GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
PEMBALUT


__ADS_3

Kia hendak melangkahkan kakinya untuk menemui Yurika yang saat itu sedang berada di halaman belakang bersama Hana dan Antoni. Namun tiba-tiba saja Hamka menarik tangan Kia untuk mencegahnya pergi.


"Kia, tunggu dulu!" Kata Hamka.


"Ada apa kak?" Tanya Kia. Galuh pun menatap Hamka yang terlihat sedang berpikir.


"Menurutku lebih baik hal ini kita lanjutkan setelah pesta pernikahanmu saja! Aku tak tega melihat tante Yurika dan Ila sedih disaat pesta pernikahanmu nanti gara-gara masalah ini!" Kata Hamka.


"Kau benar!" Sahut Galuh.


"Setidaknya biarkan mama Yurika dan Ila merasa bahagia di pesta nanti. Jika mereka tau sekarang disaat pesta besok mereka pasti akan memikirkannya dan tidak merasa bahagia." Kata Galuh lagi.


"Iya, kak! Aku juga ingin melihat mama dan Ila senang saat pesta pernikahanku besok!" Sahut Kia.


"Baiklah! Kalau begitu aku konfirmasi dulu pada Kania!" Kata Hamka.


Hamka dan Galuh pun menghampiri Kania yang sedang berbincang di teras depan bersama Ila. Tampak Kania sedang menggendong Gilang yang bermain dengannya.


"Kania, ayo kita pulang!" Ajak Hamka.


"Eh, kalian tidak makan siang dulu disini?" Tanya Ila.


"Kami ini pengantin baru, jadi harus makan siang berdua saja di apartemen kami! Hehehe." Sahut Hamka.


"Pengantin baru?" Seru Galuh dan Ila kaget.


"Jangan dengarkan si halu ini! Kami belum menikah, tapi dia saja yang memaksaku untuk tinggal dengannya!" Sahut Kania.


"Iya dong! Sebentar lagi kau akan jadi milikku! Aku akan memakanmu, Kania! Hahahaha." Kata Hamka tertawa jahat.


"Makan saja kalau berani! Aku tembak kepalamu!" Ujar Kania.


"Kau yang ku tembak!" Balas Hamka.


"Dasar pasangan gila!" Ucap Galuh menatap Hamka dan Kania.


"Hehehehe, kak Kania dan kak Hamka so sweet banget ya? Selalu bersitegang tapi saling cinta!" Kata Ila.


Kania mencium Gilang dengan begitu gemasnya. Setelah itu ia memberikan Gilang kepada Ila.


"Bye! Tante pulang dulu ya?" Ucap Kania pada Gilang.


Gilang tertawa nyengir menunjukkan giginya yang mulai banyak tumbuh pada gusinya. Hamka dan Kania pun bergegas masuk ke dalam mobil untuk kembali pulang ke apartemen. Sebelum Hamka menyalakan mesin mobilnya, Kania menatap wajah tunangannya itu.


"Apa kau sudah bicara pada Galuh mengenai Imran?" Tanya Kania.


"Sudah!" Sahutnya.


"Lalu bagaimana dengan tante Yurika?" Tanya Kania lagi.


"Nanti kita bicarakan di apartemen saja!" Kata Hamka.


"Baiklah!" Sahut Kania.


Selepas Hamka dan Kania meninggalkan rumah Yurika, Ila melihat raut wajah Galuh yang tampak sedang memikirkan sesuatu. Lantas Ila pun bertanya pada suaminya itu.


"Kak! Ada apa? Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu!" Tanya Ila pada Galuh.


"Tidak...tidak ada apa-apa!" Sahut Galuh.


"Kak, apa kau berniat untuk menyembunyikan sesuatu dariku? Aku ini kan istrimu!" Kata Ila.


"Sebenarnya ada hal penting yang menyangkut dirimu dan mama Yurika! Tapi....


"Apa mengenai penjahat itu?" Tukas Ila.


"Iya, sayang!" Sahut Galuh.


"Tapi hal ini kita bicarakan nanti saja setelah pesta pernikahan Kia dan Syakir! Aku ingin melihat kau dan mama Yurika bahagia di pesta itu nanti!" Sambung Galuh lagi.


"Apapun mengenai dia, aku tau mau tau lagi! Aku benci padanya!" Ucap Ila begitu membenci Imran selaku ayah kandungnya.


"Imutku, tapi dia adalah ayah kandungmu! Bagaimanapun juga kau tidak boleh....


"Aku tidak perduli! Aku tak mau mendengar apapun lagi tentang dia! Bagiku dia tetaplah penjahat yang membuat hidup mama dan aku menderita selam bertahun-tahun!" Ujar Ila memotong ucapan Galuh.


Galuh tak ingin melihat Ila kesal hari itu. Ia pun menghela nafas panjang dan meraih tubuh Ila serta memeluknya.


"Sudahlah! Kita bicarakan hal ini lain kali saja!" Kata Galuh menenangkan Ila.


"Aku ingin bertemu dengan Kia dulu di kamarnya!" Kata Ila.


"Pergilah!" Kata Galuh seraya melepaskan pelukannya dari tubuh Ila.


 


Ila melangkah ke kamar Kia yang hanya berselang beberapa kamar darinya. Ila membuka pintu kamar Kia dan melihatnya sedang duduk santai sambil memakan semangkuk salad yang dibuatkan oleh pelayan dapur.


"Hei, kau sedang apa?" Sapa Ila pada sepupunya itu.


"Hah, untung kau datang! Aku sedang kelaparan sekali! Sejak sebulan lalu aku seakan berubah menjadi kambing karena makan sayuran mentah setiap hari!" Sahut Kia.

__ADS_1


"Hahaha, kasihan amat!" Ila malah tertawa sambil meledek Kia.


"Ila! Berikan aku makan makanan enak yang ada di dapur! Ku mohon!" Rengek Kia.


"Hei, bertahanlah sebentar lagi! Besok acara pesta pernikahanmu, dan kau harus tampil cantik dengan bentuk tubuh yang indah! Kau akan menjadi pengantin tercantik besok! Aku yakin, kak Syakir pasti tidak akan berhenti menatapmu nanti! Hehehe." Kata Ila.


"Kau bilang dirinya, aku jadi ingat kejadian kemarin saat ayah mertuaku menyeretnya untuk kembali pulang! Hahahaha, kasihan banget suamiku!" Kata Ila ngakak mengingat Syakir diseret pulang oleh ayahnya setelah acara akad nikah.


"Hahahaha, iya! Mertuamu gokil!" Sahut Ila ikut tertawa.


Saat sedang tertawa tiba-tiba saja Kia meringis sambil memegang perutnya.


"Aaww! Nyeri!" Pekik Kia.


"Kenapa? Sakit perut?" Tanya Ila.


"Lagi datang bulan!" Sahut Kia.


"Oh! Kapan keluarnya?" Tanya Ila.


"Tadi pagi!" Sahut Kia.


Seketika Ila menyeringai lebar setelah tau bahwa Kia sedang datang bulan. Kia melirik Ila yang tersenyum lebar di depannya.


"Kau kenapa? Kenapa tersenyum lebar begitu? Ada yang lucu di wajahku?" Tanya Kia.


"Hahahaha, tidak ada apa-apa! Aku hanya teringat wajah kak Syakir saat kemarin!" Sahut Ila dusta.


Setelah berjam-jam duduk berbincang bersama Kia, Ila pun turun kebawah untuk makan siang bersama dengan yang lainnya. Ila duduk di samping Galuh lalu berbisik padanya.


"Kak! Aku sudah mendapatkan ide untuk membalas hadiah dari Kia dan kak Syakir saat ulang tahunku!" Bisik Ila pada Galuh.


"Apaan?" Tanya Galuh.


"Pembalut!" Sahut Ila.


Awalnya Galuh terdiam sejenak untuk berpikir maksud dari perkataan Ila mengenai pembalut wanita. Namun setelah tau maksud dari perkataan istrinya tersebut, Galuh pun menyeringai lebar sambil menatap Ila yang juga tersenyum jahat.


"Hehehehe, waktunya pembalasan!" Seru Galuh dan Ila sambil terkekeh jahat merencanakan sesuatu terhadap Kia dan Syakir.


Yurika, Hana dan juga Antoni kebingungan menatap anak menantu mereka yang sedari tadi berbisik-bisik sambil makan bersama mereka.


"Ada apa? Kenapa berbisik-bisik seperti itu? Apa kalian merencanakan sesuatu?" Tanya Yurika.


"Hehehe, tidak ada apa-apa!" Seru Galuh dan Ila.


"Oh, iya! Kapan kalian akan merencanakan untuk memberikan adik kepada Gilang?" Tanya Antoni yang membuat Ila tersedak makanan.


"Wah, pemikiran papa sama denganku! Aku juga berpikir untuk berencana memberikan adik pada Gilang!" Sahut Galuh bersemangat.


"Hei, berikan jarak kepada Gilang dan adiknya nanti! Jangan terburu-buru!" Sahut Hana.


"Iya! Aku setuju sama mama Hana!" Kata Ila.


"Tapi menurutku Galuh dan Ila sudah bisa berencana untuk punya anak lagi! Jangan terlalu jauh jarak umur antara Gilang dan adiknya! Kalau jarak umur mereka dekat akan lebih bagus! Jadi Gilang akan memiliki hubungan yang dekat dengan adiknya nanti." Sahut Yurika sepemahaman dengan Galuh dan Antoni.


"Iya, apa yang dikatakan oleh Yurika benar!" Sambung Antoni.


"Hehehe, kalian berdua dan kami bertiga! Jadi dua lawan tiga maka tiga yang menang!" Seru Galuh.


"Huh, menyebalkan!" Gerutu Ila.


"Hah, mana baiknya sajalah!" Sahut Hana menyerah.


*****


Keesokan paginya, Yurika beserta yang lainnya berangkat ke sebuah hotel dimana pesta pernikahan Kia dan Syakir akan diselenggarakan. Mereka berangkat pagi-pagi sekali agar Kia dapat tepat waktu untuk berhias sebelum acara pesta pernikahan dimulai.


Beberapa jam kemudian, rombongan keluarga Syakir pun tiba di hotel tersebut. Tak lama kemudian Yurika membawa Kia turun ke ruang acara pesta untuk menyambut kedatangan keluarga dari pihak suaminya. Serangkaian acara adat istiadat dalam pernikahan itu pun dilakukan. Setelah selesai Kia dan Syakir duduk bersanding di pelaminan yang begitu megah. Para tamu undangan terus berdatangan untuk mengucapkan selamat pada kedua mempelai serta menikmati acara pesta pernikahan tersebut.


"Hah, aku teringat akan pesta pernikahan kita dulu!" Ucap Ila pada Galuh.


"Iya! Saat itu pesta pernikahan kita lebih megah dari ini, tapi aku tidak melihat kebahagiaan di wajahmu sampai acara pesta kita selesai." Sahut Galuh.


"Maaf ya! Saat itu aku belum mencintaimu! Aku berpikir pernikahan kita tidak akan pernah bahagia seperti sekarang ini! Kita menikah karena dijodohkan dan jujur saja saat itu aku merasa dipaksa untuk menikahi pria galak yang selalu saja bersikap dingin padaku!" Kata Ila.


"Hheeemm, sudahlah! Masa itu sudah berlalu! Aku dan kau adalah cinta selamanya!" Ucap Galuh yang tak ingin mengingat apapun yang ada di masa lalunya.


"Iya!" Sahut Ila.


"Lantas kapan kau siap hamil lagi?" Tanya Galuh.


"Huh, mengenalkan! Itu-itu saja yang kau katakan!" Gerutu Ila sewot.


"Sayang! Usiaku tidak muda lagi! Aku sudah kepala tiga sekarang dan aku ingin melihat anak-anak kita tumbuh hingga dewasa sebelum ajal memanggilku nanti!" Kata Galuh.


Ila terdiam dan memikirkan apa yang dikatakan oleh Galuh padanya.


"Ada benarnya juga! Tapi sepertinya aku masih ingat sakitnya melahirkan waktu itu! Huhuhu, jadi galau! Hamil lagi apa tidak ya?" Pikir Ila bingung sendiri.


Di ruang pesta itu Galuh terus membujuk Ila agar mau hamil anak kedua dan seterusnya. Disisi lain Hamka sedang duduk bersama Kania yang terus saja melirik kesal padanya karena Hamka tak henti-hentinya menatap pada Kania.

__ADS_1


"Sayang! Kau cantik dengan gaun pesta." Ucap Hamka tergila-gila pada polwan dingin itu.


"Setelah kita menikah nanti, aku ingin kau mengenakan gaun yang indah-indah setia hari agar mataku ini terus menatapmu saja!" Sambung Hamka lagi.


"Iya, terserah kau!" Sahut Kania.


"Asik!" Seru Hamka kegirangan.


"Eh, kita belum mengunjungi Ririn dan Roni setelah anak mereka lahir! Kapan kita memberikan hadiah untuk putri mereka?" Tanya Kania.


"Besok!" Sahutnya.


"Lalu kapan kita punya anak?" Tanya Hamka.


"Entar! Kalau udah nikah!" Sahut Kania.


"Cih, lama banget sih! Kalau nanti malam kita buatnya mau ya?" Rengek Hamka.


"Iya, terserah kau! Hehehe." Sahut Kania terkekeh kecil.


"Wah, yakin nih!" Seru Hamka.


"Iya!" Sahut Kania.


Hamka terlihat begitu kegirangan setelah Kania setuju ingin memberikan apa yang ia inginkan sebelum hari pernikahan mereka.


"Oh, iya! Tiga hari ke depan, aku akan mulai berberes untuk pindah ke luar kota!" Kata Kania dengan raut wajah yang sedih.


"Hehehe, tidak masalah! Pergilah!" Seru Hamka cengengesan.


"Eh, ada apa dengannya?  Kenapa dia tidak sedih sama sekali?" Gumam Kania dalam hatinya.


"Hehehe, dia belum tau kalau komandannya telah memberikan surat tugas yang baru bahwa dia tidak jadi pindah dinas ke luar kota! Hehehehe, untung ada om Antoni yang bantu bicara pada petinggi kepolisian, jadi aku dan Kania akan terus bersama!" Gumam Hamka dalam hatinya.


Selesai acara pesta pernikahan, Kia dan Syakir beristirahat di dalam kamar pengantin yang telah direkomendasi seindah mungkin. Masih dengan gaun pengantinnya, Kia duduk di tepi ranjang sambil merentangkan kakinya ke bawah.


"Hah, sangat lelah!" Ucap Kia.


"Hehehe, setelah ini kau pasti akan semakin lelah semalaman! Tunggu permainan dariku, Kiki kecil!" Gumam Syakir dalam hatinya.


"Eemmm, ayang bebeb! Mandilah terlebih dahulu nanti gantian denganku!" Kata Kia pada Syakir.


"Eh, bukannya kita lebih baik mandi bersama! Hehehe." Sahut Syakir.


"Jangan ah! Malu!" Sahut Kia karena sedang menstruasi.


"Hehehe, sudah sah jadi suami istri pun dia masih malu-malu kucing! Membuatku gemas saja." Gumam Syakir dalam hatinya.


Syakir pun melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah beberapa menit kemudian Kia bergantian untuk membersihkan dirinya. Selama kita berada di dalam kamar mandi, Syakir yang sudah mengenakan piyama tidurnya berbaring menunggu istrinya itu. Tak lama ponselnya pun berbunyi.


"Eh, pesan dari Galuh!" Gumam Syakir yang lantas membacanya.


"Aku dan Ila memberikan hadiah pernikahan untuk kalian! Aku sudah meletakkannya di samping ranjang tidur kalian. Bungkus kadonya berwarna merah mencolok! Jangan lupa di pakek ya? Hahahaha." Pesan dari Galuh.


Penasaran, Syakir pun mencari hadiah yang dimaksudkan oleh Galuh tadi. Lalu Syakir pun menemukan hadiah tersebut tepat di samping ranjang tidur pengantinnya.


"Eeemm, apa ini? Bentuknya persegi panjang dan sedikit empuk!" Gumam Syakir.


Lalu Kia pun keluar dari kamar mandi dengan pakaian tidur yang terlihat biasa saja. Syakir menatap pakaian tidur Kia yang sama sekali tidak mengundang gairahnya sedikitpun.


"Kenapa tidak pakai baju tidur yang sexy sih?" Gumam Syakir dalam hatinya.


Kia melirik hadiah yang di pegang oleh Syakir.


"Eh, apa itu?" Tanya Kia.


"Hadiah dari Galuh dan Ila." Sahut Syakir.


"Wah, ayo kita buka!" Seru Kia bersemangat.


Syakir pun membuka bungkus hadiah itu dengan semangat.


"Pem..pem...pembalut wanita?" Pekik Syakir seraya melemparkan sebungkus pembalut wanita tersebut kepada Kia yang duduk disampingnya.


"Wah, pembalut ya! Kebetulan aku sedang membutuhkannya!" Seru Kia kegirangan.


"Apa?" Pekik Syakir lagi karena kaget.


"Iya! Aku kan sedang datang bulan!" Sahut Kia dengan wajah polosnya.


Lalu tiba-tiba Syakir tertelungkup di atas ranjang pengantinnya sambil menutupi kepalanya dengan bantal.


"Eh, kak?" Panggil Kia pada Syakir.


"Aku mau tidur!" Ucap Syakir dingin.


"Eemm, baiklah!" Sahut Kia yang tak mengerti sikap suaminya itu.


Syakir tak bergeming sedikitpun. Ia terus tertelungkup dan menutupi kepalanya dengan sebuah bantal petak.


"Kenapa aku sesial ini ya lord? Dua hari yang lalu di seret pulang dan sekarang Kia malah datang bulan! Puasalah aku! Huhuhuhuhuhu....." Gumam Syakir dalam hatinya sambil merundungi nasibnya yang tak bisa bermesraan selayaknya pengantin baru bersama dengan Kia.

__ADS_1


__ADS_2