
Setelah membuat berbagai macam rencana di villa milik keluarganya, Galuh memboyong istri juga dua anaknya untuk berlibur disana. Disusul oleh yang lainnya, villa yang pernah menjadi kenangan manis antara Galuh dan Ila pun telah tampak ramai. Hamka, Syakir juga Roni memboyong keluarga mereka masing-masing kesana.
Sore harinya, Galuh dan sahabat-sahabatnya itu sedang menyiapkan panggangan besar untuk pesta barbeque nanti malam. Meja panjang dan beberapa kursi juga telah tersusun rapi di pekarangan depan villa. Kebetulan pohon durian yang ada di halaman belakang villa pun berbuah lebat. Mereka berniat untuk menyantap durian itu pada pesta barbeque malam nanti. Ketika sibuk menyiapkan, para ayah mendengar teriakan dari anak-anak mereka.
"Sepertinya itu suara tangisan putriku!" Gumam Galuh.
"Itu tangisan putra kembarku." Sahut Hamka.
"Putriku menangis!" Seru Roni.
"Pasti ulah anak-anakku!" Gerutu Syakir.
Para ayah itu pun meninggalkan halaman depan dan menghampiri anak-anak mereka. Putri Galuh yang bernama Giska menangis histeris. Putra kembar Hamka bernama Haikal dan Hakim juga menangis histeris. Sedangkan putri Roni yang bernama Mia sudah berguling-guling di lantai sambil menangis. Syakir melotot pada kelima anaknya yang berdiri tanpa dosa dihadapannya.
"Kenapa, nak?" Tanya Galuh pada Giska.
"Di jambak Dwi!" Sahut Giska menunjuk anak kedua Syakir.
"Dwi! Kenapa menjambak rambut Giska?" Tanya Syakir melotot pada putrinya satu-satunya itu.
"Rambutnya terlalu bagus! Aku iri!" Sahut Dwi dengan polosnya.
"Kau tidak boleh iri! Giska adalah kakak sepupumu, jadi kalian harus akur ya." Kata Syakir menasehati putrinya.
"Putra kembar ayah kenapa?" Tanya Hamka.
"Eka dan Panca membawa kabur pistol mainan kita!" Seru si kembar Haikal dan Hakim.
"Eka! Panca! Kembalikan mainan Haikal dan Hakim." Teriak Syakir.
"Huh, pelit!" Gerutu Eka dan Panca pada Haikal dan Hakim sembari memberikan pistol mainan yang mereka rebut.
"Dasar rampok!" Gerutu Syakir pada kedua anaknya itu.
"Putri ayah yang cantik jelita, kenapa? Kok sampai guling-guling gitu sih!" Tanya Roni pada Mia.
"Tri mencium boneka Barbie kesayanganku!" Sahut Mia.
"Itu kan hanya boneka, sayang!" Kata Roni.
"Aku cemburu! Seharusnya dia menciumku bukan boneka Barbie kesayanganku! Terus dia bilang boneka Barbie kesayanganku itu lebih cantik dariku dan dia suka pada boneka itu! Huuuuuuwwaaaa....!" Teriak Mia histeris.
Syakir dan Roni saling menatap satu sama lain.
"Apakah kita akan menjadi besan suatu saat nanti?" Tanya Roni pada Syakir.
"Hhaaaahh, sepertinya begitu!" Sahut Syakir.
Galuh dan Hamka tertawa mendengar perkataan Roni dan Syakir. Tak lama mereka semua pun tertawa bersama sambil menatap wajah anak-anak mereka. Tak lama Syakir mencari keberadaan istrinya yang tak terlihat sedari tadi.
"Para istri dimana sih? Kenapa tidak kelihatan dari tadi?" Tanya Syakir sambil celingak-celinguk.
"Eh, iya ya! Anak-anak menangis mereka juga tak datang kesini untuk melihatnya." Sahut Galuh.
"Aku mencium bau-bau kenikmatan dari arah belakang villa." Kata Roni.
Galuh, Roni, Syakir dan Hamka pun melangkah cepat menuju ke area belakang villa.
"Anying! Para wanita itu malah keenakan makan durian yang kita simpan untuk nanti malam." Pekik Hamka menatap semua para istri duduk santai dan menikmati buah durian di gazebo yang ada di halaman belakang villa.
"Kita ganggu mereka!" Pekik Galuh memberi aba-aba pada para suami untuk menyerbu para istri yang duduk santai di gazebo itu.
"Serang!" Seru Hamka, Syakir dan Roni.
Para istri kaget melihat para suami hendak menyerang mereka.
"Aaaarrrghhhhhh!" Pekik para istri.
__ADS_1
"Lempar pakai biji durian, woi!" Teriak Kania menyeru pada para istri lainnya untuk membalas serangan.
Pletak...pletok...pletok....
Biji durian melayang dan mendarat pada tubuh pada pria yang hendak menyerang.
"Aduh!" Pekik Galuh terkena lemparan biji durian yang Ila lempar.
"Sakit woi!" Teriak Hamka.
"Rasakan!" Ujar Kania.
"Lempar pakai kulitnya, woi! Biar mereka mundur!" Teriak Ririn.
Para suami kaget mendengar kulit durian yang berdiri itu akan dilempar kepada mereka.
"Mundur!" Seru Hamka.
Para suami pun mundur dan menjauh dari gazebo tersebut. Para istri terkekeh jahat sambil kegirangan melihat suami-suami mereka takut gertakan kulit durian.
"Hahaha! Dengan begini, semua buah durian ini akan jadi milik kita!" Seru Kia.
"Iya! Kita pesta durian sore ini!" Seru Ila.
"Hahaha, enak banget duriannya!" Seru Kania.
"Iya!" Sahut Ririn.
Kania melirik pada para suami yang mengintip dari kejauhan.
"Kalian tenang saja! Setelah ini kami akan sisakan untuk kalian!" Kata Kania untuk para suami.
"Iya! Tapi biji dan kulitnya saja! Hahahaha." Seru Ila dan Kia.
Roni menatap Ririn yang begitu lahap makan si raja buah itu.
"Bodo amat!" Sahut Ririn.
"Iri bilang bos!" Sambung Kania menimpali.
"Huh, mereka menguasai semua buah duriannya!" Gerutu Syakir sewot.
"Hhhhaaah, kita tak bisa melawan mereka! Mereka itu wanita tangguh! Kita pasti kalah, guys!" Kata Hamka.
"Heh, masih ada cara untuk mengalahkan mereka." Kata Galuh.
"Bagaimana caranya?" Tanya Hamka.
"Ikut aku!" Kata Galuh.
Galuh dan yang lainnya masuk kembali ke dalam villa dan menghampiri anak-anak mereka yang sedang membuat keributan disana.
"Pilih satu dari mereka untuk kita jadikan senjata ampuh dalam menghadapi wanita rakus di gazebo itu!" Kata Galuh.
Galuh memilih Giska, Syakir memilih Dwi, Hamka mengangkut kedua putranya, sedangkan Roni mengangkut Mia sambil mewek sedih karena dia memiliki satu orang anak saja.
"Ayo kita ke tepi kolam renang!" Ajak Galuh sambil menenteng kerah baju putrinya bagaikan menenteng lontong kresek belanjaan.
Tiba di tepi kolam, Galuh bersiul memanggil perhatian dari pada istri yang sedang pesta durian. Para istri pun menoleh pada para ayah yang sedang menenteng anak mereka seakan hendak di sebutkan ke kolam renang yang dalam itu.
"Aaaarrrghhhhhh!" Pekik para istri ketakutan anaknya diceburkan ke kolam renang.
"Serahkan buah durian itu dan menyerah pada kami, atau kami akan ceburkan mereka ke kolam renang." Ancam Galuh.
"Aaaarrrghhhhhh, jangan!" Pekik para istri lagi.
Para bocah yang menggantung pada genggaman tangan ayah mereka masing-masing, tertawa kegirangan sambil melambaikan tangannya pada ibu-ibu mereka.
__ADS_1
"Mami!" Seru Giska pada Ila.
"Aaarrgghh!" Pekik Ila ketakutan.
"Bunda!" Seru Haikal dan Hakim.
"Hamka! Aku tembak kepalamu kalau putra kita jatuh ke kolam!" Teriak si polwan.
"Aku yang akan menembakmu nanti malam agar jadi bayi kita yang ke tiga!" Sahut Hamka.
"Mama!" Seru Mia sibuk ingin melompat ke air dan Roni sibuk menahannya agar tidak jatuh.
"Roni! Kalau putriku jatuh, kau akan mati di penjara! Apa kau lupa aku ini pengacara handal!" Teriak Ririn kesal.
"Mami! Papi nakal!" Teriak Dwi dengan raut wajah judesnya pada Kia.
"Kau yang nakal!" Sahut Kia tak peduli sangking banyaknya anak.
"Menyerahlah para wanita!" Seru pada suami.
Yang namanya emak-emak pasti ngalah gara-gara anak. Akhirnya para suami pun menang dalam peperangan untuk memperebutkan buah durian itu. Para istri dongkol setengah mati ketika para suami yang bergantian duduk di gazebo itu sambil menikmati buah durian disana.
*****
Malam harinya, pesta barbeque pun diadakan. Mereka memanggang sosis dan juga bakso untuk para anak-anak yang sedang menanti duduk di meja. Galuh menatap Syakir yang sibuk mengikat kaki kelima anaknya yang cemberut karena tak bisa berlarian dan membuat kekacauan di kaki kursi mereka masing-masing.
"Papi lebay!" Gerutu Eka pada Syakir.
"Papi terpaksa melakukannya agar kalian tidak membuat keributan!" Sahut Syakir.
"Gara-gara papi aku tidak bisa mendekati boneka Barbie kesayangan Mia!" Kata Tri mewek.
"Cium si Dwi, bukan bonekanya!" Teriak Syakir.
"Hhheemmmpp!" Tri memalingkan wajahnya dengan kesal.
Lalu Gilang menghampiri Syakir yang masih sibuk mengikat kaki kelima anaknya.
"Om lagi ngapain?" Tanya Gilang.
"Ikat kaki belalang!" Sahut Syakir mengatai kelima anaknya belalang karena suka melompat dan terbang kesana-kemari.
Eka yang akrab dengan Gilang walaupun beda usia, tampak saling mengedipkan mata saat Syakir sibuk sendirian di bawah meja. Setelah selesai, Syakir pergi menghampiri yang lainnya. Disaat Syakir lengah, Gilang masuk ke dalam kolong meja dan melepaskan semua ikatan tali pada kaki kelima bocah pembuat obat tersebut. Setelah semuanya terlepas, Gilang dan Eka terkekeh jahat bersama.
"Ayo buat keributan! Hehehehe." Seru Eka dan Gilang.
Panca mengambil tali itu dan mengikatkannya pada kaitan tali pinggang di celana Haikal dan ujung satunya ia ikatkan pada ujung taplak meja.
"Hehehehe, Haikal pasti kaget saat semua yah ada di meja ini jatuh!" Gumam Panca terkekeh jahat.
Tri sibuk mengejar Mia untuk mengambil boneka Barbie kesayangannya itu, sedangkan Dwi sibuk menarik rambut Giska yang terurai panjang dan lurus tak seperti rambutnya yang pendek sebahu setelah Kia memotongnya beberapa hari lalu.
"Dwi! Nakal!" Pekik Giska membalas Dwi dengan menjambak rambutnya. Terjadilah belitan di antara bocah cantik nan manja itu sambil saling menjambak rambut mereka satu sama lain. (Mirip emaknya ya kan gak pernah akur sewaktu kecil. Wkwkwkwkwk)
Catur putra keempat Syakir memiliki hobi memelihara serangga dan ia letakkan di dalam toples kecil. Catur pun tak kalah nakalnya dari saudaranya yang lain. Ia mengambil salah satu serangganya dan memberikannya pada Haikal yang takut akan serangga.
"Haikal! Ini serangga untukmu!" Seru Catur sambil terkekeh jahat.
"Aaaarrrghhhhhh!" Teriak Haikal yang bangkit dari kursinya lalu berlari menjauh. Ketika itu taplak meja makan tersebut langsung terserat dan menjatuhkan semua barang-barang yang ada di atasnya. Semua orang kaget dan Syakir tepok jidat karena ia tau itu ulah anak-anaknya.
"Ya tuhan, inikah cobaan?" Teriak Syakir frustasi.
"Sabar!" Sahut semua sahabatnya pada Syakir.
"Hhhaaahhh!" Kia hanya bisa menghela nafas dengan begitu panjang.
BACA JUGA CERITA TERBARUKU YA...
__ADS_1
WANITA SAMARAN UNTUK CEO