GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
KEGALAUAN KANIA


__ADS_3

Setelah Galuh kembali dari kantornya, Ila menyambut kepulangannya seperti biasa. Ila tersenyum lebar melihat Galuh yang baru saja turun dari mobil. Galuh pun menghampiri istrinya tersebut dan memeluknya.


"Kau belum tidur? Ini kan sudah tengah malam!" Kata Galuh pada Ila.


"Aku sengaja menunggumu pulang." Sahut Ila.


Ila dan Galuh pun masuk ke dalam dan langsung menuju ke kamar mereka. Ila membantu Galuh membuka jas serta kemeja kerjanya. Melihat wajah Galuh yang tampak begitu lelah Ila seakan mengurungkan niatnya untuk bertanya perihal apa yang ia dengan tadi pagi.


"Aku siapkan air mandi dulu." Kata Ila hendak melangkah ke kamar mandi. Namun saat itu Galuh menarik tangannya.


"Ada apa?" Tanya Ila yang bersitatap pada Galuh.


"Jika kau ingin bertanya, tanyakan saja!" Kata Galuh.


Ila masih menatap Galuh dalam-dalam. Ia bingung karena Galuh tau bahwa saat itu ada yang ingin ia tanyakan.


"Tadi pagi aku tau kau mendengar percakapan antara aku dan Didi." Kata Galuh lagi.


"Aku hanya ingin tau tentang istrinya.....


"Istri ayahmu?" Tanya Galuh.


"Jangan katakan dia ayahku! Aku tidak mau punya ayah seperti dia!" Ujar Ila kesal.


"Iya, sayang! Aku ngerti!" Sahut Galuh mengalah hanya untuk menenangkan Ila.


Galuh membawa Ila untuk duduk bersamanya di sisi ranjang tidur mereka.


"Imran memiliki seorang istri di kampung halamannya!" Kata Galuh.


"Apa mereka memiliki anak?" Tanya Ila.


"Sayangnya tidak!" Sahut Galuh.


"Kenapa dia meninggal?" Tanya Ila.


"Dia mengidap sakit paru-paru! Tapi bisa jadi penyakitnya semakin parah karena ia sedih di tinggal oleh Imran selama bertahun-tahun lamanya tanpa kabar." Sahut Galuh.


"Kenapa dia begitu kejam? Dia bahkan menyia-nyiakan istrinya sendiri hingga meninggal!" Ujar Ila semakin membenci ayah biologisnya yang kini mendekam di penjara.


"Sudahlah, sayang! Kita juga tidak tau pasti apa yang terjadi pada hubungan rumah tangga mereka." Kata Galuh yang tak ingin membuat Ila terlalu banyak berpikir apa yang selalu membuatnya kesal.


"Sekarang semuanya sudah berakhir! Walaupun kau kesal, tapi setidaknya kau tau siapa ayah kandungmu!" Kata Galuh lagi.


"Iya!" Sahut Ila.


"Sekarang aku hanya ingin fokus kepada keluarga kita saja!" Sambung Ila.


"Bagaimana kalau kita fokus pada anak kedua kita? Hehehe." Kata Galuh.


"Heeemmpp! Kata mama Hana, aku harus melahirkan lagi setelah Gilang berusia 5 tahun!" Kata Ila.


"Kelamaan dong, sayang! 3 tahun deh!" Galuh dan Ila seakan tawar menawar mengenai rencana mereka memiliki anak selanjutnya.

__ADS_1


"Tidak! 5 tahun!" Sahut Ila.


"Huh! Mama membuatku pusing saja." Gerutu Galuh kesal pada Hana.


"Si Ila pun nurut banget jadi menantu!" Gerutu Galuh lagi.


 


*****


Di dalam ruang kamarnya, Kania sedang menatap sebuah bingkai foto mendiang kekasihnya itu.  Pada belakang bingkai foto tersebut terselip surat cinta yang pernah mendiang kekasihnya kirim untuknya dulu. Ia membaca kembali apa yang tertulis pada surat cinta itu. Air matanya pun kembali menetes begitu saja saat mengingat hari pemakaman mendiang kekasihnya itu.


"Semasa kau hidup, kau selalu saja mencintaiku! Kau tak pernah membuatku merasakan kesedihan dan bahkan aku tak pernah menangis jika bersamamu! Aku tau kau begitu mencintaiku. Hal itu yang membuatku sampai sekarang selalu merasa bersalah jika aku mencintai pria lain setelah kepergianmu!" Ucap Kania sambil menatap foto mendiang kekasihnya.


"Bodohnya aku malah memberikan peluang untuk pria lain memiliki cintaku yang seharusnya menjadi milikmu! Mungkinkah aku wanita yang jahat karena membuat pria lain tersakiti karena kebodohanku." Ucap Kania lagi dalam isak tangisnya.


Kania meringkuk di atas ranjang tidurnya mengingat akan perasaan Hamka yang ia sakiti. Tak dapat ia pungkiri sebenarnya Kania pun memiliki perasaan yang istimewa terhadap Hamka. Ia menyukai sikap Hamka yang terkadang sering bertindak konyol dan juga begitu gigih mengejar dirinya. Namun perasaan itu harus disimpan dalam-dalam oleh Kania karena ia juga tak sanggup mengkhianati cinta dari mendiang kekasihnya yang telah lama meninggal dunia.


Keesokan harinya, Kania pergi dinas seperti biasanya. Ia menyetir mobilnya sendiri untuk menuju ke tempat dimana ia bertugas sebagai polisi wanita. Setibanya disana, ia melihat polisi-polisi bawahannya senyum-senyum terhadapnya. Kania pun merasa bingung akan sikap mereka yang tak seperti biasanya.


"Ada apa sih?" Gumam Kania mempercepat langkahnya menuju ke ruang kerjanya.


Saat membuka pintu ia melihat seluruh ruang kerjanya di penuhi oleh bunga-bunga mawar berwarna merah. Kania terperanjat dan menatap pada bunga-bunga mawar itu.


"Ada apa ini? Kenapa begitu banyak bunga mawar?" Gumam Kania kebingungan.


Kania melirik pada setumpuk besar bunga mawar yang ada di sudut ruangan. Kania merasa tertarik pada tumpukan mawar itu. Kania pun berjalan mendekati tumpukan mawar tersebut dan saat ia akan meraih sehelai tangkai mawar itu, tiba-tiba saja Hamka muncul yang membuat Kania sangat terkejut.


"Ttaaaaaddaaaa!" Seru Hamka yang sedari tadi menunggu Kania di dalam tumpukan mawar itu.


Kania melihat paras CEO tampan yang tersenyum lebar padanya.


"Kau membuatku jantungan!" Teriak Kania sewot.


"Hehehehe, kau terkejut!" Ucap Hamka terkekeh geli.


"Tentu saja aku terkejut! Dasar gila." Umpat Kania.


"Ini semua untukmu!" Seru Hamka.


Kania berlalu dan duduk di kursi kerjanya. Hamka segera mendekatinya dan duduk di hadapan Kania.


"Untuk apa kau melakukan semua ini? Aku bukan wanita romantis!" Kata Kania dusta, padahal walaupun Kania berprofesi sebagai polisi wanita dan selalu bergelut dengan urusan kriminal namun tetap saja ia seperti wanita lain pada umumnya yang menyukai hal-hal yang bersifat romantis.


"Aku ingin minta maaf!" Kata Hamka.


Kania kaget dan menatap wajah Hamka yang tampak menyesal.


"Kenapa malah dia yang minta maaf? Bukannya aku yang sering menyakitinya?" Gumam Kania dalam hatinya.


"Maaf untuk apa?" Tanya Kania.


"Karena waktu itu aku mengungkit mendiang kekasihmu." Sahut Hamka.

__ADS_1


Kania langsung terdiam dan menundukkan wajahnya yang tampak sedih dihadapan Hamka.


"Kania, aku minta maaf! Aku tidak sengaja mengungkitnya dan membuatmu sedih! Saat itu aku hanya tidak terima saja kalau kau bilang kau mencintai pria yang sudah tiada." Kata Hamka.


"Tidak masalah!" Sahut Kania.


"Seharusnya aku yang minta maaf padamu karena telah menyakitimu." Sambung Kania.


"Kania! Aku mengerti kalau...


"Hamka, maaf! Aku rasa kita tidak bisa melanjutkan semuanya. Aku tidak bisa menikah denganmu." Kata Kania memotong perkataan Hamka.


"Apa?" Ucap Hamka kaget.


"Maafkan aku, Hamka! Aku sudah berusaha untuk menerimanya, namun semakin dekat dengan hari pernikahan kita aku semakin merasa bersalah padanya." Kata Kania.


"Bersalah padanya? Apa maksudnya, dia merasa bersalah pada mendiang kekasihnya itu jika ia menerima pria lain?" Gumam Hamka dalam hatinya.


Hamka pun bangkit dari kursinya dan mendekati Kania yang tampak begitu gusar akan kegalauannya.


"Kania! Dengarkan aku." Kata Hamka sambil menggenggam tangan Kania dengan erat.


"Apa yang terjadi saat ini pada kita berdua bukan salahmu! Kau tak perlu merasa bersalah pada mendiang kekasihmu itu. Dia sudah tiada, Kania! Berhentilah memikirkan masa lalu." Kata Hamka mencoba untuk membuat Kania tak dihantui perasaan bersalah.


"Aku tidak bisa, Hamka! Maaf." Ucap Kania.


"Kania.......


"Hamka! Keluarlah sekarang. Aku sedang bertugas saat ini." Kata Kania.


"Kania! Melihat sikapmu seperti ini aku tau kau mencintaiku!" Kata Hamka dengan tegasnya yang membuat Kania tersentak kaget.


"Aku tau kau juga mencinta aku, Kania! Tatap mataku, Kania!" Kata Hamka lagi sembari mencengkram kedua lengan Kania dan menatapnya.


"Aku tidak mencintaimu!" Ucap Kania berdusta.


"Jika kau tidak mencintaiku, lantas kenapa kau harus merasa bersalah karena telah mengkhianati cinta dari mendiang kekasihmu itu, hah?" Kata Hamka lagi sambil terus menatap Kania yang saat itu menggunakan seragam polisi.


"Hamka, lepaskan aku." Kata Kania berusaha untuk terlepas dari cengkraman Hamka.


"Katakan yang sejujurnya padaku!" Kata Hamka.


Kania menitikkan air matanya di hadapan Hamka saat itu. Bibirnya bergetar hendak mengatakan apa yang sebenarnya ia rasakan terhadap Hamka. Namun saat itu tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dari luar. Hamka pun melepaskan cengkraman tangannya dari lengan Kania dan berdiri sambil berbalik darinya.


"Masuklah!" Kata Kania pada polisi bawahannya yang mengetuk pintu barusan.


"Letnan! Ada kiriman surat dinas dari atasan." Kata polisi itu pada Kania sembari memberikan surat tugas kepadanya.


"Terima kasih!" Ucap Kania.


"Eeemmm, letnan! Apa kau benar-benar akan pindah tugas ke kota lain?" Tanya polisi itu yang membuat Hamka kaget.


"Iya!" Sahutnya.

__ADS_1


"Sayang sekali! Kami disini sudah sangat nyaman bekerja sama denganmu, letnan." Kata polisi itu.


Polisi itu pun keluar dari ruangan Kania. Hamka melirik Kania yang hendak menyimpan surat tugas yang diberikan oleh atasannya untuk pindah tugas ke kota lain. Saat akan menyimpannya, Hamka merampas surat itu dan membacanya.


__ADS_2