GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
KORBAN ANA


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian, pesta pernikahan Roni dan Ririn pun di selenggarakan di sebuah gedung yang megah. Roni yang berprofesi sebagai dokter kandungan itu tampak gagah dengan jas pengantinya yang diserasikan oleh gaun pengantin yang Ririn pakai. Semua keluarga dan para tamu undangan telah berkumpul di ruang pesta yang di dekorasi dengan begitu indahnya. Tampak disana telah duduk Ila dan Galuh dengan pakaian pesta yang seragam. Ila hanya duduk menikmati suasana pesta di temani oleh Galuh yang selalu berada di sampingnya karena usia kandungannya yang sudah mencapai 8 bulan.


"Kak, aku mau kue manis itu!" Pinta Ila pada Galuh.


"Kan tadi kau sudah makan tiga porsi, sayang!" Sahut Galuh.


"Tapi aku mau lagi!" Rengek Ila.


"Baiklah! Tunggu disini, aku akan mengambilnya untukmu." Kata Galuh beranjak pergi ke meja yang terhidang dengan berbagai kue manis di atasnya.


Saat akan mengambilkan kue yang di minta Ila, Galuh melirik Syakir yang tanpa henti saling bertatapan dengan Kia.


"Ya Tuhan! Kenapa dua anak manusia ini begitu di perbudak oleh cinta, sih?" Gumam Galuh dalam hatinya.


Setelah mengambil beberapa potong kue, Galuh kembali ke tempat Ila sedang duduk menunggunya. Galuh memberikan kue itu kepada Ila dan menyuapinya.


"Eeemmm, enak!" Seru Ila senang.


"Semenjak hamil nafsu makanmu bertambah!" Ucap Galuh terus menyuapi Ila.


"Iyalah! Aku makan untuk berdua." Sahut Ila sewot.


"Iya!" Sahut Galuh.


"Cepat keluar ya, nak!" Ucap Galuh mengelus perut Ila.


Dengan nafsu makan Ila yang bertambah, beberapa potong kue manis itu habis dengan sekejap. Galuh tersenyum sambil mengusap sisa krim kue yang menempel di sudu bibir Ila dengan menggunakan tissu. Saat sedang membersihkan sudut bibis Ila, mata Galuh melihat rekan bisnisnya yang juga hadir dalam pesta pernikahan Roni dan Ririn. Galuh merasa tak enak hati jika tidak menghampirinya.


"Imut, tunggu aku disini sebentar ya!" Ucap Galuh pada Ila.


"Kau mau kemana?" Tanya Ila.


"Ada rekan bisnisku disini! Aku tak mungkin tidak menyapanya." Sahut Galuh.


"Pergilah sapa dia!" Kata Ila.


"Tapi kau harus janji padaku, jangan beranjak kemanapun ya." Kata Galuh pada Ila.


"Iya!" Sahut Ila.


Galuh pun beranjak pergi untuk menyapa rekan bisnisnya tersebut. Ila masih dalam pengawasan Galuh walaupun ia berada dengan jarak yang lumayan jauh darinya. Namun Galuh masih bisa melihat apa yang sedang di lakukan Ila di tempat duduknya.


"Aduh, aku kebelet pipis lagi!" Gumam Ila berusaha untuk menahan sampai Galuh kembali. Namun sayangnya ia tak dapat menahannya lagi.


"Kalau aku cuma ke toilet kan tidak apa-apa! Lagipula disini ramai orang." Gumam Ila berdiri dan beranjak pergi ke toilet yang lumayan jauh dari ruang pesta itu.


Setelah selesai, Ila berdiri di depan cermin besar untuk mencuci tangannya. Saat akan mengambil tissu, ia melirik seorang wanita yang tersenyum jahat padanya. Ila begitu kaget karena wanita itu adalah Ana yang memang sedari tadi mengawasi dan mengikutinya di gedung pesta tersebut.


"Kenapa kau terkejut? Apa kau takut, hah?" Ucap Ana mendekat pada Ila.


"Pergi kau! Jangan ganggu aku!" Ujar Ila sambil memegangi perutnya yang besar itu.


"Heh, ternyata perutmu besar juga ya!" Ucap Ana melirik ke perut Ila.


"Mau apa kau?" Tanya Ila berjalan mundur untuk menjauhi Ana.


"Aku ingin segera mengempiskan perutmu itu! Kalau bisa dalam detik ini juga!" Sahut Ana hendak menyerang Ila.


Saat Ana sedikit lagi meraih tubuh Ila, tiba-tiba Kia menarik rambut Ana. Kebetulan Kia juga sedang berada di dalam toilet ketika itu. Kia tak sengaja mendengar suara kegaduhan dan melihat bahwa Ila akan di serang oleh seseorang yang akan berbuat jahat padanya.


Ana  pun berbalik dan menoleh pada Kia yang masih menjambak rambutnya. Ana menepis tangan Kia dan segera menamparnya dengan kuat.


"Siapa kau? Beraninya menggangguku!" Ujar Ana marah pada Kia.


"Ila! Cepat lari!" Teriak Kia menyuruh Ila segera keluar dari toilet.


Ila pun berlari menghampiri pintu toilet itu, namun saat akan membukanya, Ila tak dapat membukanya karena pintu toilet dalam keadaan terkunci. Ila masih berusaha untuk membuka pintu tersebut namun usahanya sia-sia.


"Hehehehe, kau pikir kau bisa lolos dariku, hah?" Ujar Ana menarik rambut Ila dengan kuat yang membuat Ila merasa begitu kesakitan.


"Lepaskan Ila!" Teriak Kia kembali menarik rambut Ana.


"Jangan coba-coba sakiti saudaraku!" Teriak Kia lagi pada Ana.


Merasa terusik dengan Kia, Ana pun berniat untuk membereskan Kia dahulu. Ana melepaskan genggamannya pada rambut Ila dan berbalik menyerang Kia. Suara keributan pun terdengar hingga keluar ruang toilet, namun nahas, kebetulan disana tidak ada satupun orang.


Ana dan Kia saling menyerang satu sama lainnya. Kia menyerang Ana hanya karena untuk membela dirinya yang akan di pukuli oleh Ana. Ila yang sedang hamil tua tak mampu melakukan apa-apa. Ila melirik sebuah gagang pel yang berada di sudut ruang toilet. Ila berinisiatif untuk membantu Kia yang sedang di pukuli oleh Ana. Ila mengambil gagang pel itu dan memukuli tubuh Ana dengan sekuat tenaga. Ana berbalik dan menatap kesal pada Ila. Ana meriah leher Ila dan segera mencekiknya.


"Matilah kau bersama dengan bayimu itu!" Ujar Ana mencekik leher Ila yang membuat Ila susah bernafas.


"Lepaskan Ila!" Teriak Kia berusaha untuk melepaskan kedua tangan Ana dari leher Ila.


Ana begitu hilang kendali. Di otaknya hanya ingin segera membereskan Ila dan menjauhkannya dari kehidupan Galuh. Ana begitu murka karena Galuh terlalu mencintai Ila.

__ADS_1


Kia terus berusaha untuk melepaskan kedua tangan Ana dari leher Ila. Ia melihat wajah Ila sudah begitu pucat karena sulit bernafas. Tidak ada cara lainnya lagi, Kia kemudian menggigit tangan Ana sekuat tenaganya sehingga tangan Ana mengeluarkan darah. Ana menjerit kesakitan melepaskan kedua tangannya dari leher Ila seraya mengehempaskan tangannya tersebut kepada Kia dengan sekuat tenaganya. Kia bagaikan terlempar dan terbentur dindin toilet. Sedangkan Ila terkulai lemas di lantai untuk mengambil nafas.


Di ruang pesta Galuh melirik tempat duduk Ila. Namun ia tak melihat Ila dimanapun. Galuh panik dan mencari-cari Ila di setiap sudut ruang pesta. Syakir dan Hamka melihat Galuh yang begitu panik saat itu.


"Ada apa?" Tanya Hamka.


"Ila menghilang!" Sahut Galuh.


"Aku akan mencarinya!" Kata Galuh lagi.


"Aku ikut!" Sahut Syakir dan di ikuti oleh Hamka juga.


Galuh, Syakir dan Hamka keluar dari ruang pesta untuk mencari keberadaan Ila. Ketika sedang mencari-cari, Hamka melirik ke sebuah lorong yang dekat dengan toilet wanita. Ia juga melihat dua orang wanita paruh baya yang tampak panik saat berdiri di depan toilet. Penasaran, Hamka pun menghampirinya.


"Ada apa, nyonya?" Tanya Hamka pada wanita paruh baya itu.


"Aku mendengar suara keributan dari dalam toilet, namun pintu toilet ini tidak bisa terbuka." Sahut wanita paruh baya itu.


"Tuan, aku juga mendengar teriakan seorang wanita dari dalam sana!" Kata wanita paruh baya lainnya.


"Galuh!" Teriak Hamka memanggil Galuh.


Galuh dan Syakir pun menghampiri Hamka yang berada di depan pintu toilet tersebut. Suara kegaduhan terdengar lagi dari dalam. Galuh kaget saat ia mendengar suara Ila yang menjerit.


"Ila!" Teriak Galuh yang tau bahwa Ila berada di dalam toilet tersebut.


Ketiga pria itu pun berusaha untuk mendobrak pintu toilet tersebut. Tak menunggu waktu lama, pintu toilet itu pun akhirnya terbuka lebar. Tampaklah oleh Galuh bahwa Ana sedang menggunakan pisau lipat sambil mendekap Ila yang menangis ketakutan. Ia juga melihat Kia yang tergolek lemah di lantai dengan kondisi kepala yang bersimbah darah.


"Jangan mendekat! Jika selangkah saja kalian mendekat, maka aku tak akan segan menyayat leher wanita ini!" Ancam Ana pada Galuh, Hamka dan juga Syakir.


"Ana! Jangan bertindak kejam seperti itu!" Sahut Galuh menatap Ana dengan luapan amarahnya.


"Hahaha, kau bilang aku kejam, hah! Kau lupa bahwa kau yang membuatku seperti ini, Galuh!" Teriak Ana semakin kuat mendekap tubuh Ila.


"Lepaskan istriku!" Teriak Galuh.


"Istri? Aku benci kau mengatakan hal itu padanya, Galuh! Aku tak suka kau menjadi milik orang lain." Teriak Ana histeris.


"Aku mencintaimu, Galuh! Aku sungguh mencintaimu! Aku hanya ingin hidup bersamamu saja, tanpa ada orang lain disisimu." Sambung Ana lagi dengan berlinang air mata.


"Ana! Tenangkan dirimu." Kata Hamka.


"Jangan ikut campur urusanku!" Teriak Ana marah.


Syakir melirik Kia yang berusaha untuk bangkit dan meraih gagang pel yang ada di dekatnya. Kia diam-diam berdiri setelah ia berhasil meraih gagang pel tersebut. Kia menghamtamkan gagang pel tersebut ke kepala Ana dengan sekuat tenaganya. Perhatian Ana tertuju pada Kia yang berada di belakangnya. Saat itu lah Ila mengambil kesempatan untuk menggigit tangan Ana yang sedang menggenggam pisau lipat. Ana kembali berterika kesakitan dan melapaskan pisau lipat itu. Kia menjambak rambut Ana lagi dengan kuat sehingga Ana jatuh terduduk di lantai toilet itu.


"Segera hubungi polisi!" Teriak Galuh pada pihak keamanan gedung.


Tak lama berselang polisi pun datang dan meringkus Ana untuk mempertanggung jawabkan atas tindak kejahatan yang ia perbuat di toilet wanita tersebut.


"Aku akan membunuhmu istrimu, Galuh! Hahahaha, aku akan membunuh kalian semua!" Teriak Ana meronta-ronta saat di gelandang oleh polisi. Ana terus tertawa dan terkadang berteriak histeris ketika itu.


"Kau tidak apa-apa, sayang?" Tanya Galuh begitu khawatir pada Ila.


"Aku tidak apa-apa!" Sahut Ila masih dalam keadaan yang begitu terkejut dengan kejadian itu.


Ila melangkah mendekati Kia yang terluka di bagian kepalanya karena Ana sempat membenturkan kepala Kia berkali-kali pada dinding toilet.


"Kia, bagaimana keadaanmu?" Tanya Ila sangat khawatir pada Kia.


"Aku tidak.........


Bbbrruuukkkk.......


Kia terjatuh pingsan dalam dekapan Syakir.


"Cepat bawa Kia kerumah sakit!" Kata Hamka pada Syakir.


Mereka pun membawa Kia kerumah sakit yang terdekat. Di dalam ruangan, dokter sedang memeriksa kondisi Kia yang masih dalam keadaan pingsan. Beberapa perawat tampak sedang membersihkan luka pada kepala Kia yang lukanya tidak terlalu parah. Di luar ruangan Syakir dan Ila begitu tidak tenang dan sangat khawatir pada keadaan Kia.


"Tenanglah, sayang! Aku yakin Kia akan baik-baik saja." Kata Galuh mencoba untuk menenangkan Ila.


"Ini semua gara-gara aku!" Ucap Ila menangis.


"Sayang, jangan katakan itu!" Sahut Galuh memeluknya.


"Kia mencoba untuk menyelamatkan aku dari Ana! Aku melihat Kia menahan sakit ketika Ana berkali-kali memukuli Kia." Ucap Ila lagi dalam isak tangisnya.


Hamka melirik tangan Ila gemetar ketakutan.


"Galuh, sebaiknya kau juga memeriksakan kondisi Ila kepada dokter! Ila terlihat begitu syok dengan kejadian ini. Apalagi Ila sedang hamil." Kata Hamka pada Galuh.


Merasa apa yang diucapkan Hamka ada benarnya. Galuh membawa Ila untuk di periksa oleh dokter agar ia dapat merasa tenang.

__ADS_1


Tak lama kemudian, dokter yang menangani Kia pun keluar dari ruangan dimana Kia sedang di rawat. Syakir dengan cepat menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana, dokter? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Syakir begitu khawatir pada sang pujaan hatinya.


"Tidak perlu khawatir! Luka di kepalanya tidak terlalu parah. Dia tidak sadarkan diri karena ia mengalami syok saja." Sahut dokter.


"Apa dia sudah sadar, dokter?" Tanya Syakir.


"Sudah! Perawat sedang membalut lukanya dengan perban. Silahkan masuk untuk menemui pasien." Sahut dokter.


Syakir dan Hamka pun masuk ke dalam ruang rawat tersebut dan melihat Kia sedang berbaring di atas ranjang rumah sakit. Perawat keluar setelah ia selesai membalut luka pada kepala Kia.


"Kiki!" Ucap Syakir lirih sambil menggenggam tangan Kia.


"Aku tidak apa-apa! Jangan khawatir." Sahut Kia tersenyum pada Syakir yang sudah berlinangan air matanya.


"Kia, bagaimana bisa Ana berada di dalam toilet bersama kalian tadi?" Tanya Hamka.


"Entahlah kak, aku juga tak tau!" Jawab Kia.


"Saat itu aku berada di dalam toilet. Lalu aku mendengar suara keributan di luar. Aku keluar dan melihat Ila sudah terpojok di sudut ruangan sambil di dekati oleh wanita yang mengerikan itu. Aku tau kalau wanita itu akan menyakiti Ila, sontak saja aku menjambak rambutnya tadi. Lalu terjadilah semuanya di dalam toilet itu." Sambung Kia lagi.


"Aku heran, kenapa pintu toilet terkunci?" Ucap Hamka berpikir keras.


"Aku yakin, ada yang bekerja sama dengan Ana disana." Sahut Syakir.


"Aku pergi dulu!" Kata Hamka pamit pada Syakir dan juga Kia.


"Hei, kau mau kemana?" Tanya Syakir.


"Aku penasaran dengan pintu toilet itu! Aku akan mencari tau kebenarannya dan menangkap pelaku yang bekerja sama dengan Ana." Sahut Hamka bergegas keluar dari ruangan rawat Kia.


"Hah, dasar Hamka! Dia selalu saja penasaran." Gumam Syakir.


"Sudahlah biarkan saja! Siapa tau kak Hamka berhasil menemukan penjahat lainnya." Sahut Kia.


"Oh, Kiki! Aku sangat sedih melihatmu begini!" Kata Syakir nangis bombai.


"Lebay banget sih!" Ujar Kia sewot.


Tak lama berselang Hana, Antoni dan juga Yurika tiba dirumah sakit untuk melihat kondisi Ila dan juga Kia. Mereka begitu terkejut mengetahui tentang apa yang terjadi pada Ila dan juga Kia atas perbuatan Ana yang sebagai mantan kekasih Galuh.


"Mama!" Ucap Kia pada Yurika.


"Apa kau tidak apa-apa, sayang?" Tanya Yurika begitu khawatirnya pada Kia.


"Aku tidak apa-apa! Lukaku tidak parah." Sahut Kia.


"Oh, syukurlah!" Ucap Yurika bernafas lega.


"Bagaimana dengan Ila?" Tanya Hana.


"Aku baik-baik saja, ma!" Sahut Ila yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat Kia bersama Galuh.


"Syurkulah kalian berdua tidak apa-apa!" Ucap Antoni.


Ila dan Kia pun menceritakan semua kejadian yang terjadi pada mereka di toilet wanita itu. Mereka berdua bercerita bagaimana brutalnya aksi Ana begitu kuat untuk melakukan kejahatannya terhadap Ila dan juga Kia.


 


 


*****


Masih di gedung pernikahan itu, Hamka melihat begitu banyak polisi yang sedang bertugas untuk mencari segala bukti atas tindakan yang di lakukan Ana pada Ila dan juga Kia. Tampak police line sudah terpasang disana. Hamka yang ingin tau menerobos police line itu yang membuat seorang polisi wanita kesal padanya.


"Kau tidak di izinkan masuk!" Kata polisi wanita itu yang bernama Kania.


"Hei, aku juga terlibat dalam kasus ini!" Sahut Hamka.


"Maksudmu, apa kau penjahatnya?" Tanya Kania menatap Hamka dengan tajam.


"Huh, aku juga berada di tempat ini! Bahkan aku yang berhasil membekuk tersangkanya tadi." Sahut Hamka menahan kesalnya.


"Kalau begitu ikut aku! Aku akan menginterogasimu atas kasus ini." Kata Kania.


"Hei, ibu polwan yang terhormat! AKu kembali kesini karena penasaran, dengan pintu toilet itu! Karena tadi pintu toilet itu terkunci. Aku berpikir ada penjahat lain yang bersekongkol dengan tersangka." Kata Hamka menjelaskan.


"Kau tidak perlu khawatir! Aku sudah memecahkan kasus ini! Aku juga sudah menangkap dua orang pemebersih toilet yang terlibat dalam kasus ini." Sahut Kania.


"Wah, akhirnya kasus ini terpecahkan dengan cepat!" Seru Hamka terkagum-kagum.


"Bisakah kau tidak melewati police line ini?" Ujar Kania dengan nada datarnya.

__ADS_1


"Huh, dasar polwan dingin!" Gerutu Hamka beranjak pergi dari toilet tersebut.


"Dasar pria aneh!" Gumam Kania menatap Hamka yang sedang ngedumel sendirian.


__ADS_2