
Setelah mendengar cerita dari Galuh, Syakir bersedia untuk membantu memecahkan masalah itu. Syakir bahkan sepakat dengan Kia untuk menunda hari pernikahan mereka. Kia yang hanya memikirkan kesehatan Yurika saja terus menamani Yurika di rumah sakit. Semenjak mengetahui perkara mengenai ayah kandung Ila, kesehatan Yurika menurun drastis. Ia hanya duduk diam menatap kosong dan terkadang ia menangis mengingat masa kelamnya. Yurika bahkan tak berselera untuk makan. Kondisinya yang seperti itu membuat semua orang khawatir padanya. Hana sebagain besan sekaligus teman sosialitanya selalu memberikan dukungan agar Yurika dapat kembali pulih secepatnya.
"Yurika, makanlah! Sudah dua hari kau tidak cukup makan." Kata Hana hendak menyuapi Yurika yang duduk bersandar di sis ranjang rumah sakit.
"Aku tak berselera, Hana!" Sahut Yurika.
"Jika kau begini terus kau akan bertambah lemah nanti. Bagaimanapun juga kau harus tetap makan." Kata Hana.
"Bagaimana aku bisa berselera? Beberapa hari lalu aku mendengar apa yang tak ingin aku dengar seumur hidupku!" Ucap Yurika kembali meneteskan air matanya.
"Yurika, keluarlah dari masa lalumu yang kelam itu! Pikirkanlah tentang Ila dan juga Kia." Kata Hana mencoba untuk menguatkan hati Yurika.
"Kia bahkan menunda hari pernikahannya demi melihatmu kembali pulih. Kedua putrimu selalu menangis mengkhawatirkan dirimu." Sambung Hana lagi.
"Aku tak bisa menjadi wanita kuat, Hana! Aku tak bisa." Ucap Yurika.
"Semua kebahagiaanku sirna karena malapetaka itu! Terlebih lagi setelah kejadian itu, aku kehilangan sosok Raldi di kehidupanku. Hal itu membuatku seperti patah arah! Aku tak tau harus berbuat apa." Ucap Yurika lagi.
"Yurika, dengarkan aku! Sampai detik ini walaupun Raldi sudah tiada, namun kau masih memiliki cintanya! Kau memiliki dua orang putri yang begitu menyayangimu, kau memiliki aku dan juga keluargaku! Hamka, Syakir, dan Roni bahkan berusaha untuk membantumu. Kami semua ingin kau menjadi wanita yang kuat untuk menghadapi semuanya! Kami semua ada untukmu, Yurika." Kata Hana.
"Mereka semua tau tentang masa laluku?" Tanya Yurika.
"Iya! Demi membantumu, Yurika." Sahut Hana.
"Galuh, Hamka, Syakir juga Roni adalah anak-anak kita! Mereka keluarga kita. Mereka bersusah payah untuk membantumu melewati ini semua." Kata Hana lagi.
"Tolonglah, Yurika! Kembalilah pulih. Jadilah wanita yang kuat demi kedua putrimu dan juga mereka yang telah menganggapmu seperti ibu mereka sendiri." Sambung Hana.
Susah payah Hana membujuk Yurika dan memberikan pengertian padanya. Akhirnya ia pun berhasil membuat Yurika sadar akan keberaniannya menghadapi semua masalah yang berkaitan dengan masa lalunya yang kelam. Yurika pun mau untuk makan serta mengikuti apa yang diperintahkan oleh dokter agar ia cepat kembali pulih seperti sedia kala.
*****
Disisi lain, Galuh dan Hamka terus saja mencari kesempatan untuk dapat berbicara langsung pada narapidana yang mereka ketahui dari dokter bahwa kondisinya semakin hari semakin membaik. Walaupun Galuh tak mengatakan tujuan yang sebenarnya, ia selalu meminta bantuan Kania untuk bertemu dengan narapidana itu.
"Kania! Apakah nanti malam aku bisa bertemu dengan narapidana itu?" Tanya Galuh pada Kania yang ia jumpai di kantor polisi tempat Kania bertugas.
Kania menatap Galuh penuh tanda tanya. Bagaimana pun juga Kania adalah wanita cerdas. Ia tau cara membedakan sikap seseorang saat berbicara dengannya.
"Tunggu dulu! Galuh, aku ingin bertanya padamu terlebih dahulu. Apa kau sedang merencanakan sesuatu di belakangku?" Tanya Kania yang membuat Galuh sedikit gugup.
"Hei, sayangku yang cantik! Kau jangan bersikap seolah-olah kami ingin menipumu. Kami hanya ingin menemuinya saja untuk meminta damai agar Ila tidak tersandung hukum telah menabraknya. Itu saja!" Sahut Hamka pada tunangannya itu.
"Aku tak bertanya padamu, CEO konyol!" Ujar Kania sewot.
"Wah, semakin sewot wajahmu semakin cantik saja, ya! Membuatku semakin ingin menerkammu, hehehe." Seru Hamka cengengesan menggoda Kania.
"Bisakah kau bicara serius, Hamka!" Ucap Kania tegas.
"Kalau aku tidak mau, kau mau apa?" Sahut Hamka.
"Aku akan.....
"Akan apa? Menyuruhku push up?" Tanya Hamka.
"Baiklah, aku mau push up asalkan kau dibawahku!" Bisik Hamka pada telinga Kania yang duduk di hadapannya.
"Bersikaplah yang sopan! Ini kantor polisi!" Teriak Kania seraya mendorong tubuh Hamka untuk menjauh darinya.
Galuh yang juga duduk bersama mereka, melihat jelas wajah Kania memerah karena ucapan Hamka padanya.
"Pppffft, dasar Hamka gila!" Gumam Galuh menahan tawanya melihat aksi sang sahabat yang sedang menggoda Kania.
"Hehehe, lihatlah! Wajah tunanganku itu sangat merah." Bisik Hamka pada Galuh.
"Jelas sekali kalau dia juga memiliki rasa padamu." Sahut Galuh ikut berbisik.
"Hei, kenapa kalian malah berbisik-bisik di depanku? Kalau kalian tidak memiliki urusan yang penting, sebaiknya kalian pergi saja dari sini." Ucap Kania kesal pada Galuh dan Hamka.
"Galuh! Kau jangan buat gadis tunanganku marah! Nanti aku pukul, kau!" Kata Hamka pada Galuh di depan Kania.
__ADS_1
"Dasar gila! Kau yang beraksi sedari tadi, kenapa kau malah menuduhku, anying?" Sahut Galuh sewot pada Hamka yang cengengesan di depan Kania.
"Dasar pria konyol!" Gerutu Kania menatap pria tunangannya itu.
"Bagaimana mungkin aku akan menikahi pria seperti dia? Dia selalu saja membuatku kesal!" Gerutu Kania lagi.
Galuh dan Hamka diam dan saling menatap pada Kania yang duduk di hadapannya.
"Galuh! Aku ini tidak bodoh! Kau pasti memiliki rencana lain terhadap narapidana itu. Lebih baik kau katakan padaku yang sejujurnya, kalau tidak aku tidak akan pernah membantumu lagi. Narapidana itu dalam pengawasanku, jadi aku harus tau apa rencanamu itu." Kata Kania.
"Hah! Baiklah, wanita pintar! Aku menyerah." Sahut Galuh.
"Aku memang memiliki rencana lain terhadap narapidana itu! Aku merasa ada kejanggalan dalam hal ini. Tapi aku minta sebagai polisi kau jangan tersinggung dengan ucapanku!" Sambung Galuh lagi.
"Apa yang membuatmu merasa ada kejanggalan pada masalah ini?" Tanya Kania.
"Mungkin kah polisi salah tangkap?" Kata Galuh.
"Apa maksudmu?" Tanya Kania.
"Kau dengar sendiri kan kalau narapidana itu selalu mengatakan bahwa dia bukan penjahat! Dan kau juga tau bahwa selama ia di penjara, tak ada satupun dari keluarganya yang mengunjunginya." Kata Galuh.
"Itu karena dia yang tak ingin mengatakan kepada pihak polisi mengenai keluarganya! Jika dia mengatakan dimana keluarganya, maka pihak kami pasti akan mengabarkan kepada keluarganya bahwa ia sedang tersandung masalah hukum." Sahut Kania.
"Apa kau tidak berpikir dengan hasil tes DNA itu bisa di buktikan kalau dia memang salah satu perampok yang telah memperkosa tante Yurika." Sambung Kania lagi.
"Tapi Kania, tolong bantulah aku untuk membuktikannya sekali lagi! Aku masih saja penasaran dengannya." Kata Galuh.
"Hah! Permintaanmu ini membuatku mendapatkan masalah nantinya." Ucap Kania menghela nafas panjang.
"Lebih bagus kau terkena masalah agar kau di pecat dan menjadi ibu rumah tangga yang baik untuk anak-anak kita nanti!" Celetuk Hamka yang seakan membuat Kania meradang.
"Dasar Hamka gila! Mati saja kau sana!" Teriak Kania hendak menyerang Hamka. Namun saat menyerangnya, Hamka menangkap tangan Kania dan mendekapnya. Hamka juga memberikan kecupan hangatnya kepada bibir Kania di depan Galuh.
"Huh! Pasangan ini membuatku rindu pada istriku saja." Gerutu Galuh sewot.
Kania berontak saat Hamka terus menempelkan bibirnya. Tak ada cara lain untuk Kania terlepas dari dekapan Hamka. Kania pun menggunakan jurus ampuhnya dengan menendang ************ Hamka dengan kuat.
"Aawww, pecah telor! Pasti sangat nyeri rasanya." Gumam Galuh melirik Hamka yang sedang kesakitan.
"Rasakan akibatnya karena mencuri ciumanku!" Ujar Kania kembali duduk di kursinya sambil berdecak kesal.
"Dasar polwan kejam! Aku pastikan kau akan menyesal karena melakukan hal ini pada burungku! Ini termasuk masa depanmu juga, bodoh!" Balas Hamka kesal pada Kania.
"Aku tidak perduli!" Sahut Kania.
"Hei, apa kalian bisa tenang sedikit? Bersikaplah romantis! Kalian akan segera menikah nantinya." Kata Galuh pada Kania dan Hamka yang selalu ribut ketika bertemu.
Kania kembali duduk dan mencoba untuk menenangkan dirinya yang begitu kesal pada Hamka, sementara Hamka harus duduk senyaman mungkin untuk menahan rasa sakit akibta tendangan maut dari Kania.
"Kania! Bantulah aku untuk masalah ini." Pinta Galuh.
"Iya, baiklah! Aku akan berusaha untuk membantumu dalam masalah ini. Tapi aku ingatkan padamu, jangan bertindak gegabah dalam mengambil keputusan. Kau harus tetap mendengarkan perkataanku selama itu mengenai narapadana yang kini dalam pengawasanku." Sahut Kania yang akhirnya mau untuk membantu Galuh dan mempertaruhkan jabatannya sebagai polisi.
"Lantas kapan kita akan mulai?" Tanya Galuh.
"Nanti malam! Saat aku berhasil mengecohkan bawahanku yang berjaga disana, kalian pergilah masuk untuk menemui narapidana itu." Sahut Kania.
"Oke!" Sahut Galuh.
"Baiklah, kami pamit pergi dulu." Sambung Galuh lagi hendak bergegas pergi dari ruang dinas Kania. Sementara Hamka masih duduk nyaman di kursinya.
"Apa yang kau tunggu, Hamka? Ayo kita pergi tuntaskan rencana kita!" Kata Galuh.
"Kau pergilah duluan! Aku masih akan membuat perhitungan pada polwan satu ini." Sahut Hamka sambil menatap Kania yang melotot kesal padanya.
"Terserah kau lah!" Kata Galuh bergegas pergi dari kantor polisi itu.
Kini ruangan itu hanya ada Hamka dan juga Kania. Hamka bangkit dari kursinya dan mendekati pintu. Hamka mengunci pintu tersebut dan menyimpan kuncinya pada saku celananya.
"Apa yang kau lakukan, Hamka?" Ucap Kania panik.
__ADS_1
"Aku akan buat perhitungan padamu, Kania! Hehehe." Sahut Hamka tertawa jahat.
"Jangan berbuat macam-macam disini! Ini kantor polisi." Kata Kania terus berjalan mundur guna untuk menjauhi Hamka yang terus mendekat padanya.
"Aku tidak perduli, wahai ibu polwan yang cantik!" Sahut Hamka.
Hamka mempercepat langkahnya mengejar Kania. Kania pun juga mempercepat langkah mundurnya hingga ia terhenti di pojok ruangan.
"Hehehe, kau tidak bisa lari lagi dariku!" Kata Hamka yang bersiap-siap untuk mendekap Kania.
Hamka pun melompat untuk menyerang Kania. Ia berniat untuk kembali mendekap Kania dan menciumnya hingga puas. Namun saat itu Kania berhasil melarikan diri sari serangan Hamka.
"Aaarrgghh!" Pekik Kania berdegik ngeri pada kebuasan Hamka yang mengejarnya.
Alhasil pasangan yang akan segera menikah itu pun kejar-kejaran dalam ruangan tersebut.
"Jangan kejar aku, Hamka bodoh!" Teriak Kania terus menghindari kejaran Hamka.
"Aku akan menangkapmu, kelinci kecil! Hahaha." Sahut Hamka tertawa jahat sambil mengejar Kania.
Dari luar ruangan, polisi-polisi yang bekerja disana kebingungan sambil menatap ke arah pintu ruangan kerja Kania. Mereka mendengar suara kegaduhan dari dalam.
"Kira-kira Letnan sedang apa ya di dalam?" Bisik salah seorang polisi disana.
"Kenapa ribut sekali di dalam ruangan itu?" Sambung lainnya.
"Aku akan mencari tau!" Kata salah seorang polisi lainnya melangkah mendekati pintu ruangan Kania.
Polisi itu pun mengetuk pintu ruangan Kania yang terdengar begitu ribut dari dalam.
"Letnan! Apa kau tidak apa-apa?" Tanya polisi itu pada Kania yang berhenti berlari karena panggilannya.
"Eeeemm, aku tidak apa-apa! Kembalilah bekerja." Sahut Kania.
"Baiklah, letnan." Sahutnya.
Di dalam ruangan itu, Hamka akhirnya berhasil menangkap Kania yang berhenti mendadak karena panggilan dari bawahannya.
"Akhirnya, tertangkap kau!" Kata Hamka mendekap Kania.
"Hamka, lepaskan aku!" Pekik Kania meronta.
"Tidak mau!" Sahut Hamka.
"Hamka, ini kantor polisi! Kau jangan bertingkah konyol disini." Kata Kania lagi.
"Kalau kau terus berontak aku akan berteriak mengatakan pada bawahanmu yang ada di luar bahwa kau sedang melecehkan aku!" Ancam Hamka.
"What the hell?" Umpat Kania.
"Teruslah berontak, jika kau ingin semua bawahanmu tau apa yang sedang terjadi pada kita saat ini." Kata Hamka yang membuat Kania akhrinya menyerah dan berhenti melawan.
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Kania yang masih di dalam dekapan Hamka.
"Aku ingin cintamu!" Sahut Hamka.
"Heh, apa begini caramu meminta cintaku?" Tanya Kania.
"Kau itu wanita yang sulit untuk dijumpai! Selama kita bertunangan, kita belum pernah pergi berkencan sama sekali." Sahut Hamka.
"Aku sibuk!" Kata Kania.
"Sesibuk apapun, kau pasti punya waktu luang untukku kan? Berikan waktumu itu untukku!" Kata Hamka.
Kania dan Hamka saling bersitatap.
"Sabtu malam aku ingin kau datang ke suatu tempat yang akan aku berikan alamatnya nanti! Tidak ada penolakan!" Kata Hamka.
Saat Kania masih membisu dan menatapnya, Hamka kembali mendaratkan ciumannya pada polisi wanita itu tanpa aba-aba sedikitpun. Puas menciumanya, Hamka melepaskan dekapannya dan berlalu pergi dari kantor polisi itu. Kania masih terdiam dan mematung di ruangannya itu sambil menatap Hamka yang baru saja pergi dari gedung tempatnya melakukan tugas sebagai polisi.
__ADS_1