GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
PAK GURU BOTAK


__ADS_3

Ila dan kedua sahabatnya sudah berada di dalam ruang kelas setelah selesai berdiri mengikuti upacara bendera yang diadakan setiap hari senin pagi. Ila membuka ikatan dasi di lehernya dan menyimpannya di dalam tas. Fiqri yang duduk di belakang Ila terlihat sedang berkipas-kipas dengan sebuah topi yang ada di tangannya.


"Lelah sekali jika sekolah di hari senin! Upacara bendera dan mata pelajaran juga banyak." Ucap Fiqri.


"Astaga! Apa baru saja kau sedang mengeluh, Fiq?" Tanya Eri yang masih dalam keadaan bugar.


"Iya. Aku ini sedang lelah." Sahut Fiqri.


"Dasar cowok loyo! Begitu saja lelah." Ujar Eri.


"Hei, aku ini cowok kuat! Hanya saja aku tidak sarapan tadi di rumah makanya aku sedikit lemas." Sahut Fiqri.


"Huh, alasan saja kau." Ucap Eri.


Ila hanya bergeleng kepala saat melihat kedua sahabatnya itu terus beradu argumen seperti biasanya. Tak lama kemudian seorang guru masuk ke dalam kelas untuk memulai pelajaran. Guru itu adalah pak Sofyan yang biasanya mengajarkan pelajaran agama islam di sekolah. Pak Sofya memiliki ciri-ciri pendek, gendut dan botak. Karena kepalanya yang botak siswa dan siswi di sekolah itu menjulukinya pak botak.


Pak guru Sofyan mulai mengajari pelajaran agama tentang materi pembagian hukum harta warisan. Pelajaran tersebut menggunakan sistem berhitung persen, pembagian, perkalian dan juga pecahan. Eri yang sejatinya sangat membenci pelajaran yang menyinggung angka hanya bisa memutar pelipis kepalanya dengan kedua jari telunjuknya.


"Kau kenapa?" Tanya Ila.


"Aku sangat pusing dengan pelajaran agama tapi bagaikan soal matematika." Sahut Eri.


Ila hanya tersenyum melihat Eri yang sama sekali tidak mengerti pelajaran yang diberikan oleh pak botak padanya.


Saat sedang mengikuti pelajaran agama tersebut, Ila teringat akan ucapan Galuh padanya semalam tentang menunaikan kewajiban seorang istri kepada suaminya.


"Apa aku tanya saja pada pak botak mengenai ucapan Galuh semalam? Tapi kalau aku bertanya sekarang yang ada teman-teman di kelasku akan menertawakan aku." Gumam Ila dalam hatinya.


"Kalau begitu saat jam istirahat saja aku akan bertanya pada pak botak tentang masalah itu." Gumamnya lagi.


 


Bel pun berbunyi pertanda akan segera istirahat kelas. Eri dan Fiqri melihat Ila terburu-buru keluar dari kelas. Mereka pun mengikuti Ila yang berjalan menuju ke ruang guru. Ila menyadari kalau kedua sahabatnya itu sedang mengikutinya, ia pun berhenti dan berbalik melihat kedua sahabatnya itu.


"Kalian mau apa mengikuti aku?" Tanya Ila.


"Seharusnya kami yang bertanya, kau mau kemana?" Tanya Eri.


"Aku ingin pergi menemui pak botak." Jawab Ila.


"Untuk apa kau menemuinya? Baru saja pak botak masuk ke kelas kita." Tanya Fiqri.


"Ada yang ingin aku tanyakan padanya." Kata Ila.


"Aku ikut ya." Pinta Eri menggandeng lengan Ila.


"Terserah kau." Sahut Ila beranjak pergi.


"Hei, bagaimana denganku?" Teriak Fiqri di tinggal oleh Ila dan Eri.


"Pergi saja ke kantin, nanti kami akan menemuimu!" Balas Eri.


Ila dan Eri masuk ke dalam ruang guru dan menghampiri guru agama mereka.


"Permisi pak, ada yang ingin saya tanyakan pada bapak." Kata Ila pada pak botak.


"Ada apa. Ila?" Tanya pak botak.


"Begini pak, sebenarnya pertanyaan saya ini sedikit tabu untuk status saya, tapi karena rasa penasaran makanya saya ingin bertanya pada bapak yang mengerti soal agama." Kata Ila.


"Saya mau tanya apa benar jika seorang istri tidak melayani suaminya di ranjang maka akan di laknat oleh malaikat sampai pagi?" Tanya Ila yang membuat pak botak dan Eri terkejut.


"Apa?" Teriak pak botak dan Eri kaget.


"Hehehe, kaget ya pak! Saya sudah menduganya, pasti bapak kaget dengan pertanyaan saya." Ucap Ila menunduk malu.


"Ila, apa kau sedang kerasukan setan, hah? Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal ini?" Bisik Eri pada Ila.


Pak botak tersenyum melihat kedua siswinya yang sedang duduk di hadapannya.


"Siapa yang mengatakan hal itu padamu, Ila?" Tanya Pak botak.


"Hehehe, aku mendengarnya dari televisi." Jawab Ila dusta.


"Lantas mengapa kau ingin tau? Apa sebentar lagi kau akan menjadi seorang istri? Hehehe." Tanya Pak botak.

__ADS_1


"Hahaha, bukan seperti itu pak." Ucap Ila tertawa sangat canggung.


Ila menunduk dan bergumam sendiri.


"Bukan sebentar lagi, bahkan aku sudah menjadi seorang istri!" Gumam Ila.


"Jika kau ingin tau maka bapak akan menjawabnya! Eri dengarkan juga ceramah bapak ini, kau juga akan menjadi seorang istri kan setelah dewasa?" Kata Pak botak.


"Hahaha, iya pak." Sahut Eri ikut terpaksa tertawa.


Pak botak pun mulai berceramah yang membuat kepala Eri senat senut. Eri pusing mendengarkan isi ceramah Pak botak mengenai istri yang baik bagi suaminya. Herannya Eri melihat Ila yang tampak serius mendengarkan ceramah dari Pak botak.


"Jadi intinya, jika seorang istri menolak ajakan suaminya, maka dia akan di laknat oleh malaikat sampai pagi." Kata Pak botak.


"Lalu apa istri itu wajib melayani suaminya?" Tanya Ila.


"Tentu saja! Melayani suami adalah ibadah loh." Jawab Pak botak.


"Jadi kalau kamu menikah nanti, jangan lupa undang bapak ya!" Kata Pak botak lagi.


"Hahaha, i...iya pak." Sahut Ila.


Keluar dari ruang guru wajah Eri pucat pasi. Ila menatapnya dengan kaget.


"Kau kenapa?" Tanya Ila pada Eri.


"Aku sedikit mual karena ceramah Pak botak tadi." Sahut Eri.


"Huh, dasar kau!" Ujar Ila.


"Ila, kau harus jawab jujur padaku! Untuk apa kau bertanya tentang itu pada Pak botak?" Tanya Eri yang belum mengetahui kalau Ila sudah menikah dengan Galuh.


"Untuk pembekalan diri saja, suatu saat nanti kita pasti akan menjadi seorang istri, bukan?" sahut Ila yang masih ingin menyembunyikan status dirinya yang baru.


"Aku tidak percaya pada jawabanmu barusan! Sejak kapan kau memiliki rahasia dariku?" Tanya Eri yang tidak dapat di bohongi oleh Ila.


"Iya, baiklah aku akan menceritakannya padamu, tapi jangan di sekolah ini." Kata Ila.


 


 


"Yang benar saja! Kenapa kau mau menikah dengannya? Kau kan tidak mencintai pria itu." Kata Eri pada Ila.


"Aku terpaksa." Sahut Ila.


"Lantas setelah menikah, apa dia baik terhadapmu?" Tanya Fiqri.


"Sejauh ini sih dia baik, namun terkadang sikapnya sering berubah-ubah padaku." Jawab Ila.


"Jika dia bersikap baik padamu, aku rasa tidak ada yang perlu di khawatirkan." Ucap Fiqri.


"Hei, masalahnya karena pernikahan ini Ila tidak bisa menggapai cita-citanya." Sahut Eri.


"Aku sudah membuang cita-citaku itu jauh-jauh!" Ucap Ila dengan raut wajah sedih.


"Kau yang sabar ya Ila." Ucap Eri menggenggam tangan Ila.


"Tolong rahasiakan hal ini ya." Pinta Ila pada kedua sahabatnya itu.


"Iya. Kau tenang saja." Seru keduanya.


 


Sore harinya puas bermain dengan kedua sahabatnya itu, Ila kembali ke apartemen. Dan setibanya di sana Ila melihat rumah sangat berantakan. Sampah bungkus makanan ringan dan kaleng minuman bersoda berserakan dimana-mana.


"Astaga! Apa yang sudah terjadi di sini?" Gumam Ila melihat keadaan apartemen yang begitu berantakan.


Lalu muncul lah Galuh yang menjadi tersangka dari keadaan ruangan yang berantakan itu.


"Kau baru pulang!" Sapa Galuh yang baru saja keluar dari kamar.


"Apa kau yang melakukan semua ini?" Tanya Ila melotot pada Galuh.


"Iya! Tolong bersihkan ya. Hehehe." Sahut Galuh.

__ADS_1


"Huh, menyebalkan!" Ujar Ila kesal pada Galuh.


Galuh yang baru selesai mandi hanya tertawa saja melihat Ila kesal terhadap dirinya. Galuh duduk di atas sofa sambil memencet tombol remot televisi di sana. Sedangkan Ila berganti pakaian dan membersihkan seluruh ruangan yang berantakan akibat ulah Galuh yang seharian berada di rumah.


Selang beberapa menit seluruh ruangan menjadi bersih kembali. Ila duduk di lantai sambil menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa sangat kelelahan setelah membersihkan seluruh ruangan yang ada di apartemen itu. Galuh melirik Ila yang terlihat sangat kelelahan.


"Ila, Apa aku perlu membayar jasa pelayan?" Tanya Galuh.


"Terserah kau!" Sahut Ila ketus.


"Baiklah! Kalau begitu tidak usah saja." Ujar Galuh ikutan sewot.


Ila semakin kesal dengan sikap Galuh yang sangat menjengkelkan bagi dirinya. Ila bangkit dari duduknya dan pergi masuk ke dalam kamar. Disana Ila mandi dan setelah itu ia melangkah ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Dengan bahan seadanya di kulkas Ila menyiapkan makan malam untuknya dan juga Galuh.


Malam itu Galuh dan Ila duduk berdua di ruang makan dan menyantap makan malam mereka.


"Apa mama Yurika yang mengajarkanmu memasak?" Tanya Galuh di sela-sela makan malamnya bersama Ila.


"Uhuk...uhuk...!" Ila tersedak makanan karena pertanyaan yang Galuh berikan padanya.


"Hei, makanlah dengan perlahan." Ucap Galuh memberikan segelas air pada Ila.


Ila kembali diam setelah menenggangk air minumnya. Galuh melirik Ila yang enggan menjawab pertanyaannya.


"Sepertinya dia memiliki hubungan yang tidak harmonis dengan mamanya." Ucap Galuh dalam hatinya.


"Aku harus cari tau tentang kehidupan Ila dan mama Yurika! Dari saat pernikahan itu aku sudah mulai curiga pasti ada hal yang di sembunyikan oleh keluarga Ila." Ucap Galuh lagi dalam hatinya.


"Hei, Ila, Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?" Tanya Galuh.


"Pertanyaan yang mana?" Ila balik bertanya.


"Siapa yang mengajarkanmu memasak?" Tanya Galuh lagi.


"Kenapa? Apa masakanku sangat lezat?" Ila balik bertanya lagi yang membuat Galuh menjadi kesal.


"Kau ini, di tanya malah balik tanya! Jawab dulu pertanyaanku." Ujar Galuh.


"Pelayan yang mengajarkan aku." Jawab Ila.


"Apa kau sangat dekat dengan para pelayan yang bekerja dirumahmu?" Tanya Galuh lagi.


"Tentu saja, mereka bahkan sudah seperti keluarga dekat untukku." Jawab Ila.


"Apa kau sudah puas dengan jawabanku?" Tanya Ila pada Galuh.


"Huh, Dasar kau!" Ujar Galuh menahan kesalnya pada Ila.


Setelah selesai makan Ila membersihkan ruang makan dan mencuci piring kotor, sedangkan Galuh kembali duduk di ruang tengah sambil menoton televisi. Ila masuk ke dalam kamar untuk mengerjakan PR yang di berikan oleh gurunya di sekolah. Hampir jam 10 malam Ila belajar di atas ranjang tidurnya. Tidak terasa Ila yang sangat kelelahan hari itu malah tertidur pulas sebelum ia membereskan buku-buku pelajarannya yang berserakan di atas ranjang tidur. Galuh masuk ke dalam kamar dengan niat untuk beristirahat namun saat itu ia malah melihat Ila yang tertidur dengan buku-buku yang berserakan disana.


"Hah, dia sudah menguasai ranjangnya." Gumam Galuh sambil memunguti satu persatu buku-buku pelajaran milik Ila.


Saat itu Galuh melihat ada secarik kertas coret-coret yang bertuliskan namanya dengan gambar orang bermuka jelek yang Ila gambar ketika ia kesal pada Galuh.


"Dasar Galuh menyebalkan! Aku sangat ingin mematahkan tulang lehernya." Tulis Ila pada secarik kertas itu.


Galuh membaca curahan isi hati Ila tersebut dengan garis senyuman d bibirnya. Ia tau kalau Ila kesal pada dirinya karena memang ia sering mengganggunya. Galuh kembali memunguti buku-buku itu dan meletakkannya di atas meja rias.


"Sebaiknya aku membelikan meja belajar untuknya." Gumam Galuh melihat betapa banyak buku pelajaran yang Ila miliki saat itu.


Galuh membuka satu persatu lembar buku tugas dan buku PR miliki Ila. Galuh mengernyitkan dahinya sambil melirik ke arah Ila yang sudah tertidur sangat pulas. Galuh melihat semua lembaran memiliki nilai yang bagus.


"Ternyata yang di katakan Didi saat itu benar, Ila adalah siswi terpintar di sekolahnya." Gumam Galuh membuka satu persatu lembaran buku tugas dan PR milik Ila.


"Oh iya, mengingat tentang Didi aku akan menghubungi." Gumam Galuh mengambil ponsel dan menghubungi Didi.


Galuh memerintahkan Didi untuk mencari tau rahasia apa yang sengaja di sembunyikan olah Ila ataupun Yurika. Galuh sangat penasaran dengan sikap Yurika yang terkesan sangat dingin pada Ila, dan juga sikap Ila yang juga tidak dekat pada Yurika. Di tambah lagi pada saat Galuh akan menikahi Ila, nama yang di nasabkan pada Ila bukan atas nama ayahnya melainkan nama Yurika. Banyak pertanyaan yang timbul di benak Galuh semenjak itu. Galuh harus berusaha mencari tau sendiri tentang hal ini melalu Didi yang sudah biasa melakukan banyak hal untuk membantunya.


Seusai menghubungi Didi, Galuh kembali masuk ke dalam kamar dan melihat Ila yang masih tertidur di sana. Malam itu Ila menggunakan rok lebar namun sedikit agar pendek. Lagi-lagi Galuh harus menelan air liurnya saat melihat paha mulus Ila yang tanpa sengaja terlihat karena bagian roknya tersingkap ke atas.


"Sampai kapan aku harus menahan cobaan ini, ya Tuhan?" Gumam Galuh frustasi.


Galuh menutupi tubuh Ila dengan selimut agar dirinya tidak terbius dengan kemolekan tubuh gadis belia yang kini sudah menjadi istrinya itu. Galuh berbaring menyamping menghadap Ila yang juga tidur dengan posisi yang sama dengannya. Galuh menatap wajah Ila yang sangat polos saat sedang tertidur berhadapan denganya.


"Dia sangat cantik!" Ucap Galuh dalam hatinya.

__ADS_1


Lalu Galuh cepat-cepat menepis pikirannya tentang Ila.


"Tidak! Aku tidak boleh jatuh cinta pada gadis ini. Aku sudah berniat untuk segera menceraikannya." Ucap Galuh lagi dalam hatinya.


__ADS_2