
Setelah rapi memakai baju, Galuh turun dan menuju ke ruang makan untuk sarapan bersama. Di ruangan itu sudah tampak menunggu Yurika dan juga Ila. Ila menatap Galuh sejenak sebelum ia memalingkan wajahnya.
"Ternyata dia lumayan tampan dengan jas kerjanya." Gumam Ila dalam hatinya menatap Galuh.
Galuh duduk di samping Ila dan sengaja menyenggol lengan Ila.
"Apa aku terlihat menawan pagi ini? Hehehe." Bisik Galuh pada Ila.
"Heeemmpp!" Ila mendengus sambil memalingkan wajahnya dari Galuh.
Galuh terkekeh geli melihat reaksi Ila yang tampak menyembunyikan rasa malunya.
Ila menoleh kesana kemari mencari keberadaan Kia yang tidak terlihat pagi itu.
"Dimana Kia? Apa dia tidak sarapan bersama kita?" Tanya Ila pada Yurika.
"Tidak! Dia sudah berangkat ke sekolahnya pagi-pagi sekali." Jawab Yurika.
"Ma, dimana mamanya Kia? Kenapa tidak ada disini?" Tanya Ila.
"Orang tua Kia sudah meninggal saat Kia masih bayi, jadi Kia tinggal bersama kita! Hanya kita satu-satunya keluarga yang ia miliki sekarang." Sahut Yurika.
"Oh, begitu! Ternyata kehidupannya begitu menyedihkan." Kata Ila bersimpati kepada Kia.
"Oh ya, ma! Apa aku dan Kia pernah dekat sebelumnya?" Tanya Ila.
"Eeeemm, kalian memang tidak terlalu dekat, tapi bagaimanapun kalian kan sepupu jadi kalian harus menjaga hubungan keluarga tetap baik." Kata Yurika ingin melihat Ila dan Kia akur.
"Iya, mama benar." Sahut Ila tersenyum.
Galuh mengkhawatirkan perkataan Yurika. Ia malah berpikir sebaliknya dan tak menginginkan Kia dekat dengan Ila karena ia takut Kia akan melukai Ila lagi. Namun pagi itu Galuh hanya diam saja dan tak mau terlalu ikut campur dalam masalah keluarga mereka.
Setelah selesai sarapan, Galuh hendak pergi berangkat ke kantornya. Yurika melihat Ila malah sibuk bergosip denga para pelayan di dapur. Yurika pun menghampiri putrinya yang sedang mengalami amnesia itu untuk memberikan sedikit nasehat padanya.
"Ila, suamimu mau pergi bekerja! Kau tidak mengantarnya ke depan?" Tanya Yurika pada Ila.
"Tidak! Biarkan saja dia pergi." Sahut Ila tak acuh.
"Sayang, kau tidak boleh seperti itu! Kau adalah istrinya dan kau harus tetap menjadi istri yang baik untuknya walaupun kau tidak mengingat dirinya. Galuh itu sangat mencintai, Ila." Kata Yurika.
Ila terdiam sejenak untuk mencerna apa yang di katakan oleh Yurika terhadapnya. Ila melangkah keluar dari ruang dapur dan menghampiri Galuh yang sedang berjalan ke arah pintu.
"Galuh!" Panggil Ila.
"Panggil aku, kakak." Sahut Galuh.
"Apa kau akan pergi ke kantor?" Tanya Ila basa-basi.
"Iya, sayang! Sini cium aku." Kata Galuh menarik tubuh Ila mendekat padanya.
"Apa aku selalu melakukan hal itu setiap kau akan pergi bekerja?" Tanya Ila dengan nada sedikit gugup.
"Tentu saja! Kau bahkan melakukan hal yang lebih dari sekedar menciumku!" Bisik Galuh.
"Maksudnya?" Tanya Ila bingung.
"Di setiap paginya, kau selalu melum*t bibirku dengan panas!" Bisik Galuh lagi berniat untuk menggoda Ila.
Semburat merah seketika muncul di wajah Ila.
"Kau pasti berbohong!" Ujar Ila kesal.
"Tidak! Aku tidak berbohong. Kau itu wanita yang agresif, Ila! Kau selalu saja memintaku untuk menidurimu setiap malam. Hehehe." Bisik Galuh lagi.
"Be..benarkah?" Tanya Ila seakan tidak percaya dengan perkataan Galuh yang memang sedang menipunya.
Galuh menganggukkan kepalanya dengan cepat sambil terkekeh jahat.
"Jadi, apakah nanti malam kita akan melakukannya lagi? Hehehe." Bisik Galuh lagi.
"Aku tidak mau!" Sahut Ila sambil memalingkan wajahnya yang memerah itu.
"Maksudmu tidak mau kalau cuma satu ronde saja, kan? Tapi kau ingin tiga ronde. Hehehe." Sambung Galuh terus menggoda Ila.
"Kau menyebalkan!" Teriak Ila kesal.
Galuh hanya tertawa melihat Ila kesal karena ucapannya itu. Galuh melirik jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 7.38. Galuh mencium kening Ila dan mengelua wajahnya dengan lembut.
"Belajar yang rajin ya, sebentar lagi guru privatmu akan datang." Kata Galuh pada Ila.
Galuh pun pergi ke kantor dengan mengendarai mobilnya. Ila kembali masuk ke dalam setelah ia puas melihat mobil Galuh yang sudah keluar dari pintu gerbang utama.
Tak lama berselang, guru privat yang bernama ibu Kartika datang dengan membawa segudang buku pelajaran untuk Ila. Ila duduk berhadapan bersama ibu Kartika yang terkenal dengan ketegasannya dalam mengajar.
"Ila, hari ini kita akan belajar pelajaran matematika." Kata ibu Kartika.
__ADS_1
"Baik!" Seru Ila.
Ibu Kartika pun menjelaskan beberapa materi kepada Ila. Ila duduk dan merasa otaknya seakan sedang di peras. Ia merasa pusing dan hampir mati kebosanan. Ila duduk dengan berpangku tangan tak seperti biasanya. Ia terlihat seperti tidak bersemangat untuk belajar.
"Apa kau sudah mengerti Ila?" Tanya ibu Kartika.
"Aku tidak mengerti apapun yang ibu katakan!" Sahut Ila dengan polosnya.
"Hah, gara-gara amnesia dia jadi bodoh!" Gumam ibu Kartika dalam hatinya.
Di balik pintu kamar, Yurika juga menghela nafas saat melihat Ila sedang belajar bersama guru privatnya. Ila yang biasanya selalu semangat belajar dan juga pintar, tiba-tiba saja menjadi pribadi yang pemalas dan juga bodoh setelah ia mengalami cidera di kepalanya.
Setelah selesai belajar, Ila menghubungi Eri yang menjadi sahabatnya selama ini. lla mengambil ponselnya dan segera mencari nama Eri untuk menghubunginya.
"Halo, la?" Ucap Eri.
"Apa kau Eri?" Tanya Ila.
"Hei, kau ini kenapa? Sejak kapan kau tidak mengenali suaraku?" Tanya Eri yang tak mengetahui kabar Ila yang sedang mengalami amnesia.
"Hahaha, aku hanya bercanda." Sahut Ila tak mau mengatakan kalau dia sedang amnesia.
"Kemana saja kau beberapa hari ini? Kau tidak pernah menghubungiku dan juga tidak pernah bertemu!" Kata Eri kesal.
"Aku sedang sibuk!" Sahut Ila asal bicara.
"Sibuk apa, kau? Sibuk mengurusi suamimu yang tergila-gila padamu?" Tanya Eri lagi.
"Eh, apakah suamiku memang tergila-gila padaku?" Ila balik bertanya pada Eri.
Eri kebingungan saat mendengar pertanyaan Ila yang seakan tidak mengenal sosok suaminya itu.
"La, apa ada sesuatu yang terjadi padamu?" Tanya Eri curiga.
"Hehehe, sebenarnya aku amnesia." Sahut Ila cengengesan.
"Apa? Amnesia?" Teriak Eri membuat Fiqri yang sedang tidur di kelas terkejut dan terbangun.
"I...iya!" Sahut Ila.
"Jam 2 siang nanti, kita bertemu di warung bakso yang biasa tempat kita nongkrong ya! Jangan lupa datang." Kata Eri panik seraya mematikan sambungan teleponnya.
Ila kebingungan saat Eri mengajaknya bertemu di tempat warung bakso yang memang menjadi tempat mereka duduk bersama.
"Oh, iya! Aku hubungi saja Galuh! Aku minta dia untuk mengantarku." Gumam Ila lagi.
Ila pun menghubungi Galuh yang memang hari itu tidak terlalu sibuk bekerja. Banyak waktu luang yang bisa Galuh berikan untuk mengantar Ila ke sebuah warung bakso untuk bertemu dengan kedua sahabatnya.
Tepat jam 2 siang, Ila datang bersama Galuh ke warung bakso itu. Eri dan Fiqri menantinya dengan tidak sabar. Saat melihat Ila, Eri langsung berlari menghampirinya dan memeluknya dengan erat. Ila kebingungan menatap Eri yang sedang memeluknya.
"Kau siapa?" Tanya Ila pada Eri.
"Huuuwwaaa.....! Dia benar-benar amnesia." Ucap Eri nangis bombai.
"Apa kau Eri?" Tanya Ila lagi.
Eri mengangguk sambil menyedot ingus yang mengalir dari lubang hidungnya.
"Wah, aku punya sahabat!" Seru Ila memeluk Eri dengan girang.
"Ayo kita duduk!" Ajak Galuh.
Mereka pun duduk berempat di warung bakso itu. Galuh memesan beberpa porsi bakso untuk mentraktir kedua sahabat Ila itu. Ila menatap Fiqri yang terlihat asing baginya.
"Apa kau Fiqri?" Tanya Ila.
"Iya, la! Aku dan kau sering ikut pertandingan di sekolah." Sahut Fiqri.
"Pertandingan apa?" Tanya Ila.
"Pertandingan cerdas cermat! Kita sering mendapat piala untuk sekolah kita." Sahut Fiqri lagi.
"Jadi aku ini siswi pintar?" Seru Ila.
"Iya!" Sahut Fiqri.
Lalu Ila melirik Eri yang duduk di depannya.
"Apa, Eri itu termasuk siswi pintar juga?" Bisik Ila kepada Fiqri.
"Hah, apalah dayaku memiliki kekasih yang begitu bodoh di sekolah!" Sahut Fiqri dengan gamblangnya.
"Kau dan Eri pacaran?" Tanya Ila.
"Iya, hehehe." Sahut Fiqri.
__ADS_1
"Eri, kenapa kau mau dengan Fiqri?" Tanya Ila.
"Karena Fiqri pintar! Jika kau menjadi kekasihnya, maka aku tidak perlu belajar lagi karena dia akan bersedia memberikan contekan padaku. Hahaha." Sahut Eri dengan rasa bangganya.
"Jangan seperti, Eri! Kalau begitu aku tidak akan memberikanmu contekan lagi!" Teriak Fiqri kesal.
"Kalau kau tidak memberikanku contekan, kau tidak boleh menciumku lagi!" Balas Eri berteriak pada Fiqri.
"Hah, kenapa kau mengancamku seperti itu? Mana mungkin aku tidak boleh menciummu? Kau itu kan kekasihku!" Ujar Fiqri.
Eri diam saja dan tak mau menanggapi perkataan Fiqri.
"Hah, baiklah! Aku akan memberikan contekan padamu setiap hari tapi kau juga harus menciumku, ya?" Kata Fiqri kepada Eri.
"Baik!" Seru Eri senang.
Galuh yang sedari tadi mendengar percakapan anak yang masih di bawah umur itu hanya bisa menghela nafas.
"Haaaiihhhh, anak zaman now memang unik!" Gumam Galuh dalam hatinya.
Di warung bakso itu Galuh menceritakan kepada kedua sahabat Ila mengenai penyebab yang membuat Ila menjadi amnesia. Galuh juga meminta Eri dan Fiqri untuk ikut membantu memulihkan ingatan Ila.
*****
Malam harinya, Roni menghubungi Galuh untuk mengatakan jadawal suntik kontrasepsi kepada Ila di setiap bulannya. Galuh pun meminta Roni untuk datang ke kediaman Yurika. Tak lama menunggu Roni pun datang dengan sebuah tas kecil yang berisi alat suntik kontrasepsi.
"Dimana Ila?" Tanya Roni pada Galuh.
"Dia sedang berada di kamar mama Yurika! Kita tunggu sebentar lagi." Sahut Galuh.
Galuh dan Roni pun duduk di dalam kamar menunggu kedatangan Ila. Tak lama berselang, Ila pun muncul dan berniat untuk tidur. Matanya tiba-tiba saja berbinar saat melihat Roni yang sedang duduk bersama Galuh.
"Kakak, dokter!" Seru Ila pada Roni.
"Hai, Ila! Ayo duduk disini." Kata Roni menyuruh Ila duduk di sampingnya.
Ila pun dengan girnag duduk di samping Roni membuat Galuh seakan ingin mencabik-cabik tubuh Roni karena cemburu. Ila melihat Roni mengeluarkan jarum suntik yang sudah terisi dengan cairan di dalam tabungnya. Ila berdegik ngeri saat melihat ujung jarum suntik itu. Ila langsung melompat ketika Roni mengarahkan jarum suntik itu padanya.
"Apa itu? Kenapa kau mau menyuntikku?" Tanya Ila ketakutan.
"Ini adalah vitamin!" Sahut Roni mengelabui Ila agar ia tidak takut.
"Aku tidak mau!" Teriak Ila menolak.
Roni dan Galuh saling tatap sejenak. Mereka berdua kebingungan melihat sikap Ila yang sangat berubah drastis. Ila berlari hendak keluar dari kamar, namun Galuh dengan cepat menangkapnya. Ila meronta-ronta sangking takutnya dengan jarum suntik.
"Imutku, sayang! kau harus suntik." Kata Galuh.
"Aku tidak mau!" Teriak Ila terus meronta.
"Kalau kau tidak suntik, nanti akan keluar bayi dari perutmu! Kau kan masih sekolah." Kata Galuh.
"Aku tidak mau!" Tolak Ila lagi.
"Apa kau tidak takut jika ada bayi yang akan keluar dari perutmu?" Tanya Galuh sembari menaikkan sebelah alisnya.
"Aku tidak takut jika hanya bayi yang keluar! Aku lebih takut pada jarum suntik itu." Sahut Ila.
Galuh melebarkan senyumannya saat Ila berkata seperti itu. Dengan segera Galuh menendang Roni untuk pergi dari kediaman Yurika. Lagi-lagi Roni berteriak kesal pada Galuh yang selalu menendangnya jika ia tak butuh bantuan dari Roni.
"Dasar sepupu gila! Tidak tau terima kasih." Ujar Roni kesal pada Galuh.
Roni pun pergi dari kediaman Yurika dengan wajah yang cemburut karena kesal dengan perlakuan Galuh.
Di dalam kamar Galuh mendekap Ila dengan erat. Galuh merasa sangat bahagia karena Ila mau melahirkan anak untuknya.
"Galuh! Aku sesak nafas karena kau mendekapku dengan erat." Teriak Ila kesal.
"Oh, imutku! Aku sangat senang jika suatu saat nanti kita akan memiliki anak yang banyak." Sahut Galuh antusias.
"Apa? Anak yang banyak?" Teriak Ila terkejut.
"Iya! Kita akan memiliki 5 orang anak yang tampan seperti diriku dan juga imut seperti dirimu!" Seru Galuh.
"Dia terlalu percaya diri!" Gumam Ila.
"Kalau begitu mulai sekarang aku akan memompamu agar kau segera hamil dan melahirkan bayi untukku!" Sambung Galuh lagi seraya menimpa tubuh Ila yang berada di bawanya.
"Aku tidak mau!" Teriak Ila mencoba berontak.
"Aku akan memperkosamu! Hehehe." Kata Galuh terkekeh jahat.
Galuh memulai permainannya dengan mencium bibir Ila dengan panas. Tubuh Ila bergetar karena respon tubuhnya tak sesuai dengan hatinya. Hatinya tak ingin bercinta dengan Galuh saat itu, namun tubuhnya menginginkan hal yang sebaliknya. Tubuh Ila lagi-lagi tak bisa menolak sentuhan-sentuhan yang Galuh berikan padanya.
__ADS_1