GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
AMPUN, SAYANG!


__ADS_3

Galuh masuk ke dalam kamar setelah semua orang pulang dari apartemennya. Galuh menemui Ila yang sedang berbaring di atas ranjang. Ila melirik Galuh yang meletakkan sesuatu di dalam lemarinya. Namun saat itu Ila tak mencurigai mengenai benda tersebut.


Galuh menghampiri Ila yang berusaha untuk duduk. Galuh cepat-cepat mendekati Ila untuk membantunya duduk.


"Sayang, kenapa kau belum tidur?" Tanya Galuh sambil mengelus wajah Ila.


"Aku menunggu vitamin yang kau beli untukku! Mana vitaminnya?" Sahut Ila.


"Vitamin apa? Aku tidak beli vitamin!" Kata Galuh bingung.


"Tadi kata kak Roni, kau pergi membeli vitamin di apotek untukku!" Ucap Ila ikutan bingung sambil menatap wajah Galuh.


"Hehehe, aku berubah pikiran, sayang! Karena kata Galuh kau tidak perlu obat-obatan apapun." Sahut Galuh beralasan.


"Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kepalamu masih pusing?" Tanya Galuh.


"Sudah agak mendingan! Hanya saja aku merasa mual sekarang." Sahut Ila.


Galuh tersenyum tipis ketika Ila mengatakan bahwa dirinya sedang mual.


"Hehehe, dia pasti hamil! Wanita hamil pasti mual-mual." Gumam Galuh dalam hatinya.


"Akhirnya aku berhasil membuat Ila hamil! Hahaha, bayiku nanti pasti akan mirip denganku." Gumamnya lagi.


Ila menatap Galuh yang sedari senyum-senyum sendirian. Ila merasa keheranan melihat Galuh yang tampak bahagia saat itu.


"Kak, ada apa? Sepertinya kau sangat bahagia." Tanya Ila pada Galuh yang segera menghentikan angan-angannya.


"Tentu saja aku bahagia, istriku yang tercinta ini sudah menjadi wanita dewasa sekarang." Kata Galuh mengelus rambut Ila dengan lembut.


"Aku masih 18 tahun kak, belum bisa di katakan sebagai wanita dewasa." Sahut Ila.


"Hehehe, iya, terserah kau saja!" Sahut Galuh memeluk Ila sembari mencium ubun-ubunnya.


"Sekarang kau tidurlah!" Kata Galuh membaringkan Ila di sampingnya.


Galuh dan Ila pun berbaring bersama dan memejamkan mata mereka untuk tidur. Seharian Galuh dan Ila banyak melakukan aktifitas yang membuat tubuh mereka terasa lelah.


Keesokan paginya, Galuh bangun lebih awal karena ia ingin mencari cara untuk mengambil air seni milik Ila. Galuh turun dari ranjang dan mengambil wadah kecil untuk menampung air seni Ila ketika ia bangun dan beranjak ke kamar mandi. Galuh duduk di samping Ila untuk menunggunya bangun.  Tak lama Ila pun terbangun dan mengucek matanya melihat Galuh yang tersenyum lebar padanya.


"Tumben sekali kau sudah bangun!" Kata Ila pada Galuh.


"Iya, entah mengapa aku tadi terbangun lebih awal." Sahut Galuh.


"Aku mau pipis!" Ucap Ila hendak turun dari ranjang.


"Sayang, kalau kau mau pipis tampung pakai ini." Kata Galuh menyerahkan wadah kecil pada Ila.


"Untuk apa? Kan jorok!" Tanya Ila.


"Aduh, mampus aku! Jawab apa ini?" Gumam Galuh dalam hatinya.


Tiba-tiba saja ada ide dalam otak Galuh yang mengalir begitu saja.


"Sayang, kata Roni tubuhmu lemah, jadi kau harus di periksa oleh dokter! Maka dari itu kau harus tampung air senimu untuk di uji di laboratorium rumah sakit." Kata Galuh memperdayai Ila.


"Eh, kalau mau periksa penyakit, bukannya pakai darah ya?" Tanya Ila bingung.


"Hahaha, kau pintar juga ya! Tapi kalau pakai air seni juga bisa sayang, jadi kau tidak perlu ke rumah sakit untuk pengambilan darahmu." Kata Galuh memutar otaknya untuk berpikir.


"Bukannya hari ini kau akan belajar dengan guru privatmu? Kau pasti tidak akan sempat ke rumah sakit." Sambung Galuh lagi.


"Oh, begitu! Ya sudah, sini wadahnya." Kata Ila mengambil wadah kecil itu dan masuk ke dalam kamar mandi.


Selang beberapa menit, Ila keluar dengan air seni yang sudah terisi di dalam wadah tersebut. Galuh mengambil wadah itu tanpa ada rasa jijik sedikitpun.


"Sayang, aku mau kopi! Tolong buatkan ya." Pinta Galuh pada Ila agar Ila turun ke dapur.


"Iya, baiklah!" Sahut Ila keluar dari kamar dan pergi ke dapur.


Melihat Ila sudah tidak berada di kamar itu lagi, Galuh cepat-cepat mengambil alat tes kehamilan itu dan mencelupkannya ke wadah yang berisi air seni Ila. Selang beberapa detik Galuh melihat garis merah yang ada di alat itu.


"Roni bilang, kalau garisnya dua makan Ila hamil." Gumam Galuh memperhatikan alat tersebut.


"Wah, garis dua!" Teriak Galuh kegirangan.


Sadar Ila akan mendengar teriakannya, Galuh cepat-cepat menutup mulutnya dengan segera. Galuh melompat-lompat kegirangan karena ia mengetahui kalau Ila sedang mengandung bayinya. Galuh tak lupa berucap syukur atas rezeki yang di berikan oleh sang maha pencipta untuknya.


Galuh menyimpan hasil testpack itu di dalam laci lemari. Ia pun membuang air seni itu. Galuh meraih ponselnya dan menghubungi Roni.

__ADS_1


"Ron, sebentar lagi aku jadi ayah!" Seru Galuh memelankan suaranya.


"Wah, anaknya pasti akan mirip dengan Ila!" Sahut Roni membuat Galuh jengkel.


"Hei, aku ayahnya jadi bayiku harus mirip denganku!" Balas Galuh tak senang.


"Tidak semudah yang katakan itu, furgoso! Kita lihat saja nanti, gen siapa yang akan lebih kuat?" Kata Roni.


"Ah, sudahlah! Jadi seterusnya apa yang akan aku lakukan?" Tanya Galuh.


"Ila itu masih belia, kandungannya juga masih rentan! Jadi kau harus menjaganya dengan baik. Jangan biarkan Ila terlalu banyak melakukan aktifitas." Kata Roni.


"Berarti aku harus bayar jasa pelayan!" Ucap Galuh.


"Tidak usah! Bawa saja Ila tinggal di rumah orang tuamu, disini kan banyak pelayan. Lagipula tante Hana pasti akan menjaga Ila dengan baik." Kata Roni memberikan ide yang cemerlang.


"Hahaha, ide yang kau berikan ada baiknya juga! Tumben kau pintar." Kata Galuh tertawa.


"Hei, aku ini memang pintar sejak lahir!" Teriak Roni kesal.


Tut...tut...tut...tut ..


Sambungan telepon putus begitu saja. Galuh memutuskan sambungan telepon selulernya begitu saja tanpa aba-aba apapun pada Roni.


"Aaarrgghhh, sialan kau Galuh! Seenakmu saja memutuskan sambungan telepon!" Teriak Roni kesal pada sepupunya itu.


 


*****


Galuh hendak keluar dari kamar setelah ia menghubungi Roni. Ia terkejut melihat Ila yang berdiri di depan pintu kamar dengan memegang gelas yang berisi kopi pesanannya. Galuh melirik Ila yang tampak akan menangis saat itu.


"Ko..kopinya sudah siap, ya?" Kata Galuh gugup takut Ila mendengar percakapannya tadi bersama Roni melalui ponselnya.


Ila memberikan kopi itu tanpa mengatakan apa-apa. Ila segera pergi setelah memberikan kopi itu pada Galuh. Galuh menatap Ila yang pergi begitu saja.


"Kenapa dia? Kenapa tiba-tiba sikapnya berubah?" Pikir Galuh dalam hatinya.


Galuh menyeruput kopinya, sembari sesekali melirik Ila yang sedang menyiapkan sarapan di dapur. Galuh duduk di kursi yang ada di dapur tersebut. Galuh bingung dengan sikap Ila yang berubah pagi itu. Ila terus saja diam dengan wajah yang sedikit kesal.


"Sepertinya dia sedang kesal! Tapi kenapa? Apa jangan-jangan bawaan bayi?" Galuh terus berpikir saat melihat sikap dan wajah Ila yang berubah menjadi sedikit angker.


"Sayang, apa kau tidak kangen pada mama dan papa?" Tanya Galuh.


"Semalam kan sudah ketemu!" Sahut Ila ketus.


"Eemm, tapi katanya mama dan papa masih kangen padamu!" Kata Galuh berniat untuk mengelabui Ila lagi.


Ila diam saja dan terus memotong-motong bahan makanan yang akan ia masak.


"Sayang, bagaimana kalau kita pindah ke rumah orang tuaku?" Tanya Galuh.


"Kenapa tiba-tiba ingin pindah?" Tanya Ila sambil memegang pisau dengan erat.


"Ya, supaya mama dan papa bisa dekat dengan kita." Sahut Galuh asal menjawab.


"Aku tidak mau!" Sahut Ila ketus.


Galuh menatap Ila yang sedari tadi ketus padanya.


"Mampus aku! Dia menolak." Gumam Galuh frustasi.


Galuh mendekat pada ila dan berniat untuk membujuknya.


"Sayang, aku rasa sebaiknya kita pindah ke rumah orang tuaku saja! Mama dan papa kesepian, loh." Kata Galuh berupaya untuk membujuk Ila.


Ila berbalik masih dengan pisau yang ada di tangannya.


"Jujur padaku! Apa yang kau sembunyikan?" Tanya Ila pada Galuh.


"Tidak ada!" Sahut Galuh masih tak mau jujur pada Ila.


Ila mengarahkan mata pisau itu ke perutnya. Galuh panik melihat Ila yang seakan sedang mengancamnya.


"Kalau kau tidak mengatakan yang sejujurnya, maka aku akan menancapkan pisau ini ke perutku!" Ancam Ila pada Galuh.


"Ampun, sayang! Aku sudah kebelet ingin punya anak bersamamu!" Ucap Galuh seraya berlutut di hadapan Ila.


"Aku sengaja membiarkanmu tidak suntik kontrasepsi lagi, agar kau bisa cepat hamil! Tapi semua itu tidak sepenuhnya salahku! Kau juga salah, karena saat kau amnesia kau sendiri yang tidak mau suntik kontrasepsi. Kau bilang kau takut pada jarum suntik." Sambung Galuh lagi menjelaskan yang sebenarnya.

__ADS_1


Ila meletakkan pisau dapur itu sambil tertawa karena Galuh berlutut dan minta ampun padanya. Ila tak menyangka bahwa pria yang semulanya dingin dan menjengkelkan itu berlutut di hadapannya.


Galuh mendongak ke atas melihat Ila tertawa padanya.


"Hahaha, sayang! Kau tidak marah kan?" Tanya Galuh ragu-ragu sambil berdiri.


"Untuk apa aku marah, sayang? Seharusnya kita berbahagia kan, karena sebentar lagi akan ada tangisan bayi disini." Sahut Ila yang sebenarnya juga ingin memberikan keturunan untuk Galuh.


"Hahaha, kau benar, sayang! Kita akan menjadi orang tua." Seru Galuh mengangkat tubuh Ila ke atas.


Galuh dan Ila sangat bahagia karena sebentar lagi mereka akan memiliki seorang anak dari hasil pernikahan mereka yang belum genap setahun.


"Jangan menyembunyikan apapun lagi dariku!" Kata Ila manja pada Galuh.


"Tidak akan lagi! Aku terpaksa melakukannya agar kau tidak marah padaku! Karena kita kan sudah sepakat untuk menundanya waktu itu." Sahut Galuh.


"Sebenarnya, aku sudah curiga kalau aku sedang hamil! Beberapa hari yang lalu aku sering cepat lelah dan juga mual-mual serta pusing. Aku browsing di google, gejala seperti itu kemungkinan saja hamil. Tapi aku juga tidak mau mengatakannya padamu, aku takut salah! Karena aku pikir aku masih suntik kontrasepsi." Kata Ila menjelaskan kecurigaannya.


"Tadi saat kau meminta air seniku, aku juga curiga kau memikirkan hal yang sama denganku! Di tambah lagi aku sempat menguping pembicaraanmu dengan kak Roni saat aku akan mengantarkan kopi." Sambung Ila.


"Dasar istri nakal! Beraninya kau menguping diam-diam!" Ujar Galuh melotot pada Ila.


"Hehehe, maaf! Aku kan hanya penasaran saja." Sahut Ila cengengesan.


"Sekarang siapkan pakaianmu, dan mulai hari ini kita akan tinggal dirumah orang tuaku sampai anak kita lahir." Kata Galuh.


"Iya!" Sahut Ila.


Hari itu, Galuh tidak masuk ke kantor karena ia akan membawa Ila pindah ke rumah orangtuanya. Setelah sarapan mereka pun bergegas pergi dengan membawa pakaian yang tidak terlalu banyak. Beberapa menit kemudian, tibalah Galuh dan Ila di kediaman orang tuanya. Hana yang sudah tau kabar bahagia itu menyambut kedatangan mereka penuh kegembiraan. Hana mengelus perut Ila yang masih rata.


Hana dan Antoni memberikan segalanya yang terbaik untuk Ila yang sedang mengandung cucu mereka. Galuh merasa tak perlu khawatir jika Ila tinggal bersama dengan kedua orangtuanya dirumah itu.


 


*****


Beberapa hari kemudian, Galuh pulang dari kantor dengan membawa segudang perlengkapan bayi. Galuh yang begitu antusias atas kehamilan Ila, berbelanja keperluan bayi yang begitu banyak. Hana dan Antoni tercengang melihat barang perlengkapan bayi yang di beli Galuh hari itu.


"Banyak sekali!" Kata Hana tercengang melihat barang perlengkapan bayi itu.


"Hehehe, aku ini calon ayah yang baik! Jadi aku harus memberikan apapun yang diperlukan oleh bayiku." Sahut Galuh membanggakan dirinya sendiri.


"Astaga, Galuh! Usia kandungan Ila masih 6 minggu, tapi kau sudah belanja begitu banyak barang." Kata Antoni auto tepok jidat.


"Iya! Lalu semua warnanya biru pula. Seperti tau saja kalau bayinya laki-laki." Sahut Hana.


"Papa, mama! Aku kan sudah bilang kalau aku ini adalah calon ayah yang baik, jadi aku tau segalanya. Sudah pasti bayiku laki-laki." Kata Galuh percaya diri.


"Eh, Ila mana ma?" Tanya Galuh.


"Pergi mengunjungi Yurika!" Sahut Hana.


"Kenapa mama biarkan Ila pergi sih? Ila kan lagi hamil ma!" Teriak Galuh panik.


"Hei, Ila itu memang sedang hamil, tapi bukan berarti kau mengurungnya dirumah, Galuh!" Teriak Hana ikut kesal.


"Lagian Didi yang akan mengantar jemput Ila, jadi kau tidak perlu khawatir!" Sambung Hana lagi.


Galuh tak perduli dengan teriakan Hana padanya. Ia mengambil ponsel di saku celananya dan segera menghubungi Ila yang pergi mengunjungi Yurika. Melalui ponselnya Galuh menyuruh Ila untuk segera kembali ke rumah. Galuh seakan tidak bisa tenang, jika tidak melihat Ila yang sedang mengandung anak pertamanya itu.


Hana dan Antoni menghela nafas melihat Galuh sedari tadi mondar-mandir tak jelas. Mereka seakan pusing melihat Galuh terus saja mondar-mandir menunggu kepulangan Ila.


"Hei, Galuh duduklah!" Kata Antoni pada putra tunggalnya itu. Galuh tak menggubris perkataan Antoni sedikitpun. Ia terus saja mondar-mandir di rumah tengah itu.


"Apa kau tidak bisa tenang, Galuh?" Kata Hana menimpali.


"Bagaimana kau bisa tenang ma? Aku sangat khawatir pada Ila yang pergi dengan kondisi hamil seperti itu." Sahut Galuh yang tingkat khawatirnya sedikit agak berlebihan.


"Ila pergi mengunjungi mamanya, bukan pergi berperang!" Sambung Antoni kesal pada Galuh.


"Huh, tetap saja aku khawatir!" Sahut Galuh.


Tak lama terdengar suara mobil yang baru saja tiba di halaman rumah. Galuh berlari keluar dan menghampiri Ila yang baru saja turun dari mobil.


"Sayang, apa kau tidak apa-apa? Apa kau lelah? Apa kau merasa pusing atau mual-mual?" Tanya Galuh panik sekaligus khawatir.


Ila menatap wajah Galuh yang seperti orang kerasukan. Ila meletakkan punggung telapak tangannya ke dahi Galuh lalu ia pun bergeleng-geleng.


"Tidak panas!" Gumam Ila.

__ADS_1


Galuh bingung dengan sikap Ila yang begitu santai menghadapinya. Ila kemudian berlalu masuk ke dalam rumah dengan membawa beberapa barang belanjaan yang ia beli di mall bersama Yurika. Galuh terdiam dan membatu karena Ila tidak menanggapi pertanyaan yang ia lontarkan tadi. Didi sang supir, ngakak jungkir balik melihat ekspresi Galuh yang terdiam di halaman rumah.


__ADS_2