GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
MENGETAHUI KEBENARAN


__ADS_3

Sari kembali mengerjakan pekerjaannya agar semua orang yang ada dirumah itu tidak curiga dengan apa yang sedang dia rencanakan. Sari mengelap meja makan yang sedikit berdebu di permukaannya. Sesekali ia mendengar perkataan para pelayan lainnya yang sangat merindukan sosok Ila.


"Aku sangat penasaran dengan wanita yang bernama Ila itu! Apa hebatnya dia sampai-sampai semua orang dirumah ini selalu merindukan kehadirannya." Gumam Sari dalam hatinya.


Sari terus mengerjakan pekerjaannya sambil menguping pembicaraan para pelayan untuk menjadi bahan laporan kepada Kia. Pelayan dirumah itu selalu membicarakan hal-hal yang baik mengenai Ila sehingga membuat Sari semakin penasaran dan ingin bertemu langsung dengan Ila.


 


*****


Dengan bantuan Hamka, Galuh mendapatkan guru privat untuk mengajarkan Ila di apartemen. Setelah hampir puluhan guru lulus dengan predikat tertinggi, akhirnya Galuh memilih seorang guru wanita paruh baya yang terkenal judes dan tegas dalam mengajar.


Galuh kembali ke apartemen setelah ia menyelesaikan pekerjaan di kantornya. Galuh mengendurkan ikatan dasi di lehernya dan meletakkan jas di atas sofa. Ila menyelesaikan pekerjaannya di dapur. Ia tampak sibuk menata makanan di atas meja makan. Galuh menghampirinya dengan kondisi yang sedikit lelah. Galuh memeluk Ila dari belakang dan merebahkan kepalanya di pundak Ila. Galuh mencium aroma wangi tubuh Ila disana.


"Sepertinya kau sangat lelah!" Kata Ila pada Galuh.


"Iya, banyak pekerjaan di kantor tadi, jadi aku sedikit lelah." Sahut Galuh.


"Kau ingin mandi atau mau makan terlebih dahulu?" Tanya Ila.


"Makan dulu! Aku sudah sangat lapar." Jawab Galuh.


Ila melayani suaminya makan di meja makan. Ia pun ikut makan malam bersama dengan suaminya itu. Setelah selesai makan, Galuh naik ke atas untuk pergi mandi. Ila menyiapkan piyama tidur untuk Galuh yang di letakkan di atas ranjang. Lalu ia kembali membereskan pekerjaannya di dapur untuk membersihkan bekas makanan yang mereka gunakan saat makan malam tadi. Setelah semuanya beres, Ila kembali menemui Galuh yang sudah berbaring di atas ranjang.


"Kemarilah!" Kata Galuh pada Ila.


Ila mendekat dan berbaring di sebelahnya.


"Besok, kau sudah bisa belajar lagi! Aku sudah mendapatkan guru privat yang bagus untukmu." Kata Galuh.


"Benarkah? Wah, aku sangat senang!" Sahut Ila.


"Hah, kau sangat senang jika belajar!" Kata Galuh melihat semangat Ila yang seakan tak sabar untuk belajar.


"Tentu saja! Cita-citaku ingin menjadi dokter, maka dari itu aku harus belajar yang tekun." Sahut Ila keceplosan bicara.


"Apa? Jadi cita-citamu ingin menjadi seorang dokter? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku sejak dulu?" Tanya Galuh.


"Iya, itu cita-citaku! Tapi itu dulu. Setelah aku bertunangan denganmu aku membuang jauh-jauh tentang cita-citaku itu." Jawab Ila.


"Apa alasanmu membuang jauh-jauh cita-citamu itu?" Tanya Galuh.


"Aku sudah menjadi seorang istri sekarang, jadi untuk apa lagi aku menggapai cita-citaku itu!" Sahut Ila.


"Lagipula mama Hana dan papa Antoni sudah sangat ingin memiliki cucu, jadi lebih baik aku berusaha untuk menyenangkan mereka saja." Sambung Ila lagi.


Galuh tertegun mendengar perkataan Ila yang sangat memikirkan kebahagian kedua mertuanya itu. Mata Galuh berbinar-binar saat menatap Ila yang kian hari kian dewasa.


Galuh memeluk Ila dengan erat.


"Aku janji akan membahagiakan dirimu dan juga anak-anak kita! Aku akan bekerja keras untuk mendapatkan uang yang banyak agar kau dan anak-anak kita nanti tidak merasakan kesulitan apapun!" Ucap Galuh sambil mendekap Ila dengan erat.


"Kak, nafasku sesak!" Ucap Ila karena dekapan Galuh terlalu kencang pada tubuhnya.


"Hahaha, aku terlalu bersemangat!" Sahut Galuh.


"Kita akan punya banyak anak!" Sambung Galuh lagi.


"Menurutku satu saja sudah cukup." Sahut Ila sewot.


"Tidak bisa! Aku ingin 5 orang anak, agar rumah orang tuaku tidak sepi." Teriak Galuh.


"Tapi......


"Tidak boleh membantah! Kau harus melahirkan 5 bayi untukku." Kata Galuh memaksa.


"Hei, dasar egois! Kau pikir melahirkan itu tidak saki, hah?" Teriak Ila kesal.


"Aku tidak perduli! Pokoknya aku ingin 5 orang anak!" Sahut Galuh.


"Anak pertama namanya Galih, yang kedua Gilang, yang ketiga Gayatri, yang keempat......


"Stop!" Teriak Ila membuat Galuh auto diam.


"Kenapa huruf depannya G semuanya?" Tanya Ila.


"Karena namaku diawali dari huruf G, jadi semua keturunanku harus memiliki huruf G di awal namanya. Hahaha." Jawab Galuh seenak jidatnya saja kalau bicara.


"Ya Tuhan, dia terlalu bersemangat!" Gumam Ila tepok jidat.


 


 


******


Hana kembali mengunjungi Yurika yang sudah pulih dirumahnya. Hana membawa kue kesukaan keju kesukaan Yurika. Hana disambut ramah oleh pelayan yang ada dirumah Yurika. Hana dan Yurika duduk di ruang tengah sambil menyantap cemilan yang disajikan oleh pelayan.

__ADS_1


"Ka, kenapa kau tidak berusaha untuk mendekatkan dirimu pada Ila?" Tanya Hana.


"Aku takut kalau aku tidak bisa menahan diriku nanti. Aku takut menyakitinya." Sahut Yurika.


"Cobalah dulu! Apa kau lupa saat pernikahan Ila waktu itu kau memeluknya." Kata Hana.


"Iya, aku masih ingat saat itu. Entah apa yang membuatku berani untuk memeluknya." Kata Yurika.


"Cobalah untuk mendekatkan dirimu padanya! Aku yakin kau pasti bisa. Tepislah masa lalu yang kelam itu." Kata Hana lagi.


"Tapi aku ragu, apa Ila mau untuk dekat denganku atas apa yang telah aku lakukan padanya selama ini?" Ucap Yurika ragu-ragu.


"Ila adalah anak yang sangat baik! Hatinya sangat tulus. Aku yakin dia bisa mengerti jika dia tau yang sebenarnya." Sahut Hana.


"Aku mohon jangan beritahukan malapetaka itu padanya, aku takut hal itu akan semakin membuat perasaannya hancur." Pinta Yurika.


"Ka, mau sampai kapan kita harus menyimpan hal ini padanya? Ila juga berhak tau yang sebenarnya." Kata Hana.


"Tapi aku.....


"Ka, yakinlah! Semua akan baik-baik saja. Aku yakin Ila pasti akan mengerti." Kata Hana menggenggam erat kedua tangan sahabat sekaligus besannya itu.


"Baiklah! Tapi dengan cara apa kita memberitahukannya?" Tanya Yurika.


"Biar aku yang bicara padanya." Kata Hana.


"Apa kau yakin ini akan berhasil?" Tanya Yurika khawatir.


"Iya, aku yakin!" Sahut Hana.


Dari balik sisi tembok, Sari menguping pembicaraan Yurika dan Hana. Ia semakin penasaran dengan topik pembicaraan mereka saat itu.


"Malapetaka apa yang mereka bicarakan?" Gumam Sari penasaran.


"Hehehe, ini akan menjadi ladang emas untukku, jika aku mengatakannya pada nona Kia." Gumam Sari lagi.


Saat akan melanjutkan kebiasaan buruknya itu, tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundaknya dengan keras. Sari sangat terkejut dan segera menoleh kebelakang.


"Apa yang kau lakukan disini? Apa kau sedang menguping pembicaraan nyonya?" Tanya seorang pelayan dengan tatapan yang tajam.


"Bukan begitu, aku sedang membersihkan ruangan ini. Lagipula aku tidak mendengar apapun tadi." Sahut Sari berwajah polos.


"Pergi dari sini! Kerjakan pekerjaan yang lain saja." Perintah pelayan yang menjadi seniornya disana.


Sari cepat-cepat pergi dan menjauh dari ruangan tersebut. Dengan tatapan mata yang tajam, pelayan itu masih menatap Sari dari kejauhan.


 


Setelah mengunjungi Yurika, Hana berniat untuk mengundang anak serta menantunya menginap dirumah. Kebetulan ia juga merindukan sosok menantunya tersebut. Hana menghubungi Galuh dan mengatakan padanya tentang niatnya itu.


Hari itu Galuh pulang cepat dan menjemput Ila untuk pergi menginap dirumah orang tuanya. Ila yang tidak mengetahui niat Hana yang sebenarnya hanya ikut saja apa yang dikatakan Galuh. Ia dan Galuh pun sudah berada di kediaman Antoni. Ila turun dari mobil dan berlari memeluk Hana serta Antoni.


"Mama rindu sekali padamu!" Ucap Hana memeluk Ila.


"Aku juga rindu mama dan papa." Sahut Ila.


Dari kejauhan Roni si benalu berlari kencang dan hendak memeluk Ila. Namun hal itu tak dapat terwujud karena Galuh menarik kerah baju Roni dengan kuat.


"Hei, kau mau kemana?" Tanya Galuh pada Roni.


"Memeluk si gadis kecil lah! Apa lagi?" Sahut Roni dengan gamblangnya.


"Kalau kau mau memeluknya, langkahi dulu mataku!" Ujar Galuh pasang wajah angker.


"Huhuhuhu, aku kan juga merindukan gadis kecil!" Teriak Roni nangis bombai.


Hana, Antoni dan juga Ila hanya bisa tepok jidat melihat kedua pria yang selalu brutal jika bertemu.


Malam itu Hana menyuruh pelayan untuk memasak makanan kesukaan Ila yaitu bakso daging yang pedas. Ila sangat senang saat menyantap makanan favoritnya itu. Canda dan tawa dirumah itu terdengar dari ruang makan. Antoni, Galuh dan Roni yang memiliki sifat konyol selalu memancing tawa dari Ila.


Setelah selesai makan malam, Hana datang ke kamar Galuh untuk bicara pada Ila. Galuh keluar kamar dan duduk santai dengan Roni di halaman belakang.


Hana mendekati Ila dan berbaring bersama di atas ranjang. Hana mengelus lembut kepala Ila penuh kasih sayang.


"Katanya mama mau bicara penting denganku! Memangnya mama mau bicara apa?" Tanya Ila pada Hana.


"Ila, mama lihat kau sudah semakin dewasa sekarang! Jadi ada hal penting yang menurut mama kau pasti akan mengerti dengan baik." Sahut Hana.


"Sebelum itu mama mau tanya, apa kau menyayangi Yurika?" Tanya Hana.


Ila menarik nafasnya dalam-dalam. Pertanyaan Hana seakan membuka luka lama di hati Ila.


"Kenapa mama bertanya seperti itu?" Ila balik bertanya.


"Jawab dulu pertanyaan mama, sayang! Apa kau menyayangi wanita yang sudah melahirkanmu?" Tanya Hana.


"Ma, mama Yurika bukan ibu kandungku! Ibu kandungku adalah wanita yang menjadi perusak hubungan ayah Raldi dan mama Yurika." Kata Ila.

__ADS_1


"Sayang, ibu kandungmu itu Yurika! Berita yang tersebar di internet itu tidak benar! Pernikahan Yurika dan Almarhum Raldi sangat harmonis. Sosok Raldi sangat mencintai Yurika." Sahut Hana.


"Mama tau darimana? Apa mama mengenal ayah Raldi?" Tanya Ila.


Hana pun menceritakan semuanya kepada Ila. Awal pertama saat ia bertemu dengan Raldi dan menjadi dekat dengan Raldi. Ila tampak menangis haru saat ia mendengar kebaikan Raldi di masa hidupnya.


"Apa kau tau sayang? Raldi lah yang memberikan nama untukmu saat kau lahir." Kata Hana.


"Aku sangat tidak beruntung tidak mengenal sosok ayah Raldi. Aku hanya memiliki selembar fotonya saja." Sahut Ila.


"Ila, mama tanya sekali lagi padamu. Apa kau menyayangi Yurika?" Tanya Hana.


"Aku sangat menyayanginya! Tapi dia tidak pernah mengizinkan aku untuk mendekat padanya. Aku bahkan jarang bersentuhan dengannya. Entah apa yang membuatnya membenci diriku." Jawab Ila sedih.


"Aku dibesarkan dengan dikelilingi para pelayan dirumah. Tapi aku bahagia walaupun aku tumbuh di tangan para pelayan yang menyayangi aku." Sambung Ila tersenyum getir.


"Ila, Yurika tidak membencimu! Dia sangat menyayangimu! Hanya saja ada satu alasan yang membuatnya menjauh darimu, sayang." Kata Hana.


Ila menatap Hana dengan penuh pertanyaan di dalam hatinya. Hana menarik nafas panjang dan menceritakan semua rahasia yang tersimpan sejak puluhan tahun yang lalu. Hana menceritakan tentang tragedi yang terjadi di kediaman Yurika waktu itu. Ila mendengar semua cerita Hana dengan seksama dan linangan air matanya. Ila tak kuasa menahan air matanya lagi saat ia mengetahui kebenaran bahwa dia bukan darah daging Raldi. Air matanya tumpah begitu saja saat ia mengetahui yang sebenarnya.


"Jadi aku bukan anak kandung ayah Raldi?" Ucap Ila menangis sejadi-jadinya.


"Sayang, jangan sedih! Walaupun kau bukan darah dagingnya, namun kau adalah anak yang pertama kali di gendong olehnya. Dia memberikanmu nama yang indah. Dia sangat menyayangimu." Kata Hana mencoba untuk menenangkan Ila.


"Mengapa hal ini dirahasiakan dariku?" Tanya Ila.


"Karena Yurika ingin melindungimu dari hujatan orang!" Sahut Hana.


"Kau sudah tahu kan dengan berita yang tersebar di internet itu sangat berpengaruh pada kehidupanmu sekarang! Walaupun berita itu separuhnya tidak benar." Kata Hana lagi.


"Ila, Yurika sangat mencintai dan menyayangimu. Ia tak ingin kau terluka karena malapetaka yang kelam itu." Sambung Hana.


Ila terus menangis saat ia mengetahui yang sebenarnya. Hana terus mencoba untuk menenangkan Ila yang terlihat sangat terpukul saat itu. Puas menangis, Ila mengusap air matanya dan menatap wajah Hana.


"Ma, aku ingin bertemu dengan mama Yurika." Kata Ila.


"Aku ingin memeluknya!" Sambung Ila lagi.


"Tentu saja! Besok kita akan pergi mengunjunginya." Sahut Hana.


"Dia pasti sangat menderita setelah kejadian buruk yang menimpanya. Aku sangat sedih mengetahui kondisi mama Yurika yang tidak pernah bahagia hingga sekarang setelah kejadian malapetaka itu." Kata Ila.


"Iya, kau benar! Yurika sangat tersiksa pada batinnya karena tidak bisa menyentuhmu." Kata Hana.


 


Setelah semua rahasia itu diberitahukan kepada Ila, Hana keluar dari kamar itu. Hana memanggil Galuh untuk menemani Ila yang masih bersedih di dalam kamar. Galuh pun masuk kedalam kamar dan menemani Ila yang tampak masih menangis disana. Galuh memeluk tubuh Ila dengan penuh kasih sayang.


"Apa kau sudah tau yang sebenarnya?" Tanya Ila pada Galuh.


"Iya." Sahut Galuh.


"Kau jahat! Kenapa kau tidak mengatakannya padaku? Huhuhuhu." Ujar Ila memukul dada Galuh dengan kesal.


"Aku tidak berhak mengatakan rahasia itu padamu, imutku! Itu adalah rahasia hidup keluargamu." Kata Galuh.


Ila masih menangis kesal.


"Sudahlah! Yang penting sekarang kau sudah tau yang sebenarnya." Kata Galuh mengusap air mata Ila.


"Lalu apa langkah selanjutnya yang akan kau lakukan?" Tanya Galuh.


"Aku ingin dekat mamaku!" Sahut Ila.


"Iya, itu rencana yang bagus." Kata Galuh.


Tiba-tiba Ila berhenti menangis dan mengusap air matanya.


"Eh, kalau aku anak kandung mama Yurika, lalu Kia itu siapa?" Tanya Ila teringat akan status Kia dirumah itu.


"Kia itu benalu yang tidak tau diri!" Sahut Galuh sewot.


"Benalu? Maksudmu?" Tanya Ila bingung.


"Huh, jangan bicarakan gadis gila itu lagi! Aku sangat benci padanya." Ujar Galuh tidak senang.


"Lebih baik kita tidur saja! Besok kau akan kerumah mama Yurika kan?" Kata Galuh.


"Iya!" Sahut Ila.


"Tidurlah lebih awal, kita akan kesana besok pagi." Kata Galuh.


"Iya, baiklah!" Sahut Ila lagi.


"Kemarilah, imutku yang cantik!" Seru Galuh ingin mendekap Ila saat tidur.


Ila tersenyum senang saat Galuh selalu memanjakan dirinya. Malam itu Ila dan Galuh saling mendekap hangat dan tidur dengan nyenyak.

__ADS_1


__ADS_2