GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
CANDLE LIGHT DINNER


__ADS_3

Malam harinya Galuh pulang ke rumah usai bekerja di kantornya. Saat itu ia merasakan ada yang berbeda dengan hari-hari biasanya. Biasanya Ila selalu menyambut kepulangannya dari kantor setiap hari dengan senyuman yang paling manis, namun malam itu tak Galuh dapatkan dari istrinya tersebut.


"Kemana dia? Kenapa tidak menyambut kepulanganku?" Gumam Galuh sambil melangkah naik ke lantas atas untuk menuju ke kamarnya.


Saat Galuh membuka pintu kamarnya, ruangan itu tampak remang-remang karena di sinari oleh cahaya lilin yang menyala di balkon. Galuh masuk ke dalam kamar dan menoleh pada pintu balkon yang terbuka lebar. Ia begitu penasaran untuk segera melihat apa yang ada di balkon kamarnya tersebut.


"Wah, indah sekali!" Gumam Galuh berseru dalam hatinya menatap begitu banyak lilin dan juga hiasan-hiasan indah di balkon tersebut.


"Happy birthday, my hubby!" Ucap Ila dari arah belakang Galuh.


Galuh pun menoleh kebelakang dan melihat istrinya yang telah berdandan cantik dengan gaun sexy berwarna merah. Ia tersenyum dan menghampiri istrinya tersebut.


"Kau menyiapkan semuanya?" Tanya Galuh.


"Idenya sih iya, tapi mama dan yang lainnya ikut membantu." Sahut Ila.


"Apa kau suka?" Tanya Ila.


"Tentu saja! Ini kali pertama perayaan ulang tahunku yang begitu membuat hatiku bahagia." Sahut Galuh.


"Terima kasih, imutku!" Ucap Galuh seraya mengecup bibir merah Ila.


"Hah, syukurlah kau menyukainya." Kata Ila.


"Ayo kita dinner!" Ajak Ila pada Galuh yang baru saja kembali bekerja dengan penat yang seketika hilang setelah dihadiahi kesan yang begitu indah dari sang istri.


Galuh dan Ila pun duduk saling berhadapan di meja bulat yang sudah tersedia makanan mewah yang Ila pesan dari restoran. Galuh menatap makanan tersebut yang ia tau bukan masakan istrinya.


"Aku tak yakin ini masakanmu. Hehehe." Kata Galuh.


"Iya! Hahahaha, aku memesannya dari restoran." Sahut Ila tertawa.


"Maaf ya, aku tak bisa masak makanan mewah ala-ala restoran." Ucap Ila.


"Tidak apa-apa, sayang! Aku tak menuntutmu banyak." Sahut Galuh sambil mengelus wajah Ila.


Galuh dan Ila pun makan malam berdua dengan romantis walaupun mereka melakukannya di balkon kamar mereka. Hal itu karena Galuh selalu membatasi gerak Ila untuk berpergian disaat sedang mengandung buah hati mereka yang kedua.


Sambil berbincang ringan dan mengutarakan perasaan mereka yang menambah kesan semakin romantis, Ila memberikan sebuah kotak kecil yang telah terbungkus rapi dengan pita berwarna biru.


"Kak, ini hadiah untukmu." Kata Ila memberikan kotak hadiah itu pada Galuh.


"Apa ini?" Tanya Galuh.


"Bukalah." Sahut Ila.


Galuh pun membuka hadiah yang diberikan oleh Ila padanya. Ia menatap Jam tangan mewah dan bermerk yang Ila beli seminggu sebelum hari ulang tahunnya.


"Jam ini harganya sangat mahal, sayang!" Ucap Galuh.


"Iya! Apa kau suka?" Tanya Ila.


"Tentu saja!" Sahut Galuh.


"Terima kasih, sayang! Kau memang imutku yang paling aku cintai." Ucap Galuh.


"Aku memberikan jam itu padamu, agar kau selalu ingat waktu untuk kembali pulang kerumah dan berkumpul dengan keluarga kecil kita." Kata Ila.


Galuh tersenyum sembari mengelus wajah Ila yang menatapnya penuh cinta. Lalu tiba-tiba Galuh bangkit dari duduknya dan mengajak Ila untuk bangkit juga.


"Eh, ada apa?" Tanya Ila bingung.


"Agar semakin lengkap candle light dinnernya, maka kita harus berdansa." Kata Galuh.


"Hehehe, tapi musiknya mana?" Tanya Ila sambil terkekeh geli.

__ADS_1


Galuh meriah ponselnya dan menyalakan alunan musik yang romantis. Galuh melingkarkan kedua tangan kekarnya pada pinggang Ila, sementara itu Ila mengalungkan kedua tanganya pada leher Galuh. Mereka berdua bergerak santai sambil menyesuaikan diri mereka dengan irama musik yang mengalun. Malam yang tampak terang di penuhi oleh cahaya bintang itu menjadi saksi akan perasaan cinta keduanya.


 


*****


Beberapa bulan kemudian, Galuh dan Ila pergi kerumah sakit untuk menjenguk Kania yang sudah melahirkan buah cintanya bersama Hamka. Bayi mereka kembar laki-laki yang diberi nama Haikal dan Hakim. Bayi kembar laki-laki tersebut begitu membuat gemas Ila yang ingin menciumnya.


"Wah, sekali tancap dapat dua!" Seru Galuh pada sahabatnya itu.


"Iya dong! Hamka gitu loh!" Sahut Hamka membanggakan dirinya.


"Kalian juga akan segera memiliki anak yang kedua." Sambung Kania.


"Iya!" Sahut Galuh.


"Apa kau sudah tau jenis kelaminya?" Tanya Kania pada Ila yang sedari tadi sibuk bermain dengan bayi kembar tersebut.


"Sudah! Kata kak Roni, bayiku perempuan." Sahut Ila senang.


"Wah, sepasang dong!" Seru Hamka.


"Iya!" Sahut Galuh.


"Semoga saja wajahnya nanti mirip Ila!" Ucap Hamka.


"Kenapa jika mirip denganku?" Tanya Galuh.


"Jelek!" Ledek Hamka.


"Huh, seperti rupamu bagus saja! Kania mau denganmu karena kau mati-matian mengejarnya. Iya kan Kania?" Balas Galuh.


"Yoi!" Sahut Kania.


"Hei, kenapa kau tidak membelaku, ibu polwan?" Gerutu Hamka sewot.


"Huh, dasar kau!" Gerutu Hamka lagi pada Kania.


Tak lama masuklah Syakir dan Kia yang kebetulan juga menjenguk Kania yang baru saja melahirkan dirumah sakit secara caesar. Tampak Kia sedang membawa keranjang buah serta hadiah untuk bayi kembar laki-laki itu. Kia yang belum juga mengandung setelah menikah dengan Syakir tampak gemas melihat bayi kembar yang ada di gendongan Ila dan yang satunya lagi di dekapan Kania.


"Gemasnya!" Ucap Kia mengelus pipi bayi yang ada pada dekapan Kania.


"Ayo gendonglah bayiku!" Kata Kania memberikan salah satu bayinya pada Kia.


"Aku takut bayinya jatuh!" Kata Kia ragu-ragu.


"Kalau kau menggendongnya dengan benar, pasti tidak akan jatuh!" Kata Kania.


"Eeemm, baiklah!" Sahut Kia mengambil secara perlahan bayi yang diberikan oleh Kania padanya.


Syakir menatap mata Kia berkaca-kaca saat menggendong salah satu bayi kembar Hamka dan Kania tersebut. Ia tau perasaan istrinya yang begitu menginginkan kehadiran seorang bayi pada usia pernikahan mereka yang sudah lebih dari setahun. Kia melebarkan senyumannya tatkala bayi yang ada dalam gendongannya itu bergerak dan menyentuh pipinya.


"Huhuhu, pengen banget punya bayi!" Seru Kia menangis sangking terharunya.


"Sabarlah! Semoga setelah kau menggendong bayiku, kau akan segera memiliki anak yang banyak." Ucap Kania.


"Amiiiiinn!" Sahut Syakir bersemangat.


"Jangan aminnya saja yang semangat, genjotannya juga harus semangat." Kata Galuh meledek Syakir.


"Iya, yang dikatakan Galuh benar! Lihat tuh perut si Ila buncit gara-gara Galuh menggenjotnya setiap malam!" Seru Hamka meledek Galuh.


"Betuuullll!" Seru Ila menimpali ledekan Hamka terhadap suaminya.


"Hei, kenapa kau ikut meledekku, Ila?" Gerutu Galuh sewot pada Ila.

__ADS_1


"Aku bicara apa adanya saja!" Sahut Ila santai.


"Kalau begitu mulai malam nanti, aku akan menggenjot Kia hingga nafas penghabisanku!" Seru Syakir dengan semangat yang begitu menggebu-gebu.


"Haaaaahhh, habislah aku!" Gumam Kia menghela nafas panjang sambil geleng kepala melihat semangat suaminya itu.


"Hahaha, Kia lembur!" Seru Ila dan Kania menertawainya.


 


Setelah menjenguk Kania, Kia dan Syakir masuk ke dalam mobil mereka untuk kembali pulang kerumah. Saat Syakir akan menyalakan mesin mobilnya, Kia menyentuh lengan kekar suaminya itu.


"Kak, maaf ya! Sampai sekarang aku belum bisa menjadi istri yang sempurna untukmu." Ucap Kia pada Syakir dengan raut wajah yang sedih.


"Hei, kenapa kau bicara seperti itu?" Tanya Syakir.


"Sudah setahun lebih kita menikah, tapi aku belum juga memberikanmu anak." Sahut Kia.


"Sayang! Masih banyak orang-orang sama seperti kita. Bahkan ada yang hingga dipenghujung usianya, mereka tidak memiliki keturunan." Kata Syakir sembari mengelus wajah wanita yang ia cintai itu.


"Pernikahan tak selamanya bahagia karena kehadiran momongan! Semua orang memilih dengan caranya sendiri untuk bahagia bersama pasanganya." Sambung Syakir lagi.


"Aku takut kau kecewa padaku." Kata Kia.


"Kenapa kau berpikir seperti itu? Kita belum pernah memeriksakan kesehatan kita berdua pada dokter. Belum tentu kau yang bermasalah." Sahut Syakir.


"Aku tidak mau diperiksa! Aku yang bermasalah." Kata Kia.


"Oh ayolah, Kiki! Jangan langsung mengambil kesimpulan seperti itu." Kata Syakir.


"Kita coba konsultasi pada Roni, ya?" Ajak Syakir membujuk Kia.


"Aku takut." Sahut Kia menolak.


"Kita coba dulu." Kata Syakir terus membujuk Kia.


"Kau cinta padaku, kan?" Kata Syakir lagi.


Akhirnya Kia pun mau pergi berkonsultasi kepada Roni sebagai sahabat suaminya yang berprofesi sebagai dokter kandungan. Membuat jadwal dengan Roni, Kia dan Syakir pun datang ke tempat praktik sang dokter kandungan itu. Roni melihat Kia tampak gelisah saat akan diperiksa olehnya.


"Tenanglah!" Kata Roni pada Kia.


"I...iya." Sahut Kia.


Roni tampak tenang melakukan USG pada rahim Kia untuk memeriksa kesehatannya.


"Apa ada penyakit?" Tanya Kia.


"Tidak! Rahimmu sehat." Sahut Roni setelah selesai memeriksanya.


Kemudian, Roni dan Kia serta Syakir duduk bersama untuk berkonsultasi.


"Kalau begitu apa yang membuat kami belum mendapatkan momongan hingga sekarang?" Tanya Syakir pada Roni.


"Aku belum bisa memastikannya sebelum kau juga diperiksa." Sahut Roni.


"Aku diperiksa juga?" Tanya Syakir.


"Iya! Apa kau pikir kemandulan itu hanya berasal dari wanita saja?" Sahut Roni.


"Baiklah, kapan kau akan memeriksaku?" Tanya Syakir.


"Besok datanglah kerumah sakit dan bawa carianmu!" Sahut Roni.


"Ca..cairan?" Seru Kia dan Syakir serentak kaget.

__ADS_1


"Iya! Kalau bisa yang masih baru keluar." Kata Roni lagi.


Kia dan Syakir saling menatap bingung untuk melakukan hal yag dikatakan oleh Roni tersebut. Namun karena Syakir memiliki tekad yang kuat apapun akan ia lakukan demi mengetahui alasan dibalik penyebab dirinya dan Kia belum juga memiliki momongan.


__ADS_2