GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
SALING CINTA


__ADS_3

Galuh pun bersiap-siap pergi ke rumah sakit untuk menemui narapidana yang mengaku bernama Irman itu. Galuh berangkat setelah selesai makan malam bersama dengan keluarganya dirumah.


"Kak, aku ikut!" Pinta Ila.


"Sayang, kau tidak usah ikut! Kau masih tahanan kota karena kecelakaan itu. Aku dan yang lainnya ingin menemui narapidana itu secara diam-diam tanpa diketahui oleh polisi yang sedang berjaga disana. Itu pun karena bantuan dari Kania." Sahut Galuh.


Ila begitu terharu melihat Galuh yang begitu antusias melakukan semuanya demi dirinya. Ila pun memeluk Galuh dengan erat di depan pintu utama rumah saat mengantar kepergiannya.


"Kak! Terima kasih kau selalu melakukan yang terbaik untuk aku dan juga keluargaku." Ucap Ila pada Galuh.


"Aku mencintaimu, Ila! Sebisa mungkin aku akan terus melindungimu dan juga keluarga kita." Sahut Galuh.


Ila pun berjinjit sedikit untuk memberikan kecupan hangat pada Galuh.


"Aku akan menunggumu pulang." Kata Ila.


Galuh pun tersenyum dan mengelus wajah Ila dengan lembut. Setelah itu Galuh pun pergi ke rumah sakit itu untuk melakukan apa yang telah ia dan rekan-rekannya rencanakan. Tiba di rumah sakit itu, Galuh tercengang melihat Kania dan Hamka duduk di bangku taman rumah sakit saling berjauhan dan tidak saling bicara. Sementara Syakir terlihat begitu frustasi mengatasi pasangan yang sedang bertengkar itu.


"Mereka kenapa?" Bisik Galuh pada Syakir sambil melirik Hamka dan Kania.


"Aku juga tidak tau! Saat aku datang, rumah sakit ini terlihat semakin angker karena wajah mereka berdua yang terus saja cemberut." Sahut Syakir sambil memijat-mijat kepalanya.


"Eeehhemmm! Hamka, kau datang juga?" Sapa Galuh pada Hamka.


"Iya! Ini karena aku ingin menolongmu. Kau tau sendiri kan kalau aku menolong seseorang tidak setengah-setengah." Sahut Hamka dengan nada datarnya..


"Hehehe, apa kau yakin karena ingin menolongku saja?" Tanya Galuh sambil cengengesan.


"Kalau kau tidak percaya, lebih baik aku pergi saja." Sahut Hamka beranjak pergi.


"Eeeiissstttt! Tunggu dulu dong. Begitu saja ngambek." Kata Galuh mencegahnya.


Hamka pun kembali duduk dan masih tak ingin menatap Kania yang juga tak mau bersitatap dengannya. Galuh melirik Kania yang duduk sambil memalingkan wajahnya dari Hamka.


"Aduh! Dua bocah ini kenapa sih? membuatku pusing saja!" Gumam Galuh dalam hatinya.


"Galuh! Apa kita bisa mulai sekarang? Lebih cepat lebih baik kan?" Tanya Kania padanya.


"Oke!" Sahut Galuh.


"Tunggu!" Kata Hamka mencegah mereka.


"Ada apa?" Tanya Syakir.


"Untuk apa kalian datang menemui narapidana itu?" Tanya Hamka.


"Untuk menanyakan tempat tinggalnya di kampung! Jika kita mendapatkan alamatnya, kita bisa bertemu dengan istrinya dan menanyakan kebenaran tentang dirinya." Sahut Galuh.


"Apa kalian belum mengerti juga mengenai ucapannya waktu itu? Dia tidak mau mengatakan alamat tempat tinggalnya di kampung. Aku yakin apa yang kita rencanakan malam ini akan sia-sia! Dia pasti tidak akan mengatakan hal itu pada kita." Kata Hamka.


"Tau dari mana kau? Kita kan belum mencobanya!" Tanya Kania.

__ADS_1


"Karena otakku yang bodoh ini berpikir!" Sahut Hamka menyindir Kania yang mengatakan Hamka pria bodoh.


Deg....


Jantung Kania berdetak kencang saat Hamka mengatakan hal itu padanya. Kania langsung terdiam sambil menundukkan wajahnya. Ia merasa bahwa sikapnya kemarin memang keterlaluan kepada Hamka.


"Lantas apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanya Syakir.


"Menurutku kita tidak perlu menanyakan apapun lagi pada narapidana itu! Jika kita ingin mengetahui semua kebenaran tentang apa yang dikatakan oleh narapidana itu, kita harus mencarinya sendiri." Kata Hamka.


"Iya! Tapi bagaimana caranya? Polisi saja tidak bisa menemukan alamatnya." Sahut Galuh.


"Tanyakan dulu pada polwan yang pintar ini, saat narapidana itu di tangkap, apa mereka menemukan benda atau apa saja yang ada pada narapidana itu." Kata Hamka yang enggan bicara langsung pada Kania.


Syakir dan Galuh pun melirik pada Kania yang hanya menundukkan wajahnya saja karena ia tak ingin mereka melihat raut wajah kesedihannya saat itu.


"Aku akan mencarinya nanti! Jika aku mendapatkan petunjuk, aku akan segera kabari kalian." Sahut Kania.


Oke!" Seru Syakir dan Galuh menatap Kania yang penuh tanda tanya mengenai sikap Kania yang tampak aneh malam itu.


"Lantas bagaimana dengan makanan yang aku bawa ini? Aku sengaja membeli banyak makanan untuk mengecoh penjaga seperti waktu itu!" Tanya Kania yang menenteng banyak makanan di tangannya.


"Kita makan saja bersama-sama! Kebetulan aku lapar. Aku belum sempat makan malam tadi." Sahut Syakir dengan mata yang berbinar-binar menatap bungkusan makanan itu.


"Berikan saja makanan itu pada polisi yang berjaga! Malam ini aku traktir kalian makan. Anggap saja karena kalian telah banyak membantuku." Kata Galuh.


"Kalian saja yang pergi, aku malas!" Sahut Hamka.


"Aku juga tidak bisa!" Kata Kania.


Hamka dan Kania hanya diam dan masih tak ingin saling menatap.


"Hei, ayolah! Kita belum pernah makan satu meja bersama kecuali saat pest ulang tahun Ila." Kata Galuh.


Hamka dan Kania masih terdiam.


"Sini makanan ini biar aku saja yang berikan pada petugas polisi yang berjaga! Nanti aku akan bilang pada mereka kalau ini dari atasan mereka, ibu polwan cantik!" Kata Syakir langsung menyambar bungkusan makanan itu dan membawanya pergi ke tempat polisi yang sedang berjaga.


"Oke! Karena Syakir sedang mengantar makanan jadi kita menunggunya disini sebentar." Kata Galuh pada Hamka dan Kania yang berdiri membatu di hadapannya.


Galuh memperhatikan setiap gerak-gerik dari Hamka dan Kania. Sebenarnya mereka saling curi-curi pandang, namun enggan menatap karena mereka memiliki hati yang saling egois.


"Sepertinya mereka saling cinta namun ego!" Gumam Galuh dalam hatinya melirik keduanya.


Tak lama Syakir pun tiba. Mereka pun melangkah ke area parkir mobil dan hendak bergegas pergi makan bersama di tempat Galuh tentukan.


"Kania! Apa kau bawa mobil?" Tanya Galuh.


"Iya!" Sahutnya.


"Ini sudah malam, sebaiknya kau bersama Hamka saja." Kata Galuh sambil mengedipkan matanya pada Syakir memberikan kode untuk memainkan peran.

__ADS_1


"Tidak usah! Aku akan menyetir sendiri saja." Sahut Kania.


"Jangan, Kania! Walaupun kau seorang polisi, namun kau tetap saja wanita. Di luar sana banyak orang jahat yang akan dengan mudah untuk mengganggumu." Kata Galuh.


Saat itu Galuh dan Syakir melirik Hamka yang diam saja tak menawarkan Kania untuk menumpang pada mobilnya.


"Hehehe, kita lihat saja nanti, apakah kau akan tetap diam saja setelah aku bertindak, Hamka!" Gumam Syakir dalam hatinya.


Syakir pun mendekati Kania dan menarik tangannya.


"Kania, naik ke mobilku saja! Kau pergi berdua denganku. Nanti aku akan mengantarmu pulang." Kata Syakir menarik Kania untuk masuk ke dalam mobilnya. Saat itu dengan cepat Hamka menarik tangan Kania yang satunya lagi. Hamka menyeret Kania untuk segera masuk ke dalam mobilnya. Galuh dan Syakir cengengesan melihat sikap Hamka yang takut Kania hendak diserobot pria lain.


"Hehehe, lucu sekali si Hamka! Pura-pura tak acuh, tapi cemburuan." Kata Syakir terkekeh geli.


"Iya! Dasar Hamka aneh." Sahut Galuh.


Di dalam mobil, Kania hanya diam saja sambil menatap lurus ke depan. Sementara Hamka sedang frustasi karena kediaman Kania saat itu.


"Huh! Kenapa wanita dingin ini diam saja sih? Ayo ajak aku bicara, wanita dingin!" Gumam Hamka dalam hatinya yang tak begitu fokus menyetir mobil.


Kania masih diam saja dan sebenarnya dia juga tidak tau apa yang akan ia beicarakan pada Hamka untuk menghilangkan keheningan saat itu.


"Kenapa kau mau saja di tarik oleh Syakir tadi? Kenapa kau tidak menolaknya?" Tanya Hamka dengan nada dingin.


"Aku sudah menolaknya tapi dia terus menarikku!" Sahut Kania.


"Aku tidak suka kau di sentuh oleh pria lain!" Kata Hamka yang membuat Kania seketika menoleh padanya.


"Apakah pria konyol ini sedang cemburu setelah aku menyakiti hatinya kemarin?" Gumam Kania dalam hatinya sambil menatap Hamka.


"Apa lihat-lihat! Apa kau merindukan ketampananku sehingga kau menatapku seperti itu?" Ujar Hamka pada Kania.


"Hheeemmmppp! Dia tetap saja pria yang menyebalkan!" Gerutu Kania seraya memalingkan wajahnya dari Hamka.


Hamka menarik garis senyumannya sedikit saat Kania menggerutu kesal padanya. Tiba di area parkiran sebuah resto mewah, Hamka menghentikan mobilnya. Namun saat Kania hendak membuka pintu mobil, ternyata pintu mobil tersebut masih di kunci oleh Hamka.


"Kenapa kau mengunci.............................


Cccuuppp..................


Sebuah ciuman mendarat di bibirnya ketika Kania hendak menoleh pada Hamka. Kania awalnya kaget dan membulatkan kedua matanya karena ciuman Hamka yang begitu tiba-tiba padanya. Namun entah perasaan apa yang membuat Kania memejamkan kedua matanya dan membalas ciuman Hamka tersebut. Puas saling memagut satu sama lain, Hamka dan Kania saling menatap.


"Kania! Aku memang pria bodoh, tapi cintaku tulus untukmu." Ucap Hamka pada Kania.


"Tapi.......


Tok...tok....tok....


Hamka dan Kania menoleh ke arah kaca mobil melihat Galuh dan Syakir mengetuk kaca pintu mobil.


"Hei, kalian sedang apa? Ayo masuk! Aku sudah lapar!" Kata Syakir pada Hamka dan Kania.

__ADS_1


"Pergi sana!" Teriak Hamka kesal pada sahabatnya itu.


"Mengganggu saja, dia!" Gerutu Hamka sambil beranjak turun dari mobilnya bersama Kania.


__ADS_2