GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
KESAL


__ADS_3

Galuh masih terdiam dan membatu bak tertiup angin yang hampa. Didi jungkir baik tertawa melihat Galuh yang di cueki oleh Ila.


"Didi, akan ku potong gajimu selama 5 tahun!" Teriak Galuh kesal setengah mati sambil mengejar langkah Ila yang sduah masuk ke dalam rumah.


Ila tampak bahagia dengan menenteng tas belanjaan yang banyak. Hana menghampiri Ila yang baru saja pulang.


"Kau bawa apa, sayang?" Tanya Hana pada menantunya itu.


"Tadi kau dan mama berbelanja di mall! Mama membelikan aku pakaian khusus untuk wanita hamil." Sahut Ila menunjukkan beberapa barang belanjaannya tersebut.


"Wah, pakaiannya bagus-bagus ya! Pasti cocok untukmu ketika perutmu sudah membesar nanti." Seru Hana seraya mengelus wajah Ila.


"Papa, jadi tidak sabar ingin melihat cucu kita nanti!" Sahut Antoni yang sedang duduk bersantai di sofa.


Hana dan Ila tersenyum bahagia. Lalu Galuh menghampiri Ila yang tadi mengacuhkan dirinya begitu saja. Galuh mencoba lagi untuk memberikan perhatiannya yang begitu berlebihan terhadap Ila.


"Sayang, kau tidak merasa pusing, mual, atau lelah?" Tanya Galuh pada Ila.


"Kak, aku tidak apa-apa! Malah setelah dai luar tadi, aku merasa happy." Sahut Ila.


"Tapi sayang, aku khawatir, kau kan sedang hamil." Kata Galuh lagi sambil mengelus perut Ila yang masih rata.


"Kau tenang saja! Aku tidak apa-apa." Sahut Ila lagi.


"Ayo kita ke kamar! Lebih baik kau istirahat yang banyak di dalam kamar." Ajak Galuh menuntun tubuh Ila untuk masuk ke dalam kamar.


Ila pun menuruti apa yang di katakan Galuh padanya. Ia berpikir mungkin Galuh memang sangat menginginan bayi itu dan juga tak ingin dirinya terluka. Ila mencoba untuk tenang dan bersabar dengan sikap Galuh yang terlalu berlebihan padanya.


Galuh mendudukkan tubuh Ila di atas ranjang. Ila duduk dengan berselonjor kaki. Galuh sibuk membereskan barang belanjaan yang Ila bawa ketika pulang tadi.


"Sayang, setelah ini kau tidak boleh keluar dari rumah ini lagi, ya!" Kata Galuh melarang Ila untuk berpergian ketika hamil.


"Kenapa?" Tanya Ila panik.


"Kau sedang hamil, sayang! Kata Roni usia kandunganmu yang masih muda itu sangat rentan. Aku tidak mau terjadi apapun padamu!" Sahut Galuh mencoba untuk membuat Ila mengerti yang ia inginkan.


"Tapi aku bosan kalau dirumah terus!" Kata Ila merengek.


"Kalau kau bosan kau kan bisa mengobrol sama papa dan mama dirumah! Kau juga boleh duduk di halaman depan. Matahari pagi bagus loh!" Kata Galuh tetap tidak mengizinkan Ila untuk keluar rumah.


"Aku tidak mau! Aku tetap mau pergi keluar." Sahut Ila dongkol.


"Sayang, jangan ya! Kau harus banyak istirahat." Kata Galuh terus memaksa.


"Aku tidak mau!" Pekik Ila kesal.


"Kalau aku bilang tidak boleh ya tidak boleh!" Bentak Galuh emosi pada Ila.


Ila sontak kaget saat Galuh membentaknya. Suara Galuh begitu keras sampai terdengar hingga ke luar kamarnya. Galuh menatap mata Ila yang berkaca-kaca karena bentakannya. Galuh cepat-cepat memeluk Ila dan meminta maaf padanya.


"Sayang, aku tidak bermaksud untuk membentakmu tadi! Aku hanya terpancing emosi saja." Kata Galuh panik karena Ila mulai menangis.


"Hiks...hiks...hiks...." Suara tangisan Ila muali terdengar. Air matanya jatuh dan membasahi wajanya yang sedih saat itu.


"Sayang, aku minta maaf ya!" Ucap Galuh bertambah panik.


"Huuwwaaaa, kak Galuh jahat!" Teriak Ila nangis sekencang-kencangnya.


Dari luar kamar Hana dan Antoni mendengar tangisan Ila. Mereka langsung mengetuk pintu kamar Galuh saat itu. Galuh membuka pintu kamarnya dan tampaklah Ila sedang menangis disana.


"Kau apakan menantuku?" Teriak Hana marah pada Galuh.


"Ampun, ma! Aku tidak sengaja membentaknya tadi." Ucap Galuh seraya mengatupkan kedua telapak tangannya kepada Hana.


"Jangan bentak-bentak istrimu!" Ujar Antoni juga marah pada Galuh.


"Iya, pa!" Sahut Galuh.


Hana masuk ke dalam dan menenangkan Ila yang begitu cengeng ketika ia sedang hamil. Hana mencoba untuk menenangkan Ila yang terus menangis karena ulah Galuh yang memiliki sikap terlalu berlebihan pada Ila.


Setelah Ila berhenti menangis, Hana menyuruhnya untuk beristirahat di dalam kamar, sedangkan Galuh mengikuti langkah Hana yang menariknya ikut bersamanya.


"Galuh, perasaan wanita hamil itu rapuh! Kau harus menjaga perasaannya." Kata Hana menasehati Galuh.


"Ma, aku hanya berupaya agar Ila dalam kondisi sehat! Aku tidak ingin terjadi apapun pada Ila." Sahut Galuh masih bersikeras dengan apa yang ia pikirkan.


"Bukan hanya kau saja yang menginginkan hal itu, kami juga! Kami juga menginginkan Ila dan bayi yang ada di dalam kandungannya sehat." Sambung Antoni menimpali perkataan Galuh.

__ADS_1


"Tapi pa, kata Roni, Ila itu harus istirhat yang cukup karena dia hamil di usia yang sangat muda." Sahut Galuh.


"Hei, kenapa kalian bawa-bawa namaku? Ada apa?" Tanya Roni yang tiba-tiba menyahut karena ia baru saja tiba pulang kerumah.


"Ron, apa benar kalau Ila harus terus-terusan istirahat di rumah?" Tanya Hana pada si dokter kandungan.


"Tidak!" Sahut Roni.


"Hei, bukannya kau bilang kalau Ila harus istirahat yang banyak?" Teriak Galuh kesal.


"Iya! Tapi bukan berarti dia harus di rumah sepanjang waktu." Sahut Roni.


"Ila juga butuh penyegaran di luar rumah! Wanita hamil tidak boleh stress loh." Sambung Roni lagi.


Galuh terdiam. Ia menyadari bahwa perhatiannya selama ini terhadap Ila terlalu berlebihan.


"Jadi, Ila boleh keluar jalan-jalan keluar rumah walaupun dia sedang mengandung?" Tanya Galuh untuk memastikannya.


"Iyalah! Apa kau pikir wanita hamil itu seorang tahanan?" Teriak Roni dongkol pada sikap Galuh yang terlalu berlebihan menjaga Ila.


"Cepat bujuk Ila, sana! Gara-gara kau Ila menangis tadi." Perintah Hana pada Galuh.


"Apa? Ila nangis?" Tanya Roni terkejut.


"Aku tidak sengaja membentaknya tadi!" Sahut Galuh merasa bersalah.


"Jangan buat Ila stress! Pergi bujuk dia, sana." Teriak Roni sambil menendang Galuh untuk segera pergi ke kamar Ila.


 


Galuh membuka pintu kamar dan melihat Ila sedang duduk di atas ranjang dengan sebuah buku yang ada di tangannya. Ila melirik Galuh sejenak, sebelum ia memalingkan wajahnya dari Galuh.


Galuh mendekati Ila dengan senyuman lebar dan raut wajah yang merasa bersalah.


"Imut! Maaf ya." Ucap Galuh pada Ila.


"Hheemmppp!" Ila memalingkan wajahnya dari Galuh yang duduk di sampingnya.


"Jangan cemberut lagi,dong! Aku kan sudah minta maaf." Kata Galuh berusaha untuk membujuk Ila yang sedang ngambek.


Ila masih tak bergeming dan terus saja cemberut. Galuh berpikir keras untuk membujuk Ila agar tidak ngambek lagi.


"Benarkah, kau akan memberikan apapun yang aku pinta?" Tanya Ila antusias.


"Iya, asalkan kau mau memaafkan aku!" Sahut Galuh.


"Baiklah, aku memaafkanmu!" Kata Ila memaafkan Galuh.


"Lalu kau mau apa?" Tanya Galuh pada Ila sebagai gantinya.


"Aku ingin bakso pedas!" Pinta Ila.


"Tidak boleh! Nanti kau sakit perut." Teriak Galuh kesal.


"Huh, menyebalkan!" Gerutu Ila berbalik membelakangi Galuh karena kesal.


"Minta yang lain saja!" Kata Galuh.


"Aku tidak mau." Sahut Ila ngambek lagi.


"Hiks....hiks...hiks....., Hhhuuuwwaaaaa...." Ila kemudian menangis yang membuat Galuh menjadi panik. Galuh takut Hana dan Antoni akan memarahinya karena membuat Ila menangis.


"Baiklah! Aku akan membelikan bakso pedas untukmu." Kata Galuh cepat-cepat menuruti permintaan Ila agar Ila bisa berhenti menangis.


"Horeeee!" Seru Ila tiba-tiba saja kegirangan.


Galuh hanya bisa pasrah sekaligus menarik nafas dengan lega karena Ila berhenti menangis. Galuh berjanji pada Ila untuk membelikan bakso pedas itu besok sore ketika ia pulang dari kantor.


"Ayo kita keluar kamar! Sebentar lagi kita akan makan malam bersama di ruang makan." Ajak Galuh pada Ila untuk keluar dari kamar dan bergabung bersama yang lainnya di ruang tengah sebelum mereka makan malam bersama di ruang makan.


 


 


*****


Di dalam kamarnya, Kia sedang mengerjakan tugas sekolah. Bulan depan ia akan menghadapi ujian kelulusannya. Semakin hari Ki semakin rajin belajar. Ia lebih betah duduk di meja belajarnya dengan buku-buku pelajaran yang tegelatak di ats meja belajar tersebut. Yurika sangat senang dan bersyukur kini Kia sudah menjadi pribadi yang baik dan juga bertanggunga jawab. Malam itu Yurika masuk ke dalam kamar Kia dan sedang melihatnya belajar dengan tekun.

__ADS_1


"Anak mama, sangat rajin belajar!" Ucap Yurika memuji Kia.


"Iya, ma! Sebentar lagi aku akan ujian." Sahut Kia menghentikan aktifitas belajarnya saat itu dan mengobrol dengan Yurika.


"Tadi mama pergi bersama Ila ke mall, lalu mama belanja banyak dan ini untukmu, mama membelikan beberapa gaun untukmu!" Kata Yurika memberikan kantung belanjaan yang ia beli untuk Kia.


"Terima kasih ya, ma! Gaunnya indah." Sahut Kia senang.


"Ya sudah, kembali lah belajar lagi! Mudah-mudahan kelak kau akan menjadi orang sukses jika kau terus tekun belajar." Ucap Yurika mendoakan keponakan yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.


Kia tersenyum bahagia karena Yurika mendoakan dirinya. Yurika keluar dari kamar dan Kia pun kembali fokus belajar. Tak lama kemudian, Kia mendengar ponselnya yang berdering. Ia tersenyum lebar ketika hendak menerima panggilan telepon dari Syakir.


"Halo, kak!" Ucap Kia menerima panggilan telepon.


"Kau sedang apa?" Tanya Syakir pada Kia.


"Tidak ada! Aku hanya mengulang beberapa pelajaran dari sekolah." Sahut Kia.


"Kau sedang apa?" Tanya Kia pada Syakir.


"Aku sedang memikirkanmu!" Sahut Syakir membuat Kia tersipu malu.


"Gombal banget sih!" Ujar Kia senyum-senyum.


"Aku tidak sdang menggombalimu, tapi aku memang benar-benar sedang memikirkanmu!" Sahut Syakir yang mengatakan hal tersebut dengan wajah memerah.


"Besok sepulang sekolah, apa kau ada aktivitas lain?" Tanya Syakir.


"Tidak! Memangnya kenapa?" Sahut Kia.


"Aku ingin bertemu denganmu! Apa kau mau makan siang bersamaku, besok?" Tanya Syakir.


"Eemm, iya, aku mau!" Sahut Kia menerima ajakan Syakir.


"Baiklah, besok siang aku akan menjemputmu di sekolah!" Kata Syakir membuat janji dengan Kia.


"Iya!" Sahut Kia.


Malam itu Kia habiskan terus mengobrol panjang bersama Syakir melalui ponselnya. Mereka mengobrol untuk saling mengenal satu sama lainnya.


 


Keesokan harinya saat jam istirahat di sekolah, Sandi diam-diam menatap Kia yang asik ngobrol dan bercanda bersama teman-temannya. Entah apa yang membuat Sandi begitu ingin menatap Kia yang kini sudah berubah drastis. Kia menjadi pribadi yang ramah dan juga bersahaja. Karena sikapnya itu Kia menjadi banyak teman di sekolahnya.


Kia merasakan haus pada tenggorokannya. Ia pun berjalan pergi ke sebuah kantin yang ada di sekolahnya itu. Kia berjalan melintas di depan Sandi yang sedang duduk bersama dengan teman-temannya. Sandi melihat wajah Kia dai jarak yang sangat dekat. Rambut Kia yang kini tampak panjang terurai dan juga wajah polos Kia tanpa make-up membuat Sandi seakan terpesona ketika ia menatapnya. Jantung Sandi berdetak kencang ketika Kia melintas di depannya sambil tersenyum ramah bersama dengan teman-temannya.


"Ada apa denganku? Kenapa jantungku berdetak kencang ketika menatap Kia?" Gumam Sandi belum menyadari kalau ia telah jatuh cinta pada Kia.


Kia terus berjalan tanpa menghiraukan tatapan Sandi pada dirinya. Kia bukannya tak tahu kalau Sandi terus menatapnya, namun Kia tetap menguatkan hatinya agar ia bisa segera melupakan cinta pertamanya itu.


"Aku tak perlu memikirkan orang yang tak pernah membalas perasaanku! Lebih baik aku menanamkan hal tersebut dalam hatiku agar aku bisa segera melupakan Sandi." Gumam Kia dalam hatinya.


 


Pulang sekolah, Kia berjalan menuju ke gerbang sekolah. Ketika itu Kia melihat ada seseorang yang menunggunya di luar gerbang. Kia tersenyum dan melambaikan tangannya pada Syakir yang telah menunggunya sedari tadi.


"Kak, apa kau sudah lama menunggu?" Tanya Kia pada Syakir.


"Kurang lebih sejam." Sahut Syakir.


"Kau terlalu cepat datang untuk menjemputku!" Kata Kia.


"Aku sudah tidak sbar ingin bertemu dan makan siang bersamamu, jadi aku cepat-cepat datang kesini untuk menjemputmu." Kata Syakir dengan wajah yang memerah yang tak kalah merahnya dengan wajah Kia saat itu.


Sandi yang mengendarai mobil mewahnya dan hendak pulang dari sekolah, melihat Kia berbincang bersama Syakir di pintu gerbang sekolah. Sandi menatap pria dewasa itu yang kebetulan sedang menggenggam tangan Kia. Sandi seketika menjadi kesal karena Syakir menggenggam tangan Kia.


"Siapa pria berjas itu? Kenapa dia menggenggam tangan Kia?" Gumam Sandi bertanya-tanya dalam hatinya.


Sandi melirik wajah Kia yang tampak senang dan tersenyum bahagia kepada Syakir. Sandi semakin kesal dan memukul batang stir mobilnya dengan keras.


"Sial! Kenapa aku sekesal ini?" Gumam Sandi kembali menatap Kia dan Syakir.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2