
Galuh bergegas cepat sekaligus panik untuk mencari keberadaan Ila. Ia menyeret Didi yang sedang duduk bersama para penjaga rumah sambil menyeruput kopi pahit kesukaannya.
"Bos! Ada apa? Kenapa menyeretku seperti ini?" Tanya Didi menatap secangkir kopi pahitnya itu.
"Ayo ikut denganku! Kita akan mencari imutku!" Sahut Galuh.
"Kopi pahitku! Huhuhuhuhu..." Ucap Didi nangis bombai karena tak bisa menikmati kopi kesukaannya iti.
Galuh dan Didi masuk ke dalam mobil dan segera melaju. Di perjalanan Didi melirik Galuh yang begitu panik dan tampak sedang berpikir keras.
"Bos! Kita mau kemana?" Tanya Didi pada Galuh.
"Kita ke rumah sahabat Ila!" Sahut Galuh.
"Yang mana? Fiqri atau Eri?" Tanya Didi lagi.
"Tentu saja Eri! Ila tidak mungkin pergi ke rumah teman lelakinya!" Teriak Galuh kesal.
"Bos! Apa bos yakin nona Ila kesana? Kenapa tidak mencari ke rumah nyonya Yurika saja?" Tanya Didi lagi.
"Dia tidak akan mungkin ke rumah mertuaku! Ila itu cerdas. Kalau dia kesana, aku pasti akan dengan mudah untuk menemukannya!" Sahut Galuh.
"Bos, malam nanti kan ada acara pertunangan di rumah nyonya Yurika! Aku yakin nona Ila pasti kesana." Kata Didi lagi.
Galuh terdiam dan berpikir sejenak. Ia mengingat kembali ekspresi wajah kedua orang tuanya yang tampak begitu tenang saat mengatakan bahwa Ila pergi kabur dari rumah.
"Tunggu! Kenapa mama dan papa tidak panik Ila pergi? Apalagi Ila pergi bersama Gilang! Eh, Ratih juga ikut pergi sama Ila." Gumam Galuh berpikiran keras.
"Didi!" Teriak Galuh yang membuat supir pribadinya itu menginjak rem secara mendadak karena kaget akan teriakan Galuh.
Cceeeekkkiitttttt.........
"Apaan sih bos? Ngagetin saja!" Teriak Didi kesal.
"Putar balik! Kita pergi ke rumah mertuaku!" Kata Galuh bersemangat.
"Hhuufftt, dasar bos aneh!" Gerutu Didi sambil menjalankan mobilnya kembali.
Tiba di kediaman Yurika, Galuh melihat taman dan juga seluruh ruangan telah di dekorasi dengan indah. Yurika memutuskan untuk mengadakan acara pertunangan Kia dan Syakir di rumah saja tidak di sebuah gedung hotel mewah. Hal itu dilakukannya atas permintaan Kia sendiri.
Masuk ke dalam rumah, Galuh bertemu dengan Yurika yang sedang sibuk mengatur segala keperluan acara pesta pertunangan itu. Galuh mendekati ibu mertuanya itu.
"Ma! Apa Ila datang kesini?" Tanya Galuh pada Yurika.
"Tidak!" Sahut Yurika.
"Mama yakin?" Tanya Galuh lagi.
"Iya! Ila tidak ada disini." Sahut Yurika.
Galuh semakin panik saat mengetahui dari Yurika bahwa Ila tidak datang ke rumah ibu mertuanya itu.
"Baiklah, ma! Aku pergi dulu." Kata Galuh pada Yurika.
__ADS_1
"Oke!" Sahut Yurika tenang dan begitu santainya.
Galuh melangkah keluar dan masuk ke dalam mobil. Lagi-lagi Didi melihat raut wajah Galuh yang tampak gusar ketika itu.
"Bos! Nona Ila nya ada?" Tanya Didi.
"Hah, dia tidak datang kesini." Sahut Galuh menghela nafas panjang.
"Lantas kita cari kemana nih?" Tanya Didi.
"Ke rumah Eri saja!" Sahut Galuh.
Saat Didi hendak menyalakan mesin mobil, tanpa sengaja Galuh melihat Ratih yang sedang membantu pelayan lain mempersiapkan acara pertunangan nanti malam. Galuh pun menyuruh Didi untuk mematikan kembali mesin mobilnya.
"Di! Bukannya itu Ratih ya?" Tanya Galuh pada Didi sambil menunjuk ke arah Ratih yang tersenyum kepada para pelayan sambil membantunya.
"Hehehe, iya! Pengasuh cantik!" Sahut Didi yang ternyata diam-diam menyukai Ratih.
"Hei, apa kau sedang mengincar pengasuh bayiku, hah?" Ujar Galuh kesal.
"Kalau dia mau, bakalan aku lamar bos! Hehehehe." Sahutnya cengengesan.
"Huh, dasar kau!" Ujar Galuh lagi.
"Kalau Ratih berada disini, berarti Ila dan Gilang juga ada disini! Kalau aku ingat-ingat ekspresi mama Yurika juga biasa saja saat aku menanyakan Ila tadi." Gumam Galuh.
"Heh, mereka bersekongkol untuk menyembunyikan Ila!" Gumam Galuh lagi.
Galuh keluar dari mobil dan kembali masuk ke dalam rumah Yurika. Di sana ia bertemu Yurika lagi yang tampak bengong melihatnya masuk lagi.
"Ma, aku ingin bertemu Ila!" Sahutnya.
"Ila tidak ada disini!" Kata Yurika.
"Ma! Aku bisa mati kalau tidak bertemu Ila! Huhuhuhu." Ucap Galuh nangis bombai yang membuat Yurika kasihan.
"Hah! Ya sudah, temui dia di kamar tamu." Kata Yurika menghela nafas panjang.
"Hehehehe, mama Yurika memang yang terbaik!" Ucap Galuh sembari berlari cepat naik ke lantai atas.
"Dasar bucin Ila!" Ujar Yurika sambil bergeleng kepala melihat tingkah menantunya itu.
Galuh pun berdiri di depan pintu kamar tamu yang ditempati oleh Ila. Tanpa mengetuk pintu Galuh langsung masuk dan melihat Ila yang hanya menggunakan pakaian dalam saja.
"Aaarrgghhh!" Teriak Ila kaget saat Galuh masuk secara tiba-tiba.
"Hei, kenapa kau berteriak? Aku ini suamimu!" Kata Galuh sembari menutup lubang telinganya.
Ila menatap Galuh dengan kesal.
"Pergi sana! Ngapain datang kesini?" Ujar Ila melempar Galuh dengan bantal dan juga guling dengan kesal.
"Sayang! Aku kesini untuk menunjukkan rekaman cctv yang ada di dalam ruang kantorku agar kau tidak salah paham lagi terhadapku!" Kata Galuh berusaha menghindar lemparan Ila padanya.
"Aku tidak perduli!" Ujar Ila terus kesal.
__ADS_1
Galuh melangkah maju dan mendekati Ila. Dengan cepat Galuh menangkap tangan Ila yang hendak memukulinya karena kesal.
"Sayang! Dengarkan dulu penjelasanku!" Kata Galuh pada Ila.
"Kau menyebalkan!" Teriak Ila.
"Lihatlah rekaman ini!" Kata Galuh sambil memutarkan video rekaman cctv itu.
"Aku sudah tau!" Ujar Ila sambil memalingkan wajahnya enggan menatap video itu.
"Eh, kau tau darimana?" Tanya Galuh kaget.
"Tadi siang mama sudah menunjukkannya padaku." Sahut Ila.
"Lalu kenapa kau masih marah? Kau kan sudah tau kalau aku tidak bersalah!" Teriak Galuh kesal pada Ila.
"Pakek acara kabur dari rumah lagi! Buat aku panik saja." Ujar Galuh lagi.
"Kau menyebalkan! Beberapa hari yang lalu kau mengacuhkan aku!" Teriak Ila melawan Galuh.
"Kau duluan yang mengacuhkan aku! Kau selalu saja mengurusi Gilang juga buku-buku pelajaranmu saja! Kau tidak pernah memperhatikan aku lagi!" Balas Galuh.
"Hhheemmmpp!" Seru kedua saling memalingkan wajah karena kesal.
Hening sejenak di dalam kamar itu. Galuh dan Ila saling berbalik membelakangi satu sama lain.
"Oek....oek....!" Tangisan Gilang terbangun dari tidurnya.
Ila yang masih menggunakan pakaian dalam saja langsung menggendong Gilang yang bangun karena suara teriakan kedua orangtuanya yang sedang bersitegang di kamar itu. Ila pun memberikan sebotol susu kepada Gilang yang ia buat sebelum ia mandi tadi. Setelah Gilang kenyang, Ila meletakkan Gilang di ranjang kembali. Ila lantas melangkah ke depan lemari untuk memakai pakaiannya.
"Tidak usah pakai baju! Begitu saja, biar terlihat sexy! Hehehe." Kata Galuh melirik Ila yang sedang memakai baju.
"Pergi sana!" Teriak Ila mengusir dan menendang Galuh keluar dari kamar itu.
Saat Galuh terduduk di lantai depan pintu kamar, Kia kaget setengah mati.
"Kau kenapa, kak?" Tanya Kia pada Galuh.
"Huh, Ila menendangku keluar kamar." Sahut Galuh hendak bangun.
"Hahahaha." Kia tertawa mengetahui Galuh di tendang keluar oleh Ila.
"Jangan menertawakan aku!" Teriak Galuh kesal.
"Lucu sekali! CEO dingin sepertimu di tendang oleh Ila. Hahahaha." Kata Kia terus menertawakannya.
"Huh, semenjak Ila memiliki anak, dia semakin galak saja! Dulu dia begitu imut seperti anak kucing, sekarang dia begitu galak seperti singa betina!" Ujar Galuh.
"Sudahlah! Ila marah hanya di mulut saja. Padahal dihatinya tidak begitu." Kata Kia.
"Tau darimana kau?" Tanya Galuh.
"Ila sering curhat padaku! Sebenarnya dia merindukanmu, kak!" Sahut Kia.
"Hehehe, begitu rupanya!" Gumam Galuh terkekeh licik.
__ADS_1
"Aku memiliki rencana untuknya nanti malam! Hehehehe." Gumam Galuh lagi memiliki rencana untuk Ila setelah acara pertunangan Kia dan Syakir selesai.