
Galuh dan Ila kembali ke apartemen setelah mereka berpamitan kepada Yurika dan juga Kia tadi pagi usai sarapan pagi. Tiba di apartemen, Ila melihat semua ruangan tampak berdebu karena telah lama tidak di huni. Ila seakan bersemangat untuk membersihkannya. Dengan di bantu oleh Galuh akhirnya semua ruangan apartemen terlihat bersih dan juga mengkilap pada lantai serta perabotannya.
"Hah, aku sangat lelah!" Ucap Galuh tergeletak lemas di sofa ruang tengah.
Ila tersenyum melihat Galuh yang kelelahan setelah membantunya membersihkan seluruh ruangan apartemen.
"Ayo kita mandi! Setelah itu kita pergi berbelanja untuk stok makanan di kulkas." Ajak Ila pada Galuh.
"Mandi ya?" Gumam Galuh.
"Hehehe, ayo kita mandi bersama!" Seru Galuh dengan pikiran mesumnya pada Ila.
Ila hanya tersenyum sambil melangkah mengikuti Galuh yang menyeretnya masuk ke dalam kamar mandi.
Selesai mandi, Galuh dan Ila pergi berbelanja ke pasar modern yang menjual segala jenis sayuran dan juga buah-buahan yang berada tepat di seberang jalan kawasan apartemen mereka. Galuh dan Ila juga singgah ke mini market yang ada di sebelahnya, untuk membeli beberapa cemilan dan minuman yang biasa mereka simpan di lemari pendingin.
"Ila, popcorn!" Kata Galuh melihat bungkusan biji jagung khusus membuat popcorn.
"Baiklah, aku akan membuatkan popcorn karamel untukmu!" Sahut Ila mengambil beberapa bungkus biji jagung itu.
Setelah puas berbelanja, mereka pun kembali ke apartemen dan mengisi kulkas mereka yang terlihat kosong. Galuh mengisi kulkas itu dengan bahan makanan yang mereka beli, sedangkan Ila sibuk dengan urusan dapurnya. Ila terlihat sedang memotong-motong sayuran dan juga bahan lainnya untuk menyiapkan makan siang.
Tak lama menunggu, makanan yang akan menjadi makan siang mereka pun telah tersaji di meja makan. Ila memanggil Galuh yang sedang menonton televisi di ruang tengah untuk makan bersama dengannya. Galuh melangkah ke ruang makan dan duduk sambil menatap makanan yang telah Ila masak dengan susah payah di dapur.
"Aku sudah sangat lapar!" Ucap Galuh seakan tak sabar ingin segera melahap makanan itu.
Ila memberikan beberapa centong nasi ke piring Galuh. Ia juga memberikan beberapa lauk pauk yang ia masak tadi ke piring Galuh. Galuh segera menyantap makanan tersebut dengan sangat lahap karena saat itu ia memang sudah sangat kelaparan.
Setelah selesai makan, Ila dan Galuh berbaring di kamar untuk tidur siang. Waktu libur yang digunakan Galuh, benar-benar hanya untuk beristirahat di apartemennya bersama istri tercintanya.
"Akhirnya, semua berjalan dengan lancar! Kia sudah kembali menjadi pribadi yang baik." Kata Ila berucap syukur.
"Iya! Semoga saja dia tidak terpengaruh lagi dengan orang-orang yang berbuat jahat padanya." Sahut Galuh.
"Selama kita tinggal dirumah mama Yurika, aku tak pernah melihat yang bernama Sandi itu datang mengunjungi Kia! Kau bilang Sandi itu pacarnya Kia, kan?" Sambung Galuh.
"Setahuku mereka memang berpacaran, tapi entahlah kalau sekarang!" Sahut Ila.
"Mungkin hubungan mereka sudah berakhir!" Kata Galuh.
"Bisa jadi sih!" Sahut Ila lagi.
Galuh menggenggam tangan Ila dengan erat sambil menatapnya.
"Sayang, aku ingin segera memiliki bayi bersamamu!" Kata Galuh membuat Ila kaget.
"Iya, nanti setelah aku lulus sekolah! Dua bulan lagi." Sahut Ila mencoba untuk membuat Galuh mau bersabar sebentar lagi.
Galuh menatap Ila sambil mengingat saat Ila menolak untuk di suntik kontrasepsi oleh Roni.
"Hehehe, lebih baik aku diam saja kalau waktu itu dia menolak untuk suntik kontrasepsi! Siapa tau saja, Ila bisa hamil dalam waktu dekat ini." Gumam Galuh dalam hatinya.
"Kalau begitu, lebih baik aku akan bekerja lebih keras lagi bersamanya di atas ranjang! Hehehe." Gumam Galuh lagi dalam hatinya.
Sore harinya, usai bangun tidur Galuh pamit kepada Ila untuk pergi keluar sebentar sekedar bertemu dengan sahabat-sahabatnya termasuk juga Roni.
Galuh nongkrong bersama sahabat-sahabatnya itu di sebuah cafe tempat mereka biasa kunjungi.
"Bagaimana kabar Ila?" Tanya Hamka pada Galuh.
"Sudah normal kembali akibat terbentur gazebo saat di villa!" Sahut Galuh.
"Hahaha, kok bisa?" Tanya Syakir.
"Waktu itu main kejar-kejaran denganku, terus kakinya tersandung lalu jatuh. Kepalanya terbentur dinding gazebo." Sahut Galuh menjelaskan.
"Kalau begitu, si Ila sudah mau kan untuk di suntik kontrasepsi lagi!" Kata Roni si dokter kandungan.
"Eh, Ron! Si Ila tidak usah di suntik lagi." Kata Galuh.
"Kenapa? Bukannya kalian menundanya sampai Ila lulus?" Tanya Roni.
"Ila sih menundanya, tapi aku sudah tidak sabar!" Sahut Galuh.
__ADS_1
"Aku ingin segera punya bayi, hehehe." Sambung Galuh cengengesan.
"Kalau begitu kau harus melakukannya saat dia sedang mengalami masa subur." Kata Roni.
"Maksudnya?" Tanya Galuh.
"Lakukan setelah Ila berhenti menstruasi! Setelah menstruasi, wanita pasti sedang mengalami masa subur dan siap untuk dibuahi." Sahut Roni menjelaskan.
Galuh berpikir sejenak saat Ila beberapa hari lalu baru saja mengalami menstruasi.
"Hehehe, berarti kemarin-kemarin saat aku melakukannya sudah tepat! Disaat Ila sedang mengalami masa subur." Gumam Galuh dalam hatinya.
"Aku harus melakukannya sesering mungkin di masa suburnya ini." Gumam Galuh lagi memiliki rencana setelah ia kembali ke apartemen.
Hamka, Syakir dan juga Roni bengong melihat Galuh yang tersenyum sendirian.
"Kenapa dia?" Tanya Hamka pada Roni sambil melirik Galuh.
"Mungkin dia sudah gila semenjak menikahi gadis kecil itu." Sahut Syakir.
"Lantas kau dan Ririn bagaimana? Kapan kalian akan menikah?" Tanya Syakir pada Roni.
"Yang pasti aku beli rumah atau apartemen dulu! Setelah itu aku baru ngelamar Ririn!" Sahut Roni.
"Kelamaan kalau nunggu beli rumah atau apartemen! Kau tinggal di apartemen Ririn saja. Kan enak gratis!" Sahut Hamka.
"Oh, aku bukan pria yang menumpang pada wanita, bro! Walaupun gajiku kecil, aku tetap ingin menjadi pria yang bertanggung jawab atas keluargaku nanti." Kata Roni.
"Kalian malah menyuruhku menikah, bagaimana dengan kalian? Kalian bahkan tidak memiliki kekasih saat ini." Kata Roni lagi pada Hamka dan juga Syakir.
"Eh, dua hari yang lalu aku pernah lihat gadis SMA jalan sendirian di pinggir jalan." Kata Syakir.
"Cantik apa tidak?" Tanya Hamka penasaran.
"Cantik sih! Tapi menurutku dia lebih cantik kalau tidak pakai makeup." Sahut Syakir yang tak menyukai wanita bermake-up tebal.
"Siapa namanya?" Tanya Roni.
"Sayangnya, aku tidak tau! Hehehe." Sahut Syakir lagi.
"Hei Syakir, apa kau ingin menjadi pedofil sepertiku juga? Sekarang seleramu gadis SMA?" Tanya Galuh tiba-tiba menyahut.
"Hehehe, aku hanya sekedar menyukai wajahnya saja." Sahut Syakir berdalih.
Saat sedang membahas gadis SMA yang di lihat oleh Syakir di pinggir jalan beberapa hari lalu, tiba-tiba saja Ana menghampiri Galuh. Ana seakan tidak pernah menyerah untuk mendapatkan hati Galuh lagi seperti dulu.
"Galuh, aku sudah lama mencarimu! Kemana saja kau beberapa bulan ini?" Tanya Ana tidak tau malu bergelayut pada lengan Galuh.
"Bukan urusanmu!" Ujar Galuh menepis tangan Ana darinya.
"Galuh, bagiku hubungan kita belum berakhir! Aku masih mencintaimu." Kata Ana lagi.
"Pergilah! Kau semakin menjijikkan saja." Ujar Galuh lagi kesal pada Ana yang terus mengganggunya.
"Galuh, aku mohon maafkan aku!" Ucap Ana pada Galuh.
"Ana, apa kau tidak mengerti? Aku tidak ada hubungan apapun lagi denganmu! Aku sudah menikah dan aku mencintai istriku." Kata Galuh membuat Ana untuk mengerti agar Ana tak lagi mengganggunya.
"Tidak Galuh! Kau pasti tidak mencintai istrimu itu. Kau hanya mencintai aku, kan?" Kata Ana semakin kehilangan akal pikirannya.
"Kau gila!" Ujar Galuh terpaksa pergi untuk menjauhi Ana. Galuh seakan tidak nyaman jika terus-terusan di ganggu oleh Ana.
Ana terus memanggil dirinya, namun Galuh terus berjalan cepat dan masuk ke dalam mobilnya. Galuh menyalakan mesin mobilnya dan tancap gas untuk pergi kembali ke apartemennya. Sepanjang jalan, Galuh terus berdecak kesal karena merasa tak nyaman di ganggu oleh mantan kekasih yang telah mengkhianati cintanya dulu.
"Kapan, aku bisa hidup tenang tanpa ada gangguan dari wanita gila itu?" Gumam Galuh saat menyetir mobilnya untuk kembali ke apartemen.
Selang beberapa menit, Galuh kembali ke apartemennya. Ia masuk ke dalam kamar dan melihat Ila sedang duduk di meja belajarnya.
"Kau sudah kembali!" Sapa Ila tersenyum manis kepada Galuh. Serasa kekesalan Galuh terhadap gangguan Ana menghilang setelah ia melihat senyuman manis dari bibir istrinya itu.
"Iya! Kau sedang belajar apa?" Tanya Galuh berdiri di belakang Ila yang duduk di meja belajar.
"Aku hanya mengulang pelajaran yang di berikan oleh ibu Kartika. Sebentar lagi kan aku akan mengikuti ujian kelulusan." Sahut Ila.
__ADS_1
"Semoga kau cepat lulus, ya imutku yang cantik!" Ucap Galuh seraya mencium ubun-ubun Ila.
"Pergilah mandi, setelah itu kita akan makan malam bersama." Kata Ila pada Galuh.
Galuh pun mengiyakan dan beranjak masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Galuh merasa khawatir jika suatu hari nanti, Ana akan menyakiti Ila karena dirinya. Galuh tau bagaimana sifat Ana yang sebenarnya. Ana terkadang nekat melakukan apa saja demi mencapai tujuannya.
"Itu tidak mungkin terjadi! Apapun alasannya, aku akan selalu menjaga Ila dari orang-orang yang akan menyakitinya." Gumam Galuh dalam hatinya.
*****
Senin pagi, Kia berangkat ke sekolah penuh semangat. Kia mencium pipi Yurika sebelum ia pergi ke sekolahnya. Seperti biasanya, Kia ke sekolah dengan si antarkan oleh supir pribadinya itu. Kia tiba di sekolah sebelum bel sekolah berbunyi. Kia duduk di kelas dan siap untuk belajar hari itu.
Di bangkunya, Sandi melihat Kia yang terlihat lebih baik dari sebelumnya. Kia tampak ceria seperti biasanya. Namun ada hal yang membuat Sandi tertarik dari Kia saat itu. Ia melihat Kia begitu antusias dalam mengikuti pelajaran di kelasnya.
"Sejak kapan dia tertarik dalam belajar?" Gumam Sandi dalam hatinya melirik Kia sedari tadi.
Tanpa Sandi sadari, hari itu ia terus menatap Kia yang terlihat ceria dengan wajah polos tanpa makeup dan juga sangat antusias untuk belajar serta mengerjakan tugas dari guru.
Bel istirahat berbunyi, Kia pergi dengan beberapa temannya ke kantin. Kia membeli beberapa makanan ringan yang ia suka. Kia duduk dan ngobrol bersama dengan teman-teman di sekolahnya. Lagi-lagi entah apa yang membuat Sandi ingin terus melirik kepada Kia. Salah satu teman Kia mengetahui kalau Sandi terus melirik Kia.
"Kia, dari tadi aku perhatikan, si Sandi melirikmu terus!" Bisik teman Kia padanya.
"Oh, biarin saja! Itu kan matanya dia, jadi ya suka-suka dia lah!" Sahut Kia tak perduli.
"Bukannya, kau dan Sandi pacaran ya?" Tanya teman Kia.
"Eeemmm, aku dan dia sudah lama berjauhan! Memang sih tidak ada kata putus di antara kami, tapi aku sudah berniat untuk melupakannya." Jawab Kia santai.
"Apa kau sudah punya kekasih baru?" Tanyanya lagi.
"Belum sih! Tapi aku rasa lebih baik aku memperhatikan pelajaran saja lah, sebentar lagi kan kita ujian kelulusan." Kata Kia.
"Iya, kau benar! Hah, aku takut akan gagal lulus ujian nanti. Bisa-bisa aku di gantung oleh orang tuaku." Kata temannya itu.
"Hehehe, kita pasti bisa!" Sahut Kia tertawa ceria bersama teman-temannya.
Sepulang sekolah, Kia masuk ke dalam mobil yang siap mengantarnya pulang. Namun saat itu Kia ingin pergi ke toko buku sebentar. Ada beberapa buku yang Kia ingin beli saat itu.
"Pak, tolong antar Kia ke toko buku ya!" Kata Kia dengan tutur yang sopan pada supir pribadinya.
"Baik, nona!" Sahut Supir pribadinya itu.
Supir pribadinya itu melirik Kia dari kaca spion.
"Alhamdulilah, akhirnya nona Kia berubah menjadi gadis yang sopan." Gumam Sanga supir.
Tiba di toko buku, Kia langsung masuk ke dalam toko tersebut dan membeli beberapa buku yang ia perlukan. Lalu Kia melirik ke sebuah cafe yang tepat di samping toko buku tersebut. Kia masuk ke dalam cafe tersebut untuk membeli minuman dingin untuknya dan juga supir pribadinya. Saat Kia masuk, tanpa sengaja Syakir melirik ke arah pintu dimana ia melihat Kia masuk ke dalam cafe tersebut.
"Eh, itu kan gadis SMA yang aku lihat beberapa hari yang lalu!" Gumam Syakir yang kebetulan sedang bertemu dengan teman lamanya di cafe tersebut.
Syakir memperhatikan wajah Kia yang hari itu tidak menggunakan makeup sama sekali. Terlihat polos bagaikan gadis SMA pada umumnya.
"Sudah kuduga, dia lebih cantik jika tanpa makeup!" Gumamnya lagi sambil terus memperhatikan Kia yang sedang memesan minuman dingin.
"Samperin ah!" Gumam Syakir bangkit dari tempat duduknya. Setelah pamit pada temannya itu, Syakir berdiri di samping Kia berpura-pura ingin memesan minuman lagi.
Kia tampak santai menunggu pesanannya sambil memainkan ponsel miliknya itu. Syakir curi-curi pandang pada Kia yang berada dekat dengannya. Merasa sedang di lihat, Kia pun menoleh pada Syakir yang cepat-cepat memalingkan wajahnya. Kia kembali menatap layar ponselnya itu.
"Hah, mau ajak kenalan tapi gimana caranya ya?" Gumam Syakir bingung dalam hatinya.
Saat Syakir hendak menegur Kia, tiba-tiba saja Kia beranjak pergi dari cafe itu karena pesanannya sudah berada di tangannya. Syakir gigit jari melihat Kia sudah keluar dari pintu cafe tersebut dengan membawa dua cup minuman dingin. Syakir masih melihat Kia yang masuk ke dalam mobil mewah dari dinding kaca yang ada di cafe itu.
"Sepertinya dia dari keluarga kaya!" Gumam Syakir memperhatikan mobil mewah yang dinaiki oleh Kia.
Syakir hanya bisa bergumam saja melihat gadis SMA yang telah membuatnya jatuh hati pada saat pandangan pertama beberapa hari yang lalu. Syakir kembali duduk bersama teman lamanya yang ia temui di cafe itu.
Kia tiba di rumah sedikit terlambat. Setelah makan siang, Kia mencari keberadaan Yurika yang pada saat itu sedang tidak ada di rumah. Kia pun bertanya pada pelayan tentang keberadaan Yurika. Pelayan mengatakan kalau Yurika pergi keluar sejak pukul 10 pagi tadi.
__ADS_1
"Apa mama ada kegiatan bersama teman-teman sosialitanya?" Gumam Kia dalam hati.
Kia kembali ke dalam kamarnya dan memutuskan untuk mengulang pelajaran yang ia dapatkan di sekolah hari ini. Kia berusaha untuk lulus ujian sekolah yang akan dilaksanakan dua bulan ke depan.