
Galuh dan Hamka masuk kembali ke dalam ruang acara. Ketika itu Hamka saling bersitatap dengan Kania yang sedang berdiri di samping ayahnya yaitu Fatah. Hamka kaget melihat tatapan Kania yang tajam padanya.
"Dasar wanita dingin! Tatapannya saja mengerikan seperti itu. Pantas saja dia tidak punya kekasih." Gumam Hamka dalam hatinya.
"Apa lihat-lihat!" Ujar Kania mendengus kesal sambil melotot pada Hamka.
"Huh! Cantik-cantik judes." Balas Hamka balik melotot pada Kania.
Hamka duduk di sebelah Galuh dan juga Roni yang baru saja hadir ke pesta pertunangan Kia dan Syakir bersama dengan istrinya. Roni memperhatikan wajah Hamka yang tampak lebam-lebam.
"Wajahmu kenapa, ka?" Tanya Roni.
"Di cakar kucing!" Sahut Hamka sengaja membesarkan suaranya agar Kania mendengar sindirannya.
"Ppfftt, kucing mana yang mencakarmu? Kucing peliharaan atau kucing liar?" Tanya Roni lagi sambil menahan tawanya.
"Kucing liar! Sangking liarnya dia tidak perduli dengan wajahku yang tampan ini!" Sahut Hamka lagi.
"Hahahaha, kasihan sekali kucing yang mencakarmu itu!" Kata Roni.
"Hei, kucing itu yang mencakarku, kenapa kau malah kasihan padanya? Seharusnya kau kasihan padaku ,dodol!" Ujar Hamka dongkol.
"Aku kasihan pada kucing liar itu karena telah membuang energinya hanya untuk mencakar wajahmu! Hehehehe." Sahut Roni terkekeh geli.
"Huh, dasar tidak setia kawan! Berikan aku resep obat untuk menghilangkan lebam-lebam di wajahku." Teriak Hamka kesal pada si dokter kandungan.
"Sudah tidak usah diobati, aku lihat wajahmu lebih tampan kalau lebam-lebam begini! Hehehehe." Sahut Galuh ikut menertawakan Hamka.
Hamka hanya bisa berdengus kesal saat kedua sahabatnya menertawai dirinya. Sementara Kania terus menatap pada Hamka yang sedang ditertawakan oleh Galuh dan Roni.
"Kasihan juga dia! Wajahnya lebam-lebam begitu. Apa aku terlalu kasar padanya?" Gumam Kania dalam hatinya sembari menatap Hamka yang tak jauh darinya.
"Huh! Untuk apa aku perduli padanya? Dia duluan yang menghina ayahku dan mengatakan aku wanita simpanan!" Gumam Kania lagi menepis rasa penyesalannya karena telah menghajar Hamka habis-habisan.
*****
Setelah pesta pertunangan itu selesai, Ila membawa menemui bayinya yang sudah terlelap tidur di atas ranjang dan ditemani oleh Ratih.
"Apa pestanya sudah selesai, nona?" Tanya Ratih pada Ila.
"Iya sudah!" Sahut Ila.
"Oh iya, tetaplah temani Gilang disini! Aku akan pergi mandi sebentar." Kata Ila pada Ratih.
"Baik, nona." Sahut Ratih.
Ila pun masuk ke dalam kamar mandi untuk segera membersihkan dirinya. Sementara Ratih tetap menemani Gilang yang terlelap tidur. Tak lama kemudian, Galuh membuka pintu kamar itu secara perlahan dan mendekati Ratih.
"Tuan!" Ucap Ratih melihat Galuh.
"Ssssttt! Dimana Ila?" Bisik Galuh pada Ratih.
"Sedang mandi!" Balas Ratih berbisik.
"Kau pergi ke kamar tamu lainnya dan bawa Gilang bersamamu! Aku akan disini untuk tidur bersama Ila." Bisik Galuh lagi.
__ADS_1
"Iya, tuan!" Sahut Ratih.
Ratih langsung ngacir keluar kamar membawa Gilang ikut bersamanya ke kamar tamu yang ada di sebelah. Sementara Galuh mencari tempat aman untuk bersembunyi. Galuh bahkan sempat mematikan lampu kamar dengan sengaja agar Ila tak tau kalau ia sudah menyelinap masuk ke dalam kamar itu.
Tak lama berselang, Ila keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang menutupi tubuhnya. Ila kaget saat mengetahui kamar dalam kondisi gelap.
"Kenapa lampunya mati?" Gumam Ila mencari saklar lampu untuk menyalakannya.
Saat lampu menyala Ila terkejut melihat ranjang sudah kosong.
"Dimana Gilang dan juga Ratih?" Gumamnya lagi kebingungan.
Saat sedang kebingungan, tiba-tiba saja Galuh mendekap tubuh Ila dari belakang. Sontak saja perbuatan Galuh tersebut membuat Ila berteriak karena terkejut.
"Aaarrgghhh!" Teriak Ila.
"Hei, jangan berteriak! Kalau kau berteriak nanti akan aku perkosa loh! Hehehe." Bisik Galuh padanya.
"Kau! Kenapa kau ada di kamarku, hah?" Teriak Ila kesal.
"Mau tidur lah! Jadi mau ngapain lagi?" Ujar Galuh melepaskan dekapannya dan duduk di atas ranjang sambil bertatapan dengan Ila.
"Aku tidak mau tidur denganmu! Aku masih kesal." Kata Ila ketus.
"Kalau kau tidak mau, keluar saja sana!" Sahut Galuh.
"Oke! Aku akan tidur di kamar tamu lainnya!" Ujar Ila sambil memakai pakaiannya.
Setelah berpakaian, Ila menuju ke arah pintu dan segera memutar gagang pintu tersebut.
"Eh, tidak bisa dibuka!" Gumam Ila dalam hatinya.
"Pasti kau yang menguncinya!" Kata Ila pada Galuh.
"Iyalah! Siapa lagi? Hehehe." Sahut Galuh terkekeh jahat.
"Cepat buka pintunya!" Kata Ila pada Galuh.
"Tidak mau!" Sahut Galuh.
"Berikan kunci pintunya! Aku ingin melihat Gilang." Kata Ila lagi berusaha untuk merebut kunci yang di pegang Galuh. Ila bahkan melompat-lompat saat Galuh menghindari tangannya yang akan merebut kunci pintu kamar itu.
"Berikan kuncinya!" Kata Ila lagi.
Galuh meraih tubuh Ila dan mendekapnya dengan erat.
"Malam ini kau milikku, Ila!" Ucap Galuh padanya.
Belum sempat Ila menanggapi ucapannya tersebut, Galuh langsung menyeret tubuh Ila dan menghempaskannya ke atas ranjang. Galuh melompat naik ke atas ranjang itu dan menimpa tubuh Ila.
"Mau apa kau?" Tanya Ila pada Galuh.
Tanpa menjawab, Galuh langsung menempelkan bibirnya pada bibir Ila. Galuh menciumi bibir Ila dengan panas.
"Eemmmmm....eemmmmmm!" Pekik Ila yang tak bisa berbuat apa-apa karena Galuh terus menciuminya.
Ciuman Galuh turun ke leher yang membuat Ila kegelian. Ila mendorong tubuh Galuh dengan sekuat tenaga yang membuat Galuh melepaskan ciumannya dan menatap Ila.
__ADS_1
"Ada apa? Apa kau tidak mau melakukannya denganku lagi?" Tanya Galuh kesal pada Ila.
"Hei, apa kau lupa? Aku masih dalam keadaan nifas!" Teriak Ila.
"Oh, iya ya! Aku lupa. Hehehehe." Sahut Galuh cengengesan.
"Makanya jadi orang itu harus jangan suka memaksa!" Ujar Ila merapikan pakaiannya yang berantakan karena ulah Galuh.
"Habisnya kau semakin menggemaskan sih! Aku kan pria yang memiliki kekhilafan yang hakiki. Hehehe." Sahut Galuh cengengesan lagi.
"Huh! Dasar menyebalkan!" Gerutu Ila.
"Imut! Tolong maafkan aku!" Ucap Galuh.
"Tidak mau!" Sahut Ila.
"Aku janji tidak akan mengacuhkanmu lagi! Pliiisss?" Ucap Galuh memohon.
"Hah! Kau menyebalkan! Aku tuh sedih kalau kau mengacuhkan aku, tau! Tanpa aku tau apa kesalahanku, kau malah mengacuhkan aku! Aku berusaha untuk tetap sabar mengahadapi sikapmu dan mendekatimu, tapi kau tetap saja mengacuhkan aku!" Ujar Ila mengeluarkan unek-unek yang ada di dalam hatinya.
"Iya! Aku salah. Aku minta maaf." Ucap Galuh.
"Aku juga sebenarnya tidak ingin menyikapimu seperti itu! Hanya saja aku cemburu pada perlakuanmu kepada Gilang dan juga kau terus saja menghabiskan waktumu untuk belajar. Aku merasa tidak diperhatikan, tau!" Sambung Galuh.
"Maafkan aku ya, imut!" Ucap Galuh lagi.
"Iya!" Sahut Ila.
"Iya, apa?" Tanya Galuh.
"Iya, dimaafin!" Sahut Ila.
"Maaf saja? Peluk dong. Minimal cium gitu! Kalau maksimalnya........."
"Maksimal apanya lagi, hah? Dasar banyak maunya!" Ujar Ila memotong ucapan Galuh.
"Hehehe." Galuh hanya cengengesan saja menanggapi kekesalan Ila padanya.
Ila turun dari ranjang dan melangkah ke arah pintu kamar.
"Eh, kau mau kemana?" Tanya Galuh.
"Tidur bersama Gilang!" Sahutnya.
"Tidak boleh! Apa kau tidak dengar yang aku bisikkan padamu tadi, hah? Malam ini kau akan tidur bersamaku!" Teriak Galuh sambil memanggul tubuh Ila dan menjatuhkannya lagi ke atas ranjang.
"Aku mau tidur sama Gilang!" Teriak Ila berontak.
"Tidak boleh!" Ujar Galuh mendekap Ila dengan erat.
Di luar pintu Kia dan Yurika bergeleng kepala mendengarkan teriakan-teriakan pasangan suami istri yang baru saja berbaikan itu.
"Apakah nanti aku akan berteriak juga kalau kesal dengan kak Syakir nanti?" Gumam Kia.
"Iyalah! Kau akan berteriak saat malam pertama dengannya! Hehehehe." Sahut Yurika terkekeh geli.
"Oh begitu ya!" Ucap Kia yang tidak mengerti maksud ucapan Yurika.
__ADS_1
\~\~\~\~\~\~
Cuma dikit, ya guy's. Hehehehe.