GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
HAMPIR SAJA


__ADS_3

Dua bulan kemudian, usia kandungan Ila sudah tampak semakin membesar. Kakinya juga agak sedikit membengkak. Hana mulai membatasi kegiatannya sebagai anggota sosialita yang selalu melakukan kegiatan-kegiatan sosial membantu masyarakat yang kurang mampu. Galuh yang kebetulan tidak memiliki kesibukan yang padat pada perusahaanya, selalu pulang cepat demi menemani sang istri dirumah.


Saat menjelang makan malam, Roni dan Ririn datang ke kediaman Antoni. Hana memang sengaja mengundang pasangan kekasih yang akan segera melangsungkan pernikahan mereka. Dengan senyuman yang mengambang, Roni dan Ririn menghampiri keluarganya yang memang sedang menunggu kedatangan mereka.


"Halo tante, om!" Seru Roni dan Ririn menyapa Hana dan juga Antoni.


"Hai Ila! Makin cantik saja!" Seru Roni dan Ririn lagi, dan kemudian mereka langsung duduk di meja makan.


"Hei, apa kalian tidak melihatku? Aku juga manusia di ruangan ini!" Ujar Galuh sewot.


"Eh, apa kau mendengar suara orang yang sedang berbicara barusan?" Tanya Roni pada Ririn.


"Tidak! Mungkin tadi itu suara nyamuk! Hehehe." Sahut Ririn.


"Hei, dasar kalian pasangan gila!" Teriak Galuh kesal pada Roni dan Ririn.


"Hehehe, pamud sedang kesal!" Kata Roni cengengesan.


"Apa itu pamud?" Tanya Ila bingung.


"Papa papa muda!" Sahut Ririn.


"Hehehe, begitu ya kalau di singkat!" Sahut Ila lagi.


Mereka pun makan malam bersama sambil bercanda. Sesekali terdengar suara teriakan kekesalan dari Galuh dan juga Roni yang selalu saja bertengkar dan saling menghujat satu sama lainnya. Hana, Antoni, Ila dan juga Ririn hanya bisa menghela nafas melihat kedua pria yang selalu saja bertengkar itu. Sebelum pergi dari kediaman Antoni, Roni selalu memperingatkan Ila dan Galuh untuk terus menjaga kesehatan janin yang ada di dalam kandungan Ila.


"Hei, Ila sedang mengandung bayi laki-laki sesuai dengan keinginanmu, maka dari itu kau harus menjaganya dengan baik dan lebih awas lagi!" Kata Roni pada Galuh.


"Iya, baiklah!" Sahut Galuh.


"Jangan lupa bantu aku mempersiapkan pesta pernikahanku juga!" Kata Roni lagi.


'Iya, bawel!" Sahut Galuh.


Malam hampir larut, Roni dan Ririn pun beranjak pulang dari kediaman Antoni setelah di antarkan oleh Galuh hingga ke depan pintu utama. Setelah mobil Roni menjauh, Galuh menemui Ila yang sedang duduk santai disisi ranjang sambil bersandar pada bantal kecil di punggungnya. Galuh melirik kaki Ila yang tampak sedikit membengkak.


"Sayang, aku pijat kakimu ya!" Kata Galuh pada istrinya itu.


"Apa kau tidak lelah?" Tanya Ila.


"Tidak apa-apa! Kan hanya sebentar saja." Sahut Galuh memijat kaki Ila secara perlahan.


Setelah selesai memijat kaki istrinya, Galuh berbaring di atas ranjang. Ila juga ikut berbaring senyaman yang ia rasakan dengan kondisi perut yang membesar itu. Ila berbaring menyamping dan menghadap kepada Galuh yang juga berhadapan dengannya. Galuh pun mengelus perut istrinya dengan lembut.


"Kak, apa Ana masih mengejarmu?" Tanya Ila membuat Galuh terkejut.


"Tidak!" Sahut Galuh dusta, padahal hampir setiap harinya, Ana selalu saja menemui dirinya dan mengancam akan menggganggu Ila.


"Apa mungkin dia sudah mengerti kalau kau bukanlah miliknya lagi?" Kata Ila.


"Mungkin!" Sahut Galuh.


"Kalau memang dia sudah tidak mengejramu lagi, kenapa aku masih harus tetap berada di rumah sepanjang waktu?" Tanya Ila.


"Sayang, aku hanya ingin kau dan bayi kita baik-baik saja! Jika kau bosan, kataka saja padaku, maka aku akan membawamu jalan-jalan keluar." Sahut Galuh.


"Huh, kalau keluar bersamamu, kau pasti akan membatasi apa saja yang aku inginkan! Aku mau makan ini itu tidak boleh banyak-banyak! Menyebalkan!" Ujar Ila cemberut.


"Hehehe, maaf deh! Aku kan ingin khawatir padamu dan juga bayi kita." Sahut Galuh cengengesan dan merasa apa yang di katakan Ila benar adanya.


"Kak, aku ingin bertemu mama." Pinta Ila pada suaminya itu.


"Iya, hari sabtu nanti kita akan menginap dirumah mama Yurika, ya." Sahut Galuh.


"Tidurlah! Ini sudah larut." Kata Galuh sembari mencium kening Ila dengan hangat.


Malam itu Ila dan Galuh tidur dengan lelap. Namun di saat tengah malam, Ila tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya dengan nafas yang terengah-engah. Ila duduk dan menghapus keringat yang ada di dahinya. Begitu banyak keringat membasahi tubuhnya, padahal pendingin ruangan dalam keadaan yang menyala.


"Untung hanya mimpi!" Ucap Ila mengelus dadanya.


Ila melirik pada sosok pria yang tertidur lelap di sampingnya. Ila mendekat padanya, dan mengelus pipinya dengan lembut. Ila terus menatap pada wajah suaminya tersebut.


"Semoga saja tidak ada sesuatu hal yang buruk terjadi pada kita dan juga bayi kita." Ucap Ila mencium pipi Galuh dan kemudian kembali memejamkan kedua matanya untuk tidur.


 


*****


Sabtu pagi, Galuh dan Ila pamit kepada Hana dan juga Antoni untuk pergi kerumah Yurika dan bermalam disana. Dengan semangat yang begitu antusias, Ila pun berangkat menuju ke kediaman Yurika bersama Galuh yang menyetir mobilnya sendiri. Tiba di sana, Galuh mengernyitkan dahinya ketika ia melihat sebuah mobil sport mewah keluaran terbaru.


"Bukannya ini mobilk Syakir, yang baru beberapa hari lalu ia beli?" Gumam Galuh dalam hatinya saat ia melihat plat mobil tersebut.


Galuh dan Ila pun turun dari mobilnya. Di depan teras rumah, Kia dan Yurika tersenyum lebar menyambut kedatangan mereka. Ila begitu merindukan sosok Yurika dan juga Kia. Hampir 5 bulan lamanya, ia tak pernah bertemu dengan mereka.


"Ayo masuk!" Ajak Yurika pada Galuh dan juga Ila.


Saat hendak masuk ke dalam rumah, Galuh menarik tangan Kia.


"Hei, bukannya itu mobil si kutu kupret (Syakir)?" Tanya Galuh pada Kia.


"Hehehe, iya kak!" Sahut Kia cengengesan.


"Kenapa ada disini?" Tanya Galuh yang tak tau dengan hubungan antara Kia dan Syakir selama ini.


"Kak Syakir memberikannya padaku!" Sahut Kia.


"Apa?" Teriak Galuh kaget.

__ADS_1


"Hehehe, kak Galuh kaget ya!" Kata Kia kembali cengengesan.


"Hei, apa kau tau berapa harga mobil sport itu, hah?" Teriak Galuh lagi.


Kia menggeleng.


"18 milyar, Kia!" Kata Galuh yang membuat Kia tercengang.


Melihat Kia tercengang, Galuh mengangkat dagu Kia untuk menutup mulutnya yang ternganga.


"Kak, apakah ayang bebebku itu gila?" Tanya Kia keceplosan.


"Apa? Ayang bebeb?" Teriak Galuh terkejut.


Kia mengangguk tanpa sadar.


"Apa kau dan si kutu kupret itu menjalin kasih?" Tanya Galuh.


Kia mengangguk lagi.


"Apa?" Teriak Galuh hampir pingsan.


"Huh, lebay banget sih!" Gumam Kia sewot melihat Galuh.


"Kalian sedang apa?" Tanya Ila yang tiba-tiba muncul di hadapan Galuh dan Kia.


"Kia, jadian sama Syakir!" Sahut Galuh dengan ekspresi yang aneh.


"Itu, kak Syakirnya ada di ruang tengah bersama mama!" Kata Ila yang membuat Galuh semakin terkejut.


Wwwwuuussshhhh..... Galuh berlari kencang untuk menghampiri sahabatnya itu. Tiba di ruang tengah, Syakir tersenyum lebar pada Galuh yang sedang ngos-ngosan karena berlari.


"Hei, kampret! Sejak kapan kau jadian dengan Kia?" Tanya Galuh menarik kerah baju Syakir.


"Aku jadian dengan Kiki sekitar 4 bulan yang lalu!" Sahut Syakir.


"Kiki? Siapa Kiki?" Tanya Galuh kebingungan.


"Aku memanggil Kia dengan sebutan sayang, yaitu Kiki! Hahaha." Sahut Syakir penuh percaya diri.


"Lalu mobil sport itu?" Tanya Galuh.


"Itu adalah hadiah dariku untuk Kiki, karena semalam tepat hari jadi kami berdua yang ke 4 bulan! Setiap bulannya aku merayakan hari jadi kami, dan mobil sport itu adalah hadiahku yang keempat setelah aku berikan cincin berlian, tas bermerk dan apartemen mewah untuknya! Hahaha." Sahut Syakir lagi yang sudah menjadi budak cintanya Kia.


"Hah, dia sedang di mabuk cinta rupanya!" Gumam Galuh sambil menghela nafas.


"Hei, kau itu sudah menjadi budak cintanya Kia! Apa kau sadar, hah?" Ujar Galuh pada Syakir.


"Bukan hanya budak cintanya saja, aku akan segera menikah dengan Kiki si pujaan hatiku itu!" Seru Syakir bersemangat bak kobaran api yang menyala-nyala.


"Ya Tuhan, kenapa aku mendapatkan kedua menantu seperti mereka yang begitu konyol dan menjadi budak cinta? Astaga!" Gumam Yurika tepok jidat melihat tingkah dari Galuh dan juga Syakir.


"Ma, apakah si gila ini menginap di rumah semalam?" Tanya Galuh pada Yurika sambil menunjuk ke arah Syakir.


"Iya! Dia tidur di kamar tamu semalam!" Sahut Yurika.


"Mama yakin kalau dia tidak menyelinap masuk ke kamar Kia? Soalnya kan kamar Kia bersebelahan dengan kamar tamu!" Tanya Galuh lagi.


"Hei, aku ini bukan pria berengsek seperti yang kau tuduhkan itu, Galuh!" Teriak Syakir kesal.


"Huh, aku akan hanya bertanya saja!" Sahut Galuh pura-pura bodoh setelah menuduh Syakir.


"Dasar sahabat yang menyebalkan!" Umpat Syakir sewto pada Galuh.


"Sudahlah! Kenapa kalian malah bertengkar? Ayo kita minum teh di halaman belakang!" Ajak Yurika kepada dua orang pria yang menjadi budak cinta anak-anaknya itu.


Yurika menyeret Galuh dan Syakir secara bersamaan, sedangkah Ila dan Kia hanya terkekeh geli melihat pasangan mereka yang di paksa Yurika untuk ikut ke halaman belakang dan minum teh bersama. Ila dan Kia duduk ngobrol di kamar berdua. Ila duduk di tepi ranjang karena ia cepat merasa lelah dengan kondisi perut yang besar.


"Apa kau sudah tau jenis kelamin bayimu?" Tanya Kia pada Ila.


"Setelah USG, kata kak Roni bayiku laki-laki!" Sahut Ila.


"Wah, pasti dia akan tampan seperti ayahnya nanti." Seru Kia.


"Iya! Kak Galuh begitu senang setelah tau bahwa bayi kami laki-laki." Sahut Ila.


"Eh, ngomong-ngomong kau sudah begitu lama tidak berkunjung kesini! Ketika aku ingin bertemu denganmu di rumah mertuamu, mama malah melarangku! Ada apa?" Tanya Kia penasaran.


"Ada orang yang ingin menyakiti aku!" Sahut Ila.


"Hah? Siapa?" Tanya Kia kaget.


"Mantan kekasihnya kak Galuh! Namanya Ana." Jawab Ila.


"Kenapa dia ingin menyakitimu? Bukannya sudah jadi mantan?" Tanya Kia.


"Ana itu tidak terima kalau kak Galuh memutuskan hubungan mereka dan menikah denganku! Maka dari itu, dia kesal dan ingin menyakiti aku." Sahut Ila.


"Karena itu juga aku di larang oleh kak Galuh untuk keluar dari rumah sampai aku melahirkan! Dia takut terjadi sesuatu padaku dan juga bayi kami." Kata Ila lagi.


"Oh, pantas saja kau tidak pernah berkunjung kesini dan mama melarangku untuk menemuimu! Jadi karena hal itu." Kata Kia.


"Eh, apa kau sudah dapat undangan dari kak Roni?" Tanya Ila.


"Kartu undangannya sih belum! Tapi saat aku jalan bersama kak Syakir, aku bertemu dengan kak Roni dan kak Ririn, mereka mengundangku untuk datang ke acara pesta pernikahan mereka nanati." Sahut Kia.


"Jadi kau dengan kak Syakir benar jadian?" Tanya Ila.

__ADS_1


"Bukan hanya jadian, aku dan kak Syakir berencana untuk segera menikah!" Sahut Kia.


"Secepat itu? Bukannya kau mau kuliah?" Tanya Ila.


"Apalah dayaku jika aku juga menjadi budak cintanya kak Syakir! Aku hanya ingin selalu bersama kak Syakir setiap hari." Sahut Kia dengan wajah yang begitu memerah.


"Hei, apa kau sudah di cium olehnya? Hehehe." Tanya Ila.


"Bukan hanya cium saja, tapi aku juga sudah........


"Apa? Sejauh itu?" Teriak Ila membuat Kia panik dan segera menutup mulut Ila dengan kedua tanganya.


"Sssttt! Nanti mama dengar!" Bisik Kia.


Ila mengangguk dengan cepat.


"Semalam bukan salahku! Kak Syakir tuh yang menyelinap masuk ke dalam kamarku. Dia terus saja menggodaku." Kata Kia malu-malu.


"Hei, kenapa kau malah menyalahkan kak Syakir? Kau juga sama genitnya seperti dia! Dasar tidak sabaran!" UJar Ila melotot pada Kia.


"Habisnya kak Syakir tampan sih! Aku kan jadi khilaf, hehehe." Sahut Kia cengengesan.


"Nanti kalau kau hamil, baru tau rasa! Mama pasti akan menggantungmu di tiang bendera depan kantor kedutaan besar sana." Kata Ila membuat Kia ketakutan.


"Ila, kenapa kau menakuti aku?" Ujar Kia sewot.


"Siapa yang menakutimu? Salahmu sendiri karena tidak tahan dengan godaan kak Syakir!" Sahut Ila.


"Ila, apa yang harus aku perbuat? Kalau aku hamil bagaimana?" Tanya Kia mulai panik.


"Habislah kau!" Sahut Ila malah ngacir begitu saja.


"Ila! Kau sudah menakuti aku malah pergi gitu saja, woi!" Teriak Kia kesal melihat Ila keluar dari kamarnya.


Kia panik dan mondar-mandir di dalam kamarnya. kedua tangannya gemetar ketika ia mengingat perkataan Ila dan membayangkan amukan Yurika padanya.


"Aaaarrgghhhh! Apa yang aku lakukan saat ini? Mampuslah aku!" Pekik Kia ketakutan.


 


*****


Saat makan siang bersama, Kia hanya diam dengan raut wajah yang ketakutan. Ila menaikkan garis senyumanya ketika ia melihat raut wajah Kia yang sedang panik.


"Hehehe, dia ketakutan karena perkataanku tadi!" Gumam Ila terkekeh jahat dalam hatinya.


Syakir kebingungan melihat Kia hanya diam seribu bahasa saat sednag makan siang bersama mereka. Setelah selesai makan, Syakir pamit pulang kepada Yurika. Kia mengantarkan Syakir sampai ke depan halaman rumah. Disaat halaman itu sepi, Kia mendekat pada Syakir dan berbisik padanya.


"Kak, kata Ila kalau apa yang kita lakukan semalam aku bisa hamil!" Bisik Kia pada Syakir.


"Apa? Hamil?" Pekik Syakir kaget.


"Iya!" Sahut Kia.


"Hei, kau menceritakanya pada Ila?" Tanya Syakir.


Kia pun mengangguk.


"Hahahaha." Syakir malah tertawa hingga ia sakit perut.


"Kenapa malah tertawa sih?" Ujar Kia kesal.


"Semalam aku memang menyelinap masuk ke dalam kamarmu! Kita juga sempat bermesraan, namun kita tidak sempat melakukan hal itu, sayang!" Sahut Syakir.


"Benarkah?" Ucap Kia.


"Iyalah! Saat itu kau memang menikmatinya, tapi kemudian saat hampir saja aku melakukannya kau malah menjerit kesakitan!" Kata Syakir menjelaskan.


"Memang sakit!" Sahut Kia menunduk malu.


"Karena itu aku tidak jadi melakukannya! Aku tak tega merusakmu, Kiki sayang!" Kata Syakir mengelus kepala Kia dengan lembut.


"Jadi kita belum sempat melakukannya ya?" Tanya Kia ingin meyakinkan dirinya.


"Iya!" Sahut Syakir.


"Syukurlah! Hampir saja!" Ucap Kia bernafas lega.


"Tapi setelah kita menikah nanti, aku akan tega melakukannya, walaupun kau berteriak sekeras mungkin! Hehehe." Bisik Syakir membuat wajah Kia merah padam.


"Pulang sana!" Dorong Kia yang sudah tak tahan menahan rasa malunya di hadapan kekasihnya itu.


"Aku pulang ya, Kiki sayang! Muuaacchh..." Ucap Syakir beranjak masuk ke dalam mobilnya.


"Muuaacch! Ayang bebeb!" Sahut Kia memonyongkan bibirnya ke arah Syakir.


Merasa Syakir telah menjauh darinya, Kia berbalik dan hendak masuk ke dalam rumah. Ketika itu ia melihat mobil sport yang terpakir di tempat parkir dekat halaman itu. Kia kembali tercengang saat mengingat perkataan Galuh mengenai harga dari mobil yang Syakir hadiahkan untuknya.


"Hihihihi, kak Syakir telah menusuk-nusuk hatiku! Hehehe." Gumam Kia yang sedang di mabuk cinta kepada Syakir.


Dari balkon kamar, Galuh dan Ila menatap Kia sedari tadi. Mereka menghela nafas panjang ketika melihat Kia dan Syakir sama-sama telah di perbudak oleh cinta.


"Aku tak sangka, Kia akan tergila-gila pada kak Syakir." Kata Ila pada Galuh.


"Hah, apalagi aku! Aku tak sangka si playboy gila itu bisa insyaf dan jadi budak cintanya Kia!" Sahut Galuh.


"Hah!" Seru Galuh dan Ila bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2