
Keesokan paginya Ila dan Galuh sarapan di meja yang sama. Pagi itu terasa hening tanpa ada canda dan tawa seperti biasanya. Obrolan ringan pun tidak terdengar sama sekali di meja makan itu. Hana dan Antoni hanya bisa menghela nafas panjang melihat anak dan menantunya yang saling diam bahkan enggan untuk saling menatap. Untuk memecahkan keheningan, Hana pun membawa Gilang ke rumah makan tersebut.
"Cucu kakek!" Seru Antoni pada Gilang.
"Tampan kan! Mirip sama Ila." Kata Hana yang membuat Galuh auto cemberut.
"Pastinya dong! Kan menantu kita gadis yang paling cantik. Hehehe." Sahut Antoni.
Hana dan Antoni kembali menghela nafas karena tak ada ekspresi apapun dari keduanya. Ila dan Galuh masih tetap diam dan hanya fokus pada makannya.
"Ila, dua hari lagi kau akan mulai belajar di kampus kan?" Tanya Hana.
"Iya!" Sahut Ila.
"Apa kau sudah mempersiapkan diri untuk belajar nanti?" Tanya Antoni.
"Iya, sudah!" Sahutnya.
"Wah, calon dokter nih! Hehehe." Kata Hana lagi.
"Eeemmm, ma! Sepertinya aku berubah pikiran." Kata Ila.
"Berubah pikiran? Maksudmu?" Tanya Hana.
"Eeemmm, setelah aku pikir-pikir lebih baik aku fokus pada Gilang saja! Aku tidak perlu melanjutkan pendidikanku." Sahut Ila yang membuat Galuh tersentak kaget.
"Kenapa sayang? Bukankah itu cita-citamu sejak kecil? Kenapa tiba-tiba kau berubah pikiran?" Tanya Antoni.
"Aku sudah memiliki Gilang dan aku pikir lebih baik aku menjadi ibu yang baik saja untuknya! Aku tak ingin Gilang tumbuh tanpa memiliki waktu yang banyak untukku!" Kata Ila.
"Gilang saja kah? Kalau untuk Galuh?" Ucap Hana tersenyum lebar.
Ila tak berkata apapun lagi yang membuat Galuh seakan geram olehnya.
"Aku kenyang! Aku akan pergi ke kantor." Kata Galuh bergegas pergi meninggalkan ruang makan itu.
Ila yang masih duduk hanya diam dan menundukkan wajahnya. Ia tidak ingin mengantarkan suaminya itu sampai di depan pintu seperti biasanya. Hana dan Antoni juga bisa terdiam melihat situasi yang tak enak itu.
Dalam perjalanan menuju ke kantornya, Galuh masih terlihat geram dengan sikap Ila yang diam saat di ruang makan tadi. Didi hanya bisa menatap raut wajah Galuh yang tampak kesal ketika itu.
"Bos, kenapa lagi sih?" Tanya Didi sang supir pribadi.
"Sikap Ila semakin berani padaku!" Sahutnya.
"Bos, namanya juga perempuan ngambek." Kata Didi.
"Dia salah paham terhadapku! Saat aku ingin menjelaskan, dia malah tetap saja tidak mau mendengarnya." Ujar Galuh ngegas.
"Bos yang mulai sih!" Kata Didi.
"Huh, aku kan cuma ingin perhatiannya saja! Semenjak adanya Gilang dia seakan lupa padaku." Kata Galuh sewot.
"Ya ampun, bos! Anak sendiri malah di cemburuin!" Tukas Didi.
"Tetap saja Ila yang salah!" Teriak Galuh tak terima di pojokkan.
"Hah, dasar si bos!" Ujar Didi menghela nafas panjang.
"Hah, aku rindu padanya!" Kata Galuh frustasi.
"Tiap hari ketemu dirumah, rindu apaan sih? Lebay banget si bos!" Ujar Didi sewot.
__ADS_1
"Hei hei, semalam dia tidur di kamar Gilang!" Sahut Galuh.
"Eh, pisah ranjang nih?" Tanya Didi kaget.
"Iya! Maka dari itu aku rindu padanya!" Sahut Galuh.
"Hehehe, si bos kasihan amat!" Ujar Didi terkekeh geli.
"Berani menertawakan aku lagi, aku tebas lehermu itu!" Teriak Galuh kesal pada supir pribadinya.
Didi auto terdiam mendengar ancaman dari bosnya. Didi kembali fokus dalam mengendarai mobil dan membawa Galuh tiba di kantornya.
Galuh duduk di ruangannya menunggu untuk waktu untuk melaksanakan meeting penting di kantornya. Galuh melirik jam arloji di pergelangan tangannya lalu kemudian menekan tombol pada telepon untuk menghubungi sekretaris cantiknya itu. Tak lama seseorang mengetuk pintu dari luar.
"Masuk!" Kata Galuh.
Masuklah seorang wanita yang berpakaian rapi dengan kaca mata tebal yang menghiasi wajahnya. Galuh kaget melihat wanita yang sama sekali tidak ia kenal.
"Siapa kau?" Tanya Galuh.
"Saya, Adelia pak! Saya sekretaris baru bapak!" Sahutnya.
"Apa? Sekretaris baru?" Ucap Galuh semakin kaget.
Galuh pun cepat-cepat menghubungi bagian HRD untuk menanyakan perihal sekretaris baru tersebut. Karyawan dari bagian HRD pun datang ke ruangannya.
"Coba jelaskan apa maksudnya ini? Kenapa tiba-tiba ada sekretaris baru untuk saya?" Tanya Galuh pada karyawan HRD.
"Maaf pak! Ini perintah dari tuan Antoni! Kata beliau, sekretaris Viona tidak layak untuk bekerja di perusahaan ini, jadi atas keputusan beliau kami memecat Viona dan menggantinya dengan sekretaris Adelia." Jawab karyawan tersebut.
"Jadi ulahnya papa! Papa dan mama pasti sudah tau masalahku dengan Ila." Gumam Galuh dalam hatinya.
Setelah karyawan HRD itu keluar, Galuh menatap sekretaris barunya yang berpenampilan rapi namun terlihat seperti wanita cerdas.
"Kau sudah tau jadwalku hari ini?" Tanya Galuh pada Adelia.
"Sudah pak! 10 menit lagi bapak ada meeting penting bersama dengan beberapa klien." Sahut Adelia menjelaskan semua jadwal kerja Galuh hari itu.
"Baiklah! Persiapkan semuanya dengan benar." Kata Galuh.
"Baik, pak!" Sahut Adelia.
Adelia pun kembali ke ruang kerjanya untuk mempersiapkan semua berkas yang akan Galuh bawa ke ruang meeting nanti. Saat Adelia keluar dari ruang kerjanya, Galuh melirik Adelia yang terkesan santai namun sedikit dingin.
"Kelihatannya dia lebih berbobot dari Viona! Baguslah, akhirnya aku terhindar dari godaan setan wanita itu(Viona)." Gumam Galuh bersiap-siap untuk pergi meeting.
Di kos-kosannya, Viona tampak sangat kesal karena ia di pecat dari perusahaan Galuh secara tiba-tiba. Ia bahkan tak tau kesalahan apa yang ia perbuat sehingga membuatnya di pecat tanpa pesangon apapun.
"Aaarrgghhh! Dasar menyebalkan!" Teriak Viona.
"Kenapa aku bisa di pecat seperti ini? Bahkan aku melakukan semua pekerjaan dengan sempurna! Lantas kenapa aku di pecat?" Teriak Viona kesal sembari melemparkan semua benda-benda yang ada di dekatnya dengan geram.
"Ini pasti ulah wanita tua itu! Dia tau aku ingin menggoda Galuh, makanya dia memecatku! Dasar wanita tua sialan!" Teriak Viona lagi.
Kini tidak ada yang bisa dilakukan oleh Viona. Ia hanya bisa gigit jari setelah Antoni sebagai pemegang saham terbesar di perusahaan itu bertindak untuk segera menyingkirkan Viona dari perusahaan tersebut dan juga Galuh.
*****
Di kediamannya, Hana menemui Ila yang bersiap-siap untuk pergi ke rumah Yurika. Akan ada pesta pertunangan Kia dan Syakir disana. Walaupun acara pesta pertunangan itu diadakan malam hari, namun Ila tetap ingin segera pergi ke sana untuk sekedar membantu mempersiapkan acara tersebut.
__ADS_1
"Ila, kau sudah siap?" Tanya Hana pada menantunya itu.
"Belum, ma! Aku sedang nunggu Gilang selesai dimandikan oleh Ratih." Sahut Ila.
"Ila, mama ingin bicara hal penting denganmu!" Kata Hana.
"Apa itu ma?" Tanya Ila.
"Ila, mama tau kau dan Galuh sedang bertengkar." Kata Hana membuat Ila terperanjat.
"Padahal aku sudah berupaya untuk menyembunyikannya, tetap saja ketahuan!" Sahut Ila menunduk sedih.
"Ila, masalah diantara kalian hanyalah salah paham saja! Galuh dan sekretarisnya itu tidak ada hubungan apapun. Ya, memang sekretarisnya itu mencoba untuk menggoda Galuh, namun Galuh tidak tertarik padanya." Kata Hana menjelaskan semuanya.
"Mama tau darimana? Jelas-jelas aku melihatnya sendiri kalau sekretarisnya itu sedang duduk di atas pangkuannya kak Galuh!" Kata Ila menangis.
"Mama punya rekaman cctv yang ada di ruang kerja Galuh!" Kata Hana memberikan isi rekaman itu yang telah di simpan di ponselnya kepada Ila.
Ila melihat betapa jelas Viona lah yang berusaha menggoda Galuh dan Ila juga melihat rekaman itu bahwa Galuh memang tidak bersalah sama sekali. Masalah yang membuat mereka pisah ranjang dalam semalam hanyalah kesalahpahaman saja.
"Benar kan apa yang makan bilang? Kau hanya salah paham saja, sayang!" Kata Hana pada Ila yang masih menangis.
"Tapi ma, beberapa hari yang lalu kak Galuh mengacuhkan aku!" Kata Ila.
"Apa? Tapi kenapa?" Tanya Hana kaget.
"Aku juga tidak tau! Aku pikir karena aku terlalu sibuk dan tidak memiliki waktu untuknya, sampai-sampai aku mengurungkan niatku melanjutkan pendidikanku! Tapi saat aku memergoki kak Galuh dan sekretarisnya itu, aku pikir dia mengacuhkan aku karena memiliki hubungan lebih dengannya." Sahut Ila.
"Galuh dan Viona jelas tidak memiliki hubungan apapun! Tapi kalau kau bilang kau tidak memiliki waktu untuknya, bisa jadi karena itu makanya Galuh ngambek." Sahut Hana.
"Astaga, si Galuh! Ada-ada saja deh." Kata Hana bergeleng kepala melihat tingkah putranya.
"Aku masih kesal dengannya!" Kata Ila.
"Ya sudah! Begini saja. Kita buat dia jera dengan sikap kekanak-kanakannya itu!" Kata Hana ikutan kesal terhadap Galuh.
Hana dan Ila pun menyusun sebuah rencana untuk membuat Galuh tak mengulangi sikap kekanak-kanakannya itu. Setelah semuanya beres, Ila pun pergi ke rumah Yurika membawa serta Gilang dan juga Ratih.
Saat jam makan siang, Galuh kembali ke rumah dengan tergesa-gesa. Ia masuk ke dalam rumah tanpa menyapa kedua orang tuanya yang duduk santai di ruang tengah. Galuh naik ke lantai atas untuk mencari Ila namun saat tiba disana ia tak melihat Ila dimana pun, bahkan Gilang dan Ratih pun tidak berada di lantai atas tersebut. Galuh menuruni anak tangga untuk menemui Hana dan Antoni.
"Ma, dimana Ila?" Tanya Galuh.
"Pergi!" Sahut Hana.
"Pergi kemana?" Tanya Galuh.
"Pergi kabur karena kau mengacuhkannya!" Ujar Antoni kesal.
"Pa, dia hanya salah paham padaku!" Kata Galuh gusar.
"Aku akan mencarinya!" Kata Galuh panik.
"Untuk apa kau mencarinya lagi? Beberapa hari yang lalu kau mengacuhkannya kan?" Ujar Hana.
"Iya, ma! Aku salah! Tapi aku ingin memperbaiki kesalahanku. Aku juga ingin memperlihatkan rekaman cctv yang ada di ruangan ku pada Ila agar dia tidak salah paham denganku lagi." Kata Galuh yang juga memiliki rekaman cctv itu dari kantornya.
"Sudah terlambat! Toh Ila juga sudah kabur." Sahut Antoni.
"Aku akan mencarinya walau ke neraka sekalipun!" Teriak Galuh begitu panik dan bergegas pergi mencari Ila.
.
__ADS_1