
Jantung Kia berdetak kencang dan seakan terasa perih saat Yurika mengatakan kalau dia bukanlah darah dagingnya. Kia menatap wajah Yurika yang seakan menyesal telah mengatakan hal itu lebih awal. Namun apa boleh buat Yurika terpancing emosi setiap kali ia mendengar Kia menghina Ila.
"Ma, apa maksud mama? Kenapa mama bilang begitu padaku?" Tanya Kia terkejut seraya menjatuhkan air matanya.
"Kau memang bukan darah dagingku! Kau adalah anak dari mendiang adikku yang bernama Nayun." Sahut Yurika memantapkan hati untuk mengatakan yang sebenarnya pada Kia.
"Aku tidak percaya! Mama berbohong padaku, kan? Mama mengatakan itu karena mama sedang marah padaku!" Ujar Kia menolak untuk percaya pada perkataan Yurika.
Yurika memejamkan matanya sejenak. Ia merasa pusing yang luar biasa terhadap kepalanya. Lantai tempat ia berpijak seakan berputar. Pandangannya kabur dan seketika saja ia tak mengetahui apa yang terjadi selanjutnya. Kia berteriak saat melihat Yurika jatuh pingsan di hadapannya. Kia berteriak meminta pertolongan kepada orang yang ada dirumah karena sangking paniknya.
Ila dan Galuh mendengar teriakan yang berasal dari kamar Yurika. Mereka berdua pun berlari keluar dan melihat Yurika tergolek tak sadarkan diri di lantai bersama Kia yang sedang menangis. Para pelayan ikut menyaksikannya saat itu juga.
"Mama, mama kenapa?" Teriak Ila ketakutan.
Ila menatap Kia dengan kesal.
"Apa yang kau lakukan pada mamaku?" Teriak Ila marah pada Kia sembari mendorongnya.
"Aku hanya bicara saja, tapi tiba-tiba....
"Pergi! Jangan dekati mamaku lagi!" Teriak Ila memotong ucapan Kia yang juga sedang panik.
Galuh mengangkat tubuh Yurika untuk dibaringkan di atas ranjang tidurnya. Ila duduk di samping Yurika dan berupaya terus untuk membuat Yurika tersadar. Ila menangis ketakutan saat melihat wajah Yurika yang tampak pucat. Seorang pelayan memberikan minyak angin untuk di oleskan di bawah lubang hidung Yurika.
"Mama, bangun, ma!" Ucap Ila menangis.
Mereka terus berusaha untuk menyadarkan Yurika saat itu. Tak lama kemudian, Yurika pun tersadar dan menatap Ila yang sedang menangis di sampingnya.
"Ila, sayang!" Ucap Yurika lirih.
"Mama, sudah sadar! Syukurlah." Ucap Ila menghela nafas lega.
"Mama, kenapa? Apa yang terjadi pada mama? Kenapa mama pingsan? Mama sakit?" Tanya Ila khawatir.
"Mama tidak apa-apa, sayang! Mama cuma lelah sedikit saja." Sahut Yurika.
Disudut ruang kamar Kia mendengar Yurika berkali-kali memanggil Ila dengan sebutan sayang. Hati Kia seakan tersayat mendengar akan hal itu. Kia menyadari apa yang dikatakan Yurika tentangnya adalah benar, bahwa dia bukanlah anak kandung dari Yurika. Tak tahan melihat Yurika memberikan kasih sayang terhadap Ila, Kia pun berlari keluar dari ruang kamar Yurika dan masuk ke dalam kamar tamu yang kini menjadi kamarnya.
Kia menangis sejadi-jadinya di dalam kamar yang ia tutup dengan rapat. Kia seakan tak bisa menerima kenyataan bahwa selama ini dirinya lah yang menjadi benalu dirumah itu. Ia teringat akan perbuatannya yang selalu menghina Ila sejak kecil hingga sekarang. Perasaan malu tak dapat ia tepis ketika ia tau siapa statusnya dirumah itu.
"Aku hanya lah seorang benalu dirumah ini!" Ucap Kia dalam Isak tangisnya.
*****
Setelah Yurika tertidur lelap, Ila keluar dari kamar Yurika dan kembali masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat Galuh yang sedang duduk menunggunya sedari tadi. Malam itu karena Galuh tidak membawa pakaiannya sama sekali, maka ia pun berniat untuk tidur tanpa menggunakan baju. Otot-otot pada tubuhnya itu terpampang jelas disana. Saat Ila masuk wajah Ila memerah karena melihat tubuh Galuh yang begitu sempurna. Galuh menarik garis senyumannya dan tau kalau Ila terpesona akan bentuk tubuhnya.
"Come to me, honey!" Ucap Galuh pada Ila sambil menarik-narik jari telunjuknya.
"Dasar gila!" Ujar Ila sewot melihat Galuh.
"Jika kau tidak mau mendekat, aku yang akan mendekat padamu. Hehehe." Kata Galuh terkekeh licik sambil merangkak mendekati Ila.
Ila melangkah mundur dengan perlahan saat Galuh berupaya terus mendekat padanya. Ila merasa tubuhnya tak seimbang saat berjalan mundur. Ila menoleh kebelakang untuk memperhatikan langkahnya. Di saat itulah Galuh mengambil kesempatan untuk menangkap tubuh Ila dan menariknya ke atas ranjang. Ila terjatuh di atas tubuh Galuh yang masih terkekeh jahat.
"Dasar Galuh gila! Lepaskan aku!" Teriak Ila berontak.
Teriakan Ila semakin membuat Galuh ingin melanjutkan permainannya. Galuh menarik kedua tangan Ila yang berusaha untuk memukuli dirinya. Ila tidak bisa bergerak sama sekali. Galuh menukar posisi mereka berdua membuat Ila kini berada di bawahnya. Ila dan Galuh saling tatap sejenak. Wajah Ila merah padam ketika Galuh menatap matanya. Ila memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan rasa malunya itu.
"Hehehe, walaupun dia amnesia namun sikap malunya masih sama seperti dulu. Sangat imut!" Gumam Galuh dalam hatinya.
Galuh meraih dagu Ila agar wajah Ila berhadapan dengannya.
"Kau...kau..kau mau apa?" Tanya Ila gugup kepada Galuh.
"Melakukan apa yang seharusnya suami istri lakukan!" Bisik Galuh kepada Ila.
Ila sangat terkejut saat Galuh melum*at bibirnya. Ila memejamkan matanya merasakan apa yang di lakukan Galuh terhadap dirinya. Galuh semakin liar menciumi Ila karena rasa rindunya yang sudah menumpuk. Ila masih merasakan semua aktivitas yang dilakukan Galuh.
"Kenapa? Kenapa aku tidak bisa menolak apa yang ia lakukan padaku? Tubuhku seakan menerima semua perlakuannya itu." Gumam Ila dalam hatinya.
Semua pakaian Ila sudah di lepas oleh Galuh. Galuh menatap Ila dengan senyuman yang membuat wajah Ila merah padam. Galuh menenggelamkan wajahnya ke sisi wajah Ila dan berbisik padanya.
"Aku suka melihatmu seperti ini, Ila! Kau juga menikmatinya, kan?" Bisik Galuh.
__ADS_1
"Kau menyebalkan, Galuh!" Ucap Ila lirih dengan desahan yang tak bisa ia tahanan karena Galuh terus menerus menciuminya.
Ila tak bisa berbuat apa-apa lagi, ia hanya bisa pasrah dan merasakan apa yang dilakukan oleh suaminya itu. Desahan-desahan nikmat terdengar di telinga Galuh yang keluar dari mulut Ila. Lagi-lagi Galuh menarik garis senyumannya.
"Walaupun dia melupakan aku, namun dia tidak bisa melupakan cinta kami." Gumam Galuh dalam hatinya.
Puas menumpahkan segala gairahnya yang penuh cinta kepada Ila, Galuh mendekap Ila yang berbaring membelakanginya. Nafas keduanya masih terengah-engah dan terdengar dengan jelas.
"Ila, percayalah padaku! Aku akan selalu mencintaimu walau apapun yang terjadi. Walau kau sekarang tidak mengingatku, namun cintaku tidak akan berubah padamu." Ucap Galuh pada Ila.
Ila berbalik menghadap Galuh dan menatapnya.
"Apa cinta kita berdua sebesar yang kau katakan barusan?" Tanya Ila kepada Galuh.
"Tentu saja, sayang!"sahut Galuh mengelus wajah Ila dengan lembut.
"Tapi di mataku kau tidak setampan dokter Roni!" Kata Ila membuat Galuh kesal seketika.
"Sekali lagi kau mengatakan itu, aku pukul jidatmu!" Ujar Galuh kesal.
"Huh, aku kan mengatakan hal yang sesungguhnya." Gerutu Ila.
"Imut! Kenapa kau tega mengatakan itu padaku? Aku ini pria tertampan sejagat raya." Kata Galuh sedih.
"Namaku Ila, bukan imut! Dasar Galuh, bodoh." Ujar Ila ngegas.
"Panggil aku kakak! Kak Galuh!" Balas Galuh ikutan ngegas.
"Aku tidak mau!" Sahut Ila menolak.
"Kalau kau tidak mau, akan ku cium kau!" Ancam Galuh membuat Ila kehabisan kata-kata.
"Heemmp, menyebalkan!" Gumam Ila kembali membelakangi Galuh.
Galuh pun kembali mendekap Ila yang masih ngedumel sendirian.
"Imut, besok pagi kau akan belajar dengan ibu Kartika ya." Kata Galuh.
"Belajar? Ibu Kartika?" Tanya Ila bingung.
"Jadi aku ini masih anak sekolahan?" Tanya Ila dengan ekspresi terkejut dan berbaik menghadap Galuh lagi.
"Tentu saja! Kau masih berusia 17 tahun dan bulan depan adalah ulang tahunmu yang ke 18." Sahut Galuh.
"Apa kau juga anak sekolahan?" Tanya Ila pada Galuh.
"Hahaha! Pertanyaanmu itu sungguh lucu, sayang! Coba lihat wajahku, apa aku masih bisa dikatakan anak sekolahan?" Tanya Galuh sambil tertawa geli.
Ila memperhatikan wajah Galuh yang tampak dewasa.
"Iya, kau benar! Kau sudah dewasa." Sahut Ila.
"Aku jauh lebih tua darimu! Maka dari itu panggil aku, kakak." Kata Galuh.
"Aku tidak mau!" Sahut Ila tetap menolak.
"Lalu kenapa aku tidak belajar di sekolah? Kenapa aku harus menjalani homeschooling?" Tanya Ila.
Galuh bingung untuk mengatakan yang sebenarnya. Galuh berpikir lebih baik Ila melupakan masa lalunya yang begitu pahit itu. Galuh tidak mau menjawab pertanyaan Ila. Galuh memutar otaknya untuk bisa mengalihkan pertanyaan tersebut.
"Oh, iya. Kau punya sahabat loh!" Kata Galuh.
"Benarkah? Siapa? Jangan bilang si Kia itu! Entah kenapa aku sangat benci saat melihat dia dirumah ini." Kata Ila.
"Bukan Kia, tapi Eri dan Fiqri! Mereka itu sahabat yang sangat baik padamu!" Sahut Galuh.
Galuh meraih ponsel Ila yang ia simpan beberapa hari lalu. Ia memberikan ponsel tersebut kepada Ila.
"Ini ponselmu! Jika kau punya waktu luang hubungilah mereka dan pergilah bersenang-senang bersama mereka." Kata Galuh.
Ila membuka ponselnya dan mencari-cari nama kedua sahabatnya itu di ponselnya. Galuh melihat Ila menekan layar ponsel itu untuk membuat sebuah panggilan atas nama Fiqri. Galuh langsung merebut ponsel itu dan menekan tanda merah di layarnya.
"Kenapa di rebut sih?" Ujar Ila sewot.
"Kau mau menghubunginya?" Tanya Galuh.
__ADS_1
"Iya!" Sahut Ila.
"Apa kau tidak lihat ini jam berapa?" Tanya Galuh lagi.
Ila melirik jam yang menunjukkan pukul 11 malam.
"Memangnya kenapa?" Tanya Ila.
"Mereka sudah tidur! Dasar kau ini. Besok saja teleponnya!" Kata Galuh.
"Iya, baiklah!" Sahut Ila menurut pada Galuh.
Galuh meletakkan kembali ponsel milik Ila di atas meja kecil yang ada disamping ranjang. Galuh menatap Ila yang masih enggan tertidur dan hanya berbalut satu selimut dengannya.
"Tidurlah! Besok setelah kau selesai belajar, aku akan membawamu terapi ke dokter spesialis saraf." Kata Galuh.
"Galuh." Panggil Ila.
"Panggil aku kakak." Sahut Galuh.
"Aku tidak mau ke dokter! Aku tidak mau terapi." Kata Ila menolak.
"Harus! Kalau kau tidak mau terapi, nanti otakmu akan semakin error." Kata Galuh.
Ila berdengus kesal saat Galuh memaksa dirinya untuk ikut terapi kepada dokter spesialis saraf. Mau tak mau Ila harus mengikuti apa yang Galuh katakan padanya.
*****
Keesokan harinya, Ila disuruh Galuh untuk menunggu Didi yang akan datang untuk membawakan pakaian ganti milik Galuh. Ila menunggu Didi di teras depan dengan wajah yang cemberut. Tak lama kemudian Didi datang dengan membawa koper besar di tangannya.
"Halo, nona Ila!" Sapa Didi tersenyum lebar pada Ila.
"Halo bapak supir!" Sahut Ila membalas sapaan Didi.
"Hah, gara-gara amnesia dia memanggilku supir lagi." Gumam Didi dalam hatinya.
"Apa bapak bawa baju Galuh?" Tanya Ila.
"Galuh? Dia panggil si bos dengan nama saja?" Gumam Didi lagi dalam hatinya.
"Lah, kenapa pak supir malah bengong? Ini baju Galuh kan?" Tanya Ila lagi.
"I...iya, nona!" Sahut Didi.
"Baiklah, terima kasih!" Ucap Ila langsung ngacir masuk ke dalam sambil menyeret koper milik Galuh.
"Sama-sama, nona!" Sahut Didi berlalu pergi dari kediaman Yurika.
Ila meminta bantuan pelayan untuk membawa koper milik Galuh naik ke lantai atas. Ila membuka pintu kamar dan melihat Galuh yang sudah selesai mandi dan hanya menggunakan handuk kecil yang melingkar di pinggangnya. Lagi-lagi wajah Ila memerah saat melihat otot-otot tubuh Galuh yang bagaikan roti sobek itu.
"Apa kau menyukai otot-otot ku ini?" Kata Galuh menggoda Ila.
"Huh, kau terlalu kepedean!" Sahut Ila sewot.
"Hahaha, wajahmu merah begitu masih saja mengingkarinya!" Ujar Galuh meledek Ila.
"Ini koper pakaianmu!" Kata Ila memberikan koper itu kepada Galuh.
"Terima kasih ya, imut!" Ucap Galuh.
"Iya!" Sahut Ila.
Galuh menarik tangan Ila yang hendak keluar dari kamar.
"Kau mau kemana, imut?" Tanya Galuh.
"Aku mau turun ke bawah. Bukannya kau akan memakai baju kerjamu?" Sahut Ila.
"Bantu aku berpakaian!" Bisik Galuh menggoda Ila.
"Aku tidak mau!" Teriak Ila sambil berlari kabur keluar dari kamar.
Galuh terkekeh melihat Ila malu-malu padanya.
__ADS_1
"Oh, dia semakin imut saja setiap harinya! Aku semakin mencintainya." Gumam Galuh.