pada Fatah.
"Aku selalu sehat! Apalagi jika aku memiliki cucu, mungkin aku akan sehat dan bugar seperti saat muda dulu!" Kata Fatah menyindir Kania yang duduk bersandar di ranjang rumah sakit.
"Huh, ayah!" Gerutu Kania sewot pada ayahnya.
"Hehehe, tenang saja om! Setelah menikah aku akan menggempurnya dan memberikan cucu yang banyak untuk om!" Kata Hamka.
"Bagus! Aku tagih janji itu nanti! Hehehe." Sahut Fatah terkekeh sambil melirik Kania yang berwajah manyun.
"Om, pulang saja! Biar aku yang menjaga Kania disini." Kata Hamka.
"Baiklah! Aku titip putriku ya." Kata Fatah.
"Iya, om!" Sahut Hamka.
Fatah pun pergi dari ruang rawat itu setelah memberikan ciuman hangatnya kepada kening Kania. Setelah Fatah pergi, Hamka menatap kesal pada Kania yang duduk bersandar di ranjang rumah sakit itu. Kania hanya menunduk saja karena semalam telah mengelabui Hamka.
"Kualat!" Ujar Hamka ketus pada Kania.
"Hehehe, maaf deh!" Sahut Kania.
"Coba saja semalam kau na ena di apartemen bersamaku, kau pasti tidak akan tertembak begini!" Kata Hamka.
"Huh, di dalam otakmu hanya itu saja!" Gerutu Kania sewot.
"Aku ini polisi, Hamka! Aku harus melakukan tugasku dengan baik!" Kata Kania.
"Tapi itu sangat berbahaya, Kania!" Kata Hamka.
"Hal ini sudah biasa terjadi pada polisi sepertiku!" Sahut Kania.
__ADS_1
"Kalau kau mati, bagaimana denganku? Apa kau tega melihatmu jadi duda sebelum menikah?" Kata Hamka.
"Apaan sih? Duda sebelum menikah? Duda itu terjadi setelah adanya pernikahan, Hamka konyol!" Kata Kania ngegas.
"Hehehehe, iya ya! Aku lupa." Kata Hamka cengengesan.
"Lagian kau terlalu lebay! Aku hanya tertembak di bagian lenganku saja bukan di kepalaku!" Kata Kania lagi.
"Tetap saja aku khawatir!" Kata Hamka.
"Aku tidak apa-apa!" Sahut Kania.
"Apa masih sakit?" Tanya Hamka.
"Tentu saja! Pertanyaanmu itu sungguh aneh." Sahut Kania.
Hamka pun memeluk Kania dan menangis lebay padanya.
"Huhuhuhuhu, jika terjadi sesuatu yang mengancam nyawamu, aku pasti akan ikut mati karena sedih!" Ucap Hamka nangis bombai.
"Lebay banget sih!" Gerutu Kania.
"Kania sayang! Aku berjanji akan merawatmu dengan baik di apartemenku nanti!" Kata Hamka.
"Hei, kenapa di apartemenmu? Apa kau pikir aku tidak punya rumah?" Sahut Kania sewot.
"Tidak bisa! Aku akan merawatmu di apartemenku! Aku akan minta izin pada om Fatah untuk membawamu tinggal di apartemenku hingga menjelang hari pernikahan kita." Kata Hamka.
"Coba saja, ayahku pasti tidak akan mengizinkannya." Kata Kania.
Hamka pun meraih ponselnya dan menghubungi ayah Kania yang sedang menuju ke kantornya. Hamka menyalakan speaker di ponselnya agar Kania bisa mendengar suara ayahnya.
"Om, aku mau minta izin pada om!" Hamka.
"Apa itu?" Fatah.
"Setelah Kania keluar dari rumah sakit, aku ingin merawatnya sendiri di apartemenku! Boleh tidak, om?" Hamka.
"Tentu saja boleh! Kau perkosa juga boleh! Hahaha." Sahut Fatah.
Doooeeenngggg.....
Kania tercengang mendengar perkataan ayahnya itu.
"Hahaha, boleh diperkosa juga nih, om?" Hamka.
"Boleh! Asalkan langsung jadi bayi ya?" Fatah.
"Siiiaaaapppp, om!" Hamka.
Setelah menutup teleponnya, Hamka menatap Kania yang masih tercengang di atas ranjang rumah sakit itu.
"Hehehe, kau dengar sendiri kan, Kania? Aku mendapatkan lampu hijau dari ayahmu!" Kata Hamka terkekeh jahat.
"Hehehe, boleh diperkosa katanya!" Sambung Hamka cengengesan.
"Huh, jangan mimpi!" Gerutu Kania.
__ADS_1
*****
Beberapa hari kemudian, dokter memperbolehkan Kania keluar dari rumah sakit. Kania pun kembali kerumahnya dengan diantarkan oleh Hamka. Tiba disana Kania langsung masuk ke dalam kamarnya dan kembali tercengang melihat lemarinya yang tampak kosong. Kania pun bertanya pada pelayan yang bekerja dirumahnya.
"Dimana bajuku?" Tanya Kania pada pelayan.
"Sudah dikirim ke apartemen tuan Hamka!" Sahutnya.
Kania melirik Hamka yang terkekeh geli disampingnya.
"Apa-apaan ini?" Terima Kania kesal.
"Hei, jangan teriak-teriak! Telingaku sakit!" Kata Fatah yang baru masuk ke dalam kamar Kania.
"Cepat ambil semua pakaianku!" Perintah Kania pada pelayan itu.
"Tidak ada yang boleh mengambil pakaian Kania di apartemen Hamka!" Kata Fatah.
"Ayah?" Ucap Kania.
"Ayah yang mengirimkan semua pakaianmu ke apartemen Hamka!" Kata Fatah.
"Ayah, apa-apaan sih!" Ujar Kania kesal.
"Bukannya kau dan Hamka akan segera menikah? Apa salahnya kau tinggal dengannya sampai hari pernikahan nanti? Toh, nanti kau akan tinggal disana setelah menikah." Kata Fatah.
"Hamka, tolong jaga putriku, ya?" Kata Fatah pada Hamka.
"Baiklah, ayah mertua!" Sahut Hamka.
"Oh, putriku! Aku terpaksa mengusirmu agar aku segera punya cucu! Huhuhu, aku jadi terharu!" Kata Fatah nangis bombai.
"Huh, ayah mulai lagi dramanya!" Gerutu Kania.
"Aku tidak akan pergi dan tinggal di apartemen itu!" Kata Kania duduk di tepi ranjangnya dengan posisi lengan masih tergantung dengan perban di lehernya.
"Hei, cepat seret Kania dan bawa dia tinggal bersamamu! Lalu buatkan aku cucu yang banyak!" Bisik Fatah pada Hamka.
"Sip!" Sahut Hamka.
"Sayang, ayo kita pulang ke apartemen kita!" Ajak Hamka pada Kania.
"Aku tidak mau!" Sahut Kania.
"Baiklah, tidak ada cara lain lagi selain memaksamu!" Kata Hamka seraya memanggul tubuh Kania diatas pundaknya. Hamka pun berpamitan pada Fatah yang melambaikan sapu tangannya kepada Hamka yang membawa kabur putrinya.
"Jangan bertengkar ya?" Kata Fatah seraya melambaikan sapu tangannya kepada Hamka yang keluar dari kediamannya sambil memanggul Kania yang meronta-ronta.
"Semoga besok Kania bisa hamil!" Ucap Fatah.
"Amin!" Seru pelayan itu.
\~\~\~\~\~
Maaf ya cuma sedikit. Author ngantuk berat mau bobok.
Chapter hari ini tentang Kania dan Hamka dulu. Selanjutnya kembali ke ila dan Galuh lagi.
__ADS_1
Aku liat di grup chating rame ya? 😁
Terimakasih yang udah ngeramein 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰