
Keesokan paginya Ila terbangun dan merasakan tangan kekar sedang melilit tubuhnya. Ia tau tangan kekar itu milik Galuh yang jika tertidur pulas selalu saja memeluk dirinya tanpa ia sadari. Ila menggeser tangan Galuh yang memilit tubuhnya. Tampak Galuh bergerak karena dorongan dari tangan Ila kepadanya. Ila hendak turun dari atas ranjang, lalu matanya melirik tumpukan buku di atas meja rias.
"Semalam aku sedang belajar di sini. Kenapa buku-bukuku berada di atas meja rias?" Ucap Ila bingung dalam hatinya.
Ila melirik Galuh yang masih tertidur ranjang.
"Mungkin dia yang merapikan bukuku di sana." Ucap Ila sembari turun dan keluar dari kamar.
Ila melangkah menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi sebelum ia berangkat pergi ke sekolah. Pagi itu Ila menyiapkan nasi goreng dengan taburan telur dadar yang di iris.
Setelah selesai menyiapkan sarapan pagi, Ila mandi dan memakai seragam sekolahnya. Ila kembali masuk ke dalam kamar melihat Galuh yang masih tidur. Ila melirik jam di dinding sudah pukul 06.25. Ila membangunkan Galuh untuk mengantarkannya pergi ke sekolah.
"Kak, bangun." Kata Ila menggoyangkan tubuh Galuh.
"Heemm." Sahut Galuh masih dengan mata terpejam.
"Aku mau berangkat ke sekolah." Kata Ila.
"Jadi?" Tanya Galuh.
"Antarkan aku." Pinta Ila.
Galuh berdecak kesal.
"Kau ini membuatku repot saja." Ujar Galuh sembari bangkit dari tidurnya.
Galuh pun pergi mandi dan setelah itu ia duduk sarapan bersama Ila di ruang makan. Galuh menyantap nasi goreng buatan Ila dengan lahap. Setelah selesai menyantap nasi goreng itu, Galuh melirik Ila yang sedang sibuk membaca buku sambil makan.
"Kalau makan ya makan, jangan makan sambil membaca buku." Ujar Galuh pada Ila.
Ila berdecak kesal sembari meletakkan buku yang di bacanya di atas meja.
"Besok buatkan aku nasi goreng seperti ini lagi." Pinta Galuh pada Ila.
"Iya." Sahut Ila singkat.
"Cepat habiskan makananmu, nanti kau terlambat." Kata Galuh.
Ila menatap Galuh yang hanya menggunakan baju kaos dan celana jeans saja.
"Apa kau tidak pergi bekerja? Sudah dua hari ini aku lihat kau dirumah saja." Tanya Ila pada Galuh.
"Apa kau lupa ingatan? Kita baru saja menikah, sudah pasti aku cuti dari kantor. Kau saja yang terlalu rajin ke sekolah." Sahut Galuh ketus.
Ila berdengus kesal mendengar jawaban ketus dari Galuh.
"Aku sangat menyesal telah bertanya padanya." Gumam Ila dalam hatinya.
Setelah selesai sarapan Galuh mengantar Ila untuk pergi ke sekolahnya. Di tengah perjalanan menuju ke sekolah, Ila lagi-lagi menyibukkan dirinya untuk membaca buku yang ia pinjam dari perpustakaan kota kemarin. Sesekali Galuh melirik pada Ila yang terlihat sangat fokus menatap bukunya.
"Ehem, Ila." Panggil Galuh.
"Iya." Sahut Ila menoleh pada Galuh yang sedang menyetir mobil
"Nanti sepulang sekolah kau ikut aku pergi berbelanja." Kata Galuh.
"Kakak mau membeli apa?" Tanya Ila.
"Peralatan dapur dan aku berniat untuk membelikanmu meja belajar." Jawab Galuh.
"Sungguh?" Tanya lla riang.
"Iya." Sahut Galuh melihat ekspresi wajah Ila yang seketika riang.
"Bahagia sekali dia! Padahal hanya sebuah meja belajar saja." Ucap Galuh dalam hatinya sesekali melirik Ila yang tampak senang.
Galuh menghentikan mobilnya di tempat yang kemarin. Ila kembali menyalami dan mencium tangan Galuh lalu keluar dari mobil. Galuh memanggil Ila yang masih berada di samping mobil.
"Ila, ini ATM untukmu. Di dalamnya ada uang yang bisa kau pergunakan." Kata Galuh memberikan sebuah kartu ATM miliknya kepada Ila.
Ila mengambil kartu ATM tersebut dengan ragu-ragu.
"Nomor sandinya tanggal, bulan dan tahun lahirmu." Kata Galuh lagi.
Sebelum Ila mengucapkan terima kasih padanya, Galuh langsung tancap pergi meninggalkan Ila yang bengong menatap kepergiannya.
Pagi itu Galuh berencana untuk pergi mengunjungi rumah orang tuanya setelah mengantar Ila ke sekolah.
__ADS_1
Galuh memarkirkan mobilnya di halaman depan rumah orang tuanya. Terlihat olehnya Hana sedang duduk santai bersama Antoni di teras rumah.
"Pagi, ma, pa." Sapa Galuh pada kedua orang tuanya.
"Apa kau datang hanya sendiri saja? Dimana Ila?" Tanya Antoni.
"Sekolah." Sahut Galuh singkat.
"Tapi papa sudah meminta izin pada kepala sekolahnya agar Ila libur selama dua minggu." Kata Antoni.
"Ila yang tidak mau izin! Baru sehari menikah dia langsung pergi ke sekolah." Ujar Galuh.
"Hei, apa kau sedang kesal karena tidak bisa berduaan terus dengan Ila?" Tanya Hana yang membuat semburat merah di pipi Galuh.
"Mama, apaan sih! Biasa saja." Sahut Galuh menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Galuh, papa dan mama sudah menyiapkan bulan madu untuk kalian." Kata Hana.
"Apa? Bulan madu?" Tanya Galuh.
"Iya! Kalian ini pengantin baru jadi harus pergi berbulan madu." Sahut Hana.
"Tidak usah lah, ma!" Kata Galuh menolak.
"Tidak ada penolakan!" Kata Antoni.
"Selalu saja memaksa." Gumam Galuh kesal pada kedua orang tuanya.
Galuh yang merasa kehausan sedari tadi menyambar kopi milik Antoni yang terletak di atas meja. Antoni hanya melirik putranya yang tidak meminta izin padanya terlebih dahulu untuk menyeruput kopi miliknya.
Tak lama kemudian keluarlah Roni yang masih menumpang di rumah Hana dan Antoni. Dengan mata pandanya Roni duduk bersandar pada Galuh.
"Apaan sih si ember bocor ini! Pergi jauh-jauh sana." Teriak Galuh yang tidak suka Roni menempel padanya.
"Aku sangat merindukanmu, sayang." Ucap Roni sambil membelai wajah Galuh.
"Najis!" Sahut Galuh memandang jijik pada prilaku Roni terhadapnya.
Galuh melihat lingkaran hitam pada kantung mata Roni.
"Apa kau habis bergadang?" Tanya Galuh.
"Apa hanya kau saja dokter kandungan yang ada di rumah sakit sebesar itu, hah?" Tanya Galuh lagi.
"Tentunya ada lebih dari dua dokter kandungan disana, namun karena wajahku sangat tampan aku sangat populer di kalangan ibu hamil dan membuat mereka ingin melahirkan dengan bantuanku." Sahut Roni.
Tiba-tiba Roni mendekatkan mulutnya pada telinga Galuh.
"Hei, bagaimana malam pertamamu? Apakah gadis kecil itu berteriak kesakitan atau mendesah kenikmatan?" Tanya Roni berbisik pada Galuh.
"Apa kau sangat ingin tau yang terjadi di malam pertamaku dengan gadis kecil itu?" Galuh balik bertanya.
"Tentu saja. Hehehe." Sahut Roni mengangguk cepat.
"Malam itu sangat panjang. Aku dan gadis kecil itu sedang melakukan itu di ranjang. Sangat panas dan liar. Gadis kecil itu berteriak kesakitan lalu tak lama kemudian dia mendesah kenikmatan saat aku menggelitik tubuhnya. Hihihihi." Kata Galuh mengelabui Roni.
"Hah, mendengar ceritamu aku jadi ingin segera kawin." Kata Roni.
"Nikah dulu, woi!" Sahut Antoni yang sejak tadi menguping pembicaraan anak dan keponakannya itu.
Galuh dan Roni kaget saat tau kalau Antoni sedang menguping dan mendengar pembicaraan mereka berdua.
"Apa om mendengar permbicaraan mesum kami?" Tanya Roni pada Antoni.
"Tentu saja! Hehehe." Sahut Antoni sambil melirik Galuh yang wajahnya kembali memerah menahan rasa malunya.
Antoni mendekat pada Galuh dan berbisik padanya. Roni yang berada di samping Galuh ikut menguping ucapan Antoni pada Galuh.
"Lanjutkan kerja kerasmu, nak! Papa akan menyiapkan minuman herbal untuk menjaga staminamu. Hehehe." Bisik Antoni.
"Hehehe, aku juga punya obat untuk menjaga stamina pria. Apa kau mau?" Tanya Roni meledek Galuh.
"Hah, kalian ini apaan sih!" Ujar Galuh bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam rumah.
Antoni dan Roni masih tertawa geli melihat ekspresi malu di wajah Galuh. Mereka sengaja mengatakan hal itu untuk membuat Galuh segera memiliki perasaan kepada Ila.
__ADS_1
Sepulang sekolah Ila menunggu Galuh untuk menjemputnya. Ila berdiri di pinggir jalan dimana tempat Galuh mengantarkannya pagi tadi. Tidak lama Ila menunggu Galuh datang untuk menjemput Ila. Ila masuk ke dalam mobil dan mencium tangan Galuh lagi.
"Apa kau ingin makan sesuatu?" Tanya Galuh.
"Tidak." Sahut Ila.
"Tapi kau belum makan siang kan?" Tanya Galuh lagi.
"Apa kau akan mengajakku makan siang di luar?" Ila balik bertanya.
"Iya lah, aku juga belum makan siang." Sahut Galuh.
"Ya sudah." Sahut Ila.
Galuh melajukan mobilnya pergi ke salah satu mall yang ada di kotanya. Disana ia mengajak Ila makan di salah satu resto yang ada di mall tersebut. Setelah perut keduanya kenyang, mereka pun berbelanja keperluan rumah tangga terutama untuk keperluan dapur. Segala macam keperluan di pilih oleh Ila yang saat itu masih menggunakan pakaian seragam sekolahnya. Salah satu karyawan di mall tersebut tersenyum melihat Ila yang berdiri di samping Galuh.
"Tuan, adik anda ini sungguh luar biasa! Dia sangat pintar memilih barang-barang keperluan dapur." Kata karyawan itu memuji Ila pada Galuh.
Galuh menatap karyawan itu dengan kesal.
"Dia ini istriku, bukan adikku!" Ujar Galuh yang membuat karyawan tersebut langsung jatuh pingsan karena terkejut mendengar ucapan Galuh mengenai status Ila yang sebenarnya.
Ila kaget melihat karyawan itu tergeletak pingsan di hadapannya. Karyawan tersebut langsung di gotong oleh karyawan lainnya untuk di beri langkah pertama dalam penanganan orang pingsan.
"Hei, kenapa kau bicara seperti itu tadi padanya?" Tanya Ila pada Galuh.
"Apa? Apa yang salah dari ucapanku tadi? Kau memang istriku." Sahut Galuh.
"Iya, tapi apa kau lupa kalau aku sedang memakai seragam sekolah?" Ujar Ila yang membuat Galuh langsung teringat kalau saat itu Ila masih menggunakan seragam sekolah.
"Hah, aku lupa!" Sahut Galuh.
"Pantas saja si karyawan itu pingsan. Hehehe." Sambung Galuh cengengesan.
Ila dan Galuh melanjutkan pencarian mereka di mall tersebut. Ila menghentikan langkahnya saat melihat meja belajar yang terpampang sebagai contoh di dalam sebuah toko yang menjual perlengkapan rumah tangga. Ila menarik tangan Galuh untuk mendekat ke toko itu.
"Kak, meja belajar itu sangat bagus." Seru Ila menatap meja belajar tersebut.
"Apa kau menyukainya?" Tanya Galuh.
"Iya." Sahut Ila.
"Baiklah, kita beli yang ini saja." Kata Galuh.
Hampir senja Galuh dan Ila kembali ke apartemen dengan barang belanjaan mereka yang sangat banyak. Ila berganti pakaian sedangkan Galuh memutuskan untuk beristirahat sejenak di sofa ruang tengah. Ila yang sudah berganti pakaian mengambil air minum dingin dari dalam kulkas. Ia juga memberikan air dingin itu kepada Galuh yang sedang beristirahat disana.
"Kak, ini minum lah dulu." Kata Ila menyodorkan air minum pada Galuh.
Galuh mengambil dan meminumnya. Ila kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Galuh melangkah masuk ke dalam kamar untuk pergi mandi sebelum makan malam nanti.
Selesai mandi Galuh yang akan mengambil pakaian di dalam lemari melihat meja belajar yang ia belikan untuk Ila. Ia mengingat kembali bagaimana sikap Ila terhadapnya di mall tadi siang. Ila tidak segan untuk menarik tangannya agar mendekat ke toko yang menjual meja belajar itu. Garis senyum terukir di bibir Galuh saat itu.
"Ila." Gumam Galuh senyum-senyum sendiri sembari memakai pakaiannya setelah mandi.
Tak lama kemudian, Galuh mendengar Ila memanggilnya untuk makan malam bersama. Galuh pun keluar dari kamar dan berjalan menuju ke ruang makan. Ila menyiapkan makanan yang sederhana untuknya. Mereka berdua pun makan bersama di ruang makan itu. Setelah makan malam, Ila mengambil beberapa buku pelajarannya dan belajar di meja belajar yang baru Galuh belikan untuknya. Galuh duduk di atas ranjang sambil memainkan ponselnya dan sesekali melirik Ila yang terlihat fokus pada buku yang sedang ia pelajari tersebut.
"Apakah setiap hari gurumu selalu memberikan PR padamu?" Tanya Galuh memulai obrolan.
"Tidak." Sahut Ila.
"Lalu apa yang sedang kau lakukan disana?" Tanya Galuh.
"Memperlajari materi untuk besok." Jawab Ila.
"Ila." Panggil Galuh.
"Iya." Sahut Ila menoleh padanya.
"Apa kau senang dengan meja belajar yang aku berikan?" Tanya Galuh.
"Tentu saja." Jawab Ila.
Galuh turun dari ranjang dan berjalan mendekat pada Ila yang hendak berdiri untuk mengambil buku di dalam tas sekolahnya. Galuh mendekapnya dari belakang.
"Lantas mengapa kau tidak mengucapkan apapun padaku?" Bisik Galuh pada telinga Ila.
"Hehehe, terima kasih ya kak." Ucap Ila.
Lagi-lagi Galuh kesal melihat senyuman canggung yang Ila berikan padanya.
"Senyumanmu jelek." Ujar Galuh membalikkan tubuh Ila menghadap dirinya.
__ADS_1
Ila kembali tersenyum kepada Galuh dan kali ini senyuman Ila sangat membius diri Galuh. Galuh menarik bagian kepala Ila dan segera mencium dirinya. Ila kaget saat Galuh mencium dirinya dengan secara tiba-tiba. Tangan Ila merem*as kerah baju yang Galuh pakai saat itu.
Jangan lupa vote untuk mendukung novel ini ya......Hehehehehe