GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
MENGERASKAN HATI


__ADS_3

Setelah pesta pernikahannya, Kia dan Syakir kembali ke rumah Yurika. Kia berencana untuk membujuk Yurika agar mau menemui Imran yang kini sedang dirawat di rumah sakit akibat penyakit yang sudah terlampau parah merusak tubuhnya. Tiba dirumah Yurika, Kia dan Syakir langsung menemui Yurika yang sedang menikmati hari-harinya mengurusi tanaman di halaman belakang rumah.


"Mama!" Seru Kia menyapa Yurika.


Yurika pun menoleh dan melihat Kia dan Syakir kembali kerumahnya.


"Eh, kalian datang!" Sahut Yurika.


"Iya! Aku bosan di kamar hotel terus." Kata Kia.


"Hei, kau ini! Kalian baru saja menikah, seharusnya kalian berdua sedang bermesraan di kamarĀ  hotel dong." Kata Yurika.


"Hah! Apanya yang bermesraan? Lagi palah merah." Sahut Syakir terlihat frustasi.


"Iya! Aku sedang datang bulan. Hahaha." Seru Kia terkekeh di atas penderitaan suaminya.


"Heeeemm, pantesan mukanya kusut begitu! Ternyata Kia sedang tidak bisa di ganggu." Gumam Yurika menatap wajah Syakir.


"Eeeemm, ma! Ada yang aku ingin bicarakan." Kata Kia.


"Apa itu? Bicara saja." Sahut Yurika.


"Ini mengenai narapidana itu, ma." Kata Kia yang membuat senyuman Yurika memudar.


"Jangan bicarakan dia lagi padaku!" Kata Yurika ketus.


Kia dan Syakir kebingungan untuk membujuk Yurika yang telah mengeraskan hatinya terhadap Imran yang menjadi salah satu orang yang memperkosanya dulu. Yurika menghentikan aktivitasnya itu dan berlalu masuk ke dalam rumah. Kia dan Syakir buru-buru mengikuti langkah Yurika yang masuk ke ruang tengah untuk menikmati secangkir teh hangat yang dibuatkan oleh pelayan.


"Ma...


"Jangan merusak suasana hatiku, Kia!" Ujar Yurika.


"Ma, dengarkan aku dulu!" Kata Kia sambil duduk di samping Yurika dan menggenggam tangannya.


"Ma, narapidana itu sedang sekarat di rumah sakit! Dia memohon pada kak Kania untuk menyampaikan permintaan terkahirnya pada mama dan juga Ila." Kata Kia.


"Mau apa lagi dia? Apa dia tidak cukup puas membuatku dan Ila menderita atas perbuatannya itu?" Kata Yurika marah.


"Ma, dia hanya ingin bertemu dengan mama dan juga Ila! Dia ingin meminta maaf secara langsung atas apa yang ia perbuat dulu terhadap mama dan juga Ila." Sahut Syakir membantu membujuk Yurika.


"Aku tidak mau menemuinya! Walau dia mati sekalipun aku tetap tidak akan pernah mau bertemu dengannya!" Kata Yurika begitu terluka dengan kenyataan pahit yang ia alami selama ini.


"Ma, apa mama akan terus membawa luka di hati mama sampai mati? Jika mama memaafkan dirinya, itu akan meringankan beban di hati mama." Kata Kia.


"Cukup, Kia!" Bentak Yurika kesal.


"Ma, aku mohon! Lepaskanlah beban yang masih tersisa di hati mama! Aku hanya ingin mama tak merasa terbebani dengan masa lalu mama yang kelam itu. Aku sayang sama mama." Pinta Kia dengan linangan air matanya.


"Ma, apa yang dikatakan Kia itu benar! Jika mama tidak sepenuhnya mengikhlaskan apa yang sudah terjadi di masa lalu, sampai kapanpun mama akan terus dihantui oleh masa lalu itu! Kami hanya ingin mama bahagia tanpa ada rasa kesal dan dendam atas peristiwa masa lalu itu." Sahut Syakir.


Yurika kembali meneteskan air matanya mengingat kembali bagaimana dirinya di masa lalu yang sangat terpukul atas kejadian itu.

__ADS_1


"Ma, lepaskanlah rasa kesal dan dendam mama terhadap narapidana itu! Aku yakin setelah ini semua akan baik-baik saja. Mama pasti tidak akan merasa terus dihantui oleh masa lalu mama." Kata Kia.


Yurika menghela nafas panjang sembari menghapus air matanya.


"Baiklah, aku sudah memaafkannya! Tapi jangan paksa aku untuk menemuinya." Kata Yurika.


Kia hendak berusaha agar Yurika mau pergi menemui Imran, namun Syakir mengcegahnya.


"Jangan paksa lagi! Kata maaf dari mama sudah cukup bagi Imran." Bisik Syakir pada istrinya tersebut.


Kia pun mengerti apa yang dikatakan oleh Syakir padanya untuk tidak memaksa keteguhan hati Yurika yang sama sekali tak mau bertemu dengan Imran.


Setelah berbicara pada Yurika, Kia pun menghubungi Galuh yang juga sedang mati-matian untuk membujuk Ila di kediamannya. Segala macam cara Galuh upayakan agar Ila mau menemui ayah kandungnya itu yang sedang sekarat di ruang rumah sakit.


"Apa kau berhasil membujuk mama?" Tanya Galuh pada Kia.


"Aku tidak berhasil kak! Mama tetap tidak mau menemui narapidana itu." Sahut Kia.


"Tapi mama mengatakan kalau dia sudah memaafkannya!" Sambung Kia lagi.


"Lantas bagaimana dengan Ila?" Tanya Kia.


"Aku sudah berusaha mati-matian membujuknya, tapi dia sama seperti mama yang tak ingin menemui Imran." Sahut Galuh.


"Cobalah bicara lagi dengan Ila! Ila itu memiliki hati yang lembut, aku yakin dia pasti akan mau menemui ayah kandunganya itu dan memaafkannya." Kata Kia.


"Baiklah, akan aku coba lagi nanti!" Sahut Galuh.


Setelah menutup sambungan teleponnya dengan Kia, Galuh menghampiri Ila lagi yang sibuk di dapur bersama Hana untuk menyiapkan makan siang.


"Bawa saja sana! Dia kan istrimu." Sahut Hana.


"Iiih, mama baik!" Seru Galuh pada Hana.


Dengan segera Galuh menyeret Ila untuk masuk ke dalam kamar mereka dan kembali membicarakan hal mengenai Imran yang sedang sekarat dirumah sakit.


"Apa lagi sih, kak? Aku sedang menyiapkan makan siang." Kata Ila.


"Disini begitu banyak pelayan! Untuk apa kau sibuk di dapur bersama mama? Ada-ada saja." Gerutu Galuh.


Galuh mendekati istrinya tersebut dan menggenggam kedua tangannya dengan mesra.


"Imut! Coba pikirkan lagi tentang apa yang aku bilang tadi mengenai Imran." Kata Galuh mencoba untuk membujuk Ila lagi.


"Aku sudah katakan berulang kalinya padamu, aku tidak akan pergi menemuinya! Aku benci padanya dan sampai mati pun aku tidak akan pernah memaafkan dirinya. Dia penjahat!" Teriak Ila kesal.


"Ila!" Bentak Galuh membuat Ila kaget.


"Apa kau sudah kehilangan hati nuranimu, hah? Kenapa kau begitu keras kepala seperti ini?" Teriak Galuh memarahi Ila.


Ila menatap kekesalan yang ada pada wajah Galuh saat itu.

__ADS_1


"Kau bukan Ila yang aku kenal dulu! Ila yang aku kenal memiliki hati yang baik dan suka memaafkan orang lain serta polos." Kata Galuh.


"Aku tak kenal siapa dirimu lagi!" Kata Galuh lagi seraya pergi keluar dari kamar itu.


Ila terperanjat menatap Galuh yang berlalu dari kamar seraya membanting pintu. Suara batingan pintu itu membuat Ila tersadar pada apa yang telah terjadi pada dirinya dan juga Galuh. Ila terduduk di tepi ranjang tidurnya sambil menangis akibat di bentak dan dimarahi oleh suaminya.


Hana melihat Galuh yang masuk ke ruang kerjanya dengan kesal. Hana cepat-cepat naik ke lantai atas dan menemui menatunya yang sedang menangis di dalam kamar.


"Ada apa?" Tanya Hana.


"Mama! Huhuhuhuhuhu." Ucap Ila menangis sembari memeluk ibu mertuanya itu.


"Kalian bertengkar?" Tanya Hana.


"Aku tidak ingin bertemu dengan penjahat itu lagi!" Ucap Ila dalam isak tangisnya.


"Apa maksudmu, Imran? Ayah kandungmu?" Tanya Hana.


"Dia bukan ayahku! Aku tak ingin memiliki ayah seperti dia." Sahut Ila.


Hana menghela nafas sejenak sembari mengusap rambut panjang menantunya itu.


"Sayang! Kau tidak boleh berkata seperti itu! Bagaimanapun juga dia tetaplah ayah kandungmu. Kau tidak boleh mengingkari takdir, nak." Kata Hana menasehati Ila.


"Tapi aku membenci perbuatannya itu! Dia penjahat." Kata Ila.


"Itu adalah kesalahannya. Biarkan Tuhan yang membalas setiap apa yang telah ia lakukan! Tuhan tidak tidur, sayang!" Sahut Hana.


"Ila, dengarkan mama! Kau adalah anak yang baik. Hatimu lembut dan mama yakin di dalam hatimu itu kau juga khawatir pada ayahmu kan? Pergilah temui dia, jangan sampai kau menyesal jika kau terus mengeraskan hatimu seperti ini." Sambung Hana lagi.


Ila berpikir sejenak akan apa yang Hana katakan padanya barusan memanglah benar. Walaupun ia terlihat begitu membenci ayah kandungnya itu, namun jauh di dalam hatinya ia tak sampai hati mendengar kabar Imran yang sedang sekarat dirumah sakit dan sedang menantinya.


"Aku akan menghubungi kak Kania." Kata Ila meraih ponselnya dan segera membuat janji dengan Kania untuk pergi kerumah sakit demi mengabulkan permintaan Imran untuk yang terakhir kalinya.


Setelah berpamitan dengan Hana, Ila pun pergi mengendarai mobilnya menuju ke rumah sakit. Galuh yang tak tau kemana Ila pergi hanya menatap mobil yang ia berikan kepada Ila keluar dari pekarangan rumahnya.


"Mau kemana dia? Apa dia ngambek padaku setelah aku membentaknya tadi?" Gumam Galuh dalam hatinya.


Galuh mengingat saat dulu Ila pernah ngambek padanya dan menginap dirumah Yurika. Tak ingin kejadian itu terulang kembali, akhirnya Galuh pun bergegas untuk pergi menyusul Ila. Saat akan keluar dari pintu utama rumahnya, Galuh berpas-pasan dengan Hana.


"Kau mau kemana, Galuh?" Tanya Hana pada putra tunggalnya itu.


"Ma, apa Ila ada bilang dia mau pergi kemana tadi?" Galuh balik bertanya.


"Ila akan pergi menemui Imran dirumah sakit!" Sahut Hana membuat Galuh kaget.


"Apa? Bagaimana bisa? Aku mati-matian membujuknya dan dia tetap tetap tidak mau." Kata Galuh.


"Mama sudah menasehatinya tadi dan dia sudah membuat janji dengan Kania untuk menemaninya menemui Imran." Kata Hana.


"Sebaiknya kita tunggu saja dia kembali nanti! Berikan dia waktu luang dengan ayahnya." Kata Hana lagi.

__ADS_1


"Iya, baiklah." Sahut Galuh.


Galuh pun mengurungkan niatnya untuk menyusul kepergian Ila yang mengendarai mobilnya sendiria. Galuh tak begitu cemas ketika ia dengar dari Hana bahwa Ila pergi kerumah sakit menemui Imran tidak sendirian namun bersama dengan Kania.


__ADS_2