
Ririn membantu Ila yang sedang bersih-bersih di dapur setelah makan malam. Galuh dan Roni mengantar Hamka serta Syakir ke depan pintu karena mereka akan pulang. Setelah itu Roni melangkah keluar apartemen dengan cepat.
"Kau mau kemana tergesa-gesa begitu?" Tanya Galuh pada Roni.
"Aku akan melakukan apapun demi mendapatkan perhatian dari Ririn lagi." Sahut Roni.
"Iya, tapi kau mau melakukan apa?" Tanya Galuh lagi.
"Daripada kau banyak bertanya, mendingan kau bantu aku." Kata Roni.
"Aku tidak mau!" Sahut Galuh menolak.
"Kalau kau menolak, akan aku beberkan pada Tante Hana kalau Ila menunda kehamilannya." Ancam Roni.
"Dasar sepupu sableng kau! Kau selalu saja mengancamku." Ujar Galuh terpaksa menuruti keinginan Roni.
Roni dan Galuh pergi diam-diam ke area bawah parkir mobil. Disana Roni menyuruh Galuh untuk melihat situasi aman dari pantauan orang lain.
"Kau mau apa?" Tanya Galuh bingung.
"Aku akan mengempeskan ban mobil Ririn, setelah itu Ririn akan aku antar pulang. Hehehe." Sahut Roni.
"Kau awasi sekitar, jangan sampai ada yang melihatnya!" Kata Roni lagi pada Galuh.
"Dasar dokter bodoh! Di sini ada kamera cctv." Kata Galuh.
"Ah, persetan dengan kamera cctv itu! Aku sedang berjuang untuk masa depanku bersama calon ibu dari anak-anakku nanti." Sahut Roni.
"Hah, dia dan Ririn memiliki sikap yang sama! Sama-sama konyol dan juga lebay." Gumam Galuh sambil celingak-celinguk melihat kondisi parkiran yang sepi.
Roni memutar tutup p*ntil ban mobil Ririn dan membuat ban mobil Ririn itu kempes. Roni bahkan membuang tutup p*ntil ban itu ke sembarang tempat. Sambil terkekeh licik Roni dan Galuh kembali ke apartemen. Saat masuk ke dalam\, Ila melihat mereka.
"Kalian dari mana saja?" Tanya Ila pada Galuh juga Roni.
"Kami baru saja mengantar Hamka dan Syakir tadi." Sahut Roni dusta.
"Galuh, Ila, aku pulang dulu ya." Kata Ririn izin pulang setelah membantu Ila membersihkan dapur.
"Ya, hati-hati di jalan ya kak!" Sahut Ila.
"Hati-hati di jalan, Rin!" Kata Galuh menimpali.
Roni bergerak cepat untuk mengekor Ririn yang baru saja keluar dari pintu apartemen Galuh, bahkan ia juga masuk ke dalam lift yang sama dengan Ririn.
Ririn masih diam saja tak menganggap kalau Roni sedang bersamanya.
Tibalah Ririn juga Roni di tempat area parkir mobil. Disana Ririn terkejut melihat ban mobilnya yang sudah kempes.
"Yah, kempes!" Ucap Ririn sedih.
Roni si pelaku mendekati Ririn dan mencoba untuk menawarkan tumpangan padanya.
"Rin, naik mobilku saja! Aku akan mengantarmu pulang dengan selamat." Kata Roni pada Ririn.
"Tidak! Aku naik taksi saja.". Sahut Ririn.
"Rin, ini sudah tengah malam, nanti kalau ada orang jahat bagaimana?" Kata Roni berusaha untuk menakut-nakuti Ririn.
Ririn diam sejenak dan tanpa berpikir.
"Ada benarnya juga sih apa yang dikatakan Roni! Aku juga takut kalau pulang naik taksi sendirian." Gumam Ririn dalam hatinya.
Ririn dan Roni saling tatap.
"Bagaimana? Apa kau mau?" Tanya Roni sambil tersenyum.
"Ya, baiklah!" Sahut Ririn menerima ajakan Roni.
"Yes! Akhirnya aku berhasil. Hehehe." Gumam Roni dalam hatinya dengan senang.
Roni pun mengantarkan Ririn untuk pulang ke apartemennya. Ririn sudah terbiasa hidup mandiri dan jauh dari kedua orang tuanya sehingga ia memutuskan untuk tinggal di apartemen sendirian.
Roni dan Ririn sudah sampai di halaman depan lingkungan apartemen itu.
"Terima kasih ya!" Ucap Ririn hendak keluar dari dalam mobil.
"Rin, tunggu!" Kata Roni menarik tangan Ririn untuk menahannya tetap di dalam mobil.
Ririn kembali duduk dan menoleh pada Roni.
"Ada apa?" Tanya Ririn.
"Rin, ada yang mau aku bicarakan padamu!" Kata Roni sedikit gugup.
"Apa?" Tanya Ririn lagi.
"Sebenarnya aku juga suka padamu! Tapi aku takut mengatakannya. Karena setiap bertemu entah kenapa aku selalu gugup dan susah untuk mengatakannya padamu. Terkadang aku lebih memilih untuk menghindarimu. Namun itu bukan karena aku tak suka padamu, hanya saja aku malu." Kata Roni mengungkapkan semua isi hatinya pada Ririn.
Ririn menatap Roni dengan mata yang berbinar-binar. Sudah sangat lama ia ingin mendengarkan kata-kata itu dari mulut pria yang membuatnya jatuh hati sejak dulu.
__ADS_1
"Rin, aku nembak loh! Diterima atau tidak?" Tanya Roni.
"Aarrgghh! Tentu saja aku menerimamu." Teriak Ririn membuat Roni kaget.
Ririn beranjak naik ke atas pangkuan Roni yang sedang duduk di depan stir mobil. Ririn memeluk serta menciumi Roni tanpa ada rasa malu sedikitpun. Roni gelagapan saat Ririn menciumi dirinya. Ia takut kalau ada orang lain yang melihat mereka di dalam mobil.
"Rin, jangan seperti ini! Nanti kita bisa kepergok satpam." Kata Roni.
"Aku tidak perduli! Kalau kita kepergok paling juga kita dinikahi." Sahut Ririn terus menciumi Roni.
"Tapi malu Rin! Masa kita menikah karena kepergok sama satpam!" Kata Roni lagi.
"Biarkan saja.". Sahut Ririn lagi.
"Hah, dia memang agresif!" Gumam Roni dalam hatinya.
Roni celingak-celinguk melihat kondisi yang tampak sepi.
"Mumpung sepi, aku nikmati saja lah! Hehehe." Gumam Roni lagi dalam hatinya.
Di dalam mobil itu, Roni dan Ririn bergerak bebas hingga mobil yang mereka tumpangi sedikit bergoyang.
*****
Di dalam kamar apartemen, Galuh melirik Ila yang tampak sedang memikirkan sesuatu. Galuh berguling mendekati istrinya tersebut.
"Sayang, kau sedang memikirkan apa?" Tanya Galuh pada Ila.
"Kak, aku ingin beli beberapa kamera." Sahut Ila.
"Untuk apa?" Tanya Galuh bingung.
"Untuk memantau gerak-gerik si Sari itu! Dia mencoba untuk menghasut Kia agar membenciku dan juga mama." Kata Ila.
"Yang benar?" Tanya Galuh sedikit terkejut.
"Iya, kak! Aku sendiri mendengarnya. Bahkan tadi siang dia mencoba untuk meracuni makananku dengan obat pencahar. Namun istrimu ini sangat cerdas, dan bisa terbebas dari tindakan buruknya itu. Aku juga membalas perbuatannya dan malah dia yang terserang diare. Hehehe." Kata Ila menceritakan semuanya pada Galuh.
"Berani sekali dia ingin meracuni istriku yang imut ini!" Ujar Galuh marah.
"Akan aku habisi dia!" Sambung Galuh lagi.
"Kak, biar aku saja yang bertindak! Aku ingin dia keluar dari rumah mama untuk selamanya." Kata Ila.
"Kau tenang saja, semua pelayan yang ada dirumah itu akan membantuku." Sahut Ila.
"Tapi jika kau perlu bantuan, segera hubungi aku ya." Kata Galuh.
"Oke." Sahut Ila.
Ila menarik selimut dan berbaring dengan nyaman.
"Tidur ah!" Ucap Ila.
"Imutku!" Panggil Galuh pada Ila.
"Heeemm???" Sahut Ila.
"Ayo kita lakukan itu! Aku kangen, tau." Kata Galuh memberi kode keras pada Ila.
"Maksudmu, kau ingin itu ya?" Kata Ila malu-malu.
Galuh mengangguk cepat sambil tersenyum mesum kepada Ila. Dengan gerak cepat Galuh menyambar tubuh Ila dan menaikkannya ke atas tubuhnya. Ila bingung saat Galuh mendudukkan dirinya di atas.
"Aku ingin kau yang melakukannya padaku!" Bisik Galuh pada Ila.
"Aku tidak tau caranya!" Sahut Ila.
"Cium aku dulu, setelah itu kau pasti akan tau menganjurkannya." Kata Galuh.
Ila pun melalukan apa yang di katakan Galuh. Ila merunduk dan mencium bibir Galuh dengan mesra. Galuh melingkarkan kedua tangannya pada punggung Ila sambil melucuti pakaian Ila satu persatu. Ini kali pertama Ila melakukan hal tersebut dengan posisi dirinya lah yang lebih aktif dan berinisiatif untuk membuat Galuh merasa puas.
Keesokan harinya, setelah selesai belajar dengan guru privat, Ila pergi ke sebuah toko elektronik untuk membeli beberapa kamera. Kemudian ia pergi ke rumah Yurika untuk melakukan apa yang menjadi rencananya terhadap Sari. Disana beberapa pelayan menjalankan perannya masing-masing. Salah satu pelayan membawa Sari untuk keluar rumah dengan alasan membersihkan pekarangan rumah yang sedikit kotor. Sari pun mengikuti apa yang diperintahkan untuknya. Sari keluar dari dalam rumah dan membersihkan pekarangan rumah di luar.
Sementara itu Ila menugaskan pelayan lainnya untuk memantau kedatangan Kia yang akan segera pulang sekolah. Ila dan beberapa pelayan lainnya, bergegas meletakkan beberapa kamera di tempat-tempat yang telah ditentukan. Setelah semuanya beres, Ila mengajak Yurika untuk bertemu dengan psikiater yang telah membuat janji dengan mereka. Ila dan Yurika pun pergi ke tempat praktek psikiater tersebut. Disana Yurika menceritkan semua yang terjadi padanya di masa lalu kepada psikiater itu.
*****
Sari telah mengerjakan pekerjaannya di pekarangan rumah. Sari masuk ke dalam dan membersihkan diri terlebih dahulu sebelum ia mendatangi Kia di kamarnya.
Tanpa curiga sedikitpun, Sari mendatangi kamar Kia dan berniat untuk membuat Kia panas.
"Nona, tadi aku lihat kalau nyonya pergi bersama nona Ila." Kata Sari pada Kia.
"Apa? Kemana mereka pergi?" Tanya Kia terkejut.
__ADS_1
"Aku dengar sih katanya mereka ingin pergi berbelanja di mall. Nyonya Yurika berniat untuk membelikan barang-barang mewah untuk nona Ila." Kata Sari lagi-lagi memfitnah Yurika dan juga Ila.
"Hah, betapa enaknya kalau jadi nona Ila! Di traktir belanja barang bermerk dan mewah." Kata Sari lagi membuat Kia semakin panas.
"Nona, apa tidak takut jika suatu saat nanti nona Ila akan berkuasa di rumah ini dan menghabiskan semua harta milik orang tua nona?" Tanya Sari pada Kia.
"Kurang ajar si babu itu! Lihat saja nanti, aku pasti akan segera menghentikan langkahnya dirumah ini." Kata Kia.
"Iya, nona, kau benar! Kau harus bertindak sebelum dia mengambil semua yang kau miliki." Kata Sari lagi.
"Ingin sekali aku membunuh si babu itu agar dia tidak mendekati mamaku lagi." Kata Kia dengan penuh amarah.
Sari tersenyum licik dan berniat jahat.
"Nona, aku ada ide! Bagaimana jika kita dorong saja dia dari atas tangga ketika dia mau turun. Dengan begitu tidak akan ada yang curiga kalau kita yang melakukannya!" Kata Sari berniat untuk mencelakai Ila.
"Tapi jika ketahuan bagaimana?" Tanya Kia.
"Nona, tenang saja. Semuanya biar aku yang urus." Kata Sari.
"Baiklah! Lakukan saja apapun itu asalkan si Ila bisa mati." Kata Kia juga berniat untuk mencelakai Ila.
"Nona, jika aku berhasil apa hadiah untukku?" Tanya Sari meminta imbalan pada Kia.
Kia mengambil kotak perhiasannya dan memperlihatkan semua perhiasaan mahalnya itu pada Sari.
"Jika kau berhasil melakukannya, maka semua perhiasan ini akan menjadi milikmu." Kata Kia pada Sari.
Sari melebarkan kedua matanya dengan tatapan yang sangat rakus ingin memiliki semua perhiasan milik Kia. Sari keluar dari kamar Kia dengan segera dan melakukan apa yang menjadi niat buruknya itu.
Sore harinya, Ila dan Yurika kembali ke rumah. Ila membawa Yurika masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat. Ila pun sempat menemani Yurika sebentar di dalam kamarnya. Ila keluar dari kamar Yurika setelah ia melihat Yurika sudah tertidur pulas.
Ila keluar dari kamar Yurika setelah menutup kembali pintu kamarnya. Ila berjalan menuju anak tangga untuk turun dari lantai atas. Saat akan menuruni anak tangga tersebut, tiba-tiba dari belakang Sari mendorongnya dengan kuat sehingga Ila terjatuh dan berguling-guling sampai ke dasar tangga. Ila tergolek pingsan dengan luka yang cukup parah pada kepalanya.
Sari cepat-cepat pergi meninggalkan tempat itu dan berpura-pura tidak mengetahui apa-apa. Sari berpura-pura sedang membersihkan ruang tengah agar dirinya tak dicurigai sama sekali.
Seorang pelayan yang sedang melintas di dekat tangga itu menjerit saat melihat Ila yang sudah tergolek pingsan di lantai.
"Tolong! Nona Ila terluka." Jeritnya.
Semua orang berlari mendekati Ila tak terkecuali Kia yang berpura-pura tidak mengetahui apa-apa. Yurika panik dan menangis saat melihat luka yang ada di kepala Ila.
Ila segera di larikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Galuh datang setelah diberitahukan oleh Yurika kalau Ila sedang terluka. Tak lama Hana dan juga Antoni menyusul ke rumah sakit. Mereka sangat cemas dengan keadaan Ila saat itu.
Tak lama kemudian, dokter yang menangani Ila keluar dari ruang pasien.
"Bagaimana istri saya, dokter?" Tanya Galuh pada Dokter itu.
"Kondisinya kritis! Benturan di kepalanya sangat kuat sehingga merusak jaringan saraf yang ada di kepalanya." Ata dokter.
"Dokter, lakukan yang terbaik untuk istriku!" Teriak Galuh.
"Kami sedang berusaha, sebaiknya anda bersabar dan berdoa." Sahut dokter itu lagi.
Galuh terduduk lemas saat mendengar kondisi Ila yang sedang kritis akibat luka yang cukup parah di bagian kepalanya. Hana memeluk Yurika yang menangisi Ila diruang tunggu. Galuh mendekat pada Yurika untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Ma, kenapa Ila bisa seperti itu? Apa yang terjadi?" Tanya Galuh pada Yurika.
"Aku tidak tau! Saat itu aku sedang beristirahat di dalam kamar. Tiba-tiba saja aku terbangun karena teriakan pelayan yang menemukan Ila sudah tergeletak di lantai." Jawab Yurika dalam Isak tangisnya.
"Pelayan di rumahmu ada yang tau apa yang terjadi pada Ila?" Tanya Hana.
"Aku sudah bertanya, namun mereka tidak ada yang mengetahuinya." Sahut Yurika.
"Apa dirumahmu, ada kamera cctv?" Tanya Antoni.
Yurika menggeleng.
"Kamera! Semalam Ila bilang dia akan meletakkan beberapa kamera di rumah itu." Gumam Galuh.
Galuh segera berlari dan pergi dari rumah sakit itu. Antoni berkali-kali memanggilnya, namun Galuh tak memperdulikannya. Galuh terus berlari pergi dari rumah sakit itu. Galuh menuju ke area parkir mobil dan saat itu bertemu dengan Didi si supir yang biasa membantunya.
"Bos, mau kemana?" Tanya Didi pada Galuh.
"Ikut aku, cepat!" Perintah Galuh pada Didi.
Didi pun bergegas masuk ke dalam mobil dan membawa majikannya itu ke kediaman Yurika. Tiba disana, Galuh menemui kepala pelayan dan menanyakan perihal kamera yang di letakkan oleh Ila di beberapa tempat.
Galuh dan Didi mengambil kamera-kamera tersebut dan membuka isi rekamannya satu persatu.
Galuh menggenggam erat salah satu kamera yang Ila letakkan tak jauh dari tangga. Galuh melihat semua yang terjadi di tangga itu. Galuh berteriak memanggil semua pelayan yang ada dirumah tersebut. Galuh melihat satu persatu wajah pelayan untuk menemukan pelaku yang mendorong Ila jatuh dari tangga.
__ADS_1