GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
MEMBUKA MATA


__ADS_3

Kania yang leluasa bergerak dalam melancarkan rencana Galuh, telah berhasil mendapatkan sampel darah dari narapidana yang diduga kuat sebagai ayah biologis Ila. Sampel darah itu pun langsung diberikan kepada Roni untuk di uji kebenarannya.


Ila yang sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, sedang merapikan pakaiannya untuk di masukkan ke dalam tas dan akan di bawa pulang. Namun saat itu ia berhenti melakukannya kala teringat pada narapidana tersebut.


"Kak! Kapan hasil DNA-nya akan keluar?" Tanya Ila pada Galuh yang menunggunya beres-beres.


"Nanti sore!" Jawab Galuh.


"Oh!" Ucap Ila kembali membereskan pakaiannya.


Galuh melihat rasa cemas pada raut wajah Ila. Galuh mendekatinya dan memeluknya dengan erat.


"Jangan terlalu memikirkan hal itu! Mudah-mudahan apa yang kita duga semuanya tidak benar." Kata Galuh mencoba untuk menenangkan perempuan berusia 19 tahun itu.


"Iya!" Sahut Ila.


"Eeemmm, kak! Sebelum kita pulang apa aku boleh melihat narapidana itu?" Tanya Ila.


"Apa kau sungguh ingin melihatnya?" Tanya Galuh.


"Iya!" Sahutnya.


"Baiklah! Nanti aku akan bicara pada Kania agar mengizinkanmu melihat dia." Kata Galuh.


Ila pun segera membereskan pakaiannya untuk di masukkan ke dalam tas. Sedangkan Galuh menghubungi Kania yang kebetulan saat itu sedang berada di rumah sakit untuk mengontrol anak buahnya yang sedang menjaga narapidana itu.


"Kania, kau dimana?" Tanya Galuh melalui telepon selulernya.


"Aku sedang dirumah sakit untuk mengontrol anak buahku yang sedang berjaga disini." Sahut Kania.


"Ada apa, Galuh?" Tanya Kania.


"Aku ingin bicara! Aku akan menemuimu sekarang." Kata Galuh.


"Baiklah! Aku berada di ujung koridor rumah sakit." Kata Kania.


Galuh pun pergi menemui Kania di ujung koridor rumah sakit itu.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Kania.


"Ila ingin bertemu dengan narapidana itu.". Sahut Galuh.


"Baiklah! Itu tidak jadi masalah." Kata Kania.


"Bawa Ila datang ke ruang rawat itu, aku akan menunggu kalian disana." Kata Kania lagi.


"Baiklah!" Sahut Galuh.

__ADS_1


Galuh pun bergegas pergi menemui Ila dan hendak membawanya menemui narapidana yang menjadi korban tabrakan itu. Saat Galuh dan Ila baru saja keluar dari ruang rawatnya, Yurika yang hendak menjemput Ila keluar dari rumah sakit melihat anak dan menantunya itu berjalan dengan tergesa-gesa.


"Eh, mereka mau kemana jalan tergesa-gesa begitu?" Gumam Yurika menatap anak dan menantunya.


Dari kejauhan pun Yurika mengikuti Galuh dan Ila menuju ke sebuah ruang rawat yang didepannya tampak berjaga dua orang polisi berbadan tegap. Yurika mengernyitkan dahinya saat melihat Galuh dan Ila masuk ke ruangan itu bersama dengan Kania.


"Kenapa mereka masuk ke ruangan yang dijaga oleh polisi? Apa yang sedang mereka lakukan?" Gumam Yurika lagi. Merasa begitu penasaran, Yurika pun mendekati ruangan itu dan menunggu Galuh serta Ila keluar dari sana.


Di dalam ruangan intensif itu, Ila melangkah perlahan dan menatap wajah narapidana yang berguru asing di matanya. Ila melihat narapidana itu masih belum sadarkan diri dari komanya walaupun dokter terus mengatakan kondisinya sudah stabil.


"Apakah dia orang yang aku tabrak waktu itu?" Tanya Ila pada Kania.


"Iya, benar!" Sahut Kania.


Ila semakin mendekat pada pria yang diketahui bernama Arman itu. Semakin dekat Ila menatap wajah pria paruh baya yang masih memejamkan kedua matanya.


"Apa benar dia ayahku?" Gumam Ila dalam hatinya menatap pria paruh baya itu.


"Hah!" Tiba-tiba saja suara hela nafas berat keluar dari mulut narapidana itu yang membuat Ila, Galuh dan juga Kania kaget. Sontak saja Galuh dan Kania mendekat padanya.


"Apakah dia akan siuman?" Ucap Galuh sambil menatap pada pria itu.


"Entahlah!" Sahut Kania.


Lantas Ila kembali kaget saat tangannya di raih oleh narapidana itu.


"Tolong! Aku bukan penjahat." Ucapnya lirih.


Galuh dan Kania spontan terkejut mendengar suara lirih yang keluar dari mulut narapidana itu.


"Dia sudah sadar! Aku akan menyuruh anak buahku untuk memanggil dokter." Kata Kania melangkah ke arah pintu.


Galuh dan Ila masih terpaku melihat narapidana itu perlahan-lahan membuka kedua matanya. Bola mata berwarna coklat pun tampak bergerak kesana-kemari.


"Tolong! Aku bukan penjahat." Ucap narapidana itu lagi.


"Pak! Tenanglah! Sekarang kau sedang dirawat di rumah sakit." Bisik Galuh untuk menenangkan narapidana itu sambil menunggu dokter datang.


"Aku bukan penjahat! Aku bukan penjahat!" Ucapnya lagi dengan nafas yang tersengal-sengal.


Tak lama kemudian dokter dan beberapa perawat datang. Galuh dan Ila di anjurkan keluar dari ruangan itu oleh perawat agar membuat dokter lebih leluasa memeriksa keadaan pasien.


Ila dan Galuh serta Kania berada di depan pintu ruangan tersebut. Yurika melihat mereka langsung mendekat dan bersembunyi pada balik tembok yang tak jauh dari ruangan tersebut. Yurika ingin tahu apa yang sedang dilakukan oleh anak dan menantunya itu.


"Akhirnya dia siuman juga." Kata Galuh.


"Iya! Dengan begitu masalah yang akan Ila hadapi lebih mudah diselesaikan." Sahut Kania.

__ADS_1


"Semoga saja dia mau berdamai nanti agar Ila tidak perlu berurusan dengan hukum." Kata Galuh.


Dari balik tembok itu, Yurika mendengar perbincangan mereka dengan jelas.


"Oh, ternyata mereka menjenguk korban yang Ila tabrak waktu itu!" Gumam Yurika dalam hatinya.


"Tapi, kenapa ruangan itu di jaga oleh polisi?" Tanya Yurika dalam hatinya.


Merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Yurika pun hendak bergegas pergi dari balik tembok itu dan berniat untuk menunggu Ila di ruang rawatnya saja. Namun langkah Yurika terhenti saat Roni tergesa-gesa menghampiri Galuh, Ila serta Kania sambil membawa map besar.


"Itu Roni! Ada apa lagi ini?" Gumam Yurika.


Yurika pun kembali berdiri dibalik tembok itu dan menguping disana.


"Ini hasil uji laboratorium tes DNA-nya." Kata Roni memberikan map besar itu pada Galuh.


"Apa hasilnya?" Gumam Galuh sambil membuka map itu dan membaca hasilnya.


Tiba-tiba saja wajah Galuh berubah. Ia begitu tampak gusar saat membaca hasil tes DNA tersebut. Ila melirik raut wajah Galuh yang tampak gusar, begitu pula dengan raut wajah Roni.


"Apa dia ayah biologis ku?" Tanya Ila pada Galuh dan Roni.


Galuh dan Roni pun hanya bisa terdiam dan terpaku mendengar perkataan Ila.


"Kenapa kalian diam saja? Aku sedang bertanya! Apakah dia ayah kandungku?" Teriak Ila kesal dan membuat Yurika sontak kaget.


"Apa? Ayah kandung Ila?" Ucap Yurika kaget.


Galuh mendekati Ila yang berdiri di samping Kania dan tampak kesal.


"Sayang! Hasil tesnya membuktikan kalau dia adalah ayah kandungmu." Kata Galuh pada Ila.


Ila langsung berjongkok dan menangis disana. Ia seakan tak menerima bahwa ia akan mengetahui siapa ayah kandungnya. Galuh pun mendekap Ila untuk mencoba menenangkannya.


Ggguubbrrraakk.......


Semua orang kaget saat melihat Yurika jatuh pingsan di balik tembok yang tak jauh dari posisi mereka.


"Tante Yurika!" Ucap Roni terkejut melihat Yurika sudah tergeletak di lantai rumah sakit.


Roni segera menghampiri Yurika dengan sangat panik. Begitu pula dengan Galuh dan juga Ila yang tak kalah paniknya saat melihat Yurika berada disana. Mereka pun membawa Yurika ke IGD untuk mendapatkan pertolongan pertama.


"Bagaimana ini? Apa mama Yurika mendengar semuanya tadi?" Kata Galuh panik.


"Entahlah, aku juga tak tau! Entah sejak kapan tante Yurika berada dibalik tembok itu tadi!" Sahut Roni.


"Semoga saja dia tidak mendengar apa yang sedang kita bicarakan tadi. Jika hal itu terjadi, maka aku tak tau apa yang akan terjadi selanjutnya pada mama Yurika.". Sambung Galuh yang terus mendekap Ila yang sangat khawatir akan kondisi Yurika yang masih ditangani oleh dokter di ruang IGD itu.

__ADS_1


__ADS_2