GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
PERTUNANGAN KIA DAN SYAKIR


__ADS_3

Malam pertunangan pun diadakan di kediaman Yurika. Banyak tamu yang sudah datang menghadiri malam acar pertunangan antara Kia dan Syakir malam itu. Hana dan Antoni juga sudah tampak hadir disana. Bagitu pula dengan Galuh yang duduk bersama Hamka di sebuah meja bulat sambil menatap Ila yang terus saja ngambek padanya.


"Hei, apa kau dan Ila masih bertengkar?" Tanya Hamka pada Galuh.


"Dia sih masih ngambek, padahal dia juga rindu padaku. Hehehe." Sahut Galuh cengengesan.


"Tapi malam ini aku akan tidur denganya disini nanti! Hehehe." Sambung Galuh lagi.


"Dasar!" Ujar Hamka.


Saat sedang mengobrol, tanpa sengaja Hamka melihat seorang wanita berambut pendek seleher yang begitu tampak cantik dengan balutan pesta. Ia tertegun menatap kepada wanita tersebut yang tak lain adalah seorang polwan yang pernah menangani kasus kejahatan Ana terhadap Ila.


"Eh, bukannya itu ibu polwan yang dingin itu!" Kata Hamka pada Galuh sambil menujuk ke arah Kania yang datang bersama dengan kedua orang tuanya.


"Iya!" Sahut Galuh menoleh pada Kania yang berdiri tak begitu jauh dari mereka.


"Sedang apa dia disini?" Kata Hamka lagi.


"Sudah pasti sedang menghadiri pesta ini, dodol!" Ujar Galuh.


"Sepertinya dia datang bersama dengan tuan Fatah." Kata Hamka lagi yang mengenal sosok pengusaha kaya yang tak lain adalah ayahnya Kania.


"Jangan-jangan dia wanita simpanannya tuan Fatah." Sambung Hamka lagi.


Pppplleettaakk...........


Kepalan tangan Galuh mendarat di kepala Hamka.


"Dasar bodoh! Sembarangan saja kau memfitnah wanita." Ujar Galuh pada Hamka.


"Aku hanya menebaknya saja! Sadis amat sih." Gerutu Hamka sambil mengelus kepalanya.


"Ayo kita kumpul di ruang utama acara! Sebentar lagi acara pertunangan Kia dan Syakir akan dimulai." Ajak Galuh menyeret Hamka yang sewot kepadanya.


Acara pertunangan Kia dan Syakir pun dilaksanakan dengan meriah. Kia tampak cantik menggunakan gaun indah dan begitu pula dengan Syakir yang terlihat tampan dengan jas yang ia pakai malam itu. Mereka berdua pun saling bertukar cincin pertunangan di depan para tamu yang menjadi saksi pertunangan mereka bedua. Ila dan Yurika tampak bahagia melihat Kia yang kini menjadi tunangan Syakir dan akan segera menikah dengannya. Kedua orang tua Hamka juga terlihat bahagia menyaksikan acara pertunangan keduanya.


Para tamu masih menikmati pesta tersbut. Begitu banyak kue dan juga makanan yang ada di acara pesta pertunangan itu. Galuh terlihat sedang ngobrol dengan para tamu undangan yang tak lain adalah relasi bisnisnya juga. Syakir dan Kia sedang menjamu beberapa tamu mereka yang datang di malam istimewa mereka. Ila juga tampak ceria berbincang dengan kedua sahabatnya yaitu Eri dan juga Fiqir yang sudah jarang bertemu denganya semenjak memiliki rutinitas mereka di kampus.


"La, suamimu kan kaya! Kenapa kau tidak minta melanjutkan pendidikanmu?" Tanya Fiqri.


"Iya! Sayang banget. Kau kan pintar." Sambung Eri menimpali.


"Hah, apalah dayaku memiliki suami kaya namun cemburuannya minta ampun!" Sahut Ila menghela nafas panjang.


"Beberapa hari saja aku tidak memberikan perhatianku padanya, dia malah menyikapi aku dengan sikap dingin dan mengacuhkan aku!" Sambung Ila lagi.


"Pppfftt, kasihan amat si Ila punya suamin cemburuan!" Kata Eri terkekeh geli.


"Hei, aku ini juga tipe pria pencemburu! Awas saja kalau kau berani dekat-dekat dengan pria tampan di kampus." Ancam Fiqri pada Eri.


"Apaan sih! Lebay banget jadi laki!" Ujar Eri berdengus kesal pada Fiqri.


Ila tertawa melihat kedua sahabatnya itu yang sedang menjalin asmara semenjak duduk di bangku SMA hingga sekarang.

__ADS_1


 


*****


Di sudut ruangan yang agak jauh dari keramaian pesta, Hamka melihat si ibu polwan sedang melangkah dengan tergesa-gesa keluar dari rumah Yurika. Kania duduk di salah satu bangku taman dengan penerangan lampu taman yang ada di sekitar halaman itu. Hamka penasaran dengan Kania yang datang ke acara pesta itu bersama relasi bisnisnya. Lantas ia pun mengikuti Kania yang duduk di bangku taman tersebut.


"Ada apa?" Tanya Kania sedang berbicara melalui ponselnya.


"--------


"Saya sudah mengutus anak buah saya kesana! Tunggu saja, sebentar lagi mereka akan datang." Kata Kania lagi sebelum ia memutuskan sambungan teleponnya.


Saat Kania hendak kembali ke ruang pesta, tiba-tiba saja Hamka menghadangnya. Kania kaget melihat Hamka yang berdiri di hadapannya.


"Hai, ibu polwan! Kita bertemu lagi." Sapa Hamka pada Kania.


"Maaf, saya tidak punya waktu meladenimu." Sahut Kania hendak menghindari Hamka, namun lagi-lagi Hamka menghadangnya.


"Apa-apaan sih?" UJar Kania kesal pada Hamka.


"Kenapa kau begitu dingin?" Kata Hamka pada Kania.


"Jaga sikapmu!" Ujar Kania kesal.


"Kau sedang tidak menggunakan seragam polisimu! Jadi untuk apa aku menjaga sikapku? Sekarang kau menggunakan gaun pesta yang indah dan datang dengan seorang pria tua yang kaya raya. Apakah kau salah satu kekasih tuan Fatah, hah?" Kata Hamka yang membuat Kania geram saat mendengarnya.


"Tuan Hamka, lebih baik kau berpikir ulang sebelum kau memfitnahku!" Kata Kania menahan kesalnya.


"Aku hanya tak menyangka kalau wanita dingin sepertimu bisa menjadi wanita simpanan bos-bos kaya juga rupanya. Apa pemerintah menggajimu sedikit sehingga kau menjadi wanita simpanan? Jika benar, aku memiliki penawaran yang bagus untukmu!" Kata Hamka semakin dekat dengan Kania.


"Aku akan bayar kau dua kali lipat dari yang tuan Fatah bayarkan untukmu! Apa kau mau menjadi wanitaku, ibu polisi?" Bisik Hamka pada Kania.


Pppppllllaaaaakkkkkkkkk.................


Bbbrrruuuukkkkk.....................


Bbbbaaaammmmm......................


Ppplllleeetttaaakkkkk...................


Kania menghajar Hamka habis-habisan di taman itu.


"Dasar pria menjijikkan!" Ujar Kania meninggalkan Hamka yang terduduk lemas tak berdaya dengan luka lebam di wajahnya.


"Dasar wanita dingin tidak berperasaan kau!" Teriak Hamka kesal pada Kania yang sudah melangkah menjauh darinya.


"Aduh, sakit sekali!" Ucap Hamka meringis kesakitan setelah di hajar Kania.


Galuh melangkah keluar dan tak sengaja berpas-pasan dengan Kania yang hendak masuk ke dalam ruang acara. Dengan senyuman saling menyapa, Galuh dan Kania saling melangkah ke tujuan mereka masing-masing. Galuh yang memang sedang mencari keberadaan Hamka, celingak-celinguk di teras rumah.


"Kemana sih pria gila itu?" Gumam Galuh meraih ponselnya untuk menghubungi Hamka.


"Hei, kau dimana?" Tanya Galuh pada Hamka melalui sambungan ponselnya.

__ADS_1


"Aku taman! Tolong aku." Sahut Hamka.


Galuh pun panik dan mencari keberadaan Hamka yang masih terduduk di rerumputan.


"Kau sedang apa disini sendirian? apa kau kambing ingin makan rumput taman?" Tanya Galuh pada Hamka.


"Enak saja kau bilang aku kambing! Apa kau tidak lihat wajahku lebam-lebam begini, hah?" Teriak Hamka kesal pada Galuh.


"Eh, kau kenapa?" Tanya Galuh kaget.


"Di hajar sama ibu polwan yang dingin itu!" Sahut Hamka.


"Kenapa kau dihajarnya?" Tanya Galuh lagi.


"Gara-gara aku tawarkan dia untuk menjadi wanita bayaranku!" Sahut Hamka.


"Hah, dasar bodoh kau! Kenapa kau bisa segila itu padanya?" Ujar Galuh tepok jidat melihat tingkah Hamka.


"Dari pada dia menjadi simpanan tuan Fatah yang tua bangka itu, mendingan jadi wanita dari pria tampan dan muda belia sepertiku kan? Aku juga akan membayarnya dua kali lipat." Sahut Hamka.


"Hei hei, usiamu sudah lebih dari tiga puluh tahun, apanya yang muda belia, dodol!" Ujar Galuh kesal.


"Jangan ingatkan aku dengan usiaku yang sebenarnya! Aku kesal sampai sekarang aku belum menikah." Teriak Hamka ngegas.


"Polwan itu saja yang berlagak jual mahal padaku! Menjadi wanitanya si tua bangka dia malah mau." Gerutu Hamka lagi.


"Hei, polwan itu bukan kekasihnya tuan Fatah, melainkan putri kandungnya!" Teriak Galuh yang sempat mencari tau mengenai hubungan Kania dengan relasi bisnis mereka.


Jjjjjeeedddaaarrrr....................


Bak tersambar petir, Hamka hampir mati berdiri saat ia tau bahwa Kania adalah putri kandung dari Fatah.


"Mampuslah aku!" Gumam Hamka gemetar.


"Apakah dia akan menembak kepalaku setelah ini?" Tanya Hamka pada Galuh mengenai Kania yang jago dalam hal tembak menembak.


"Berdoa saja yang banyak, agar kau tidak mati konyol jika kau bertemu dengan polwan itu lagi." Sahut Galuh sembari menyeret tubuh Hamka yang begitu kaku karena ketakutan pada Kania.


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2