GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
PISAH


__ADS_3

Ila kembali ke rumah mertuanya itu dengan wajah ceria yang dipaksakan. Ila sempat bertemu dengan Hana yang saat itu hendak keluar rumah untuk pergi melakukan kegiatan sosialitanya. Hana melihat mata Ila sedikit sembab.


"Sayang? Kau habis menangis?" Tanya Hana pada menantunya itu.


"Tidak kok ma! Tadi mataku kelilipan debu saja, jadi sedikit perih." Sahut Ila.


"Mama mau pergi ya?" Tanya Ila.


"Iya! Hari ini ada kegiatan sosial. Yurika juga ikut nanti barengan sama mama." Sahut Hana.


"Titip salam untuk mama Yurika, ya ma!" Kata Ila tersenyum ceria.


"Iya!" Sahut Hana sembari melangkah masuk ke dalam mobil yang Ila naiki barusan. Hana sengaja memilih mobil itu untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi terhadap Ila.


Mobil tersebut pun melaju. Tak lama keluar dari komplek rumahnya, Hana pun bertanya kepada sang supir yang mengantar Ila pergi ke kantor Galuh.


"Pak, apa yang terjadi dengan Ila tadi?" Tanya Hana pada supir.


"Tidak ada, nyonya!" Sahut supir menutupi karena Ila yang memintanya.


"Pak, jangan bohongi saya! Saya itu tidak buta. Saya tadi lihat Ila habis menangis. Kenapa dia?" Tanya Hana lagi.


"Eeemm, sebenarnya saya juga tidak tau, nyonya! Saat nona Ila keluar dari kantor tuan muda Galuh, dia sudah menangis. Saya tanya tapi nona Ila malah nyuruh saya untuk tidak mengatakan apa-apa pada tuan dan nyonya." Jawab supir.


Hana pun berdecak kesal karena ia tau bahwa saat ini anak dan menantunya sedang mengalami masalah.


"Ada apa sih di antara mereka!" Gumam Hana.


Hana melirik jam tangan yang ada di pergelangan tangannya.


"Masih ada waktu satu jam lagi! Lebih baik aku mengeceknya langsung di kantor Galuh!" Gumam Hana.


"Pak, kita ke perusahaan, ya!" Perintah Hana pada supir.


"Baik, nyonya!" Sahut supir.


Beberapa menit kemudian, Hana pun tiba di kantor Galuh. Kebetulan saat itu Galuh sedang berada di ruang kerjanya. Hana langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ia melihat Galuh yang sedang terdiam sambil merenung disana.


"Galuh!" Panggil Hana pada putranya itu yang membuat Galuh kaget.


"Mama!" Ucap Galuh menatap Hana.


"Ada apa, ma? Kenapa mama kesini?" Tanya Galuh dengan ekspresi wajah yang merasa bersalah.


"Tidak ada! Mama sengaja singgah sebentar sebelum mama melakukan kegiatan sosial yang tak jauh dari sini." Sahut Hana.


Hana menatap wajah Galuh yang tampak begitu gusar. Namun Hana masih tetap diam tak mau bertanya apapun pada putranya itu. Ia ingin menyelidiki permasalahan antara anak dan menantunya itu secara diam-diam. Saat Hana ingin mulai berbincang dengan Galuh, tiba-tiba saja Viona masuk ke dalam ruang kerja Galuh tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Viona kaget saat Hana menatap kesal padanya.


"Maaf! Saya pikir bapak sedang sendirian." Kata Viona canggung.


"Ada apa?" Tanya Galuh.


Viona melangkah maju dan mendekat pada Galuh. Gerakan Viona tentu tak terlewat dari lirikan mata Hana.


"Pak, ada berkas yang perlu bapak tanda tangani." Ucap Viona sedikit membungkuk saat meletakkan berkas di meja Galuh. Hal itu membuat belahan dadanya sedikit terlihat di depan Galuh.


"Sepertinya wanita ini sedang mencoba untuk menarik perhatian dari putraku!" Gumam Hana dalam hatinya.


Hana melirik kepada Galuh yang hanya fokus pada berkas-berkas yang Viona berikan.


"Galuh!" Panggil Hana.


"Siapa dia?" Tanya Hana menunjuk kepada Viona.


"Dia sekretarisku yang baru, ma!" Sahut Galuh.


"Hah? Mama?" Gumam Viona kaget dalam hatinya saat menatap Hana.


Viona pun cepat-cepat memberikan senyumannya semanis mungkin di depan Hana.


"Nyonya!" Sapa Viona pada Hana, namun tak dihiraukan olehnya.

__ADS_1


"Galuh! Aku rasa kau harus memberikan peraturan baru bagi pegawai di perusahaan ini!" Kata Hana.


"Apa itu, ma?" Tanya Galuh.


"Berikan perturan baru bagi semua pegawai termasuk sekretarismu ini untuk tidak menggunakan pakaian terlalu ketat dan minim, serta makeup yang terlalu menor!" Kata Hana melirik Viona.


"Perusahaan kita bukan ajang untuk menjadi model, apalagi ajang untuk menggoda para pria!" Sindir Hana pada Viona.


"Mama pasti menyindir Viona nih! Apa mama tau kalau Ila salah paham antara aku dan Viona?" Gumam Galuh resah.


"Sial! Dia menyindirku!" Umpat Viona yang merasa tersindir oleh ucapan Hana.


"Baiklah, ma! Nanti aku akan buat peraturan seperti yang mama katakan barusan." Sahut Galuh yang membuat Viona sedikit terkejut.


"Ada apa sekretaris Viona? Apa kau tidak setuju dengan peraturan yang aku usulkan?" Tanya Hana pada Viona.


"Tidak, nyonya! Aku mana berani." Sahut Viona takut menatap Hana.


"Kau boleh keluar Viona!" Kata Galuh pada sekretarisnya itu.


Sambil memberikan senyumannya lagi kepada Hana, Viona pun keluar ruangan kerja Galuh dan kembali ke ruangannya. Viona masuk ke dalam ruangannya sambil berdecak kesal. Ia begitu geram saat Hana mengetahui bahwa ia berniat untuk menggoda Galuh.


"Dasar tante-tante tua! Menyebalkan sekali dia! Lihat saja nanti, setelah Galuh berada di genggamanku, maka aku akan membuatmu menderita!" Ujar Viona kesal terhadap Hana.


 


*****


Galuh kembali dari kantor lebih awal. Ia ingin segera bertemu dengan Ila untuk meluruskan permasalahan kesalahpahaman diantara mereka. Saat Galuh melangkah masuk ke dalam kamar, ia tak sengaja melihat Ila keluar dari kamar Gilang sambil menggendong Gilang. Galuh pun mendekati Ila.


"Ila, aku ingin bicara!" Kata Galuh pada istrinya yang masih muda belia itu.


"Aku tak ingin bicara apapun denganmu!" Tukas Ila enggan menatap Galuh.


Ila terus melangkah sambil menggendong Gilang yang masih bayi.


"Ila, kau salah paham!" Kata Galuh.


Ila melanjutkan langkahnya dan menjauhi Galuh yang terlihat kesal. Ila terus menuruni anak tangga menuju ke ruang tengah. Disana Antoni sedang duduk sambil menikmati kopi hangatnya.


"Kakek!" Sapa Ila menyapa ayah mertuanya itu mewakili Gilang.


"Cucu kakek!" Seru Antoni hendak menimang cucu pertamanya itu.


"Gilang sudah mandi nih! Sudah wangi." Kata Ila lagi.


Antoni begitu senang saat mendekap bayi mungil itu. Ila duduk di samping Antoni yang sedang mencium Gilang. Tak lama kemudian Hana pun kembali dari kegiatan sosialitanya. Hana pun senang saat melihat cucunya yang sudah mandi dan tercium begitu wangi.


"Gemasnya, cucu nenek!" Seru Hana mencium pipi Gilang.


Tak lama kemudian, muncul lah Galuh di ruang tengah itu. Hana melirik Ila yang enggan menatap Galuh. Lalu Ila pun bangkit dari tempat duduknya hendak keluar dari ruang tengah itu.


"Mau kemana?" Tanya Galuh menarik tangan Ila.


"Aku mau lihat makan malam sudah siap apa belum!" Sahut Ila masih tak ingin menatap Galuh.


"Itu pekerjaan pelayan, untuk apa kau sibuk dengan urusan pelayan?" Tukas Galuh belum melepaskan tangan Ila.


"Oh, iya! Aku baru ingat, botol susu Gilang tertinggal di kamarnya. Aku mau pergi ambil dulu." Kata Ila melepaskan tangannya dari genggaman Galuh.


Sedikit kuat menarik, tangan Ila pun terlepas. Ila berjalan cepat dan naik ke lantai atas menuju kamar Gilang. Galuh pun bergerak cepat. Ia mengejar Ila yang sedang menaiki anak tangga. Tiba di kamar Gilang, Ila pun mengambil botol susu yang di pegang Ratih.


"Nona, biar aku saja yang buatkan susu untuk Gilang!" Kata Ratih.


"Sudah, biar aku saja!" Sahut Ila.


Ratih melirik Galuh yang baru tiba di dalam kamar tersebut. Galuh pun memberikan kode kepada Ratih agar meninggalkan mereka berdua di kamar itu. Ratih melangkah keluar sesuai dengan instruksi Galuh. Galuh mendekati Ila yang sedang membuat susu untuk Gilang.


"Ila, aku ingin bicara!" Kata Galuh.


"Apa kau tidak mengerti yang aku katakan tadi? Aku tidak ingin membahas tentang kau dan sekretaris cantikmu itu!" Ujar Ila menatap Galuh dengan tajam.

__ADS_1


"Ila, kau salah paham! Aku dan Viona tidak seperti yang kau lihat." Kata Galuh mencoba untuk menjelaskan yang sebenarnya.


Ila hanya diam dan enggan menanggapi perkataan Galuh. Ila terus menyelesaikan apa yang sedang ia kerjakan. Setelah susu Gilang selesai di buat, Ila langsung beranjak keluar kamar. Namun Galuh mencegatnya.


"Ila, aku masih bicara padamu!" Ujar Galuh kesal pada Ila.


"Lepas!" Tukas Ila menepis tangan Galuh pada lengannya.


Ila berlalu sambil membawa botol susu untuk Gilang. Galuh yang masih berada di kamar Gilang, mengumpat kesal karena Ila tak menggubris apapun yang ia katakan.


Malam harinya, setelah makan malam Galuh menunggu Ila di dalam kamar mereka. Ia ingin terus berusaha agar Ila tidak salah paham lagi kepada dirinya. Galuh duduk di tepi ranjang dan terus menunggu, namun saat melirik jam dinding ia terperanjat karena waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.


"Kemana dia? Sampai jam segini dia belum juga masuk ke kamar." Gumam Galuh menanti Ila.


Galuh pun memutuskan untuk menunggu Ila sebentar lagi. Namun saat waktu sudah semakin larut Galuh tetap tak melihat batang hidung Ila di kamarnya. Galuh berdecak kesal dan keluar kamar untuk mencari keberadaan Ila. Saat itu ia berpas-pasan dengan Ratih yang membawa batal guling dan hendak turun ke bawah.


"Ratih, dimana Ila?" Tanya Galuh.


"Nona ada di kamar Gilang, tuan!" Sahut Ratih.


"Mau kemana kau bawa-bawa guling segala?" Tanya Galuh lagi.


"Nona Ila menyuruhku untuk tidur di kamar bawah." Sahut Ratih.


Galuh berpikir sejenak saat mencerna jawaban dari pengasuh anaknya itu. Tiba-tiba Galuh tersentak dan melangkah cepat ke kamar Gilang. Galuh memutar gagang pintu untuk membuka pintu kamar itu namun ia tak dapat membukanya. Galuh pun menggedor pintu kamar itu dengan rasa tidak sabaran dan kesal.


"Ila! Buka pintunya!" Kata Galuh sambil terus menggedor.


"Ila!" Panggil Galuh. Namun tetap tak ada sahutan dari Ila.


Galuh menjadi sangat kesal saat Ila memutuskan untuk pisah kamar dengannya.


"Baiklah! Jika ini yang kau inginkan." Teriak Galuh sembari memukul daun pintu itu dengan keras.


Galuh kembali masuk ke kamarnya sembari membanting pintu kamar dengan keras. Hana dan Antoni yang berada di balik tembok yang tak jauh dari kamar anak dan menantunya itu, kepergok oleh Ratih yang hendak ke kamar bawah.


"Nyonya dan tuan sedang apa?" Tanya Ratih.


"Ssssttt!" Seru kedua majikannya itu.


Hana menarik Ratih menjauh dari kamar Galuh dan Ila.


"Ratih, apa Ila tidur di kamar Gilang?" Tanya Hana.


"Iya, nyonya!" Sahut Ratih.


"Apa kau tau alasannya Ila kenapa tidur di kamar Gilang?" Tanya Hana lagi.


"Katanya nona kangen sama Gilang. Tapi aku tidak percaya." Sahut Ratih.


"Apa kau tau sesuatu tentang mereka?" Tanya Antoni.


"Tadi sore, aku tak sengaja mendengar nona dan tuan muda bertengkar! Terus tuan muda menyebut nama seseorang." Jawab Ratih.


"Siapa?" Tanya Hana.


"Vi..viola? Eh, Viona!" Sahut Ratih.


"Berarti benar dugaanku! Wanita itu sedang mengacau di kehidupan rumah tangga putraku!" Ujar Hana.


"Siapa Viona?" Tanya Antoni.


"Sekretaris Galuh yang baru! Dia mencoba untuk menggoda Galuh saat di kantor." Sahut Hana.


"Ini tidak bisa dibiarkan!" Kata Antoni.


"Kau benar!" Sahut Hana.


"Biar aku yang urus!" Kata Antoni.


Malam itu kali pertama Galuh dan Ila tidur terpisah. Di dalam kamar Gilang, Ila terus menutup mulut dengan kedua tangannya sambil menangis. Ila melakukan hal tersebut agar suara tangisannya tak terdengar oleh Galuh yang tidur di kamar yang bersebelahan dengan kamar Gilang. Begitu pula sebaliknya, Galuh pun hanya bisa menatap langit-langit kamarnya sambil merasa menyesal karena telah memulai masalah yang berujung kesalahpahaman diantara dirinya dan juga Ila.

__ADS_1


__ADS_2