
Kia kembali pulang kerumahnya setelah semalaman tidak tidur untuk menemani Yurika yang masih terbaring di rumah sakit. Kia melangkah dengan berat untuk masuk ke dalam kamarnya. Sari melihat langkah Kia yang gontai saat itu. Ia berjalan menghampiri Kia dan mendekatinya.
"Nona, apa kau tidak apa-apa?" Tanya Sari mulai mengambil hati Kia lagi untuk memanfaatkannya.
"Aku tidak apa-apa. Pergilah!" Sahut Kia menepis tangan Sari yang akan menopang tubuhnya.
Kia menaiki anak tangga sambil berpegang erat pada dinding. Dengan perlahan Kia akhirnya masuk ke dalam kamar dan berbaring di atas ranjang tidurnya. Kia memejamkan matanya sejenak sebelum ia menumpahkan air matanya lagi saat Yurika tak acuh padanya.
"Mama, tidak sayang lagi padaku!" Ucap Kia dalam isak tangisnya.
Kia terus menangis sehingga ia terlelap dalam tidurnya karena merasa lelah semalaman menjaga Yurika di rumah sakit. Sari sedang mengerjakan tugasnya sebagai pelayan sambil berpikir untuk melanjutkan rencananya terhadap Kia. Sari berniat untuk membawakan makan siang untuk Kia ke dalam kamar.
Menjelang pukul 2 siang, Sari membawa beberapa menu makanan untuk Kia yang masih tertidur di dalam kamar. Sari mengetuk pintu dengan perlahan dan membuka pintu kamar Kia yang tidak sempat di kunci. Sari masuk ke dalam kamar, dan meletakkan makanan itu di atas meja rias. Sari mendekati wajah Kia yang masih membekas air mata di pipinya.
"Ternyata dia habis menangis! Hehehe, apakah ada tragedi besar yang sedang terjadi di keluarga ini? Aku harus memanfaatkan ini untuk mendatangkan pundi-pundi uang kepadaku." Gumam Sari dalam hatinya seraya terkekeh dengan segala rencana jahatnya.
Sari mengelus pipi Kia dengan lembut untuk membangunkannya.
"Nona Kia, bangunlah." Ucap Sari lembut pada Kia.
Kia mengerjapkan matanya dan melihat Sari yang tersenyum lebar padanya. Kia sontak kaget dan terduduk di atas ranjang.
"Mau apa kau masuk ke dalam kamarku?" Teriak Kia pada Sari.
"Nona, aku hanya ingin membawakan makan siang untukmu. Sejak pulang tadi kau belum makan." Sahut Sari bertingkah baik di depan Kia.
Kia melirik makanan yang berada di atas meja rias. Dari semalam perutnya memang belum terisi oleh makanan apapun. Kia merasakan kelaparan saat melihat makanan yang dibawakan oleh Sari untuknya. Sari mengambil makanan itu dan memberikannya pada Kia.
"Nona, makanlah." Kata Sari pada Kia.
Kia mengambil makanan itu dan segera menyantapnya. Sesekali Kia melirik pada Sari yang berdiri di hadapannya sambil menunggunnya selesai makan. Setelah selesai makan siang, Kia memberikan bekas makannya kedapa Sari.
"Pergilah dari kamarku! Aku mau mandi." Kata Kia pada Sari.
"Baiklah, nona." Sahut Sari melangkah pergi meninggalkan kamar Kia.
Sari menutup pintu kamar Kia secara perlahan.
"Huh, kau memang sangat menyebalkan! Pantas saja semua pelayan disini membencimu, karena kau memiliki sikap yang tidak baik dan juga sombong." Ujar Sari sangat kesal di perlakukan kasar oleh Kia barusan.
"Hah, aku harus sabar untuk mencapai tujuanku! Walaupun aku harus di injak oleh Kia, aku akan terus melanjutkan rencanaku agar aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan." Ucap Sari lagi dalam hatinya.
*****
Galuh mengantar Ila pergi kesekolahnya sebelum ia melanjutkan perjalanan menuju ke kantor untuk bekerja. Galuh menatap Ila yang masih enggan untuk turun dari mobil.
"Sayang, kita sudah sampai di depan sekolahmu. Apa kau tidak ingin turun?" Kata Galuh sembari mengelus wajah Ila.
"Aku tidak ingin sekolah lagi!" Ucap Ila sambil meneteskan air matanya.
"Jangan bicara seperti itu." Sahut Galuh.
"Aku malu, kak! Teman-teman di sekolahku pasti akan mengejekku karena berita itu." Kata Ila menangis.
"Sudahlah! Jika kau ingin seperti itu, lebih baik kita kembali saja ke apartemen, ya." Kata Galuh.
__ADS_1
Ila mengangguk mengiyakan perkataan Galuh. Galuh menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya untuk kembali ke apartemen. Ila mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian yang ia pakai dirumah. Galuh masih menunggunya di ruang tengah di saat waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Galuh sudah sangat terlambat untuk pergi ke kantornya. Ila keluar dari kamar dengan wajah yang sembab setelah menangis.
"Kak, kenapa kau belum pergi bekerja?" Tanya Ila pada Galuh.
"Aku akan menemanimu sebentar lagi disini, setelah itu aku akan berangkat ke kantor." Sahut Galuh seraya mencium kening Ila dengan lembut.
"Kak, pergilah bekerja, aku tidak apa-apa jika sendirian disini." Kata Ila pada Galuh.
"Kau janji padaku untuk tidak melakukan hal-hal yang akan menyakiti dirimu jika aku pergi?" Kata Galuh khawatir.
"Iya, aku janji!" Sahut Ila.
"Baiklah, aku akan pergi ke kantor, tapi aku akan mengusahakan untuk cepat pulang nanti." Kata Galuh.
Galuh pun pergi ke kantr untuk bekerja setelah ia memberikan kecupan hangat kepada Ila. Setelah kepergian Galuh, Ila masih duduk di ruang tengah sambil mengingat semua kejadian kemarin yang menghancurkan hatinya. Ila tidak ingin terus-terusan mengalami sesak di dadanya ketika ia teringat perlakuan Yurika kepada dahulu sebelum ia menikah dengan Galuh. Ila masih menyangka bahwa Yurika bukanlah ibu kandungnya, tapi melainkan seorang wanita yang memberikannya tempat tinggal.
"Ya Tuhan, dimana ibu kandungku berada sekarang?" Gumam Ila dalam hatinya.
Ila bangkit dari tempat duduknya dan mengambil beberapa perlatan rumah tangga. Ia membersihkan semua ruangan apartemen untuk menghilangkan pikirannya yang terus memikirkan kejadian kemarin. Tepat jam 11 siang, ponsel Ila berdering di saat ia sedang menyiapkan makan siang. Ia melirik pada ponselnya dan segera menerima panggilan telepon dari sahabatnya yaitu Fiqri.
"Halo." Ucap Ila.
"La, apa kau baik-baik saja?" Tanya Fiqri cemas.
"Iya, aku baik-baik saja." Sahut Ila.
"Syukurlah, jika begitu." Ucap Fiqri lega.
Tiba-tiba Ila mendengar suara Eri yang berteriak pada Fiqri.
"Fiqri, nyalakan towanya! Aku juga ingin dengar suara Ila, aku sangat rindu padanya. Huhuhuhuhu." Teriak Eri kesal pada Fiqri sambil menangis.
"Iya, sebentar! Dasar cengeng." Sahut Fiqri sewot pada Eri.
"Ila, aku rindu padamu. Apa kau baik-baik saja? Aku sudah membuang semua isi di mading kemarin." Kata Eri pada Ila.
"Iya, aku baik-baik saja." Sahut Ila.
"Jangan sedih lagi, ya. Huhuhuhuhuhuhu." Kata Eri sambil menangis.
"Hei, kau menyuruhku untuk tidak bersedih, tapi kau malah menangis histeris seperti itu." Kata Ila.
"Aku sedih jika kau sedang mengalami kesulitan. Huhuhuhuhu." Sahut Eri.
"Diamlah kau, Eri! Jika kau terus menangis, nanti si Ila akan menjadi bertambah sedih." Ujar Fiqri.
"Benarkah begitu?" Tanya Eri pada Fiqri.
"Tentu saja, dodol!" Sahut Fiqri.
"Baiklah, aku akan berhenti menangis sekarang." Kata Eri seraya mengelapkan cairan bening dari hidungnya di seragam sekolah Fiqri.
Fiqri auto berteriak saat Eri melakukan itu padanya.
"Aaarrgghhhh! Apa yang kau lakukan, Eri? Kau menodai seragamku dengan ingusmu itu!" Teriak Fiqri.
"Hehehe, kau bilang kau sayang padaku, tapi begitu saja kau sudah berteriak." Sahut Eri cengengesan.
"Huh, kau sungguh menyebalkan!" Teriak Fiqri lagi.
Ila yang mendengar suara kedua sahabatnya itu merasa terhibur dengan kelakuan mereka.
"Sejak kapan Fiqri mengatakan sayang padamu?" Tanya Ila pada Eri.
__ADS_1
"Kemarin, saat aku menangis sedih karenamu! Saat itu tiba-tiba saja dia mengatakan kalau dia menyayangi aku." Sahut Eri.
"Aku mengatakan itu agar kau berhenti menangis!" Kata Fiqri dengan wajah yang memerah.
"Benarkah hanya karena itu saja? Tapi kenapa wajahmu sangat merah saat ini?" Tanya Eri dengan polosnya membuat wajah Fiqri semakin memerah karena malu.
"Eeem, karena cuacanya sedang panas." Sahut Fiqri dusta.
"Hei, langit sedang mendung! Bagaimana mungkin kau bilang cuaca hari ini panas?" Kata Eri memancing tawa Ila yang sedang menerima panggila telepon dari mereka.
"Sudahlah, lebih baik kau fokus saja bicara dengan Ila." Ujar Fiqri mengalihkan pembicaraan.
"Oh, benar juga! Aku hampir lupa." Sahut Eri kembali fokus berbincang di telepon dengan Ila.
Fiqri menarik nafas lega setelah Eri tidak lagi banyak bertanya pada dirinya. Jantung Fiqri berdetak kencang saat Eri berinteraksi padanya setiap hari. Disaat Fiqri pertama kali menjadi murid pindahan di sekolah itu, Eri lah yang membuatnya jatuh hati.
Setelah berbincang beberapa menit di telepon dengan kedua sahabatnya itu, Ila kembali menyiapkan makan siang. Beberapa menu makanan sederhana telah tersaji di meja makan. Tak lama kemudian, Ila mendengar suara pintu terbuka di depan. Ila menoleh dan melihat Galuh pulang dengan membawa bungkusan di tangannya.
"Sayang, aku pulang!" Seru Galuh saat masuk ke dalam apartemen.
"Apa yang kau bawa itu?" Tanya Ila pada Galuh.
"Ini adalah makanan lezat untukmu." Sahut Galuh.
Galuh mengajak Ila untuk duduk di ruang makan bersama dirinya. Galuh membuka kotak makanan yang ia beli di restoran jepang. Ila melebarkan matanya saat melihat makanan khas jepang yang sering ia lihat di internet ataupun majalah.
"Apakah ini sushi?" Tanya Ila antusias untuk mencobanya.
"Iya! Aku beli ini untukmu, imutku." Sahut Galuh sambil mengambil sumpit dan menjepit sepotong sushi untuk Ila.
Ila membuka mulutnya lebar-lebar dan mulai merasakan makanan yang tidak pernah ia cicipi selama hidupnya.
"Apa kau suka?" Tanya Galuh.
"Rasanya aneh!" Jawab Ila belum terbiasa merasakan makanan dari negara asing itu.
Galuh terkekeh geli saat Ila mengatakan rasa sushi itu aneh di lidahnya. Seketika ia kembali menatap iba pada Ila yang tidak pernah memakan sushi selama hidupnya. Galuh mengelus wajah Ila sembari menatapnya dalam-dalam.
"Ini ikan mentah kan?" Tanya Ila menunjuk lembaran daging ikan salmon.
"Iya! Kau mau mencobanya? Jika di beri sedikit kecap maka rasanya akan enak." Kata Galuh.
Galuh mencelupkan selembar daging ikan salmon dan dicelupkan ke dalam kecap, setelah itu ia memberikannya pada Ila. Ila mencicipinya dan kembali melebarkan matanya.
"Apa kau suka?" Tanya Galuh.
"Wah, yang ini enak!" Seru Ila menyukai daging ikan salmon.
"Habiskan semuanya! Nanti malam aku akan mengajakmu makan di luar." Kata Galuh.
"Kak, tadi aku menyiapkan makan siang." Kata Ila.
Galuh melirik beberapa menu makanan yang Ila masak untuknya. Dengan senang hati Galuh mengambil piring dan segera menyantap makanan yang telah tersaji di meja makan. Siang itu perasaan Ila sedikit terobati dengan perhatian-perhatian yang diberikan oleh Galuh dan juga kedua sahabatnya.
__ADS_1