
Selesai membersihkan diri Galuh dan Ila duduk di ruang makan untuk menyantap makan siang mereka yang di pesan Galuh melalui delivery. Galuh duduk santai di hadapan Ila, sedangkan Ila duduk dengan perasaan yang sangat canggung. Sesekali Galuh meliriknya yang membuat jantung Ila deg-degan.
"Hehehe, dia masih terlihat malu-malu padaku, membuatku semakin gemas saja padanya." Gumam Galuh dalam hatinya.
Ila membalas lirikan Galuh dengan cara mencuri-curi pandang.
"Huh, dia terus saja melirikku! Membuatku jadi semakin canggung saja." Gumam Ila dalam hatinya.
Galuh dan Ila terus menyantap makan siang mereka dengan suasana yang sangat hening. Tidak ada obrolan ringan disana. Tak lama kemudian terdengar suara bel pintu dari luar. Ila melangkah ke depan untuk membukakan pintu. Terlihat Didi sang supir Galuh datang untuk menemuinya.
"Hai, kakak tampan! Apa kau sudah makan siang?" Sapa Ila basa basi.
"Sudah, aku sudah makan siang tadi di rumah nyonya bos (Hana)." Sahut Didi.
"Masuklah! Kau pasti ingin bertemu dengan kak Galuh kan." Kata Ila.
"Of course! Hehehe." Sahut Didi.
Ila dan Didi berjalan menuju ke ruang makan untuk menemui Galuh yang baru saja selesai makan. Galuh melhat Didi yang datang dengan maksud untuk menyampaikan hasil pekerjaan yang diperintahkan olehnya. Tidak ingin Ila mengetahui pembicaraan mereka, Galuh menggiring Didi di salah satu ruang yang biasa digunakan Galuh untuk melakukan pekerjaannya.
"Bagaimana? Apakah ada hasil?" Tanya Galuh pada Didi.
"Maaf, bos! Untuk pertama kalinya aku mengecewakanmu. Aku sudah menyelediki semuanya, namun tidak ada hasil apapun. Tidak ada yang mau bicara ataupun buka mulut mengenai rahasia yang ada di kediaman nyonya Yurika." Jawab Didi.
Galuh menghela nafas dengan berat sambil duduk di kursinya.
"Apakah ada kejanggalan yang kau temui selama kau menyelidikinya?" Tanya Galuh.
"Aku merasa seperti ada yang menutupi sebuah rahasia besar di sana. Namun yang jadi masalahnya adalah aku belum mengetahui rahasia besar itu, bos." Sahut Didi.
"Terus selidiki." Perintah Galuh.
"Bos, ada hal menarik dalam hal ini." Kata Didi.
"Apa itu?" Tanya Galuh.
"Nona Kia bukan putri kandung nyonya Yurika." Kata Didi.
"Lantas?" Tanya Galuh mengernyitkan dahinya.
"Nona Kia adalah anak dari adik kandungnya nyonya Yurika yang sudah meninggal akibat kecelakaan pesawat beberapa tahun yang lalu." Jawab Didi.
"Jadi maksudmu Kia hanya seorang keponakan?" Tanya Galuh lagi.
"Iya benar, bos!" Sahut Didi.
"Baiklah, lanjutkan penyelidikanmu tentang rahasia besar mereka. Aku yakin suatu saat kita akan segera mengetahuinya." Kata Galuh.
"Baik, bos." Sahut Didi.
Ila menuju keruangan dimana Didi dan Galuh sedang berbincang dengan membawa dua cangkir kopi untuk mereka. Namun saat tiba disana, ia tidak melihat Didi lagi. Di ruangan itu hanya ada Galuh yang sedang duduk sendirian. Ila melihat Galuh sedang memikirkan sesuatu.
"Dimana kakak tampan?" Tanya Ila pada Galuh.
"Dia sudah pergi." Sahut Galuh.
"Cepat sekali dia pergi. Aku baru saja akan memberikan kopi padanya." Kata Ila.
"Dia sedang banyak pekerjaan jadi dia sibuk." Sahut Galuh.
"Bukannya dia seorang supir, bagaimana bisa dia mempunyai banyak pekerjaan?" Tanya Ila bingung dengan status Didi yang sebenarnya.
"Didi itu orang kepercayaanku, dia sangat multitalenta." Kata Galuh.
"Ya sudahlah, kalau begitu kopi ini kau minum saja dua-duanya." Kata Ila menyodorkan dua gelas kopi buatannya.
"Kalau aku minum semuanya, aku tidak akan bisa tidur nanti malam." Sahut Galuh.
Galuh bangkit dan mendekati Ila yang berdiri di hadapannya. Galuh memeluk tubuh Ila yang membuat jantung Ila kembali deg-degan.
"atau memang itu ynag kau inginkan! Kau ingin aku tidak tidur semalaman agar aku bisa mengganggumu, kan?" Bisik Galuh pada Ila.
"Kau...kau sangat mesum!" Ujar Ila mendorong tubuh Galuh agar terlepas darinya.
Ila berjalan cepat keluar dari ruangan itu agar terhindar dari Galuh, namun Galuh lebih cepat gerak untuk menarik tangan Ila.
"Kau mau kemana?" Tanya Galuh kembali mendekap Ila.
"Aku mau belajar untuk persiapan olympiade bulan depan." Jawab Ila dengan wajah sangat merah.
"Huh, apa kau hanya tau belajar saja, hah?" Teriak Galuh mulai kesal.
"Tentu saja! Aku ini seorang pelajar, apa kau lupa?" Sahut Ila.
"Tapi kau juga seorang istri, apa kau sudah hilang ingatan?" Teriak Galuh lagi.
Ila kembali berdecak kesal melihat sikap Galuh yang mulai menunjukkan sifat aslinya yaitu pria pemaksa.
"Dasar pria pemaksa!" Gumam Ila dalam hatinya.
"Oh iya, Ila. Hari sabtu nanti kita akan pergi ke Turki untuk berbulan madu." Kata Galuh yang masih enggan melepaskan pelukannya dari tubuh Ila.
"Apa? Bulan madu?" Teriak Ila terkejut.
"Ada apa? Kenapa kau terkejut seperti itu? Apa ada masalah?" Tanya Galuh.
"Berapa lama kita disana?" Tanya Ila.
"Mama dan papa menyiapkannya untuk seminggu, tapi aku mau kita di sana selama dua minggu, hehehe." Jawab Galuh.
Tiba-tiba Ila menangis sekencang-kencangnya membuat Galuh panik.
"Kenapa?" Tanya Galuh panik.
"Bagaimana dengan sekolahku? Sabtu depan aku ada pertandingan matematika dengan sekolah lain." Kata Ila menangis.
"Aarrgghh, sekolah lagi sekolah lagi yang tangisi! Apa tidak ada hal lainnya yang kau sukai selain belajar dan sekolah?" Teriak Galuh frustasi menikahi seorang gadis yang masih berstatus pelajar.
"Huhuhu, tapi aku suka pertandingan." Sahut Ila menangis.
"Hah, baiklah! Setelah kau selesai pertandingan kita akan berangkat ke turki." Kata Galuh mengalah.
"Bagaimana dengan olympiadenya?" Tanya Ila mengusap air matanya.
__ADS_1
"Kapan olympiadenya?" Galuh balik bertanya.
"Bulan depan." Jawab Ila.
"Masih lama! Kenapa kau harus menangis sekarang?" Teriak Galuh lagi hilang kesabaran.
"Tapi aku harus mempersiapkannya." Sahut Ila.
"Kau tidak bisa menolak! Aku dan kau harus pergi berbulan madu." Ujar Galuh memaksa Ila.
Galuh melepaskan pelukannya dari tubuh Ila dan kembali duduk di kursinya.
"Baiklah, obrolan kita selesai! Hehehe." Kata Galuh cengengesan.
Ila menatapnya dengan sangat kesal.
"Kenapa jadi seperti ini sih? Katanya dia menolak pernikahan ini, tapi kenapa sekarang dia tiba-tiba menjadi suami yang baik, bahkan dia menyatakan cintanya tadi. Apa dia sudah gila? Sejak kapan dia memiliki perasaan padaku? Dasar pria aneh!" Gumam Ila memikirkan sikap Galuh padanya.
Ila keluar dari ruangan itu dan masuk ke dalam kamarnya. Ia duduk di meja belajarnya dengan membuka lembaran buku pelajaran yang akan di pelajarinya untuk persiapan pertandinganya dengan sekolah lain hari sabtu.
Galuh masih duduk di ruangannya sambil memangku kepala dengan satu tangan kanannya.
"Hehehe, aku dan Ila akan bersenang-senang di turki." Ucap Galuh kegirangan sambil memikirkan apa yang akan ia lakukan pada Ila di sana. Semburat merah menghiasi pipi Galuh saat memikirkan tentang Ila.
Keesokan paginya Ila pergi kesekolah seperti biasanya dengan diantarkan oleh Galuh. Namun kali ini Galuh mengantarnya tepat di depan pintu gerbang sekolah. Semua mata murid tertuju pada Galuh saat ia membukakan pintu mobil untuk Ila. Lagi-lagi Ila kebingungan melihat sikap Galuh terhadapnya yang sangat berbanding terbalik dengan sikapnya yang dulu.
Ila keluar dari mobil dan mendengar semua murid di sekolahnya berbisik-bisik sambil menatap Galuh dengan pandangan terpesona kepadanya.
"Lihatlah, pria itu sangat tampan!" Bisik mereka yang terdengar di telinga Ila.
Ila hendak pergi begitu saja masuk ke dalam sekolah, namun Galuh menarik lenganya. Ila berbalik dan melihat Galuh sedang menyodorkan telapak tangan padanya.
"Apa kau melupakan sesuatu, Ila?" Tanya Galuh padanya.
Ila mengerti apa yang di maksud Galuh saat itu padanya. Ila menyambut tangan Galuh dan segera menciumnya di depan murid-murid lainnya yang masih betah menatap Galuh. Ila segera berlari masuk ke dalam lingkungan sekolah setelah mencium tangan Galuh. Galuh tersenyum senang menatap Ila malu-malu kepadanya. Galuh berbalik segera untuk masuk ke dalam mobil dan saat itu Galuh melihat para siswi di sekolah itu terpesona pada ketampanannya.
"Apa lihat-lihat!" Teriak Galuh yang mengagetkan para siswi itu.
"Huh, dasar gadis idiot!" Ujar Galuh sembari masuk ke dalam mobilnya.
Galuh pun pergi mengendarai mobilnya untuk kembali ke apartemen. Ila berlari masuk ke dalam kelasnya dengan wajah yang sangat memerah. Ila duduk di kursinya sambil menghela nafas lega. Fiqri dan Eri melirik Ila penuh dengan pertanyaan di otak mereka.
"Hei, Ila. Ada apa denganmu? Kenapa kau? Seperti sedang di kejar-kejar setan saja." Tanya Eri pada Ila.
"Iya, setan Galuh yang mengejarku!" Sahut Ila.
"Hei, aku tidak bercanda! Kapan suamimu mati? Tiba-tiba sudah jadi setan." Ujar Eri.
"Hei, kalau manusia mati bukan jadi setan, tapi hantu!" Sahut Fiqri.
"Setan dan hantu apa bedanya? Sama-sama menyeramkan!" Teriak Eri.
"Kau ini, kalau di kasih tau ngeyel banget sih!" Balas Fiqri pada Eri.
Pagi itu kelas di mulai dengan pelajaran bahasa inggris yang gurunya sangat amat cantik. Fiqri yang sangat menyukai kecantikan guru tersebut tampak bersemangat mengikuti pelajarannya.
Jam istirahat Ila masih duduk di dalam kelas. Hari itu Ila sangat tidak bersemangat karena memikirkan sikap Galuh yang sangat aneh terhadapnya. Fiqri dan Eri kembali dari kantin dengan membawa makanan ringan yang mereka beli untuk Ila.
"Kau kenapa lagi, La?" Tanya Fiqri pada Ila.
"Aku akan ke turki hari sabtu nanti." Kata Ila yang duduk dengan posisi kepala yang menempel di meja.
"Hei, apa kau sudah gila? Bagaimana dengan pertandingan kita?" Teriak Fiqri panik.
Eri yang sedang membuka bungkus makanan ringan kaget dengan suara teriakan Fiqri. Bungkus makanan ringan itu langsung sobek dan isinya tumpah semuanya.
"Biasa aja dong paniknya! Mengagetkan aku saja." Ujar Eri kesal pada Fiqri.
Fiqri melihat Eri sedang mengutip semua makanan ringan yang jatuh di lantai kelas.
"Kenapa kau sangat jorok, Eri!" Teriak Fiqri pada Eri.
"Ini semua gara-gara kau!" Balas Eri berteriak pada Fiqri.
"Makan punyaku saja. Dasar jorok!" Kata Fiqri memberikan makanan ringannya pada Eri.
Mata Fiqri kembali tertuju pada Ila yang sedang tak bersemangat hari itu.
"La, jadi kau tidak akan ikut pertandingan matematika?" Tanya Fiqri.
"Ikut, tapi setelah itu aku akan pergi ke turki." Sahut Ila.
"Untuk apa kau kesana? Apa kau akan jadi TKW di sana? Hahaha." Seru Eri dan Fiqri tertawa.
"Bulan madu." Jawab Ila.
"Apa?" Teriak Eri dan Fiqri terkejut.
"Kau akan pergi bulan madu?" Teriak mereka lagi.
"Iya." Sahut Ila.
"Bukankah kau dan suamimu itu tidak saling mencintai? Kenapa kalian pergi berbulan madu?" Bisik Eri pada Ila.
"Itu yang aku bingungkan sekarang. Kemarin aku dan dia sudah melakukan itu." Kata Ila.
"Apa?" Teriak kedua sahabatnya lagi.
"Jangan berteriak, nanti yang lain bisa mendengarnya." Kata Ila.
Eri dan Fiqri langsung mengunci mulutnya rapat-rapat.
"Aku dan dai sudah melakukan itu kemarin, bahkan berkali-kali. Lalu saat melakukan itu dia menyatakan cintanya padaku." Kata Ila.
"Apa kau juga cinta padanya?" Tanya Eri.
"Tidak! Aku belum memiliki perasaan apapun terhadapnya." Jawab Ila.
"Kalau kau tidak cinta padanya, kenapa kau mau melakukan hal itu padanya?" Tanya Fiqri.
__ADS_1
"Aku takut di laknat malaikat seperti yang pak botak katakan." Jawab Ila.
Eri dan Fiqri hanya bisa bergeleng kepala dan menghela nafas melihat keluguan Ila.
"Kalau dia sudah menyatakan perasaannya padamu, jadi menurutku kau hanya perlu menikmati pernikahanmu saja." Kata Fiqri pada Ila.
"Iya, kali ini aku setuju dengan pendapat Fiqri." Sahut Eri.
Ila membenturkan jidatnya pada meja saat mendengar pendapat dari kedua sahabatnya tersebut. Lau tiba-tiba ponsel Ila mendapatkan pesan singkat dari Galuh.
"Hari ini aku akan makan siang di rumah bersama mama dan papa. Setelah itu aku ada urusan sedikit di luar, jadi kau pulang naik taksi saja. oke. Dari suamimu yang sangat tampan dan mempesona. Muuaacch..., my lovely." Galuh.
Ila membacanya dengan rona wajah yang memerah.
"Dasar pria gila!" Gumam Ila setelah membaca pesan dari Galuh.
Hari itu Ila memanfaatkan waktu senggangnya bermain dengan kedua sahabatnya. Mereka berniat akan makan bakso pedas setelah pulang sekolah. Ila berniat untuk mentraktir kedua sahabatnya tersebut. Ila pergi ke sebuah tempat ATM untuk mengambil uang. Betapa kagetnya ia melihat nomilnal uang yang ada di kartu ATM yang di berikan Galuh padanya.
"Li..lima ratus juta?" Teriak Ila kaget.
Ila menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya. Ila kembali menghitung mundur angka yang ada di mesin ATM tersebut.
"Satuan, puluhan, ratusan, ribuan.........ratusan juta." Ucap Ila menghitung nominal angka.
"Aku memiliki nilai matematika di atas 90, aku tidak mungkin salah!" Ucap Ila lagi.
"Baiklah, suamiku adalah pria kaya yang gila! Sangking gilanya dia memberikanku uang jajan senilai 500 juta." Ujar Ila sembari menekan tombol di mesin ATM untuk mengambil uang disana.
Ila keluar dari ruang mesin ATM dengan uang 500 ribu yang ia simpan di dalam dompetnya. Ia kembali menemui kedua sahabatnya yang sudah menunggu di restoran bakso pedas itu. Ila dan kedua sahabatnya makan bakso pedas dengan semangat yang membara.
Di ruang kantor pengacaranya, Galuh melihat pesan dari Bank. Ia melihat nominal uang yang baru saja Ila ambil dari mesin ATM. Galuh mengerutkan dahinya saat melihat nominal yang ada di ponselnya.
"500 ribu? Jajan apa dia dengan uang yang sangat sedikit itu? Apa dia sedang berhemat?" Gumam Galuh dalam hatinya.
Tak lama kemudian, pengacara yang di tunggu oleh Galuh pun datang menghampirinya dengan sebuah berkas yang ada di tanganya. Pengacara tersebut tidak lain adalah teman Galuh bernama Ririn.
"Ini berkas yang kau inginkan." Kata Ririn pada Galuh.
"Kenapa begitu cepat?" Tanya Galuh.
"Bukankah, kau yang menginginkannya? Kau bilang padaku untuk mengurusnya secepat mungkin." Sahut Ririn.
"Aku ingin membatalkannya." Kata Galuh.
"Hah, kau merepotkan aku saja!" Ujar Ririn.
"Jalankan saja perintahku!" Teriak Galuh kesal.
"Setelah menikah kau tetap saja seperti ini, selalu berteriak jika kesal." Kata Ririn yang mengerti sifat asli Galuh.
Ririn mendekatkan wajahnya pada Galuh yang duduk di hadapannya.
"Apa kau sudah menjadi budak cinta dari gadis kecilmu itu? Hehehe." Tanya Ririn tau mengenai Ila.
"Hehehe. Dia itu sangat imut dan hari sabtu nanti aku akan pergi ke turki untuk berbulan madu denganya." Sahut Galuh tiba-tiba ceria.
"Wah, ternyata dugaanku benar kau pasti akan jadi budak cinta gadis itu!" Seru Ririn yang memiliki sifat 11-12 dengan Galuh.
Saat Galuh sibuk menceritakan perasaannya terhadap Ila kepada Riri, ponselnya berdering. Galuh menerima panggilan telepon dari Roni. Ririn mendengar Galuh beberapa kali berteriak sambil mengucapkan nama Roni. Seketika jantung Ririn berdebar sangat kencang. Galuh menyimpan ponselnya kembali dalam saku celananya.
"Apa itu dari Roni?" Tanya Ririn pada Galuh.
"Iya." Sahut Galuh.
"Wah, dokter tampanku! Aku sangat rindu padanya." Teriak Ririn yang menjadi budak cinta Roni.
"Apa kau masih suka pada si ember bocor itu?" Tanya Galuh.
"Hei, jangan juluki dia seperti itu. Roni itu selalu ada di hatiku." Sahut Ririn.
"Dasar bucin Roni!" Ujar Galuh.
"Dasar bucin Ila!" Balas Ririn.
"Hheemmpp!" Galuh dan Ririn saling memalingkan wajahnya.
"Cepat selesaikan yang aku perintahkan! Batalkan perceraianku." Teriak Galuh.
"Iya, bucin Ila!" Sahut Ririn.
Galuh pergi dari kantor pengacaranya itu untuk kembali ke apartemennya. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan pujaan hatinya. Galuh memaksa Didi untuk melajukan mobilnya dengan cepat agar ia segera tiba di apartemennya.
Setibanya Galuh di apartemen, ia tidak melihat Ila di mana-mana. Galuh kesal dan langsung menghubungi Ila melalui ponselnya.
Tut...tut...tut.....
Galuh menanti Ila untuk mengangkat telepon darinya dengan perasaan yang sudah sangat tidak sabaran.
"Halo!" Ucap Ila menerima panggilan teleponnya.
"Dimana kau, cantik?" Tanya Galuh menahan kesalnya.
"Aku sedang di toko buku bersama teman-temanku." Jawab Ila.
"Kapan kau akan pulang?" Tanya Galuh.
"Sore." Sahut Ila.
Galuh melirik jam yang menunjukkan pukul 3 sore.
"Ini sudah sore, maka pulanglah sekarang." Kata Galuh.
"Ini masih jam 3, aku pulang jam 5." Kata Ila.
"Aku bilang pulang sekarang!" Teriak Galuh yang sudah tidak sabar ingin bertemu Ila.
"Iya." Sahut Ila kesal.
Galuh sangat kesal karena Ila berniat akan pulang jam 5 sore. Galuh kembali berdecak kesal sambil meletakkan ponselnya di meja.
"Apa dia tidak mengerti kalau aku ingin melihat dan mendekapnya setiap waktu." Gumam Galuh.
__ADS_1