GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
GARA-GARA TIRAM


__ADS_3

Syakir dan Kia kembali dari tempat praktek Roni saat petang. Sepintas Syakir memikirkan bagaimana caranya dia membawa cairan miliknya itu ke rumah sakit besok. Sambil menyetir mobilnya Syakir menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Kia melihat suaminya yang tampak gelisah itu.


"Kenapa ayang bebeb?" Tanya Kia.


"Sedang bingung, gimana bawanya ya? Kata Roni kalau bisa yang masih baru. Tidak mungkin kan aku melakukannya sendirian di toilet rumah sakit?" Sahut Syakir.


"Iya juga sih!" Gumam Kia ikut memikirkan.


Keduanya terdiam hanya untuk memikirkan jalan keluarnya. Disaat keheningan terjadi dalam mobil itu, tiba-tiba Syakir berteriak yang membuat Kia kaget.


"Ooohh iya! Aku ingat!" Teriak Syakir.


"Apaan sih? Ngagetin saja!" Pekik Kia kesal.


"Di dekat rumah sakit itu ada sebuah hotel! Ya walaupun hotel itu bukan hotel mewah, tapi bisalah kalau kita eeheem...eheemm disana. Hehehehe.". Kata Syakir.


"Bagaimana? Kau mau?" Tanya Syakir pada Kia.


"Iya, baiklah! Demi tujuan kita bersama apapun akan aku lakukan asalkan bersamamu." Sahut Kia.


"Oh, Kiki! Kau begitu manis." Ucap Syakir.


"Cium aku!" Rengek Syakir.


Ppplllaaakkkk.....


"Fokus menyetir!" Gerutu Kia.


"Hah, baiklah wanita galak!" Balas Syakir sewot setelah di tampar Kia.


 


Keesokan paginya Syakir dan Kia pun menuju ke rumah sakit setelah mereka singgah sebentar di hotel yang sederhana itu. Roni mengambil apa yang Syakir berikan padanya dan dibawa ke lab rumah sakit. Tak lama menunggu hasil lab tersebut pun keluar.


"Bagaimana?" Tanya Syakir.


"Jumlahnya kurang! Maka dari itu hingga sekarang kalian belum memiliki momongan." Sahut Roni santai.


"Apa? Kurang?" Seru Kia dan Syakir.


"Iya! Syakir harus banyak makan makanan yang bergizi seperti makanan laut atau bisa juga kacang-kacangan. Sering-seringlah makan tauge atau kacang hijau!" Kata Roni.


"Eeewww, tauge!" Ucap Syakir yang ternyata tidak menyukai jenis sayuran tersebut.


"Kalau ku tak suka bagaimana kalian akan menjalani program kehamilan?" Sahut Roni.


"Makanan yang lainnya?" Tanya Syakir.


"Tahu tempe juga bisa! Banyak makan tiram dan bawang putih agar jumlahnya banyak." Kata Roni.


"Bawang putih?" Pekik Syakir kaget.


"Iya, makan tiramnya lebih bagus dalam keadaan mentah." Kata Roni sambil menyeringai jahat.


"Mentah!" Pekik Syakir lagi seakan mual mendengarnya.


"Hehehe, mampuslah kau! Aku tau kau tak suka makan makanan laut. Hihihihihi." Gumam Roni dalam hatinya.


"Ayank bebeb! Kita lakuin ya? Demi punya momongan." Rengek Kia pada Syakir.


"Haaaaahhh! Baiklah!" Sahut Syakir menghela nafas panjang.


"Kia, sekitar 1 km ada pasar yang menjual segala macam seafood! Nah, pergilah bersama Syakir untuk membeli banyak tiram!" Seru Roni.


"Baiklah!" Seru Kia bersemangat.


"Ayo kita pergi, ayank bebeb!" Seru Kia lagi menyeret Syakir yang seakan malas untuk bangkit sangking lesunya.


"Haaaahh, perasaanku jadi tidak enak!" Gumam Syakir.


"Hehehehe, makan tuh tiram! Hahahaha." Kata Roni tertawa jahat.


Kia dan Syakir singgah di pasar yang menjual berbagai macam seafood tersebut. Sangking semangatnya Kia membeli begitu banyak tiram disana.


"Kiki, ini terlalu banyak!" Kata Syakir melihat tiram tersebut.


"Untuk stok seminggu!" Sahut Kia.


"Apa? Apa kau akan memberiku makan ini saja setiap harinya?" Tanya Syakir.


"Iya! Pagi, siang dan malam!" Seru Kia.


"Haaaahh, mati aku!" Gumam Syakir tepok jidat.


Benar saja yang dikatakan oleh Kia di pasar itu. Ia selalu memberikan menu makanan laut itu kepada Syakir. Setiap kali Syakir akan memakannya, ia selalu merasa mual-mual. Namun Kia terus memaksanya untuk tetap makan tiram mentah tersebut.


Hampir sebulan lamanya Syakir ditindas oleh Kia habis-habisan. Ia selalu makan makanan yang di rekomendasikan oleh Roni sebagai dokter kandungan. Malam harinya saat sebelum tidur, Kia merasakan pusing pada kepalanya. Ia bahkan hampir saja terjatuh. Untung saja Syakir yang sedang berada di ruangan yang sama dengannya langsung menangkap tubuhnya.


"Kau kenapa?" Tanya Syakir.


"Tiba-tiba saja penglihatanku menjadi gelap tadi!" Sahut Kia.


"Duduklah! Aku akan suruh pelayan untuk membuatkan teh hangat untukmu." Kata Syakir.


"Iya!" Sahut Kia.

__ADS_1


Beberapa hari kemudian, Kia dan Yurika datang ke kediaman Antoni untuk menjenguk Ila yang sebentar lagi akan segera melahirkan bayi keduanya. Mereka berbincang ringan di ruang tengah sambil minum teh dan makan cemilan. Kia yang sedang bermain bersama Gilang, tiba-tiba saja merasakan pusing pada kepalanya.


"Kau kenapa?" Tanya Ila.


"Entahlah! Mungkin tekanan darahku rendah. Aku selalu pusing akhir-akhir ini." Sahut Kia.


"Jangan terlalu lelah, kau dan kak Syakir kan sedang menjalani program kehamilan." Kata Ila.


"Iya! Di kampus aku juga sedang sedikit sibuk sih." Sahut Kia lagi.


"Haaaah, baru beberapa menit saja aku bermain dengan Gilang, tapi rasanya aku begitu lelah dan ngos-ngosan." Kata Kia lagi.


Ila menatap wajah sepupunya itu yang memang tampak sedikit pucat.


"Jangan-jangan kau hamil!" Kata Ila.


"Hah?" Ucap Kia kaget.


"Kapan kau terakhir kali mens?" Tanya Ila.


"Bulan kemarin lah!" Sahut Kia.


Ila dan Kia pergi ke kamar untuk melihat tanggal pada kalender.


"Seingatku tanggal.....


"Eh, lewat!" Ucap Kia baru menyadari bahwa ia sudah telah beberapa hari dari tanggalnya.


"Eemmm, tapi beberapa hari saja! Apakah bisa dikatakan hamil?" Tanya Kia.


"Periksa saja dulu!" Kata Ila.


"Hampir setiap bulan aku selalu memeriksakannya, tapi hasilnya selalu negatif! Aku hampir patah semangat." Sahut Kia.


"Jangan pesimis seperti itu!" Kata Ila.


"Iya, nanti aku akan periksa lagi." Kata Kia.


Sepulang dari menjenguk sepupunya itu, Kia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk memeriksa dirinya dengan sebuah alat tes kehamilan yang sempat ia beli tadi saat di perjalanan pulang. Kia menanti hasil tes kehamilan tersebut dengan perasaan yang biasa saja. Ia merasa bosan dengan apa yang sedang ia lakukan setiap bulannya.


"Haaaahh, pasti garis satu!" Gumam Kia.


Lalu muncul dua garis yang terlihat samar-samar pada alat tes kehamilan tersebut yang membuat Kia melebarkan kedua matanya.


"Du...du...dua ga..ga..ris?" Ucap Kia terbata-bata sangking kagetnya.


"Aaaarrrghh! Aku hamil!" Teriak Kia di dalam kamar mandi.


Karena jarak antara kamarnya dengan Yurika tak jauh, Yurika pun mendengar teriakan Kia saat itu. Yurika masuk ke dalam kamar dan menemui Kia disana.


Kia keluar dari kamar mandi dan menunjukkan hasil tes kehamilan tersebut pada Yurika.


"Kau hamil?" Tanya Yurika.


Kia mengangguk cepat sambil tersenyum lebar.


"Alhamdulillah! Akhirnya kau hamil, sayang!" Seru Yurika sambil berpelukan dengan keponakan yang telah ia anggap sebagai anak kandungnya sendiri.


"Cepat beritahukan pada Syakir!" Kata Yurika.


"Iya!" Sahutnya.


Kia meraih ponselnya dan segera menghubungi Syakir yang sedang melakukan meeting bersama relasi yang sedang melakukan hubungan bisnis dengan perusahaannya.


"Halo, Kiki?" Ucap Syakir menerima panggilan telepon dari istrinya tersebut.


"Aku hamil!" Ucap Kia blak-blakan sangking senangnya.


"Apa?" Pekik Syakir kaget.


"Aku hamil!" Teriak Kia sekencang-kencangnya.


Tut...Tut...Tut....


Sambungan telepon terputus begitu saja.


"Eh, malah dimatikan!" Gumam Kia bingung.


Syakir yang masih memimpin rapat penting itu masih terpaku setelah mendengar perkataan Kia barusan. Sekretaris barunya menegur Syakir untuk melanjutkan meeting tersebut.


"Pak, apa meetingnya akan dilanjutkan?" Tanya sang sekretaris.


"Apakah aku sedang bermimpi?" Tanya Syakir.


"Tidak pak! Bapak sedang berada di dunia nyata sekarang!" Sahut sekretaris barunya itu.


"Hei, apa kau pikir selama ini aku berada di dunia gaib, hah?" Teriak Syakir kesal.


"Haaaahh, apakah aku salah?" Gumam sekretaris itu dalam hatinya.


"Meeting hari ini kita tunda! Aku memiliki urusan penting sekarang." Kata Syakir langsung ngacir keluar dari ruang meeting tersebut.


Syakir menuju kembali ke kediaman Yurika dimana ia tinggal sekarang bersama Kia. Saat di perjalanan ia menghubungi Roni untuk membuat janji bertemu di tempat prakteknya. Tiba di kediaman yang ia panggil ibu mertua itu, Syakir langsung menemui istrinya yang sedang berleha-leha di ranjang tidurnya.


"Kiki!" Seru Syakir menghampiri istrinya.

__ADS_1


"Eh, kau sudah kembali? Ini kan masih siang!" Kata Kia.


"Benarkah kau hamil?" Tanya Syakir.


"Hasilnya sih begitu!" Sahut Kia.


"Nanti sore kita pergi periksa kepada Roni ya?" Ajak Syakir.


"Iya!" Sahut Kia.


"Semoga saja kita memiliki momongan." Ucap Syakir.


"Amin!" Sahut Kia.


Sore harinya, Syakir dan Kia mendatangi tempat praktek sang dokter kandungan. Disana Kia merasa gelisah setelah ia menunjukkan hasil tes kepada Roni.


"Aku akan melihat keadaan rahimmu!" Kata Roni pada Kia.


"Haaaahh, aku jadi deg-degan!" Sahut Kia.


"Tidak perlu khawatir seperti itu! Hasil tes itu sudah cukup akurat." Kata Roni.


Kia berbaring pada tempat tidur khusu untuk pasien yang akan melakukan USG. Roni mengambil alat USG tersebut dan mulai menekannya pada bagian bawah perut Kia. Syakir yang berada di samping Kia sedang menatap sebuah layar televisi yang tersambung dengan alat USG tersebut. Roni kaget saat melihat hasilnya.


"Satu, dua, tiga empat, li....lima?" Gumam Roni.


"Ada apa, kak?" Tanya Kia.


"Lima kantung!" Seru Roni.


"Maksudnya?" Tanya Syakir.


"Bayimu kembar lima!" Sahut Roni.


"Apa?" Pekik Kia dan Syakir kaget.


"Kau bercanda?" Pekik Syakir lagi pada Roni.


"Aku bersumpah! Bayi kalian kembar lima." Sahut Roni.


Bbbrruuukkk....


Seketika Syakir pingsan mendengar perkataan Roni tersebut. Ia tak kuasa menghadapi kenyataan bahwa ia akan segera memiliki 5 orang bayi sekaligus.


"Kak!" Pekik Kia kaget melihat Syakir pingsan.


"Haaaahh, dia pingsan!" Gumam Roni.


 


 


*****


Beberapa minggu kemudian, Galuh yang masih terjaga bersama Ila tampak sedang mengelus perut istrinya tersebut seperti biasa yang ia lakukan sebelum tidur. Sambil berbincang mengenai calon bayinya tersebut, Galuh dan Ila tampak mendekap mesra di tempat peraduan mereka.


"Sebentar lagi dia akan lahir! Kau sudah siapkan namanya?" Tanya Ila.


"Sudah!" Sahut Galuh.


"Siapa?" Tanya Ila.


"Giska, artinya cerdas." Sahut Galuh.


"Semuanya berinisial huruf G, sepertimu!" Gerutu Ila sewot.


"Iya dong! Aku kan ayahnya." Sahut Galuh.


"Aku ibunya!" Balas Ila tak mau kalah.


"Lahirkan anak ketiga dan akan menggunakan inisial namamu!" Kata Galuh seenak jidatnya saja.


"Ini saja belum lahir, kau malah bicara anak ketiga!  Hah, yang benar saja!" Pekik Ila sewot.


"Hehehe, anak ketiga kita nanti akan aku beri nama Sultan! Hehehe." Kata Galuh cengengesan.


"Aku tidak mau!" Gerutu Ila sewot.


"Oh imutku! Banyak anak banyak rezeki loh!" Seru Galuh.


"Bodo ah!" Sahut Ila.


Galuh terus menggoda Ila dengan ledekan-ledakan konyolnya yang membuat Ila terus sewot serta kesal padanya. Galuh tertawa mendengar sahutan Ila yang tampak kesal karena kekonyolan yang ia berikan. Tak lama Galuh melihat wajah Ila meringis kesakitan.


"Aduh!" Pekik Ila sembari memegangi perutnya.


"Ada apa, sayang?" Tanya Galuh.


"Kontraksi!" Sahut Ila.


"Kau akan melahirkan?" Pekik Galuh panik.


"Aaarrrghhh!" Teriak Ila kesakitan.


"Aaarrrghhh!" Pekik Galuh semakin panik.

__ADS_1


Galuh keluar dari kamar dan membangunkan semua orang yang ada di rumah. Hana dan Antoni melompat dari atas ranjangnya dan berlari menemui sang menantu yang menahan sakit pada perutnya. Sedangkan Galuh sibuk memanggil Didi untuk segera menyiapkan mobil dan membawa Ila ke rumah sakit.


__ADS_2