GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
KEJANGGALAN


__ADS_3

Yurika tampak siuman setelah beberapa menit ia pingsan. Yurika membuka kedua matanya dan menatap wajah Ila dalam keadaan basah karena air mata.


"Mama!" Ucap Ila.


"Apa yang terjadi?" Ucap Yurika lirih.


"Mama pingsan tadi! Apa mama baik-baik saja?" Tanya Ila.


"Iya!" Sahutnya.


Kemudian Yurika berusaha untuk mengingat apa yang menyebabkan dirinya pingsan. Ia terperanjat ketika ia mengingat perkataan Ila yang menyebutkan mengenai ayah kandungnya. Yurika bergetar saat itu. Ia tampak seperti orang yang sedang ketakutan.


"Ma! Mama kenapa?" Tanya Ila sambil menggenggam tangan Yurika.


"Aku benci orang itu!" Sahut Yurika.


"Siapa, ma? Orang itu siapa?" Tanya Ila.


Yurika tak menjawab. Ia hanya terus gemetar ketakutan yang membuat Ila panik.


"Kak!" Teriak Ila memanggil Galuh yang pada saat itu sedang duduk di luar IGD bersama Roni dan juga Kania. Mereka pun lantas masuk ke dalam saat mendengar teriakannya.


"Ada apa?" Tanya Galuh.


"Mama kenapa kak? Kenapa mama seperti ini?" Ucap Ila panik sekaligus khawatir.


Mereka pun menoleh pada Yurika yang masih gemetar ketakutan. Dengan sigapnya Roni mendekati Yurika untuk menenangkannya.


"Tante, tenang!" Ucap Roni pada Yurika.


"Pergi, kalian!" Teriak Yurika sambil menutupi kedua telinganya.


"Galuh! Cepat panggil dokter!" Kata Roni.


"Baiklah!" Sahut Galuh.


Galuh pun berlari keluar dan memanggil dokter. Tak menunggu lama dokter pun datang dan memeriksa kondisi Yurika. Ila, Galuh dan Kania berada di luar ruangan IGD itu untuk menunggu kabar dari dokter dan juga Roni yang berada di dalam. Hampir 15 menit lamanya, Roni pun keluar.


"Kak! Apa yang terjadi pada mama?" Tanya Ila pada Roni.


"Sepertinya trauma Tante Yurika kembali kambuh!" Sahut Roni.


"Apa jangan-jangan mama Yurika mendengar perbincangan kita tadi mengenai hasil tes DNA itu." Sambung Galuh.


"Kak! Aku khawatir pada mama." Ucap Ila menangis.


"Tenanglah, sayang! Kita akan melewati semua ini sama-sama. Bagaimanapun caranya kita harus melakukan yang terbaik untuk mama Yurika." Kata Galuh mencoba untuk menenangkan Ila.


"Lantas, bagaimana kondisi mama Yurika saat ini?" Tanya Galuh pada Roni.


"Dokter telah memberikannya obat penenang! Sekarang tante Yurika sedang beristirahat." Sahut Roni.


"Apa rencana kita selanjutnya? Kita sudah mengetahui hasil tes DNA itu kan?" Tanya Kania.


"Kania! Apa kau ingat? Tadi narapidana itu mengatakan kalau dia bukan seorang penjahat! Apa maksud dari perkataannya itu?" Kata Galuh pada Kania.

__ADS_1


"Saat polisi berhasil meringkusnya di pinggir jalan dan digelandang ke kantor polisi, dia terus mengatakan hal yang sama! Dia tidak mengakui kejahatan yang selama ini ia lakukan." Sahut Kania.


"Semua penjahat selalu mengatakan hal seperti itu agar ia terlepas dari jeratan hukum." Sambung Kania lagi.


"Kak, sudah berapa lama dia menjadi seorang tahanan?" Tanya Ila.


"Hampir 5 tahun!" Sahut Kania.


"Apa selama ini ada keluarganya yang datang menjenguknya ke penjara?" Tanya Galuh.


"Setahuku, tidak! Dia tidak pernah mau mengatakan dimana tempat tinggal keluarganya." Sahut Kania.


"Apa alasan narapidana itu berkata dia bukan penjahat dan ia juga tidak mau mengatakan mengenai keluarganya selama ini? Ada yang janggal dalam masalah ini! Sebaiknya, aku tidak bicara tentang rasa kejanggalan ini kepada Kania. Aku harus mencari tau sendiri soal ini." Gumam Galuh dalam hatinya.


"Kania! Menurutku, sebaiknya kami harus fokus kepada ibu mertuaku dulu! Setelah semuanya mereda, kita akan lanjutkan lagi masalah ini." Kata Galuh.


"Baiklah! Jika kalian membutuhkan bantuanku, hubungi saja aku!" Sahut Kania.


"Baiklah!" Sahut Galuh.


"Aku pergi dulu!" Kata Kania.


Setelah Kania pergi, Ila kembali masuk ke dalam ruang rawat dimana Yurika sedang dalam perawatan akibat trauma psikisnya yang kambuh. Sementara Galuh dan Roni berbincang di luar ruang rawat Yurika.


"Roni! Aku memiliki kejanggalan dalam hal ini!" Kata Galuh.


"Apa maksudmu?" Tanya Roni.


"Narapidana itu mengatakan kalau dia bukan penjahat! Apa menurutmu polisi bisa salah dalam menangkap orang?" Sahut Galuh yang membuat Roni bingung.


"Tunggu sebentar! Aku akan panggil Hamka kesini dan kita akan bicara padanya." Kata Galuh.


Galuh pun menghubungi Hamka yang sedang berada di kantornya. Hamka yang kebetulan tidak sibuk, langsung datang menghampiri kedua sahabatnya yang sedang menunggunya di kantin rumah sakit.


"Hai, sobat! Ada hal penting apa yang ingin kalian bicarakan?" Sapa Hamka pada kedua sahabatnya itu.


"Hamka! Aku merasa ada kejanggalan pada narapidana itu!" Kata Galuh.


"Tunggu sebentar! Bagaimana hasil tes DNA-nya?" Tanya Hamka


"Hasilnya mengatakan kalau Ila memang memiliki hubungan darah dengan narapidana itu!" Sahut Roni.


"Astaga! Lantas bagaimana dengan Ila?" Tanya Hamka lagi.


"Sekarang semuanya jadi kacau! Ila dan mamanya tampak terpukul dengan hasil tes DNA itu." Sahut Galuh.


"Apa? Tante Yurika tau?" Tanya Hamka kaget.


"Iya! Kemungkinan dia mendengar perbincangan kami tadi." Sahut Galuh.


"Lantas kejanggalan apa yang kau bilang tadi?" Tanya Hamka penasaran.


"Saat aku dan Ila melihat narapidana itu, tak lama dia sadar dan mengatakan bahwa dia bukanlah penjahat." Kata Galuh.


"Bagaimana mungkin dia mengatakan hal itu? Jelas-jelas dia adalah salah satu perampok yang memperkosa Tante Yurika beberapa tahun silam. Hal itu terbukti dari hasil tes DNA itu." Kata Hamka.

__ADS_1


"Entahlah! Aku masih berpikir rancu dalam masalah ini." Kata Galuh.


"Eh, tadi kata Kania, narapidana itu tida mau mengatakan apapun mengenai keluarganya sehingga hampir 5 tahun lamanya ia di penjara, tak ada satupun dari keluarganya yang datang menjenguknya." Kata Roni.


"Iya, benar kata Roni! Tadi Kania sempat mengatakan hal itu." Sambung Galuh.


Hamka tampak berpikir sejenak. Dengan perkataan Roni tadi Hamka pun merasa sedikit ada kejanggalan dalam masalah itu.


"Begini saja! Jika kondisi narapidana itu bisa diajak bicara, maka kita harus bertanya langsung padanya. Dia harus menggali lebih dalam mengenai perkataannya yang mengatakan kalau dia bukan seorang penjahat." Kata Hamka.


"Iya, kau benar!" Sahut Galuh.


"Jangan lupa nanti tanyakan mengenai keluarganya juga! Aku penasaran kenapa dia tak ingin mengatakan pada polisi tentang keluarganya." Kata Roni.


"Untuk hal ini lebih baik, kita jangan mengatakan apapun pada Kania. Jika kita menyelidiki lebih dalam, maka aku yakin Kania tidak akan setuju. Karena hal ini akan berdampak pada pihak polisi." Kata Hamka.


"Aku juga berpikir begitu." Sahut Galuh.


 


*****


Kia yang sedang sibuk mengurusi pesta pernikahannya, langsung datang ke rumah sakit saat tau kondisi Yurika. Ia begitu panik sekaligus khawatir pada kondisi Yurika yang masih tertidur karena pengaruh obat penenang yang diberikan oleh dokter tadi. Kia datang ke rumah sakit bersama dengan Syakir yang begit setia padanya.


"Ila, bagaimana kondisi mama?" Tanya Kia menangis.


"Entahlah, aku sangat khawatir padanya." Sahut Ila ikut menangis.


"Ila, apa yang terjadi pada mama? Kenapa mama bisa seperti ini?" Tanya Kia.


Ila melirik Galuh yang memberikan kode agar tidak memberitahukan apapun tentang masalah itu kepada Kia. Apa yang dilakukan Galuh, terlihat oleh Syakir yang sedang kebingungan menatapnya.


"Mungkin mama kelelahan." Kata Ila pada Kia.


"Jika kondisi mama tidak baik, aku akan menunda pernikahanku." Kata Kia.


"Jangan, Kia! Semua persiapan pernikahanmu sudah hampir selesai. Kau tidak seharusnya menunda pernikahanmu." Sahut Ila.


"Tapi, bagaimana dengan mama? Aku sangat khawatir padanya." Ucap Kia.


"Kita doakan saja agar mama cepat pulih sebelum hari pernikahanmu, ya!" Kata Ila.


"Mama!" Ucap Kia menggenggam tangan Yurika.


Syakir yang sejak tadi menatap Galuh, begitu penasaran akan sikap Galuh yang tampak seperti menyimpan sebuah rahasia. Syakir pun membawa Galuh untuk bicara empat mata dengannya di luar ruangan itu.


"Galuh! Ada apa? Sepertinya kau sedang merahasiakan sesuatu pada Kia." Tanya Syakir.


"Aku rasa Kia tidak perlu tau masalah ini! Kia dan kau akan segera menikah! Aku tidak ingin dia terbebani dengan masalah yang sedang Ila dan mama Yurika hadapi saat ini." Sahut Galuh.


"Tapi ada apa? Apa masalahnya begitu rumit?" Tanya Syakir.


"Iya! Ini tentang masa lalu mama Yurika." Kata Galuh.


"Mama Yurika akan menjadi bagian keluargaku, aku juga harus tau, Galuh!" Kata Syakir.

__ADS_1


Galuh menatap mata Syakir yang begitu ingin tau masalah yang sedang Yurika dan Ila hadapi. Dengan terpaksa Galuh pun akhirnya menceritakan semua masalah itu dari awal kepada Syakir. Betapa kagetnya Syakir mengetahui masalah itu hingga hasil tes DNA.


__ADS_2