GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
JAMUAN MAKAN MALAM


__ADS_3

Seperti biasanya setiap akhir pekan, Ila dan Galuh menginap di kediaman Yurika. Dalam keadaan hamil tua, Ila tetap bersemangat ingin bertemu dengan Yurika dan juga Kia. Kebetulan hari itu ada jamuan makan malam yang di buat oleh Yurika untuk mengundang orang tua Syakir datang kerumahnya guna membicarakan niat Syakir yang ingin memperistri Kia.


Yurika juga tak melupakan sahabatnya Hana dan Antoni untuk ikut bergabung dalam jamuan makan malam itu dirumahnya. Sebelum kedua orang tua Syakir datang, Ila duduk di tepi ranjang sambil menatap Kia yang sedang merias diri di depan cermin.


"Hei, apa aku terlihat cantik?" Tanya Kia pada Ila.


"Iya! Kau terlihat cantik malam ini." Sahut Ila senyum-senyum.


"Hah, aku tetap saja tegang saat akan bertemu dengan kedua orang tua kak Syakir." Kata Kia cemas.


"Santailah!" Kata Ila mencoba untuk mengusir rasa cemas yang Kia rasakan.


"Bagaimana aku bisa santai? Ini kali pertama aku bertemu dengan kedua orang tua kak Syakir." Sahut Kia semakin cemas.


"Ayo coba ikuti aku! Tarik nafas....buang nafas....tarik lagi....buang lagi...." Ucap Ila menyuruh Kia mengikutinya agar bisa lebih tenang. Kia pun mengikuti apa yang Ila terapkan padanya.


"Hei, kalian sedang apa?" Tanya Galuh yang tiba-tiba muncul di depan pintu kamar.


"Hehehe, Kia sedang gugup karena akan bertemu dengan ornag tua kak Syakir." Sahut Ila cengengesan.


"Ppppffttt, begitu saja sudah gugup!" Ujar Galuh menahan tawanya.


"Tentu saja aku gugup! Aku takut orang tua kak Syakir tidak menyukaiku nanti." Sahut Kia mewek.


"Sudah jangan mewek begitu! Nanti kau bertambah jelek!" Ujar Galuh meledek Kia.


"Kak Galuh! Dasar menyebalkan!" Teriak Kia cemberut.


"Hei, Kia! Dengarkan perkataanku!" Kata Galuh ikut duduk di tepi ranjang bersama Ila.


"Kau tau kan bagaimana konyolnya sikap Syakir?" Tanya Galuh pada Kia.


Kia pun mengangguk.


"Nah, begitu juga kedua orang tuanya!" Sahut Galuh yang memang sangat mengenal kedua orang tua Syakir.


"Masa sih?" Tanya Ila tak percaya.


"Kita lihat saja nanti saat mereka tiba dirumah ini! Pasti akan terjadi kerusuhan. Hehehehe." Sahut Galuh terkekeh.


Kia dan Ila hanya bisa bersitatap dengan pikiran yang bingung mengenai apa yang di katakan Galuh barusan. Tamu yang di tunggu pun tiba. Syakir dan kedua orang tuanya di sambut hangat di kediaman Yurika. Sebagai awal pertemuan, mereka menjamu tamu istimewanya itu di ruang tengah.


Yurika duduk di samping Hana dan juga Antoni. Sementara Syakir duduk berdampingan dengan ibunya yang bernama Linda. Ayah Syakir yang bernama Sofyan tampak duduk santai dengan sebuah tongkat yang ada di tangannya. Tak lama kemudian munculah Galuh menyambut kedatangan mereka.


"Hai om Sofyan! Apakah om sehat?" Sapa Galuh terlihat begitu akrab dengan ayahnya Syakir.


"Aku tentu saja sehat! Aku ini masih muda. Hahaha." Sahut Sofyan yang mengundang gelak tawa semua orang yang ada di ruang tengah itu.


"Ya, sepertinya yang om katakan itu benar! Om terlihat sehat dan masih segar." Kata Galuh pada Sofyan.


"Galuh, kau jangan terlalu mengumbangnya! Nanti dia akan menyombongkan diri." Kata Linda meledek suaminya yang jelas-jelas tidak muda lagi.


"Hei, kau juga senang kan bila ada orang yang mengatakan kalau wajahmu tidak memiliki keriput!" Balas Sofyan meledek Linda.

__ADS_1


"Tentu saja! Aku ini jelas-jelas tidak memiliki keriput di wajahku!" Sahut Linda.


"Aku benarkan, nyonya Yurika?" Kata Linda lagi.


"Hahaha, iya! Nyonya Linda memang benar!" Sahut Yurika tertawa dengan paksa.


Syakir celingak-celinguk mencari keberadaan Kia saat itu. Apa yang Syakir lakukan diketahui oleh sang ayah. Sofyan tau kalau Syakir sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan pujaan hatinya. Sofyan pun mengangkat ujung tongkat yang ada di genggamannya ke arah kepala putranya itu.


Ppplleeettakkk............


Semua Yurika, Hana dan Antoni kaget ketika Sofyan mengetuk kepala Syakir dengan tongkat itu. Syakir pun meringis sambil mengusap-usap kepalanya.


"Ayah, kenapa memukulku dengan tongkat?" Tanya Syakir sewot.


"Kau begitu tidak sabarannya ingin bertemu dengan calon menantuku!" Sahut Sofyan.


"Huh, calon menantu ayah kan, kekasihku!" Gerutu Syakir semakin sewot pada ayahnya.


"Hehehe, suami dan anakku memang gila! Maafkan tingkah konyol mereka ya." Ucap Linda cengengesan pada Hana, Antoni dan calon besannya itu.


"Ngomong-ngomong, dimana calon menantu kami? Kami sudah tak sabar ingin segera melihatnya!" Sambung Linda lagi.


"Sebentar lagi dia akan kesini." Sahut Yurika tersenyum ramah pada calon besannya itu.


Tak lama berselang, munculah Kia bersama dengan Ila yang menemaninya. Kia yang berdandan cantik itu tampak gugup menyambut kedatangan calon mertuanya. Kia juga tersipu malu tatkala Syakir menatapnya dengan penuh cinta.


"Wah, kau gadis yang cantik!" Seru Linda pada Kia yang duduk di sampingnya.


"Jangan panggil tante, tapi panggil ibu!" Kata Linda membuat Kia sedikit terkejut.


"Aku menyukaimu dan menerimamu menjadi menantuku!" Sambung Linda lagi.


"Aku, istriku dan juga putraku sangat menyukai putrimu, nyonya! Lantas kapan kita akan meresmikan hubungan ini?" Tanya Sofyan pada Yurika.


"Kalau mengenai waktunya, kapan saja aku menyetujuinya." Sahut Yurika.


"Ayah, bulan depan saja!" Kata Syakir yang sudah tak tahan ingin segera menjadikan Kia sebagai istrinya.


Ppppllleettaakkk............


Ujung tongkat kembali mendarat di kepala Syakir yang membuat Kia dan Ila terkejut.


"Kau pikir mempersiapkan sebuah pernikahan bisa semudah yang kau bayangkan, hah? Dasar anak yang tidak sabaran!" Teriak Sofya pada putranya itu.


"Huh, apa salahnya? Aku akan hanya ingin segera sah menjadi seorang suami." Syakir kembali menggerutu kesal terhadap ayahnya.


Syakir kembali mendekati ibunya yang sedari tadi menatap Kia dengan hati senang karena akan segera memiliki seorang menantu.


"Ibu, apa ibu tidak ingin segera memiliki cucu?" Bisik Syakir pada Linda.


"Tentu saja, bodoh!" Sahut Linda balas berbisik.


"Kalau begitu bulan depan saja aku menikah! Lebih cepat aku menikah, maka ibu akan lebih cepat menimang seorang cucu nanti!" Bisik Syakir mengakali orang tuanya.

__ADS_1


"Hehehe, kau benar juga!" Sahut Linda cengengesan.


"Suamiku! Lebih baik Syakir dan Kia menikah bulan depan!" Kata Linda pada Sofyan.


"Bulan depan itu terlalu singkat waktunya! Aku ingin sebuah pernikahan yang di rancang dengan matang untuk putra dan menantu kita." Sahut Sofyan menolak dengan cara halus.


"Aku bilang, bulan depan!" Teriak Linda.


"Hah, iya, baiklah, jika kau memaksa!" Sahut Sofya kalah pada perkataan istrinya.


"Bagaimana nyonya? Apa kau setuju dengan keputusan srigala betina ini?" Tanya Sofyan pada Yurika sambil menjuluki Linda sebagai srigala betina.


"Hehehe, iya, aku setuju!" Sahut Yurika tertawa canggung.


Hana dan Antoni hanya bisa tepok jidat melihat tingkah laku dari calon besan Yurika itu. Ila dan Galuh hanya bisa menahan tawa mereka saat melihat kekocakan dari orang tua Syakir. Kia terus saja menghela nafas panjang ketika ia mengetahui bahwa calon mertuanya itu memiliki sifat yang aneh.


"Benar kata kak Galuh! Mereka bukan hanya konyol, namun lebih dari itu." Gumam Kia dalam hatinya menanggapi sikap yang dimiliki oleh calon mertuanya.


Selesai sepakat dalam membicarakan mengenai rencana pernikahan Syakir dan Kia, Yurika pun menjamu calon besannya itu dengan makan malam bersama di ruang makan. Begitu banyak makanan mewah yang tersaji di meja makan itu. Mereka duduk saling berhadapan dan makan malam bersama sambil berbincang ringan. Sesekali terdengar canda tawa dari ruang makan itu tatkala Sofyan dan Antoni saling mengeluarkan selera humor mereka masing-masing.


Disela-sela makan malam itu, Ila berniat untuk mengambil air dingin untuknya. Bangkit dengan perlahan ia pun melangkah ke dapur dan menuju ke arah kulkas untuk mengambil air dingin disana. Namun saat akan membuka pintu lemari pendingin itu, tiba-tiba Ila merasakan sakit pada perutnya. Gelas yang Ila pegang pun jatuh ke lantai.


Pprraaannngggg.............


Suara pecahan gelas itu menarik perhatian semua pelayan yang ada di dapur. Mereka segera berlari dan mendekati Ila yang menahan rasa sakit pada perutnya.


"Nona, kau kenapa?" Tanya kepala pelayan pada Ila.


"Perutku sakit!" Sahut Ila terbata-bata.


"Darah!" Teriak pelayan lainnya melihat darah yang menetes dari kaki Ila.


"Cepat panggil tuan Galuh!" Perintah kepala pelayan pada pelayan lainnya.


Pelayan tersebut berlari menghampiri Galuh yang sedang tertawa bercanda di ruang makan itu.


"Tuan! Nona Ila." Kata Pelayan itu pada Galuh yang membuat semua orang melihat kearahnya.


"Ada apa dengan Ila?" Tanya Galuh segera bangkit dari kursinya.


"Sepertinya akan melahirkan!" Sahutnya.


Semua menjadi panik terlebih lagi Galuh. Ia berlari menghampiri Ila yang sudah terduduk di lantai dapur dengan darah yang ada di sela-sela kakinya.


"Sayang." Ucap Galuh pada Ila.


"Perutku sakit, kak!" Sahut Ila.


"Galuh, bawa Ila kerumah sakit, cepat!" Kata Antoni pada putranya itu.


Dengan sigapnya, Galuh mengangkat tubuh Ila ke dalam gendongannya dan membawa Ila masuk ke dalam mobil. Didi sang supir pribadi kaget melihat Galuh membawa Ila dengan begitu paniknya. Didi pun segera tancap gas ketika ia tau kalau istri majikannya itu akan segera melahirkan.


Tiba dirumah sakit, perawat membawa Ila masuk ke dalam ruang bersalin. Galuh terus menemani Ila dengan setia. Galuh tak tega melihat Ila yang menahan sakit ketika akan segera melahirkan anak pertama mereka. Tak lama berselang, masuklah Roni yang akan menangani Ila melahirkan bayinya.

__ADS_1


__ADS_2