GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
MENYELIDIKI


__ADS_3

Hamka memberikan kode pada Galuh untuk membicarakan mengenai narapidana itu dan juga Ila. Hamka keluar dari ruangan terlebih dahulu dan menunggu Galuh di sana. Galuh memberikan kecupan hangat pada Ila.


"Sayang, kembali lah tidur ya! Aku akan bicara pada Hamka di luar. Jika kau butuh apapun, panggil saja aku." Kata Galuh pada Ila.


"Iya, baiklah." Sahut Ila.


Ila pun kembali berbaring dan memejamkan kedua matanya. Ia mencoba untuk kembali tidur setelah Galuh keluar dari ruang rawatnya. Galuh duduk bersama Hamka pada bangku yang tak jauh dari ruang rawat Ila.


"Galuh! Setelah melihat wajah narapidana itu dan juga Ila, memang sekilas ada kemiripan di wajah mereka berdua." Kata Hamka pada Galuh.


"Berarti selama beberapa hari ini aku tidak salah!" Sahut Galuh.


"Aku berpikir ini bukan hanya kebetulan saja!" Kata Hamka.


"Apa maksudmu?" Tanya Galuh.


"Aku masih ingat ceritamu tentang masa lalu tante Yurika! Kau bilang padaku, bahwa Ila terlahir karena tante Yurika di perkosa oleh beberapa perampok yang masuk ke rumahnya kan?" Kata Hamka.


"Apa maksudmu.......


"Ah, kau gila! Kenapa kau menyangkutkan hal itu pada narapidana itu, ka? Pikiranmu itu masuk akal!" Sahut Galuh.


"Galuh! Narapidana itu menjadi tahanan karena dia residivis perampok yang telah di incar polisi! Di tambah lagi, wajahnya ada kemiripan dengan Ila! Hal ini bisa kita selidiki terlebih dahulu. Siapa tau saja, dia ayah biologisnya Ila." Kata Hamka.


"Kau benar-benar gila! Itu tidak mungkin." Sahut Galuh menolak mentah-mentah ucapan Hamka.


"Semuanya akan mungkin jika kita menyeledikinya." Kata Hamka.


"Bagaimana caranya aku bisa menyelidiki seorang tahanan seperti dia? Apa kau tidak lihat dia di jaga ketat oleh polisi!" Sahut Galuh.


"Apa kau lupa Kania adalah tunanganku? Aku akan buat dia berpihak pada kita!" Kata Hamka.


"Apa kau yakin, Kania akan membantu kita?" Tanya Galuh.


"Kita coba saja dulu! Tapi ingat, hal ini hanya kita saja yang tau. Jangan sebarkan rencana kita pada siapapun, termasuk Ila dan tante Yurika." Kata Hamka.


"Baiklah!" Sahut Galuh.


Setelah Hamka pergi dari rumah sakit itu, Galuh kembali masuk ke dalam ruang rawat Ila dan menatap Ila yang sudah tertidur. Galuh duduk di samping Ila sambil terus menatap wajah Ila yang masih terlihat pucat akibat kecelakaan itu.


"Apa yang terjadi jika narapidana itu benar-benar ayah biologisnya? Ini akan berdampak buruk untuk Ila dan juga mama Yurika! Saat ini mama Yurika sudah mulai kembali menjalani hari-harinya tanpa ada rasa trauma dari masa lalunya yang kelam. Jika dugaanku ini benar, maka hal ini akan menerjang pikiran mama Yurika lagi." Gumam Galuh dalam hatinya.


"Semoga saja, narapidana itu tidak ada kaitannya padamu, sayang." Gumam Galuh sambil mengelus wajah Ila.


Keesokan harinya, Hamka menemui Kania yang sedang memeriksa berkas catatan kriminal yang tergeletak di atas meja kerjanya. Hamka mengetuk pintu ruang kerja Kania sebelum ia masuk. Kania menoleh pada Hamka yang berdiri di depan pintu.


"Apa aku boleh masuk?" Tanya Hamka pada tunangannya itu.


"Hah! Kau lagi." Gumam Kania.


"Masuklah!" Kata Kania pada Hamka.


Hamka masuk dan duduk tepat di depan Kania yang terus saja memeriksa berkas-berkas itu.


"Ada apa? Kenapa kau datang ke tempat kerjaku? Jangan berpikir untuk merayuku, aku sedang sibuk." Kata Kania dingin pada Hamka.


"Aku hanya merindukanmu. Hehehe." Ucap Hamka cengengesan.


"Pergilah! Aku sedang tidak punya waktu untuk meladenimu yang konyol itu." Sahut Kania.


"Huh! Dasar wanita dingin. Apa kau tidak bisa lemah lembut seperti wanita sewajarnya?" Ujar Hamka sewot.

__ADS_1


"Jadi menurutmu, aku ini wanita yang tidak wajar, begitu?" Sahut Kania yang selalu saja bersitegang dengan Hamka.


"Tentu saja! Kau ini seorang wanita yang sudah bertunangan dan aku adalah tunanganmu! Kenapa kau tidak bisa sekali saja bersikap lembut dan manja terhadapku? Aku ini pria normal yang menyukai wanita lembut dan juga manja." Kata Hamka.


"Maaf! Kau salah melamar wanita. Aku bukanlah seorang wanita seperti yang kau harapkan." Sahut Kania.


"Hah! Aku salah lagi di matanya." Gerutu Hamka.


"Baiklah! Aku tidak ingin berdebat denganmu saat ini! Aku datang kesini hanya untuk meminta bantuan darimu." Kata Hamka pada Kania.


"Bantuan apa?" Tanya Kania.


"Aku ingin kau berpihak padaku dan juga Galuh untuk menyelidiki narapidana yang ada dirumah sakit itu." Sahut Hamka.


"Apa kau sudah gila? Aku ini polisi dan narapidana itu adalah tanggung jawabku. Jika atasanku tau bahwa aku bekerjasama dengan warga sipil untuk kepentingan pribadi, maka aku akan di tindak bahkan di pecat secara tidak hormat oleh atasanku!" Kata Kania.


"Baguslah, kalau kau di pecat! Memang itu yang aku inginkan, agar kau tetap berada di rumah saat kita menikah nanti." Gumam Hamka.


"Dasar pria egois!" Ujar Kania berdengus kesal pada Hamka.


"Bodo!" Sahutnya.


"Aku tidak mau membantu kalian." Kata Kania lagi.


"Hei, ayolah! Rencana kami ini hanya sederhana. Ini semua menyangkut Ila dan juga keluarganya." Kata Hamka.


"Apa maksudmu?" Tanya Kania.


"Hah! Lebih baik kau tau ceritanya melalui Galuh saja. Dia yang tau persis tentang hal ini." Kata Hamka.


"Cerita apa?" Tanya Kania penasaran.


"Masa lalu keluarga Ila! Kami curiga masa lalu itu berkaitan dengan narapidana yang menjadi tanggung jawabmu itu." Sahut Hamka.


"Besok pagi hingga sore, aku lepas dinas!" Sahutnya.


"Hei, dulu saat aku mengajakmu kencan, kau bilang kau tidak memiliki waktu luang! Heh, ternyata kau memiliki hari libur juga. Dasar!" Ujar Hamka sewot.


"Aku tidak mau berkencan dengan pria konyol sepertimu." Sahut Kania juga sewot.


"Baiklah! Besok siang kita bertiga bertemu di cafe yang tak jauh dari lokasi rumah sakit. Kita akan bicarakan semuanya disana." Kata Hamka.


"Iya!" Sahut Kania.


"Oke, aku pergi dulu." Kata Hamka berdiri dan melangkah keluar ruang kerja Kania.


Kania bangkit dari tempat duduknya untuk mengambil beberapa berkas yang ada di lemari tempat penyimpanan semua berkas catatan kriminal. Saat ia sedang fokus dengan kertas-kertas itu, tiba-tiba saja dua tangan kekas melilit tubuhnya yang membuatnya menoleh refleks ke belakang. Kania berhadapan dengan Hamka yang sedang memeluknya secara tiba.


"Kau....


Cuupp.....


Hamka mendaratkan ciuman hangatnya pada bibir polisi wanita itu. Mata Kania terbelalak saat Hamka tiba-tiba mencium bibirnya.


"Akhirnya aku berhasil menciummu! Hehehehe." Ucap Hamka setelah puas mencium Kania.


"Dasar pria menyebalkan!" Pekik Kania ngamuk.


Takut akan amukan Kania yang sedang kesal padanya, Hamka berlari keluar untuk kabur dari kantor kepolisian itu sambil tertawa puas. Kania menatap Hamka yang masuk ke dalam mobil di area parkir dari jendela kaca di ruanganya. Ia dongkol setengah mati saat mengingat Hamka mencium dirinya secara tiba-tiba.


"Hah! Hamka memang terlihat gigih jika menginginkan sesuatu." Gumam Kania menghela nafas panjang.

__ADS_1


*****


Keesokan harinya, Galuh dan Hamka telah menunggu Kania datang ke salah satu cafe yang tak jauh dari rumah sakit dimana Ila dan narapidana itu sedang di rawat. Sedari tadi, Galuh berkali-kali melirik jam arlojinya dengan tak sabaran.


"Apa kau yakin, Kania akan datang?" Tanya Galuh pada Hamka.


"Sabarlah sebentar! Aku yakin dia pasti akan datang." Sahut Hamka.


Tak lama muncul lah Kania yang menggunakan dress santai seperti wanita pada umumnya. Hamka tertegun melihat Kania yang menggunakan dress selutut dan juga berjalan menggunakan sepatu hight heels.


"Apakah itu tunanganku, Galuh?" Ucap Hamka tak berkedip menatap Kania yang segera menghampiri mereka.


"Bukan! Itu polisi wanita yang kau kejar-kejar selama ini." Sahut Galuh sewot.


"Hai, apa kalian sudah lama menungguku?" Tanya Kania menyapa Galuh dan Hamka.


"Tidak juga! Silahkan duduk." Sahut Galuh.


Kania pun duduk tepat di depan Hamka yang tercengang sambil menatapnya.


"Dia kenapa?" Tanya Kania sambil melirik pria tunangannya itu.


"Abaikan saja!"  Sahut Galuh.


"Hei, enak saja kau bilang untuk mengabaikan aku!" Teriak Hamka kesal pada Galuh.


"Kania! Mmuuaacchh..." Ucap Hamka pada polisi wanita itu.


"Dasar gila!" Gerutu Kania.


"Kania, kemarin Hamka sudah mengatakan rencanaku kan padamu?" Tanya Galuh.


"Iya! Tapi apa tujuanmu dengan rencana itu?" Tanya Kania.


Galuh pun terpaksa menceritakan masa kelam Yurika pada Kania, dengan tujuan agar Kania dapat mempermudah jalannya rencana mereka untuk menyelidiki keterkaitan narapidana itu dengan Ila.


"Hah? Apa ceritamu ini bisa di percaya?" Ucap Kania terkejut mendengar semua kisah kelam Yurika.


"Ini memang terdengar gila, tapi semuanya benar-benar terjadi." Sahut Galuh.


"Kania, kami butuh bantuanmu! Kau yang bisa membuat kami bebas untuk menyelidiki narapidana itu." Kata Galuh.


"Siapa sih nama narapidana itu?" Tanya Hamka penasaran.


"Namanya Arman! Dia memang residivis yang menjadi incaran polisi sejak lama." Sahut Kania.


"Tolong bantulah rencanaku ini! Aku hanya ingin tau kalau dia itu ayah biologisnya Ila tau bukan." Kata Galuh lagi pada Kania.


"Hah! Baiklah. Tapi aku minta pada kalian, hal ini hanya kita bertiga saja yang tau. Aku tidak ingin ada orang lain lagi yang tau tentang rencana ini." Kata Kania.


"Oke! Aku jamin rencanaku ini tidak akan berpengaruh pada karirmu." Sahut Galuh.


"Lantas apa rencanamu selanjutnya?" Tanya Kania pada Galuh.


"Aku ingin melakukan test DNA terhadap Ila dan juga narapidana itu." Sahut Galuh.


"Baiklah! Aku akan buat rencana agar kau bisa melakukannya dengan dokter yang terpercaya." Kata Kania.


"Untuk soal dokter, kau tidak perlu khawatir! Kami memiliki teman yang bisa diandalkan." Sahut Hamka.


 

__ADS_1


 


__ADS_2