
Malam harinya Galuh menemani Ila yang masih di rawat di rumah sakit. Ia berbaring di sofa yang ada di ruangan itu sambil menatap langit-langit ruang rawat Ila. Ia tak bisa tidur karena terus teringat akan wajah narapidana yang Ila tabrak.
"Dimana aku melihat pria itu? Kenapa wajahnya seakan tak begitu asing di mataku?" Gumam Galuh dalam hatinya.
Rasa kantuk yang tak datang, membuat Galuh bangkit dari pembaringannya dan melangkah melihat Ila yang sudah tertidur pulas di ranjang rumah sakit. Galuh menarik sebuah kursi dan duduk di samping ranjang Ila.
"Semoga pria itu tidak meninggal akibat di tabrak Ila! Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi pada Ila." Gumam Galuh yang begitu risau akan nasib Ila yang bisa saja menjadi tersangka dalam kecelakan itu,
Ila menatap wajah Ila yang tertidur pulas. Namun tiba-tiba saja pikiran Galuh melayang dan terlintas wajah narapidana itu. Galuh kaget dan menggosokkan kedua matanya dengan cepat. Ia melihat lagi pada wajah Ila yang masih tertidur di depannya.
"Ada apa denganku? Kenapa wajah narapidana itu terlintas begitu saja saat aku menatap Ila?" Gumamnya lagi.
Merasa dirinya sedikit gusar karena kebingungan dengan pikirannya, Galuh memutuskan untuk keluar dari ruangan itu dan duduk di bangku taman halaman rumah sakit. Saat itu tanpa sengaja Galuh melihat Hamka yang mondar-mandir mengejar Kania yang kebetulan malam itu bersiaga dirumah sakit untuk melihat situasi anggotanya yang sedang menjaga narapidana itu.
"Bukankah itu Hamka?" Gumam Galuh sambil menatap sahabatnya itu.
"Astaga, si gila itu malah mengejar-ngejar Kania sampai kesini." Gumam Galuh lagi sembari tepok jidat melihat tingkah konyol sahabatnya.
"Hamka Panggil Galuh.
Hamka pun menoleh pada Galuh dan segera menghampirinya.
"Hah! Dasar keras kepala." Ucap Hamka menghela nafas panjang saat duduk di samping Galuh. Sementara Kania berlalu pergi untuk menghampiri anggotanya yang sedang menjaga narapidana itu.
"Kenapa kau mengejar-ngejar Kania?" Tanya Galuh pada Hamka.
"Aku hanya ingin mengantarnya pulang, namun dia malah bersikeras untuk tetap tinggal di rumah sakit ini." Sahut Hamka sewot.
"Ngapain sih narapidana itu di jagaian mulu? Narapidana itu dijagain, sementara aku dicuekin. Dasar menyebalkan!" Sambung Hamka.
"Hei, Kania itu seorang polisi! Itu adalah pekerjaannya. Seharusnya kau memaklumi pekerjaannya itu." Sahut Galuh.
"Aku sudah menyuruhnya untuk berhenti dari pekerjaannya itu! Aku sudah menawarkannya segala kemewahan agar dia mau berhenti menjadi polisi. Tapi dia tetap saja keras kepala." Kata Hamka.
"Hamka! Kau tidak boleh seperti itu. Kania itu putri dari pengusaha yang tidak jauh berbeda dengan kita. Status dia jelas anak orang kaya yang bemartabat. Kania bisa saja kan menjadi wanita manja dan sombong seperti putri-putri kelaurag kaya lainnya. Aku yakin Kania menjadi seorang polisi pasti ada alasannya. Atau mungkin menjadi seorang polisi itu adalah cita-citanya sejak kecil." Kata Galuh.
"Tetap saja pekerjaan itu akan membahayakan Kania! Apa kau tidak tau, pekerjaan Kania selalu berhubungan dengan orang-orang jahat. Perampok, penjahat, dan orang-orang yang tersandung kasus kriminal." Sahut Hamka.
"Tapi Kania kan tidak menumpas semua penjahat itu sendirian! Pihak kepolisian kan punya tim kerja." Kata Galuh.
"Sudahlah! Kau tenang saja. Jika kau terus mengejarnya seperti itu, nanti dia akan kabur dan membencimu." Sambung Galuh lagi.
"Hah! Aku frustasi jatuh cinta pada seorang polisi." Ucap Hamka menghela nafas panjang.
"Eh, kau sedang apa di luar begini? Apa kau tidak menjaga Ila di ruang rawatnya?" Tanya Hamka.
"Aku sedang galau!" Sahut Galuh.
"Galau kenapa? Apa kau bertengkar dengan Ila?" Tanya Hamka.
"Bukan itu! Aku dan Ila baik-baik saja. Tadi saat aku keluar Ila sedang tidur." Sahut Galuh.
"Lantas kau galau kenapa?" Tanya Hamka lagi.
Galuh pun menceritakan kegalauannya mengenai seorang narapidana yang di tabrak oleh Ila.
"Hei yang benar saja kau ini! Masa iya, wajah narapidana itu sekilas mirip dengan Ila? Hahaha, kau ini ada-ada saja." Ujar Hamka tertawa geli.
"Entahlah! Aku juga bingung, kenapa aku malah berpikir seperti itu tadi." Sahut Galuh.
"Aku jadi penasaran dengan wajah narapidana itu! Aku ingin melihatnya." Kata Hamka beranjak bangun dari tempat duduknya.
__ADS_1
Hamka lantas melangkah pergi untuk menuju ke ruangan dimana narapidana itu sedang di rawat secara intensif.
"Hei, kau mau kemana, ka?" Tanya Galuh.
"Memastikan apa yang kau bilang tadi." Sahutnya.
Galuh pun mengikuti langkah Hamka yang berjalan di depannya. Tiba di ruangan itu, Hamka melihat ada dua orang polisi yang sedang berjaga di luar dan berbincang dengan Kania. Hamka dan Galuh pun menghampiri Kania yang sedang memberi arahan kepada anggotanya yang berjaga.
"Sayang!" Sapa Hamka pada Kania.
"Kenapa kau belum pergi juga sih?" Ujar Kania sewot pada Hamka.
"Aku ingin menemanimu yang sedang menjalankan tugas, hehehe." Sahut Hamka.
"Dasar konyol!" Gerutu Kania.
Kedua polisi yang mengetahu bahwa Hamka adalah tunangan komandanya, terkekeh geli melihat sikap Hamka yang memang sedikit konyol.
"Hihihihi, dia bucin kepada komandan." Bisik kedua polisi itu terkekeh geli.
"Hei, apa yang kalian tertawakan? Berdiri dengan tegak!" Ucap Kania tegas.
Kedua polisi itu langsung terdiam dan berdiri dengan tegak setelah di bentak Kania.
"Wah, calis ku keren sekali!" Seru Hamka dengan mata yang berbinar-binar sambil menatap Kania.
"Apa itu calis?" Tanya Galuh.
"Calon istri! Hehehe." Sahut Hamka.
"Hah! Dia jadi gila. Semuanya selalu di singkat-singkat." Gumam Galuh.
"Sayang, aku ingin melihat narapidana itu." Kata Hamka.
"Berhentilah memanggilku sayang!" Gerutu Kania.
"Kania, apa aku boleh melihat narapidana itu lagi?" Tanya Galuh.
"Ini sudah hampir tengah malam! Lagipula, kalian tidak bisa sembarangan untuk masuk dan melihatnya." Sahut Kania.
Galuh menarik tangan Kania dan berbicara agak menjauh dari kedua polisi yang sedang berjaga.
"Kania, tolong bantu aku! Aku memiliki masalah yang rumit sekarang. Wajah pria itu seperti mengingatkan aku pada seseorang! Aku harus tau siapa dia sebenarnya." Kata Galuh pada Kania.
"Pliiss, bantu aku, Kania!" Pinta Galuh memohon pada Kania.
"Ya, baiklah! Tapi jangan terlalu lama." Kata Kania yang akhirnya mengizinkan Galuh dan Hamka masuk ke dalam dan melihat langsung wajah narapidana itu.
Galuh dan Hamka pun masuk bersama Kania ke dalam ruang rawat itu. Mereka pun menatap wajahnya dengan seksama. Apalagi Hamka, yang sangking penasarannya, ia malah berdiri begitu dekat dengan narapidana itu.
"Hei, kau jangan terlalu dekat dengannya!" Bisik Kania pada Hamka.
"Kenapa? Kau cemburu ya? Hehehe." Sahut Hamka.
"Dasar idiot!" Umpat Kania sewot.
Setelah puas melihat wajah narapidana yang belum sadarkan diri itu, mereka pun keluar. Galuh dan Hamka berniat untuk pergi melihat Ila diruangannya.
"Kania, my lovely! Aku pergi dulu ya. Ingat, jangan rindukan aku, karena rindu itu berat seperti apa yang dikatakan oleh Dilan! Hehehe." Kata Hamka pada Kania.
"Apaan sih dia?" Gumam Kania dalam hatinya menatap Hamka tanpa ekspresi.
__ADS_1
"Pppffftt, hahahahaha!" Kedua polisi itu tertawa geli mendengar perkataan Hamka.
Kania dongkol setengah mati karena di tertawakan oleh anggotanya.
"Push up, 100 kali!" Perintah Kania kesal pada anak buahnya itu.
Mau tak mau kedua polisi itu pun melakukan perintah komandannya. Hamka dan Galuh kaget melihat sikap Kania yang begitu tegas kepada anak buahnya itu.
"Dia begitu galak!" Kata Hamka pada Galuh sembari terus berjalan menuju ke ruang rawat Ila.
'Hehehe, jika kau menikah dengannya, mungkin hampir setiap hari kau akan dihukum push up olehnya!" Sahut Galuh.
"Aku mau kalau di hukum push up setiap hari, asalkan dia berada di bawah tubuhku. Hehehehe." Kata Hamka tekekeh licik.
"Dasar otak mesum!" Ujar Galuh pada Hamka.
"Hahahaha." Sahut Hamka tertawa lebar.
Tiba di ruangan Ila, Galuh dan Hamka melihat Ila duduk sambil bersandar di atas ranjang rumah sakit itu.
"Sayang, kenapa kau bangun?" Tanya Galuh cepat-cepat menghampiri Ila.
"Aku haus!" Sahut Ila.
Galuh pun mengambilkan segelas air minum untuk Ila. Saat itu Hamka terus menatap dan meperhatikan wajah Ila yang sedang minum dan sesekali tersenyum pada Galuh.
"Kalau dilihat secara seksama, memang ada kemiripan sih! Sepertinya bentuk wajah Ila dan hidungnya mirip dengan narapidana itu!" Gumam Hamka memperhatikan wajah Ila.
"Kak Hamka kenapa? Dari tadi menatapku terus!" Tanya Ila.
"Hahaha, tidak kenapa-kenapa! Aku hanya sedih melihatmu sedang sakit seperti ini." Sahut Hamka dusta.
"Aku tidak apa-apa, hanya luka sedikit saja." Kata Ila.
"Kenapa kakak datangnya tengah malam begini?" Tanya Ila lagi.
"Karena di siang hari aku sibuk! Hehehe." Sahut Hamka.
"Dia sibuk mengejar-ngejar Kania." Sambung Galuh.
"Eh, apa kak Kania ada disini?" Tanya Ila.
"Iya!" Sahut Galuh.
"Untuk apa kak Kania disini?" Tanya Ila.
"Untuk melihat situasi anak buahnya yang sedang menjaga orang yang kau tabrak." Jabwa Galuh.
"Eh, si korban sampai di jaga polisi?" Ucap Ila kaget.
"Iya lah! Dia kan seorang tahanan!" Sahut Hamka.
"Hah? Tahanan?" Tanya Ila semakin kaget.
"Iya! Dia seorang narapidana yang berhasil kabur dari penjara. Saat dia di kejar oleh polisi, dia tertabrak olehmu." Jawab Galuh menjelaskan semuanya.
"Kak, apa dia belum sadarkan diri?" Tanya Ila pada Galuh.
"Belum! Tapi yang aku dengar dari dokter, dia sudah tidak kritis lagi." Sahut Galuh.
"Kau tenanglah! Aku tak akan membiarkanmu masuk ke dalam penjara." Sambung Galuh berupaya menenangkan istrinya.
__ADS_1