
Ila membuka matanya perlahan dan sempat kaget melihat sosok yang tidur sambil memeluk dirinya. Ila teringat kalau sekarang dia sudah menjadi seorang istri dari pria yang sering sekali berubah sikap terhadapnya. Ila menggeser tangan kekar yang membalut tubuhnya itu dengan perlahan. Namun bukannya tergeser tangan tersebut malah semakin kencang untuk memeluk tubuhnya. Ila tau kalau Galuh saat itu juga sudah terbangun dari tidurnya.
"Kak, lepas." Ucap Ila pada Galuh.
"Kau mau kemana?" Tanya Galuh yang masih memeluk Ila.
"Mau mandi dan menyiapkan makan malam." Sahut Ila sambil melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 7 malam.
"Apa ini sudah malam?" Tanya Galuh tiba-tiba terkejut.
"Iya." sahut Ila.
"Astaga, aku lupa kalau aku punya janji dengan teman-temanku." Kata Galuh langsung bangkit dan melangkah menuju ke kamar mandi.
Ila pun turun dan keluar dari kamar. Ila pergi mandi di kamar mandi lainnya lalu setelah itu ia ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Galuh yang terlihat sudah rapi menemui Ila yang sedang memotong-motong bahan makanan yang akan di olahnya.
"Aku akan pergi bertemu dengan teman-temanku! Jika aku pulang terlambat kau langsung tidur saja tidak usah menungguku." Kata Galuh pada Ila.
"Apa kau akan makan malam di luar?" Tanya Ila.
"Iya." Sahut Galuh.
"Baiklah, kalau begitu aku masak makanan untukku saja." Kata Ila lagi melanjutkan pekerjaannya.
"Apa kau berani di apartemen sendirian?" Tanya Galuh.
"Tentu saja! Aku ini bukan anak kecil yang penakut." Sahut Ila.
"Dasar gadis lupa ingatan! Sewaktu di villa ketakutan persis seperti anak kucing yang sedang gemetaran, sekarang mengaku bukan anak kecil yang penakut." Gumam Galuh seraya melangkah pergi keluar dari apartemennya.
Melihat Galuh yang sudah keluar dari apartemen, Ila jejingkrakan sambil melompat-lompat kegirangan.
"Yes! Akhirnya dia sudah pergi. Aku bisa bebas melakukan apapun yang aku mau di sini." Ucap Ila berteriak kegirangan.
Ila menyiapkan makan malam untuknya dan makan sambil menoton televisi. Ila melakukan apapun yang ia sukai di apartemen itu tanpa ada gangguan dari Galuh. Hari semakin larut namun tidak ada tanda-tanda kepulangan dari Galuh saat itu. Ila melirik jam yang ada di dinding ruang tengah. Saat itu jam menunjukkan pukul 11 malam. Ila mematikan televisi dan beranjak masuk ke dalam kamarnya. Namun saat itu tiba-tiba ia mendengar dentuman petir yang sangat keras. Ila menjerit sambil merunduk dan menutupi kedua telinganya. Merasa suara petir itu tidak terdengar lagi, Ila berlari masuk ke dalam kamar tanpa mengunci pintu kamar itu. Ila duduk di atas ranjang sambil menutupi tubuhnya dengan selimut tebal. Tak lama terdengar suara hujan yang turun dengan derasnya di sertai angin yang kencang.
Galuh yang sedang menikmati obrolan panjang dengan teman-temanya itu, juga sesekali terkejut mendengar suara dentuman petir yang keras di sertai hujan lebat dan angin kencang. Galuh teringat akan Ila yang sedang sendirian di apartemen. Galuh bangkit dari kursinya dan hendak pergi pulang, namun Hamka menahannya.
"Kau mau kemana di tengah hujan selebat ini?" Tanya Hamka pada Galuh.
"Aku mau pulang." Jawab Galuh.
"Hujan sangat lebat di luar angin juga sangat kencang. Tunggulah sebentar lagi saat hujan mulai reda." Sahut Syakir.
"Tidak bisa! Ila sedang sendirian di apartemen." Kata Galuh.
"Lalu kenapa?" Tanya Roni bingung.
"Dia takut suara petir. Sekarang dia pasti sedang ketakutan di sana." Kata Galuh.
"Cepat kau pergilah pulang dan temani Ila." Kata Roni yang ikut khawatir dengan keadaan Ila.
Galuh pun menghubungi Didi yang duduk tak jauh darinya. Didi mengambil mobil di area parkir dan menjemput Galuh untuk membawanya kembali ke apartemen. Di tengah hujan lebat dan angin kencang, itu Didi mengendarai mobilnya dengan hati-hati. Namun perasaan Galuh yang sangat khawatir pada Ila, menyuruh Didi untuk mempercepat laju mobilnya.
Didi pun melakukan apa yang di perintahkan oleh majikannya tersebut. Setibanya di apartemen, Galuh cepat-cepat membuka pintu dan mencari-cari keberadaan Ila. Pencarian Galuh berhenti pada kamar yang menjadi tempatnya beristirahat. Galuh melihat Ila duduk sambil menutupi dirinya dengan selimut yang tebal. Galuh mendekat dan membuka selimut itu. Terlihatlah Ila yang sedang meringkuk sambil menangis.
"Hei, tenanglah! Aku sudah berada di sampingmu." Ucap Galuh memeluk Ila untuk menenangkannya.
"Kak Galuh, aku sangat takut!" Ucap Ila memeluk Galuh dengan kencang.
Dddduuuaaarr.....
Dddduuaaaarrr......
Suara dentuman petir yang saling bersahutan di langit terdengar memekakkan gendang telinga.
"Aaarrrggghhhhh!" Teriak Ila ketakutan.
"Tenanglah." Ucap Galuh.
Selang beberapa saat suara dentuman petir tak lagi terdengar. Hujan pun mulai reda. Galuh melihat Ila yang masih meringkuk di atas ranjang bersamanya. Ia masih terlihat gemetar di sana.
"Hei, sudahlah! Suara petirnya sudah hilang." Kata Galuh pada Ila.
"Iya." Sahut Ila.
"Apanya yang iya?" Tanya Galuh sewot.
"Apa kau tidak mau mengucapkan apapun padaku?" Tanya Galuh lagi pada Ila.
"Iya, terima kasih." Ucap Ila.
__ADS_1
"Begitu saja?" Tanya Galuh.
"Jadi aku harus bagaimana?" Ila kebingungan menatap Galuh.
"Kau sudah menjadi istriku sekarang, lebih baik kau lakukan tugasmu sebagai seorang istri yang baik. Hehehe." Bisik Galuh dengan pikirannya yang mesum.
Wajah Ila memerah saat Galuh membisikkan hal tersebut padanya. Ila tau apa yang di inginkan oleh Galuh padanya. Namun ia masih tidak ingin menyerahkan dirinya pada Galuh yang sering berubah-ubah sikap terhadapanya.
"Aku tidak mau!" Ucap Ila menolak.
"Apa alasanmu menolakku?" Tanya Galuh kesal.
"Karena aku tidak mencintaimu." Jawab Ila jujur dalam hatinya.
"Eh, benar juga! Aku juga tidak mencintainya, jadi kenapa aku harus melakukan hal itu denganya?" Gumam Galuh dalam hatinya.
"Hehehe, tapi kalau untuk membuatnya ketakutan tidak jadi masalah kan." Gumam Galuh lagi dalam hatinya sembari menatap Ila.
Galuh bangun dari ranjang dan berdiri sambil berhadapan dengan Ila yang masih duduk di atas ranjang.
"Apa kau tau? Jika istri tidak melayani keinginan dari suaminya maka dia akan di laknat oleh malaikat sampai pagi." Kata Galuh menakuti Ila.
"Apa yang di katakan olehnya itu benar? Guru agama di sekolah tidak mengajarkan hal itu sebelumnya. Tapi si beruang kutub ini selalu saja membohongi aku, jadi untuk apa kau percaya pada ucapannya." Gumam Ila dalam pikirannya mengenai perkataan Galuh.
"Hei, kenapa kau diam saja? Apa kau tidak percaya pada ucapanku?" Tanya Galuh kesal.
"Tentu saja! Kau itu pembohong. Kau sangat sering membohongi aku." Ujar Ila sembari memalingkan wajahnya dari Galuh.
"Aku tidak bohong!" Teriak Galuh.
"Aku tidak percaya pada ucapanmu! Aku harus cari tau tentang perkataanmu pada guru agama yang ada di sekolahku biar semuanya jelas." Sahut Ila.
"Terserah kau!" Ujar Galuh sambil melucuti pakaiannya satu persatu.
Ila kaget saat Galuh tanpa ada rasa malu membuka pakaian di hadapanya. Ila menutupi wajahnya dengan selimut. Galuh melihat Ila yang enggan menatapnya saat membuka pakaian. Pikiran untuk berbuat iseng kembali menyeruak di otaknya. Galuh yang hanya menggunakan pakaian dalam saja mendekati Ila dan memaksa untuk membuka selimut dari wajahnya.
"Lihatlah aku, sayang!" Bisik Galuh.
"Pergi kau! Jangan dekati aku." Teriak Ila masih bertahan dengan selimut yang menutupi wajahnya.
Terjadilah aksi tarik menarik selimut antara Galuh dan Ila. Galuh cengengesan saat mengerjai Ila dan Ila hanya bisa berteriak kesal pada Galuh yang terus menerus mengganggunya. Saat Ila berusaha menarik selimut untuk menutupi wajanya, dentuman petir kembali terdengar keras. Ila kaget dan sontak memeluk tubuh Galuh yang hanya menggunakan pakaian dalam saja. Hujan lebat kembali turun dengan kilatan petir yang bagaikan menyambar. Ila membuka matanya dan melihat tubuh Galuh yang tidak memakai baju. Ila dan Galuh saling tatap lalu mata Ila turun dan melihat bagian bawah Galuh yang hanya di tutupi oleh pakaian dalam saja.
"Aaarrggghhh!" Teriak Ila sembari menutup kedua matanya.
"Kenapa kau takut? Semua wanita menginginkannya." Bisik Galuh.
"Berikan saja pada wanita yang menginginkan milkimu itu, aku tidak mau." Sahut Ila masih menutupi matanya.
"Apa kau yakin kau tidak menginginkannya?" Tanya Galuh lagi sambil tersenyum jahil.
"Aku tidak mau!" Teriak Ila.
"Cepat buka matamu!" Ujar Galuh memaksa Ila untuk membuka matanya.
"Tidak akan! Pakai piyama tidurmu sana." Teriak Ila sambil mendorong tubuh Galuh menjauh darinya.
Galuh tertawa semakin kencang saat Ila mendorong tubuhnya. Saat Galuh akan beranjak dari ranjang, tiba-tiba suara dentuman petir kembali terdengar. Ila kaget dan berteriak sambil melompat mendekat pada Galuh.
"Jangan pergi." Ucap Ila ketakutan.
"Bukannya kau yang menyuruhku untuk pergi? Aku masih telanjang loh." Sahut Galuh.
"Kau...., kau menyebalkan!" Ujar Ila yang sudah pasrah matanya ternodai dengan tubuh Galuh yang hanya menggunakan pakaian dalam saja.
Galuh pun beranjak menuju ke lemari untuk mengambil piyama tidurnya, sedangkan Ila masih mengekori Galuh kemanapun ia pergi. Galuh sudah selesai memakain piyama tidurnya.
"Sudah, berbaringlah sana. Kita tidur saja." Kata Galuh pada Ila.
Ila pun mengiyakan apa yang di katakan Galuh padanya. Saat akan menaiki ranjang tidur mereka, dentuman petir kembali terdengar. Ila kaget lagi dan melompat naik ke atas ranjang dengan cepat.
"Hei, petir! Kenapa kau tidak bisa diam, hah?" Teriak Galuh kesal pada dentuman petir itu.
Dddduuuaaarrr.................
Dentuman petir semakin dahsyat terdengar seakan membalas teriakan Galuh. Galuh dan Ila semakin terkejut dengan suara dentuman petir itu.
"Kenapa kau kesal padanya? Nanti petirnya bertambah besar!" Teriak Ila memarahi Galuh.
"Hehehe, tir oh petir, jangan marah lagi ya. Aku hanya bercanda." Kata Galuh bersikap konyol seakan bicara pada petir.
Dddduuaaaarrr...............
Galuh kaget dan melompat naik ke atas ranjang.
__ADS_1
"Ayo kita tidur saja!" Kata Galuh mengajak Ila berbaring saling mendekap bersamanya.
Keesokan paginya Ila terlihat sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Di pagi yang cerah itu Ila bersemangat untuk pergi ke sekolah. Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi dan Galuh masih tertidur. Ila membangunkan Galuh untuk memintanya mengantarkan ia ke sekolah karena Ila belum hafal dengan jalan di lokasi apartemen itu.
"Kak, bangun." Kata Ila menggoyangkan tubuh Galuh.
"Heemm." Sahutnya.
"Kak, antarkan aku ke sekolah ya." Pinta Ila.
"Kau mau kemana?" Tanya Galuh yang belum membuka matanya.
"Ke sekolah. Ini hari senin di sekolah akan mengadakan upacara bendera." Jawab Ila.
Galuh membuka matanya dan melihat Ila dengan seragam SMA. Galuh melihat dasi yang terpasang di leher Ila serta topi yang ada di dalam genggaman Ila. Galuh menarik tubuh Ila hingga jatuh menimpa tubuhnya di atas ranjang. Ila berupaya untuk bangkit namun Galuh mencegahnya dan menahannya.
"Kak, lepas! Aku mau pergi ke sekolah." Kata Ila berontak.
"Hari ini kau tidak perlu ke sekolah." Sahut Galuh.
"Kenapa?" Tanya Ila berhenti berontak.
"Ya karena keinginanku saja." Jawab Galuh.
"Tapi hari ini aku ada ulangan Kimia." Kata Ila.
"Aku tak perduli." Sahut Galuh.
"Pelajaran yang menyebalkan seperti itu kau malah mau menghadapinya." Gumam Galuh yang sangat anti dengan pelajaran Kimia.
"Hei, yang menyebalkan itu adalah kau bukan pelajaran Kimia." Sahut Ila.
"Nilai pelajaran Kimiamu pasti sangat jelek, maka dari itu kau membencinya." Sambung Ila.
"Hei, aku ini siswa terpintar di sekolahku dulu." Kata Galuh tidak terima di bilang bodoh.
"Apanya yang pintar? Kata kak Roni saat SMA nilai pelajaran Kimiamu merah makanya kau tidak lolos jurusan IPA." Sahut Ila.
"Huh, dasar si mulut ember dokter kandungan itu!" Ucap Galuh kesal dalam hatinya kepada Roni.
Ila melihat Galuh keluar dari kamar masih dengan piyama tidurnya.
"Kak, mau kemana?" Tanya Ila.
"Mengantarmu ke sekolah! Apa kau ingin terlambat?" Ujar Galuh.
Secepatnya Ila menyusul Galuh yang akan pergi mengantarnya ke sekolah. Galuh mengantar Ila hanya dengan memakai piyama tidur dan sendal. Hampir dekat dengan gedung sekolah Ila, Galuh mengendarai mobilnya. Namun tiba-tiba Ila menyuruhnya untuk berhenti.
"Ada apa?" Tanya Galuh.
"Disini saja." Sahut Ila.
"Tapi sekolahmu di depan sana." Kata Galuh.
"Aku jalan saja. Aku takut ada temanku yang melihatmu." Kata Ila.
"Apa kau malu jalan denganku?" Tanya Galuh.
"Bukan itu maksudku! Kita menikah tanpa ada seorang teman sekolahku yang tau." Jawab Ila.
"Ya sudah, pergi sana." Kata Galuh.
Sebelum keluar dari mobil Ila menjulurkan tangannya pada Galuh. Galuh mengira kalau Ila sedang meminta uang jajan padanya. Galuh mengambil dompet dan memberikan lembaran-lembaran uang seratus ribuan pada Ila.
"Ini uang jajanmu." Kata Galuh memberikan lima lembar uang seratus ribuan.
"Bukan ini yang aku minta." Kata Ila menarik tangan Galuh dan menciumnya.
Ternyata Ila ingin menyalami Galuh sebelum ia pergi keluar mobil untuk ke sekolahnya. Galuh tertegun melihat sikap Ila yang sangat santun padanya di pagi itu.
"Ternyata benar yang mama bilang, dia gadis yang santun." Ucap Galuh menatap Ila keluar dari mobil setelah mencium punggung telapak tangannya.
Lalu Galuh melihat lembaran uang yang masih ada di genggamannya.
"Hei, uang jajanmu!" Teriak Galuh dari dalam mobil pada Ila.
"Tidak usah! Aku masih ada uang tabunganku." Sahut Ila yang semakin menjauh darinya.
"Dasar anak bodoh! Di beri uang malah tidak mau." Gumam Galuh.
__ADS_1
Galuh pun melajukan mobilnya untuk kembali ke apartemen setelah mengantar Ila ke sekolahnya.