
Hamka merampas surat yang akan Kania simpan di dalam laci meja kerjanya. Hamka segera membuka surat tersebut dan membacanya.
"Apa kau akan pindah ke luar kota?" Tanya Hamka pada Kania.
"Bukan urusanmu!" Sahut Kania hendak merampas kenali surat itu.
"Jadi apa yang dikatakan oleh polisi tadi benar, kau akan pindah tugas ke luar kota?" Tanya Hamka lagi.
Kania terdiam dan membalikkan tubuhnya membelakangi Hamka.
"Aku ingin kau segera berhenti menjadi polisi!" Kata Hamka membalikkan tubuh Kania menghadap padanya.
"Hamka! Jangan mengaturku!" Teriak Kania kesal.
"Kita akan segera menikah! Bagaimana bisa kau tinggal di kota yang berbeda denganku nantinya?" Kata Hamka.
"Aku sudah bilang padamu, kan? Aku tidak ingin menikah denganmu!" Sahut Kania tegas.
"Aku tidak perduli kau mau bicara apa! Tanggal pernikahan kita telah ditentukan dan kau akan tetap menjadi pengantinku apapun yang terjadi." Kata Hamka seraya melemparkan surat tugas itu dan melangkah keluar dari ruang kerja Kania.
Kania terduduk lemas saat Hamka tetap ingin mempertahankan hubungan pertunangan mereka hingga ke jenjang pernikahan. Kania kembali meneteskan air matanya sambil menatapi begitu banyak bunga mawar merah yang diberikan Hamka kepadanya dengan niat untuk berbaikan. Namun sialnya, hubungan mereka semakin rumit setelah Hamka tau bahwa Kania memutuskan untuk pindah tugas ke luar kota.
Hamka yang baru kembali dari tempat kerja Kania, terus berdecak kesal dan tampak begitu gusar akan keputusan Kania yang tak mau menikah dengannya. Berkali-kali Hamka melontarkan makian untuk mencurahkan rasa kesal yang ada di dalam hatinya itu. Bahkan saat itu Hamka juga tak fokus dalam berkendara. Sadar akan bahayanya tidak fokus dalam berkendara, Hamka pun menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang tak begitu jauh dari tempat kerja Kania.
"Sial!" Umpat Hamka sambil memukul batang setir mobil mewahnya.
"Aku tau dia mencintaiku! Tapi kenapa semuanya menjadi rumit seperti ini! Ditambah lagi dia akan pindah dinas ke luar kota." Gumam Hamka dengan segala kegalauannya.
Saat sedang memikirkan apa yang harus ia lakukan demi mempertahankan hubungannya bersama Kania, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Galuh! Ada apa dia menghubungiku pagi-pagi seperti ini? Gumam Hamka dalam hatinya.
Hamka pun lantas menerima panggilan telepon dari sahabatnya itu.
"Ya, Galuh?" Sapa Hamka.
"Kau dimana?" Tanya Galuh.
"Aku sedang di jalan!" Sahutnya.
"Aku dan Syakir menunggu di kantormu!" Kata Galuh.
"Eh, sedang apa kalian?" Tanya Hamka.
"Cepatlah kesini!" Sahut Galuh.
"Iya, baiklah!" Kata Hamka seraya menyalakan mesin mobilnya kembali dan melaju menuju ke kantornya.
Tak lama kemudian Hamka pun tiba di kantor miliknya. Disana ia bergegas menuju ke ruang kerjanya sebagai CEO perusahaan. Di dalam ruangannya itu sudah menunggu Syakir dan juga galuh.
"Ada apa? Kenapa pagi-pagi begini kalian sudah datang ke kantorku?" Tanya Hamka.
"Aku ingin meminta pendapat pada kalian untuk memilihkan jas pengantin ku nanti." Sahut Syakir.
__ADS_1
"Hanya itu saja?" Tanya Hamka.
"Iyalah!" Sahutnya.
"Kenapa tidak bicara di telepon saja tadi, hah? Kalau kau bicara dari awal aku tidak akan buru-buru kesini!" Teriak Hamka kesal.
"Hehehe!" Syakir hanya cengengesan dan Galuh terkekeh geli.
"Sialan! Aku pikir ada hal penting tadi." Kata Hamka terduduk bersandar di sofa kantornya.
Galuh menatap wajah Hamka yang terlihat muram.
"Kau darimana?" Tanya Galuh pada Hamka.
"Dari kantor polisi!" Sahut Hamka.
"Jumpai Kania lagi?" Tanya Galuh.
"Bukan, tapi jumpai ayahnya disana!" Sahut Hamka ketus.
"Sudah tau aku menemui Kania, masih bertanya!" Gerutu Hamka sewot.
"Hah! Pasti kau bertengkar lagi dengannya." Kata Syakir.
"Bukan hanya bertengkar, Kania bahkan tidak mau menikah denganku." Sahut Hamka sambil memijat kepalanya.
"Whhhaaattt?" Pekik Galuh dan Syakir bersamaan.
"Bukan hanya itu saja, dia juga akan pindah tugas ke luar kota!" Sambung Hamka lagi.
"Hah! Apakah kalian ini kembar? Kenapa bicara secara bersamaan seperti itu, hah?" Teriak Hamka.
"Pppfftt, buaaahahahahahaha." Syakir dan Galuh malah tertawa terpingkal-pingkal.
"Apa? Apanya yang lucu woi?" Teriak Hamka kesal karena ditertawakan.
"Kalau Kania tugas di luar kota, habislah si Hamka! Setiap malam cuma peluk guling saja setelah menikah. Hehehehe." Kata Galuh terkekeh geli.
"Kalau dia pengen, kira-kira harus berbuat apa ya? Hehehe." Sahut Syakir.
"Menuntaskan diri di kamar mandi!" Sambung Galuh.
"Ppffttt, bbuuaahhahahahahahaha!" Mereka tertawa terbahak-bahak lagi meledek Hamka yang sedang emosi di sofanya.
"Apakah guyonan kalian sudah selesai, bocah Jamet?" Ujar Hamka berdiri dan hendak meluapkan api emosionalnya kepada kedua sahabatnya itu.
"Wow! Apinya emosinya seakan menyambar kita, Jamet!" Seru Syakir pada Galuh sambil menatap Hamka.
"Siapa yang Jamet?" Tanya Galuh.
"Kau!" Sahut Syakir.
"Kau yang Jamet!" Teriak Galuh kesal pada Syakir.
__ADS_1
"Kau si Jamet! Bocah kampungan yang joget-joget tiktok dengan gaya rambut towernya itu!" Ujar Syakir tak mau kalah pada Galuh.
Hamka yang tadinya ingin meluapkan emosinya, malah tercengang melihat kedua sahabatnya yang sedang saling menghujat didepannya.
"Hei, kenapa malah kalian yang bertengkar, Jamet?" Terima Hamka.
"Kau yang Jamet!" Seru Galuh dan Syakir pada Hamka.
"Apa?" Ucap Hamka kaget.
"Sebentar lagi kau akan di tinggal Kania tugas ke luar kota kan? Maka dari itu kau jadi Jamet! Jablay Metal! Hehehe." Sahut Syakir.
"Fufufufufu, mantap banget julukannya." Sambung Galuh menimpali.
Mengingat kembali akan ditinggal Kania, Hamka kembali lesu dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang kerjanya. Syakir dan Galuh sebagai sahabat merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Hamka saat itu.
"Met! Hentikan kesedihanmu itu." Kata Syakir menepuk pundak Hamka.
"Hei, aku bukan Jamet!" Ujar Hamka sewot.
"Hohoho, oke! Cuma berjanda!" Kata Syakir.
"Bercanda, lol!" Sahut Galuh.
"Hah! Aku seakan lelah mengejar Kania." Kata Hamka.
"Hei, katanya kau cinta mati pada polwan dingin itu! Kenapa begitu saja menyerah sih?" Kata Syakir.
"Dia tidak mau menikah denganku!" Kata Hamka.
"Apa kau sudah memastikan perasaannya padamu? Dari segi penglihatanku, Kania sepetinya memiliki perasaan padamu." Sahut Galuh.
"Aku yakin dia mencintaiku! Tapi dia masih dibayang-bayangi oleh cinta dari mendiang kekasihnya itu." Kata Hamka.
"Kalau memang kau yakin dia mencintaimu juga, kejar dia, Hamka! Kejar sampai dapat!" Kata Syakir memberikan semangat pada Hamka.
"Hei, apa kau lupa? Kita ini termasuk CEO pemaksa wanita!" Kata Galuh.
"Oh iya, kau benar juga! Kita kan pria-pria pemaksa wanita. Hehehehe." Kata Hamka seketika bersemangat kembali dengan segudang rencananya untuk memaksa Kania menjadi istrinya.
"Semangat lah sobat! Jika perlu bantuan, hubungi rumah sakit jiwa terdekat, ya." Kata Syakir.
"Kau pasiennya!" Ujar Hamka pada Syakir.
"Sudah! Sama-sama mantan pasien rumah sakit jiwa kalian tidak perlu bertengkar! Hehehehe." Sahut Galuh.
"Kapan kita akan melihat jas pengantinmu?" Tanya Hamka pada Syakir.
"Entar siang!" Sahutnya.
"Ini masih pagi, kenapa kalian sudah datang, hah? Astaga!" Teriak Hamka yang tak habis pikir dengan kedua sahabatnya itu.
"Bosan di kantor mulu! Kami datang kesini sengaja untuk mengganggumu!" Sahut Galuh.
__ADS_1
"Ah, anying! Jujur amat jawabannya!" Ujar Hamka.
Ketiga sahabat itu pun akhirnya menunggu siang hari sambil bercengkrama, bercanda dan saling menghujat satu sama lain di ruang kantor itu.