
Sore harinya Galuh datang menjemput Ila di kediaman Yurika setelah ia pulang dari kantor. Galuh melihat senyum ceria dari Ila yang menggandeng lengan Yurika untuk menyambut kedatangannya. Galuh mengucap rasa syukur melihat kebahagiaan Ila saat itu. Pandangan Galuh juga tak lepas dari Kia yang berdiri di atas balkon kamarnya. Kia tampak sedang menangis sambil menatap kearah Yurika dan Ila.
"Apa kabar ma?" Sapa Galuh pada Yurika.
"Mama baik! Apa kau baru saja pulang kerja?" Tanya Yurika tersenyum ramah.
"Iya!" Jawab Galuh.
"Mari masuk! Kita makan malam bersama." Ajak Yurika.
"Baiklah." Sahut Galuh menerima tawaran ibu mertuanya itu.
Ila mengajak Galuh beristirahat di kamar tamu. Galuh duduk di tepi ranjang yang empuk. Ia memperhatikan sekeliling kamar itu dengan perasaan yang bingung.
"Dimana barang-barang milikmu ketika kau masih gadis?" Tanya Galuh.
"Di kamar bawah." Jawab Ila polos.
Galuh semakin bingung dengan jawaban Ila.
"Jadi ini bukan kamarmu?" Tanya Galuh.
"Bukan! Ini kamar tamu. Kamarku ada di bawah dekat dengan dapur." Jawab Ila lagi.
Galuh sangat penasaran dengan yang Ila katakan. Selama Galuh menjadi menantu Yurika, memang ia tak pernah berkeliling rumah itu. Ia tak ingin Ila tau dengan rasa penasaran yang ia rasakan saat itu. Galuh hanya diam sambil menatap wajah Ila yang tampak polos. Namun dengan rasa penasaran yang besar itu, ia berniat untuk menjelajahi lantai bawah dan menemukan kamar Ila disana.
"Apa kau senang hari ini?" Tanya Galuh pada Ila.
"Tentu saja! Aku bahagia sekali karena hubunganku dengan mama sudah membaik. Namun aku masih memiliki rencana untuk menyembuhkan rasa trauma mama." Kata Ila.
"Apa kau ingin mencari psikiater?" Tanya Galuh.
"Iya." Jawab Ila.
"Aku berencana untuk menanyakan perihal ini pada kak Roni. Dia kan seorang dokter, mungkin dia punya kenalan psikiater yang bagus." Sambung Ila.
Galuh melingkarkan lengannya pada pinggang Ila.
"Kenapa kau bawa aku ke kamar tamu? Kenapa kau tidak membawaku ke kamarmu?" Tanya Galuh.
"Kamarku kecil! Tidak nyaman untukmu, makanya aku bawa kau kesini agar kau merasa nyaman." Jawab Ilabyang tak mengerti maksud di balik pertanyaan Galuh terhadapnya.
"Kak, aku ke bawah sebentar ya! Aku bosan jika hanya diam saja di kamar. Aku mau ke dapur membantu menyiapkan makan malam." Kata Ila.
"Iya, pergilah! Aku akan beristirahat sebentar." Sahut Galuh.
Ila keluar dari kamar dan menuju ke dapur. Galuh memperhatikan langkah Ila dari belakang. Ia mengikuti Ila secara mengendap-endap. Galuh mencari sebuah ruangan yang menjadi kamar Ila. Saat sedang mencari-cari, tiba-tiba ada seseorang yang memukul pundaknya dari belakang. Galuh kaget dan menoleh kebelakang. Ia melihat seorang pelayan yang bingung sambil menatapnya.
"Apa tuan memerlukan sesuatu?" Tanya pelayan itu.
Galuh terlihat sedikit gugup, namun ia sangat ingin melihat kamar Ila dengan mata kepalanya sendiri.
"Apa kau sudah lama bekerja di rumah ini?" Tanya Galuh pada pelayan itu.
"Kurang lebih 8 tahun, tuan." Jawabnya.
"Begini, aku ingin tau dimana kamar Ila. Apa kau bisa menunjukkannya?" Pinta Galuh.
Pelayan itu mengangguk dan membawa Galuh ke sebuah ruangan yang berada tak jauh dari dapur dan ruang makan.
"Ini kamarnya nona Ila, tuan!" Kata pelayan itu.
Galuh membuka pintu kamar itu dan melihat ruangan sempit itu. Tidak ada barang mewah ataupun tempat tidur empuk disana. Bahkan lemari pakaiannya saja terlihat sangat usang. Meja belajar seadanya dan beberapa buku-buku yang tersusun rapi diatasnya.
"Bagaimana bisa dia tidur di tempat yang seperti ini?" Gumam Galuh seakan tak percaya.
"Tuan, nona Ila selalu hidup dengan sederhana. Dia selalu makan bersama kami di dapur dan makan makanan yang disiapkan untuk kami. Terkadang aku sangat sedih melihatnya. Kehidupan nona Ila sangat berbanding terbalik dengan nona Kia. Nona Kia selalu hidup dengan kemewahan selama ini." Kata pelayan itu mengatakan semuanya kepada Galuh dengan berlinang air mata.
"Tapi nona Ila tidak pernah mengeluh sedikitpun!" Sambung pelayan itu lagi.
Galuh kembali ke kamar tamu setelah ia puas melihat kamar Ila. Ia berbaring menatap langit-langit kamar dengan pikirannya yang kacau. Ia sangat sedih mengetahui kehidupan Ila dirumah itu. Ia juga teringat masa lalu saat ia hampir menabrak Ila yang mengenakan seragam SD.
"Aku ingat waktu itu dia bahkan jalan kaki saat pulang dari sekolahnya. Aku hampir menabraknya dan marah-marah kepadanya. Cuaca saat itu sangat terik." Gumam Galuh mengingat pertemuan pertamanya dengan Ila.
__ADS_1
Rasa lelah yang ia rasakan saat bekerja di kantor membuatnya ingin tidur sejenak. Galuh pun memejamkan matanya hingga ia terlelap.
Setelah selesai membantu menyiapkan makanan di dapur, Ila kembali ke kamar tamu untuk menemui Galuh. Disana ia melihat Galuh sudah tertidur pulas. Ia tak tega untuk membangunkannya. Ila duduk menatap wajah Galuh yang tampak lelah karena seharian bekerja di kantor.
"Aku sangat bersyukur karena telah menikah dengannya. Dia sangat baik dan selalu memanjakan aku. Ya, walaupun diawal pertemuan kami, dia sangat dingin dan menyebalkan. Namun setelah menikah, dia memperlakukan aku dengan baik." Gumam Ila dalam hatinya seraya menatap wajah Galuh.
"Semoga rumah tanggaku selalu bahagia." Doa yang diucapkan Ila dalam hatinya.
Jam masih menunjukkan pukul 6 sore. Masih ada beberapa jam lagi untuk mereka makan malam bersama. Ila ikut berbaring di samping Galuh sambil melingkarkan lengannya di dada Galuh. Mata Ila perlahan terpejam dan tertidur di samping suaminya itu.
Tepat pukul 8 malam, seorang pelayan mengetuk pintu kamar dimana Ila dan Galuh sedang tidur nyenyak. Ila terbangun saat mendengar ketukan pintu dari luar.
"Nona, waktunya makan malam!" Kata pelayan itu.
"Iya, baiklah! Sebentar lagi aku akan turun." Sahut Ila.
Ila menggoyangkan tubuh Galuh untuk membangunkannya. Galuh mengucek matanya dan melirik jam yang ada di dinding kamar.
"Hah, aku ketiduran lama sekali." Gumam Galuh.
"Kak, ayo kita turun! Kita makan bersama diruang makan." Kata Ila mengajak Galuh.
"Iya." Sahut Galuh.
Ila dan Galuh turun setelah mereka mencuci wajah mereka agar terlihat lebih segar. Mereka berjalan menuju ke ruang makan. Disana Yurika telah menanti kedatangan mereka berdua. Galuh dan Ila duduk berdampingan tepat dihadapan Yurika. Ila duduk dengan mata yang mencari-cari keberadaan Kia.
"Dimana Kia?" Tanya Ila pada seorang pelayan yang sedang melayani mereka makan makan.
"Nona Kia tidak mau keluar kamar." Jawabnya.
"Biar aku saja yang panggil dia." Kata Ila hendak bangkit dari tempat duduknya.
"Ila, duduklah! Tidak usah panggil dia." Kata Yurika menahan Ila agar tidak pergi dari ruang makan itu.
"Kenapa ma?" Tanya Ila.
"Biarkan saja dia di kamarnya." Kata Yurika.
"Tapi ma, Kia kan belum makan." Kata Ila lagi.
"Pelayan sudah memanggilnya tadi. Dia sendiri yang tidak mau keluar dan makan bersama kita jadi biarkan saja dia. Lagipula aku masih sangat kesal dengan perbuatannya waktu itu. Sikapnya juga semakin hari semakin tidak baik." Kata Yurika.
"Sedang apa kau disini?" Tanya kepala pelayan dengan tatapan matanya yang tajam kepada Sari.
"Tidak ada! Aku hanya berdiri saja, siapa tau majikan kita memerlukan bantuan." Jawab Sari gugup.
"Pergi sana, lakukan pekerjaanmu! Tugasmu membersihkan ruangan dirumah ini bukan mengurusi urusan dapur dan ruang makan." Kata kepala pelayan.
Sari bergegas pergi menghindari dari kepala pelayan. Ia takut kalau kepala pelayan memarahinya dan curiga dengan apa yang ia lakukan dirumah itu. Sari mengerjakan pekerjaannya sambil celingak-celinguk melihat kondisi rumah. Sari berlari menaiki anak tangga dan menuju ke kamar Kia.
"Nona, kenapa kau tidak turun untuk makan bersama diruang makan?" Tanya Sari pada Kia.
"Aku tak Sudi duduk satu meja dengan Ila dan suaminya itu." Sahut Kia.
"Nona, sepertinya kau memang sudah dilupakan dirumah ini." Kata Sari mulai dengan hasutannya.
"Apa maksudmu?" Tanya Kia kesal.
"Tadi aku lihat nyonya sangat bahagia makan bersama nona Ila dan juga suaminya itu. Mereka bercanda dan tertawa disana. Aku juga dengar kalau nona Ila melarang siapapun untuk membawakan makan malam untukmu. Kata nona Ila dan nyonya Yurika, mereka ingin membiarkanmu kelaparan di kamar." Kata Sari lagi-lagi dengan fitnah kejinya itu.
"Kurang ajar! Si babu itu bahkan bertingkah jahat di belakangku." Ujar Kia semakin kesal terhadap Ila.
"Nona, mengapa kau hanya diam saja. Nona Ila akan menginjak-injakmu nanti. Putri dari keluarga ini kan nona Kia, kenapa harus nona Ila yang menjadi penguasanya!" Kata Sari lagi untuk memanas-manasi Kia.
"Kau tenang saja! Aku pasti akan buat perhitungan dengan si babu itu." Sahut Kia.
Setelah selesai makan malam, Galuh dan Ila pamit untuk kembali pulang ke apartemen mereka. Yurika memberikan pelukan hangat kepada putrinya itu. Yurika juga melambaikan tangannya kepada Ila yang hendak masuk ke dalam mobil. Hal itu terlihat oleh Kia yang berada di atas balkon kamarnya. Dengan mengusap air matanya ia menatap Yurika dan Ila yang tampak sangat bahagia.
"Aku bersumpah, aku akan merebut kembali apa yang aku miliki sebelumnya!" Ucap Kia dengan perasaan yang penuh amarah.
*****
Keesokan harinya, Kia sedang menunggu jemputan dari supir yang biasa mengantar jemput dirinya ke sekolah. Kia berdiri di depan pintu gerbang sekolah sambil memainkan ponselnya. Tak lama kemudian ada sebuah mobil yang berhenti tepat dihadapannya. Kia melirik seseorang yang ia kenal keluar dari mobil itu.
__ADS_1
"Genta!" Ucap Kia terkejut.
Genta mendekati Kia dengan beberapa teman-temannya. Kia mundur beberapa langkah saat Genta semakin dekat dengannya. Susana saat itu terlihat sepi karena para pelajar disekolah itu sudah banyak yang pulang. Tidak ada satpam yang biasa berjaga di pintu gerbang sekolah. Genta semakin dekat kepada Kia dan tiba-tiba memukul wajah Kia dengan kuat. Sontak saja Kia jatuh terduduk di atas aspal yang hitam itu.
"Apa yang kau lakukan padaku, Genta?" Teriak Kia sambil mengusap wajahnya.
"Gara-gara kau, perusahaan ayahku bangkrut dan keluargaku jatuh miskin!" Kata Genta sangat marah pada Kia.
"Apa hubungannya denganku?" Tanya Kia.
"Jelas berhubungan denganmu! Kenapa kau tidak bilang kalau si babu itu sudah bersuami dan suaminya itu adalah tuan Galuh? Dia yang membuat perusahaan ayahku bangkrut seketika! Dia adalah orang yang memiliki saham terbesar di perusahaan ayahku. Karena aku mengusik si babu, dia menarik seluruh sahamnya dan membuat perusahaan ayahku bangkrut." Kata Genta sambil menjambak rambut Kia.
"Gara-gara kau, aku menjadi miskin sekarang!" Tukas Genta lagi sembari menarik rambut Kia semakin kuat.
"Aarrgghh!!" Teriak Kia kesakitan.
"Pukuli dia!" Perintah Genta kepada teman-temannya untuk memukuli Kia.
Kia di pukul dan di tendang oleh mereka. Kia meronta kesakitan dan terus berteriak. Ia tidak bisa berbuat apa-apa saat ia dipukuli oleh teman-temannya Genta.
Dari kejauhan Sandi tak sengaja melihat ada keributan di depan pintu gerbang sekolah. Sandi terkejut saat melihat Kia di keroyok oleh teman-temannya Genta disana. Sandi berteriak dan berlari untuk menyelamatkan Kia yang sudah tak berdaya di aspal itu.
"Hentikan!" Teriak Sandi.
"Kau mau jadi pahlawan untuk kekasihmu ini, hah?" Ujar Genta pada Sandi.
"Hajar dia!" Perintah Genta lagi kepada teman-temannya untuk memukuli Sandi.
Mereka pun segera memukuli Sandi. Awalnya Sandi berusaha untuk melawan mereka. Namun jumlah mereka yang tak sebanding dengan dirinya membuat Sandi ikut tersungkur. Mereka terus memukuli Sandi yang sudah tergeletak di aspal. Kia berusaha bangkit dan menyentuh kaki Genta. Ia memohon pada Genta agar berhenti untuk memukuli pria yang ia cintai itu.
"Genta, aku mohon jangan pukuli Sandi lagi." Pinta Kia memohon sambil menangis.
Genta tak memperdulikan permohonan Kia kepadanya. Pukulan itu berhenti saat satpam meneriaki mereka. Genta dan teman-temannya masuk ke dalam mobil dan melarikan diri. Kia mendekati Sandi yang mendapati begitu banyak luka lebam pada wajahnya.
"Sandi, maafkan aku!" Ucap Kia menangis.
"Semuanya gara-gara aku!" Ucap Kia lagi.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Sandi pada Kia.
Kia terus menangis karena sangat khawatir dengan keadaan Sandi. Satpam dan beberapa guru juga kepala sekolah membawa mereka ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis.
Luka di wajah Sandi terbilang cukup parah sehingga ia harus menginap di rumah sakit beberapa hari. Kia diperbolehkan pulang setelah ia mendapatkan perawatan luka di beberapa bagian wajahnya.
Pihak sekolah menangani kasus ini dan melaporkan Genta serta teman-temannya ke polisi. Namun polisi masih mencari keberadaan mereka setelah kejadian itu. Genta dan teman-temannya melarikan diri karena takut di penjara atas ulang yang mereka lakukan.
Yurika datang kerumah sakit untuk melihat kondisi Kia disana. Bagaimanapun juga ia tak tega membiarkan Kia begitu saja. Ia melihat Kia yang memiliki luka lebam di sekujur wajahnya.
"Siapa yang melakukan ini padamu?" Tanya Yurika.
"Aku tak tau." Sahut Kia tak ingin Yurika mengetahui urusannya dengan Genta.
"Ayo pulang!" Kata Yurika.
"Aku akan disini sebentar lagi. Aku mau melihat Sandi." Kata Kia.
"Aku tunggu kau di parkiran." Kata Yurika.
Kia masuk ke dalam ruangan dimana Sandi sedang mendapatkan perawatan. Sandi melihat Kia yang masuk dengan kondisi wajah yang penuh luka lebam.
"Sandi, maafkan aku! Gara-gara aku kau menjadi seperti ini." Kata Kia seraya menjatuhkan air matanya.
"Sudah berkali-kali aku mengingatkanmu, jangan pernah berurusan dengan Genta! Tapi kau tidak pernah menghiraukan aku." Kata Sandi kesal.
"Maaf!" Ucap Kia.
"Sudahlah, aku tidak apa-apa! Lebih baik kau pulang saja. Sebentar lagi keluargaku akan datang untuk menemaniku." Kata Sandi.
Kia berbalik dan berjalan kearah pintu. Kia keluar dari ruang rawat Sandi dengan wajah yang basah karena air matanya. Melihat Kia sudah keluar dari ruangannya, Sandi meraih ponsel miliknya yang berada di samping ranjang tidur. Ia melihat rekaman video yang ia rekam disaat Kia dan Genta merencanakan hal jahat untuk Ila.
"Lebih baik video ini aku hapus saja! Genta dan Kia juga sudah mendapatkan ganjaran atas perbuatan mereka." Gumam Sandi menghapus rekaman video di ponselnya.
Sandi menatap kosong pada dinding ruang rawat itu. Ia kembali teringat akan sahabatnya yang pernah dekat dengannya yaitu Ila.
"Maaf Ila! Aku tak bisa menepati janjiku waktu itu. Aku harap kau bahagia bersama dengan suamimu." Ucap Sandi dalam hatinya.
__ADS_1