
Mobil yabg dikendarai oleh Hamka melaju kencang menuju ke sebuah lingkungan apartemen mewah. Kania menatap kesal pada Hamka yang sedari tadi tersenyum ceria sambil bersiul-siul.
"Kenapa kau bawa aku kesini?" Tanya Kania.
"Selama kita bertunangan kau belum pernah kencan denganku! Anggap saja hari ini kita sedang kencan, oke!" Sahut Hamka.
"Huh, kencan apanya kalau di apartemen!" Gerutu Kania.
"Ayo turun!" Kata Hamka.
"Aku tidak mau! Nanti kau pasti berbuat macam-macam di dalam." Sahut Kania.
"Aku janji tidak akan berbuat macam-macam, tapi satu macam saja yaitu memperkosamu! Hehehehe." Sahut Hamka cengengesan.
"Aku mau pulang!" Kata Kania.
"Huh! Aku sudah tidak sabar lagi dengan wanita ini!" Gerutu Hamka kesal.
Karena Kania tak mau turun dari mobilnya, terpaksa Hamka memaksanya. Hamka meraih tubuh Kania dari dalam mobil dan menggendongnya.
"Hamka! Apa yang kau lakukan? Cepat turunkan aku!" Teriak Kania.
"Aku tidak mau!" Sahut Hamka tak perduli apapun lagi.
"Jangan perkosa aku, Hamka!" Teriak Kania berontak di dalam gendongan Hamka yang terus melangkah menuju lift untuk ke apartemen miliknya.
"Hamka! Kalau kau nekad melakukannya, maka aku akan menghubungi polisi!" Kata Kania.
"Untuk apa kau menghubungi polisi? Kau kan polisi, sayang!" Sahut Hamka.
"Oh, iya! Huh! Gara-gara terlalu lama dekat dengan pria konyol ini aku jadi dodol sama seperti dia." Gumam Kania dalam hatinya.
Hamka pun tiba di depan pintu apartemen miliknya. Ia segera membuka pintu apartemen itu dan masuk ke dalam dengan posisi Kania masih dipanggulnya. Hamka menurunkan Kania pada sebuah sofa di ruang tengah. Kania terduduk dan menatap Hamka yang tersenyum padanya.
"Wah, aku sangat senang akhirnya dapat membawamu kesini!" Seru Hamka memeluk Kania.
"Hei, apa kau kesambet setan, hah?" Ujar Kania kebingungan dalam pelukan Hamka.
"Kania! Malam ini kau menginap disini ya? Pliiisss!" Rengek Hamka.
"Tidak bisa! Malam ini aku harus dinas." Sahutnya menolak.
"Jangan bohongi aku terus, Kania! Aku tau kau tadi pagi sudah dinas, dan malam ini kau libur!" Kata Hamka.
"Hah, dia sudah tau jadwal dinas ku!" Gumam Kania dalam hatinya.
"Menginapkan disini! Aku janji tidak akan melakukan apapun padamu. Aku hanya ingin kita bercerita sepanjang malam berduaan." Rengek Hamka.
Kania menatap mata Hamka yang begitu memelas padanya.
"Hah! Iya, baiklah! Aku akan menginap disini denganmu!" Kata Kania.
"Horeeee....!!!" Seru Hamka kegirangan.
"Tapi jangan macam-macam! Aku tak mau hamil duluan sebelum menikah!" Kata Kania.
"Aku janji gak sampai hamil kok! Hehehehe." Sahut Hamka.
"Bukan begitu maksudku! Aku tidak mau melakukan hal itu sebelum menikah!" Teriak Kania dengan wajah memerah.
"Hah! Gak asik!" Gumam Hamka pasrah.
"Dasar mesum!" Gerutu Kania.
"Kita kan cuma berdua saja, tidak mungkin kan kita cuma ciuman saja?" Kata Hamka mencoba untuk membujuk Kania melakukan hal yang lebih intim.
"Kalau kau tidak bisa menepati janjimu, maka sebaiknya aku pulang saja." Kata Kania hendak beranjak dari tempat duduknya.
"Oke....oke! Aku akan menepati janjiku!" Kata Hamka mencegah Kania pergi.
"Nah, gitu dong!" Sahut Kania menang.
Kania menatap setiap sudut ruangan apartemen milik Hamka itu. Semua ruangan tertata dengan rapi dan tidak ada satupun debu yang menempel disana. Ruangan apartemen Hamka tampak bersih dan kinclong.
"Apa kau melakukan pekerjaan rumah sendiri?" Tanya Kania.
"Tentu saja! Walaupun aku pria brengsek, tapi aku hobi bersih-bersih loh!" Sahut Hamka.
"Hehehehe, dia suka kebersihan rupanya! Aku akan membuatnya kesal semalaman." Gumam Kania terkekeh jahat dalam hatinya.
"Baiklah! Apa kau punya cemilan?" Tanya Kania.
Hamka menggelengkan kepalanya.
"Apaan sih? Apartemen semewah ini tidak punya makanan!" Ujar Kania sewot.
"Ayo kita pergi berbelanja!" Ajak Hamka.
"Iya, baiklah!" Sahut Kania.
Kania dan Hamka pun keluar sebentar ke supermarket untuk membeli beberapa cemilan dan juga bahan makanan mengisi kulkas Hamka yang senantiasa kosong. Seperti hatinya Hamka sebelum dapatin Kania. Hehehe. Tiba disana ternyata supermarket itu tutup.
"Yah, tutup!" Kata Kania.
"Kita ke mall saja! Sekalian jalan-jalan!" Ajak Hamka.
"Oke!" Sahut Kania.
Mereka pun pergi ke mall di pusat kota. Tiba disana Kania menggandeng lengan Hamka yang membuat Hamka semakin bahagia.
"Ya Tuhan! Akhirnya aku mendapatkan hati wanita dingin ini! Aku jadi ingin nangis!" Gumam Hamka sangking terharunya.
"Dasar gila!" Umpat Kania melihat sikap Hamka yang terlalu lebay.
Kania dan Hamka berjalan bersama di dalam mall tersebut. Mereka menikmati keramaian yang ada disana sambil melihat-lihat toko-toko yang menjual segala macam barang.
"Kania! Apa kau ingin berbelanja?" Tanya Hamka.
"Tentu saja! Kita kesini kan untuk berbelanja!" Sahutnya.
"Bukan itu maksudku! Apa kau ingin membeli gaun, tas, sepatu, perhiasan atau lainnya?" Tanya Hamka.
__ADS_1
"Untuk apa? Apa kau lupa aku terlahir menjadi anak sultan?" Sahut Kania yang memang sudah terbiasa dengan barang-barang yang ditawarkan Hamka.
"Aku bosan dengan barang-barang seperti itu! Dengan uang ayahku, aku bisa membeli apapun yang aku mau." Sambung Kania lagi.
"Wanita ini beda kelas dengan wanita-wanita yang biasa aku kencani! Biasanya wanita yang aku kencani selalu meminta barang-barang branded yang mahal-mahal! Hah, beda kelas memang beda kualitas!" Gumam Hamka dalam hatinya sambil menatap Kania.
"Hamka! Ayo kita belanja bahan-bahan makanannya!" Ajak Kania.
"Iya, baiklah!" Sahutnya.
Hamka dan Kania pun berbelanja bahan-bahan makanan di supermarket yang ada di dalam mall tersebut. Kania membeli banyak sayuran dan juga buah-buahan, sedangkan Hamka sibuk memilih daging sapi yang berkualitas untuk santapannya malam nanti. Saat sedang memilih daging sapi tersebut, tiba-tiba pundaknya di tepuk oleh Galuh yang kebetulan sedang berbelanja juga bersama Ila.
"Hei, belanja juga?" Sapa Galuh pada Hamka.
"Hah! Dimana-mana selalu ada kau!" Gerutu Hamka.
"Cih, Jamet kuproy!" Ujar Galuh sewot.
"Kak Hamka belanja sendirian?" Tanya Ila.
"Hehehe, kali ini aku belanja dengan kekasihku!" Seru Hamka girang.
"Siapa kekasihmu?" Tanya Galuh.
"Tentu saja Kania!" Teriak Hamka.
"Eh, apa si Kania sudah mau menerimamu menjadi kekasih idamannya?" Tanya Galuh kaget.
"Tentu saja! Aku ini kan pria tampan! Tidak ada wanita yang bisa menolak pesonaku!" Kata Hamka menyombongkan diri, tanpa ia sadari bahwa Kania berdiri dibelakangnya dan mendengar semua perkataannya itu.
"Oh, jadi begitu ya? Kau merasa tampan, begitu?" Kata Kania pada Hamka.
"****** aku!" Gumam Hamka.
Hamka pun menoleh kebelakang dan melihat Kania yang menatap kesal padanya.
"Hahaha, sayang! Imut banget kalau marah!" Kata Hamka mencoba untuk membuat Kania tak kesal padanya.
"Kania! Gigit kupingnya! Kalau kau marah luapkan saja pada Hamka!" Kata Galuh mengompori.
"Galuh! Bisakah kau diam!" Teriak Hamka.
"Pppfffttt!" Galuh hanya tersenyum sambil menahan tawanya.
"Kania sayang! Ayo kita belanja yang banyak!" Ajak Hamka.
"Dasar sok ganteng!" Umpat Kania.
"Hei, akui saja kalau aku ini memang tampan! Kalau tidak kau pasti tidak mau jatuh cinta padaku, kan? Hehehe." Sahut Hamka.
"Huh!" Kania banyak berdengus kesal sembari melipat kedua tangannya.
Kania dan Ila pun mengobrol sejenak di supermarket itu. Begit pula dengan Hamka dan Galuh.
"Hei, bagaimana bisa kau meyakinkan Kania?" Tanya Galuh.
"Tentu saja dengan gigih aku mengejarnya!" Sahut Hamka.
"Aku tulus dengan Kania! Maka dari itu aku mengejarnya sampai aku dapat." Sahut Hamka.
"Malam ini dia akan menginap di apartemenku! Hehehe." Kata Hamka lagi.
"Pantas saja kau begitu bersemangat! Apa kalian akan......
"Hah, sayangnya tidak! Dia tidak mau melakukan hal itu sebelum kami resmi menikah." Sahut Hamka.
"Hahaha, kasihan sekali kau! Apa kau sanggup menahannya semalaman?" Kata Galuh terkekeh geli.
"Entahlah!" Sahutnya.
Setelah berbincang sebentar, mereka pun berpisah. Kania dan Hamka kembali melanjutkan aktivitas belanja mereka. Beberapa saat kemudian Kania dan Hamka pun kembali ke apartemen. Disana Kania sibuk menyusun semua bahan makanan untuk dimasukkan ke dalam kulkas. Sementara Hamka hanya menatap Kania dari sudut ruangan.
"Mimpi apa aku semalam? Tiba-tiba saja dia sudah berada di apartemenku!" Gumam Hamka menatap Kania yang selama ini susah payah ia kejar.
"Apa malam ini kau ingin makan olahan daging? Banyak sekali kau membelinya!" Tanya Kania.
"Iya! Aku suka daging." Sahut Hamka.
"Apa kau bisa memasak?" Tanya Hamka.
"Kau terlalu menyepelekan aku!" Sahut Kania.
"Hehehe, kau kan anak sultan! Aku pikir kau tidak pernah melakukan pekerjaan rumah." Kata Hamka.
"Walaupun aku anak orang kaya, tapi aku di didik untuk mandiri!" Sahut Kania terus menyimpan bahan makanan ke dalam kulkas.
Malam itu Kania pun memasak di dapur. Hamka duduk di meja makan sambil menatapnya dengan tatapan yang begitu terpesona. Hamka pun melangkah dan mendekati Kania yang sedang sibuk memasak makanan untuknya. Hamka memeluk Kania dari belakang.
"Aku sedang memasak, Hamka!" Kata Kania.
"Aku tau! Aku kan cuma memelukmu saja!" Sahut Hamka.
"Kania! Apa tidak sebaiknya kita mempercepat hari pernikahan kita?" Tanya Hamka.
"Apaan sih! Orang tua kita sudah menentukan tanggal yang tepat jadi sabarlah!" Sahut Kania.
"Aku ingin segera memilikimu dan juga melihatmu setiap hari disini!" Kata Hamka.
"Aku ini polisi! Aku tidak bisa senantiasa selalu berada di sampingmu walaupun nanti kita sudah menikah." Kata Kania.
"Resign dong!" Pinta Hamka.
"Tidak akan!" Sahut Kania.
"Cih, tetap saja tidak mau!" Gerutu Hamka.
"Pergi duduk sana! Sebentar lagi makanannya akan selesai." Kata Kania.
Hamka pun kembali duduk di meja makan itu menunggu makanan yang Kania masak selesai. Selang beberapa menit makanan pun sudah terhidang di meja makan itu. Mereka duduk saling berhadapan dan mulai untuk makan malam bersama. Hamka mencicipi makanan yang Kania masak untuknya.
"Apakah enak?" Tanya Kania.
__ADS_1
"Hheeemmmm? Enak!" Sahut Hamka.
"Kau memang istri idaman! Apalagi kalau kau tidak jadi polisi lagi, kau pasti akan menjadi seorang istri dan juga ibu yang terbaik di dunia ini!" Kata Hamka lagi.
Kania terdiam sejenak dan memikirkan apa yang Hamka katakan. Ia menyadari kodratnya sebagai wanita. Namun ia juga tak ingin melepaskan apa yang telah ia cita-citakan seja kecil.
Setelah selesai makan malam, Kania dan Hamka duduk di ruang tengah sambil menonton televisi. Begitu banyak makanan cemilan di atas meja itu. Kania fokus pada apa yang ia tonton sedangkan Hamka fokus pada tubuh Kania yang hanya pasrah digerayangi olehnya.
"Kania!" Panggil Hamka.
"Heeemm?" Sahutnya tetap fokus pada televisi.
"Kita buat bayi yok!" Ajak Hamka modus.
"Tidak mau!" Sahut Kania.
"Dasar gak asik!" Gerutu Hamka.
Selagi Kania fokus pada televisi sementara Hamka menatap ke segala arah ruangan yang tampak berserakan bungkus makanan ringan yang Kania sebarkan. Hamka yang suka kebersihan langsung mendidih melihatnya.
"Kania! Apa yang kau lakukan? Kenapa berserakan semuanya!" Teriak Hamka.
"Bersihkan dong!" Kata Kania santai.
"Huh! Dasar menyebalkan!" Gerutu Hamka yang mau tak mau harus mengutip semua bungkus makanan ringan yang Kania sebarkan. Melihat Hamka mengutip semuanya Kania hanya terkekeh kecil sambil terus mengunyah cemilannya.
"Ah, aku kenyang! Sekarang aku ingin tidur." Kata Kania.
Mendengar perkataan Kania, Hamka langsung bersemangat.
"Apakah kau ingin tidur? Hehehe." Tanya Hamka dengan pikiran kotornya.
"Iya!" Sahut Kania.
"Let's go!" Seru Hamka.
Kania dan Hamka pun masuk ke dalam kamar. Sesampainya di kamar, Kania langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang milik Hamka tersebut. Hamka begitu sigap menimpa Kania yang berbaring disana. Ia memberikan ciuman hangatnya dengan lembut kepada Kania. Kania pun membalas ciuman tersebut. Ia merangkul leher Hamka dan membalas semua yang Hamka lakukan padanya.
"Kau sudah berjanji kan untuk tidak melakukannya?" Kata Kania pada Hamka.
"Hah, baiklah!" Sahut Hamka pasrah dan menenggelamkan wajahnya di dada Kania.
"Kania!" Panggil Hamka.
"Heeemm?" Sahut Kania.
"Apa aku boleh bertanya?" Tanya Hamka.
"Apa?" Sahut Kania.
"Apa kau sama sekali belum pernah melakukannya?" Tanya Hamka.
"Belum!" Sahut Kania.
"Kenapa? Sepertinya kau wanita yang bebas!" Tanya Hamka.
"Aku ingin menikmatinya bersama pria yang menjadi suamiku kelak! Itu saja alasanku!" Kata Kania.
"Kania!" Panggil Hamka lagi.
"Apa?" Sahut Kania.
"Resign dong!" Pinta Hamka lagi.
"Cih, itu mulu yang diomongin!" Gerutu Kania.
"Jika kau pindah tugas, bagaimana denganku?" Tanya Hamka.
"Mana aku tau!" Sahutnya.
"Apa kau tidak sedih melihatku sendirian disini tanpamu?" Kata Hamka.
"Aku juga sendirian disana nanti!" Sahut Kania.
"Huh, jawabanmu itu membuatku pusing!" Ujar Hamka.
"Kau kan bisa menemuiku disana! Lagian letak kotanya juga tidak terlalu jauh dari ibu kota." Kata Kania.
"Tetap saja kau akan kesepian!" Sahut Hamka.
Hamka kembali menatap wajah Kania yang juga sedang menatapnya.
"Kania! Ayo dong!" Pinta Hamka.
"Apaan?" Tanya Kania.
"Itu...tu...!" Sahut Hamka.
Sebelum menjawab apa yang diminta Hamka, Kania meraih ponselnya yang mendapat pesan dari anggota polisi bawahannya. Setelah itu Kania tersenyum menatap Hamka yang seakan tak sabar ingin melahapnya.
"Aku menginginkannya ya?" Kata Kania.
Hamka pun mengangguk dengan cepat.
"Bagaimana kalau kau mandi dulu? Aku suka pria yang wangi!" Bisik Kania.
"Baiklah!" Seru Hamka bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Mendengar Hamka mandi sambil bernyanyi di dalam kamar mandi, Kania pun bergegas mengganti piyamanya dengan dress yang ia beli tadi siang saat di mall. Kania mengambil secarik kertas dan menuliskan pesan di atas kertas itu.
Setelah selesai mandi, Hamka yang masih menggunakan handuk kecil yang melingkar di pinggangnya menatap ke segala ruang kamar. Ia tak melihat batang hidung Kania disana.
"Eh, kemana dia?" Gumam Hamka celingak-celinguk mencari Kania.
Tak lama mata Hamka pun melirik pada secarik kertas yang terletak di atas ranjang. Hamka pun membaca pesan yang Kania tuliskan untuknya.
"Sayang! Sepertinya kita harus menundanya malam ini! Aku akan pergi meringkus pelaku yang melakukan tindakan kriminal bersama anggotaku! Aku bawa mobilmu ya, sayang! Mimpi yang indah!" Pesan Kania yang tertulis pada secarik kertas itu.
"KANIAAAAAAAA........." Teriak Hamka setelah membaca pesan dari Kania.
__ADS_1